Minggu, 08 Oktober 2017

Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah

Pengalaman saya Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah kesempatan ini bermula satu tahun lebih waktu lalu, sekitaran th. 1993 – 1996. Waktu itu saya barusan memperoleh kerjaku di kota Surabaya hingga untuk memperoleh tempat tinggal kurun waktu dekat mustahil saya kerjakan karna selalu jelas saja, saya belum juga memperoleh tabungan yang cukup untuk beli tempat tinggal. Pada akhirnya saya putuskan untuk kost didaerah dekat kantor. 




Pada akhirnya saya peroleh tempat kost yang saya kehendaki, butuh pembaca kenali, nenek kostku memiliki cucu wanita yang waktu itu masih tetap ada di bawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah yaitu sosok yang mengasyikkan bila diliat, meskipun dia masih tetap dibangku SMP, Endah memiliki bentuk badan yang montok serta sesudah saya banding-bandingkan, Endah serupa dengan seseorang selebitris di Indonesia yang masih tetap single hingga saat ini. Oya, terlebih dulu namaku Dandy, 30 th. seseorang karyawan di satu diantara perusahaan di Surabaya. 


Singkat narasi, tanpa ada merasa 2 th. telah saya melakukan masa kostku serta karna saya termasuk juga orang yang supel, saya cepat menyesuaikan dengan lingkungan sekelilingnya. Serta ciri-khas saya itu buat Endah yang makin hari makin ranum serta sexy, tergila-gila dengan saya. Hingga satu hari saya beranikan diri untuk mencium bibirnya, di luar sangkaanku Endah membalas dengan buasnya. Hingga pada akhirnya kesibukan itu jadi aktivitas teratur pada saya dengan Endah, sepulang kantor atau memakai beberapa saat sepi di kost-kostan. Tiap-tiap lakukan hal tersebut, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelusup dibalik CD nya serta sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Serta meskipun saya cuma menggesekkan adik kecilku namun tiap-tiap kesibukan itu, saya senantiasa menjangkau klimaks. 4 th. nyatanya saat yang sedikit untuk nikmati hal tersebut. Hingga pada akhirnya saya mesti keluar dari kost-kostan serta Endah mesti kuliah di kota dingin Malang. 


Sesudah demikian th. lamanya saya tidak mendengar berita mengenai Endah, di th. 2001 saya iseng-iseng call Endah di tempat tinggalnya serta walhasil dari percakapan pertama di telepon itu, saya peroleh nomor phone dia di Malang dan dia memberi nomor HP. Pada akhirnya kita berdua seringkali kontak lewat telephone, meskipun saya telah berstatus tidak bujang sekali lagi, namun dia tetaplah saja katakan bila masih tetap sayang sama saya. Hingga pada akhirnya kita janjian untuk ketemu waktu dia week end, karna sehari-hari itu Endah senantiasa rajin pulang ke Surabaya. 


Pucuk dinanti ulam juga tiba, dengan perasaan deg-degan pada akhirnya saya berjumpa dengan sosok Endah yang dahulu masih tetap lugu serta centil, saat ini tumbuh jadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, makin saya menelan ludah tiap-tiap lihat badannya yang sexy. “Mas Dandy, bagaimana khabarnya, ” bertanya Endah mengakibatkan kerusakan fikiranku yang jorok. “Ee.. baik, bagaimana dengan anda? ” jawabku gugup. Kita berdua menceritakan panjang lebar sesudah sekaian lama tidak ketemu, Hingga pada akhirnya saya mesti antar dia balik ke tempat tinggalnya di sUrabaya. “En, anda telah miliki pacar..? ” tanyaku. “Lagi blank nih Mas.. ” jawab Endha tangkas“O yah, anda masih tetap inget tidak waktu saya ajarin anda berciuman dahulu? ” godaku. “Ihh, Mas Dandy memang bandel kok, ” sembari mencubit lenganku. “Aow.., ” saya meringis kesakitan. “Kamu ingin tidak bila saya terusin pelajarannya, ” tanyaku lagi. “Mau saja asal Mas yang ajarin, ” jawaban Endah buat saya merinding. 


Sesudah kita bercanda serta menceritakan panjang lebar, pada akhirnya saya tawarkan diri untuk ketemu minggu depannya sekali lagi. “Endah, minggu depan ketemu sekali lagi yuk, ” ajakku. “Boleh deh Mas.., ” jawab Endah dengan ceria. “Tapi nginep ya di hotel? ” godaku. “Lho ngapain? ” Endah balas ajukan pertanyaan. “Katanya ingin lanjutin pelajarannya.. ” saya coba memancing. “Nakaall Mas Dandy.. nih. ” 


Tanpa ada merasa pada akhirnya Endah mesti turun di dekat tempat tinggalnya. “Ma kasih ya Mas, hingga ketemu minggu depan, ” sembari pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku naik-turun terima sentuhan bibirnya yang mungil. Saya cermati lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sambil saya memikirkan kalau saya dapat nikmati badan anda Endah, duh begitu bahagainya diriku. 


1 minggu tanpa ada merasa saya lewatin, sampailah saya ketemu dengan Endah. Kesempatan ini saya telah booking hotel berbintang di pinggir kota untuk satu malam. Pas jam 16. 30, sepulang kantor saya bergegas mengemasi pekerjaan saya serta meluncur ditempat yang telah kita setujui dengan. Bulu kudukku merinding waktu dia masuk mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku. 


Tanpa ada fikir panjang, saya selekasnya meluncur menuju hotel yang telah saya booking satu hari terlebih dulu. Jujur saja, buat Endah ini yaitu hal yang pertama masuk di hotel, hingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Sesudah chek ni, saya bergegas menuju lift untuk segera ke kamar. “Mas, saya ingin mandi dahulu ya..? ” pinta Endah. “Oke silakan, apa ingin saya mandiin, ” godaku. “Nggak ah, nakal Mas Dandy nih.. ” sembari menjawab sesuai sama itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah jalan gontai menuju kamar mandi. Mataku betul-betul tidak dapat berkedip lihat panorama badan Endah yang betul-betul menggairahkan. Fikiranku melayang-layang waktu memikirkan kemolekan badannya. 


20 menit selanjutnya Endah keluar kamar mandi dengan memakai gaun tidur yang tidak tebal, sampai buat darah seks saya naik ke ubun-ubun. Walau demikian saya berupaya mengatur gejolak nafsuku dimuka Endah karna memanglah dimuka dia, saya yaitu profil seseorang kakak yang baik. “O ya Endah, anda ingin makan apa sekalian pesannya, ” tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku. “Terserah Mas deh, ” jawabnya. 


Singkat narasi, saat telah tunjukkan jam 20. 15 menit serta tanpa ada merasa kami telah menceritakan panjang lebar, sekedar untuk melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda narasi mengenai apa pun, hingga pada akhirnya.. “En, anda serius ingin lanjutin pelajarannya, ” tanyaku serius. “He eh Mas Dandy, ” jawabnya. “Endah.. ” saya tidak melanjutkan pertanyaanku karna secara cepat saya segera menyerbu bibir Endah yang mungil. “Mas.. ” Endah mendesah sembari memeluk tubuhku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, kadang-kadang memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku hingga buat saya terangsang hebat. Lidah Endah yang nakal, kadang-kadang menyeimbangi lidahku yag menelusuri semua bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya lepas, “Mas.. anda memanglah guru yang baik, ” sembari saya benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok. 


Sekitaran 15 saya bercumbu dengan Endah, saya makin penasaran dengan apa yang ada di balik CD nya. Dengan perlahan-lahan saya mulai berupaya buka CD yang dipakai oleh Endah serta aktivitas saya makin gampang karna Endah berupaya mengangkat pantatnya hingga mempermudah saya untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih tetap halus sekali serta baunya wow.. ranum sekali fresh, tanpa ada berfikir panjang saya selekasnya buka ke-2 pahanya serta mengunci dengan lenganku hingga vagina Endah yang masih tetap merah terpampang terang dimuka mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menelusuri tiap-tiap mm permukaan vagina Endah.





“Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh,” rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.“Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas,” rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.“Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh,” rintih Enda.“Pipis aja sayang di mulut Mas..” jawabku.“Mas.. aduh.. Endah nggak kuat..” Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.“Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh..” kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.


Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.“Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget.”Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.“Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh,” erangku.Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.Tidak selang berapa lama,“Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh..” Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,“Endah kamu masih virgin?” tanyaku.“Mungkin sudah tidak Mas,?” jawab Endah.Aku sedikit kaget sembari bertanya, “Siapa yang lakukan pertama?”“Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah.”Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.“Mas Dandy.. enak sekali sayang.”Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.“Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku..” Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.“Crek crekk crek” penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.“Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh..” Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.


Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.“Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh..” Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.


45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.“Endah.. Mas mau keluar nih..,” rintihku.“Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..,” pinta Endah.“Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh.”Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.“Endah.. ohh Mas keluar..,” secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.“Aowww..” spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.“Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas,” cerita Endah.“Kamu suka sayang,” tanyaku.“Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?” balas Endah bertanya.“Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu.”


Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.


Tamat

Kugoyang Dengan Keras pertanda tika sebentar lagi orgasme

Narasi Kugoyang Dengan Keras pertanda tika sebentar lagi orgasme ini bermula waktu saya pulang kerja sekitaran jam 11 malam, mobilku menabrak seseorang anak yang digandeng ibunya tengah menyeberang jalan. Untung saja saya cepat memijak rem hingga anak itu lukanya tidak kronis cuma sedikit saja di bagian pahanya. Saat saya menawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menampik serta tuturnya lukanya tidak kronis. 




“Ya telah bu, saat ini saya antar Ibu pulang, di mana tempat tinggal Ibu? ”“Nggak usah den, si Mbok tidak usah diantar”. “Kenapa Mbok, inikan telah malam, tidak apa-apa Mbok saya antar ya? ”Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku serta cuma menunduk lesu serta saat dia ingin menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sembari membawa bekicot. “Ini Mbok bekicotnya, agar luka Mbak Tika cepat pulih”. Ibu itu terima bekicot dari gadis itu, memecahnya di bagian ujung serta memoleskannya diluka gadis yang nyatanya namanya Tika. Namun, Sesudah usai memoleskan, simbok itu mengandeng Tika serta adiknya ingin pergi. Sebelumnya mengambil langkah jauh, saya hadang serta berupaya untuk mengantarnya pulang. 


“Simbok ingin pulang.., saya antar ya Mbok, kasihan Tika jalannya pincang”. “Ngaak usah den, simbok.. ”. “Kenapa Mbok, tidak sungkan-sungkan, ini kan telah malam, kasihan Tika Mbok.. ”. “Simbok ini tidak miliki tempat tinggal den, sombok hanya gelandangan”. Saya pernah benggong mendengar jawaban simbok ini, pada akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya ke rumahku meskipun cuma untuk malam hari ini saja. Selalu jelas saya kasihan pada mereka. “Ya telah Mbok, anda serta ke-2 anakmu itu malam hari ini bisa tidur dirumahku”“Tapi ndoroo.. ”. “Sudahlah Mbok, ini kan untuk menebus kekeliruanku karna menabrak Tika”. 


Dari info yang saya peroleh di dalam mobil sepanjang perjalanan pulangp, simbok ini nyatanya ditinggak suaminya waktu memiliki kandungan adiknya Tika, yang pada akhirnya saya kenali namanya Intan. Simbok ini yang nyatanya namanya Inem, usianya sekitaran 42 th., serta anaknya si Tika umurnya 14 th. sedang Intan baru 11 th.. Tika pernah lulus SD, sedang Intan cuma pernah nikmati bangku SD kelas 4. 


Setelah tiba di rumah, Mbok Inem serta ke-2 anaknya segera saya suruh mandi serta makan malam. Nyatanya simbok, Tika serta Intan tidak membawa baju ganti hingga sesudah mandi baju yang dipakainya ya tetaplah yang barusan. Walau sebenarnya baju yang digunakan ketigany telah tidak layak untuk digunakan sekali lagi. Simbok menggunakan daster yang lusuh serta sobek di sana-sini sedang Tika serta Intan sama juga lusuh serta penuh jahitan di sana sini. Besok yang kebetulan hari minggu, saya memanglah memiliki gagasan membelikan baju buat mereka bertiga. Saya memanglah type orang yang tidak dapat lihat ada orang yang lain menanggung derita. Kata kawan-kawan sich, saya termasuk juga orang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi. 


“Tika dan anda Intan makan yang banyak ya.. agar cepet gede.. ”. “Inggih Ndoro.., bisa tidak bila Intan butuhkan semua, karna Intan telah 2 hari tidak makan”. “Boleh nduuk.., Intan serta Tika bisa makan sepuasnya disini”. 


***** 


Dari mulai sinilah awal dari petualangan seksku. Sesudah acara makan malam usai, ketiganya saya suruh tidur di kamar belakang. Sekitaran jam 1 malam sesudah saya usai nonton acara TV yang menjemukan, saya menuju kekamar belakang untuk meneggok kondisi mereka. Saat saya masuk kekamar mereka, jantungku segera berdeguk cepat serta keras waktu saya lihat daster Mbok Inem yang terungkap hingga ke pinggang. Nyatanya di balik daster itu, Mbok inemku ini mempunyai paha yang benar-benar mulus serta di balik CD nya yang lusuh serta sobek di bagian depannya tampak dengan terang jembutnya yang tidak tipis serta hitam. Fikiranku segera melayang-layang serta kontolku yang masih tetap perjaka ini segera berontak. 


Sesudah agak tenang, tanganku segera bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Sesudah senang mengelus pahanya, saya mulai menjilati ujung paha serta selesai dipangkal pahanya. Saya pernah ingin muntah saat mulai menjilati klitorisnya. Dimuka barusan kan saya telah katakan bila CD Mbok ku ini sobek di bagian depan.., jadi clitnya tampak dengan terang. Sedang yang buat saya ingin muntah yaitu bau CDnya. Ya.. mungkin saja telah berhari-hari tidak dicuci. Sesudah sekitaran 13 menit saya jilati clitnya serta nyatanya Mbok inemku ini tak ada reaksi.. ya mungkin saja sangat lelah shingga tidurnya nyenyak banget, saya mulai mengeluarkan kontolku serta mulai saya gesek-gesekkan di clitnya. Saya tidak berani melapas CDnya takut dia bangun. Ya.. saya cuma berani mengocok kontolku sembari memandangi clit dan teteknya. Nyatanya Mbok inemku ini tidak menggunakan BH hingga puting payudaranya pernah menonjol dibalik dasternya. Saya tidak berani untuk memeras teteknya karna takut Mbok Inem juga akan bangun. 


Tengah sebagian asiknya saya mengocok kontolku, si Tika bangun serta lihat ke arahku. Tika pernah ingin teriak serta untung saja saya cepat tutup mulutnya serta memimta Tika untuk diam. Sesudah Tika diam, berhubung saya telah tanggung, selalu saja saya kocok kontolku. Tika yang masih tetap terduduk lemas karna ngantuk, tetaplah saja lihat tangan kiriku yang mengocok kontolku serta tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya. Sembari lakukan aktivitasku, saya pandangi si Tika, gadis kecil yang betul-betul polos, serta saya saksikan kadang-kadang Tika lihat mataku selalu beralih ke paha ibunya yang tengah saya elus-elus berkali-kali. Sesudah sekitaran 8 menit berlalu, saya tidak tahan sekali lagi, serta pada akhirnya “.. croot.. crrott.. croot.. ” ada 6 kali saya menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini. 


Waktu saya mengeluarkan pejuhku, si Tika tutup matanya sembari memeluk ke-2 kakinya. Ketika tersebut saya tanpa ada berniat lihat pangkal pahanya serta nyatanya.., tikaku ini tidak menggunakan CD. Waktu saya tengah lihat memeknya Tika, dia katakan.. “Ndoro.. mengapa pipis di memeknya simbok”. saya sendiri pernah kaget mendengarnya. “Nduuk.. itu agar ibumu tidur pulas.. ”. “Ndoroo.. Tika kedingingan.., Tika ingin pipis.. namun Tika takut ke kamar mandi.. ”. “Ya.. telah Nduk.. mari saya antar ke kamar mandi”. 


Tika lalu saya ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Saya sendiri juga ingin pipis, selalu Tika saya suruh jongkok didepanku. Tika lalu mengangkat roknya serta.. suur.. banyak air seni yang keluar dari memeknya. Saya sendiri cuma sedikit kencingku. Sesudah acara pipisnya usai, Tika saya gendong serta saya dudukkan di tepi ranjangku. Lantas saya peluk serta saya belai lembut rambut panjangnya yang hingga ke pinggang. “Ndoro.. Tika belum juga cebok.. kelak memeknya Tika bau lho.. Ndoro.. ”. “Nggak apa-apa Nduk.. agar kelak Ndoro yang bersihin memeknya Tika.. Tika bobok di sini ya.. sama ndoromu ini.. ”. 


Lalu Tika saya angkat serta mulai saya baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan payudaranya yang lumayan montok. Ketika tanganku mengelus pahanya.. “Ndoro.. mengapa mengusap-usap kaki Tika yang lecet.. ”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa.. ”. Tahu sendirilah, saya memang sungguh-sungguh telah horny untuk mencicipi Tika, gadis kecilku ini. Pikirkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 th. yang demikian polos, serta dia diam saja saat tanganku mengelus-elus semua badannya. 


Pembaca.. bagaimana telah belum juga ngebayanginya.. telah belum juga..! telah yaa.. saya terusin ceritanya. 


Lalu saya jongkok di antara kakinya serta awalilah saya singkap rok yang digunakan Tika hingga ke pinggang. Saat ini terpampanglah di hadapanku seseorang gadis kecil umur 14 th. denga bibir kemaluan yang masih tetap belum juga ditumbuhi bulu. Sesudah pahanya saya kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk serta Ibu jari saya berupaya untuk menguak isi didalamnya. Serta nyatanya.. berisi merah muda, basah karna ada sisa pipisnya yang barusan itu lho dan agak mengkilap.


Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya. Ake sendiri heran clitnya tikaku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya.“Aduuh.. Ndoro.. memeknya Tika diapain.. Ndoro..”.“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Tika diam saja yaa..”.“Inggiih.. Ndoro..”.Setelah Tika tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Tika.“Ndoro.. jangaan.. Tika malu ndoroo.. memek Tika kan bau..”.Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan. Tikapun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya.


Aku pun mulai menyedot memeknya Tika dengan kuat dan aku lihat Tika menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri.“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Tika diapain sih ndoroo..”.Akupun tidak peduli dengan keadaan Tika yang kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya..“Ndoroo.. sudah Ndoro.. Tika mau pii.. piis dulu Ndoro..”.Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..”Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yang mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.


Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul tikaku ini.“Ndoro.. maafin Tika ya.. Tika tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Tika bau ya Ndoro..”.“Nggak apa-apa Nduk.. tapi Tika harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”“Tika mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Tika..”.“Hukumannya, Tika gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”.“Iya Ndoro..”.


Akhirnya aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, Tika yang masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Tika agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan kontolku kedepan wajahnya dan aku suruh Tika untuk memegangnya.“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..!.“Inggih Ndoro.. tapi Tika malu Ndoro.. Tika takut Ndoro..”.“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya kontol Nduk..”.Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut.“Nduk.. kontolnya ndoromu ini diemut ya..”.“Tapi Ndoro.. Tika takut Ndoro.. Tika jijik Ndoro..”.“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Tika ngemut es krim.. ayo nanti Tika Ndoro kasih es krim.. mau ya..”.“Benar Ndoro.. nanti Tika dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”.


Tika pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan kontolku ke mulutnya yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang kontolku mengenai giginya.“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”.Sambil Tika mengoral kontolku, kaos lusuhnya Tika pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.“Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”.Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan kontolku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Tika dan aku kocok kontolku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!”Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Tika dan hanya sedikit yang menetes keluar dari mulutnya.


“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Tika sampai mau muntah..”.“He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”.“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Tika sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”.Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari : susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis.


Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Tika memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya.“Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Tika pipis lagi lho Ndoro..”.“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Tika mau lagi khan es krim..”“Mau Ndoro..”.


Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala kontolku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, tikaku meringgis.“Ndoro.. memek Tika diapain.. kok sakit..”Aku sempat tarik ulur kontolku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung kontolku merobek selaput tipis, yang aku yakin itu adalah selaput daranya.“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Tika, kuciumi wajah dan bibir mungilnya.“Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Tika tenang saja ya..”.Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.


“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yang keluar dari mulutnya Tika.“Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih…, aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”.SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Tika. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Tika pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.


Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di kontolku, pertanda tikaku sebentar lagi orgasme. Kepala Tika pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.


“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..”“Ndoroo.. Tika mau pipiiss.. ndoroo..”“Seerr.. suurr.. suurr.., kontolku seperti disiram air hangat..”.Aku peluk sebentar tikaku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.“Maapin Tika ya Ndoro.. Tika pipis dikasurnya Ndoro..”.“Tika malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”.“Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.


Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan kontolku.“Ndooro.. Tika capek.. Tika mau bobok.. ndooroo..”.“Iya nduuk.. Tika bobok saja yaa..”.“Memeek Tika periih.. ndooroo..”.Kutekan keras-keras kontolku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.


Aku cabut kontolku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Tika.., perut Tika jadi hangat Ndoro..”.“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Tika bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”.“Inggih Ndoro.., sekarang Tika capek.., Tika pengen bobok..”.Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Tika, si gadis kecilku. Aku dan tikapun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.

Jari-jariku mengarah pada G-spotnya Cewek mey Jadi lemes nih

Weekend kemaren saya ke Jakarta, Jari-jariku mengarah pada G-spotnya Cewek mey  Jadi lemes nih  sekalian mo singgah ketempat ponakan yang kos didaerah Karet Kuningan. Dia yaitu anak kakakku. Kakakku nitip makanan buat anaknya, karna saya ke jakarta ya akulah yang diminta jadi messenger. Hak prerogatif kakak tertua. Untuk aku sich tidak problem, toh skalian ke jakarta, apasalahnya singgah ke tempat ponakanku yang abege itu. Tuturnya tempat kosnya elegan. Karna hujan deras 2 jam, Jakarta dirundung kesukaannya yang saat ini bukanlah tahunan namun dapat 2 bulanan, yakni genangan yang dalam (nanti ada yang tersinggung sekali lagi jika disebut banjir) serta ujung2nya macet. tempo ari saat kampanye rasa-rasanya ada pasangan yang bekoar2 kalau mreka yaitu ahlinya untuk ngatasi genangan dalam serta macet, nyatanya dua2nya omdo (Omong doang) dengan kata lain nato (no action talk only). Kok jadi ngelantur seh, kembali pada alur (Jika katakan laptop nanti disebut nyontek kata2nya orang yang miliki tampang ndesa rezeki kota sekali lagi). Karna genangan serta macet, jadilah saya parkir di jalan bebas pergerakan didalem kota (tol kan jalan bebas kendala, jika macet ya bebas pergerakan dengan kata lain tidak dapat bergerak sampai dapat parkir, gitu kok naik mulu tarifnya, (ngelantur sekali lagi neh, kembali pada crita). Terlepas dari kemacetan, telah ampir magrib saat saya sampai ke kos ponakan. 




Saya ketok2 pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Tetangganya keluar, wah amoy, cantik banget sekali lagi, mana bahenol juga. “Om cari Noni (sebut ja nama ponakanku itu), dia kan pekerjaan keluar kota? ” “Tugas? ” “Iya om pekerjaan dari kampusnya, ke desa mana gitu, Mey-mey lupa”. KKN kali ya (bukanlah korupsi, kolusi serta nepotisme lo). “Makasi ya, namanya Mey-mey ya, saya om nya Noni”. Dia diam saat saya keluarkan ponsel serta cobalah call ponakanku. Nyambung, “Om, sori ya, Noni harus KKN neh, tidak ngasi tau papah, jadi deh om kecele, dah jauh2 ke kos, noni tidak ada”. “Gak apa kok non, ini ada titipan makanan, gimana”. “Titip Mey-mey saja om, tetangga noni, agar dapat dimasukin di kulkasnya”. “Mo nyusahin ni Mey”. “Kalo dapat Mey-mey bantu tidak apa kok om”, jawabnya sambil tersenyum, manis sekali. 


Mey-mey memanglah cantik, mata sipitnya berbinar2, hidungnya bangir, bibirnya mungil, jika senyum terlihat giginya yang putih cemerlang (bhs iklan pasta gigi banget ya). Berwajah yang tirus dihiasi denganrambut potongan lelaki, pendek namun cocok sekali, hingga bener2 cantik deh. Mana bodinya aduhai sekali lagi, benjolan didadanya serta pantatnya yang membulat, menaikkan keseksian bodinya. Saya tahu karna Mey-mey waktu itu menggunakan celana pendek serta tanktop ketat, hingga lekak liku bodinya riil tampak. Glek, saya sampai nelen ludah nikmati panorama yang buat pikres itu (fikiran jadi ngeres). “Masuk om”, tuturnya mempersilahkan saya masuk kekamarnya. Wah rupanya kos elegan ala apartmen kaya gini toh, ada ruangan tamu merangkap ruangan makan serta pantri kering lengkap dengan perabotannya, sofa set, meja serta kursi makan, almari es serta ada microwave. Diatas credenza ada lcd tv ukuran 32 inch serta audio visual systemnya, kamar tidur (saya tidak simak berisi karna tidak enak longok2 ke kamar tidur orang, laen jika di ajak yang miliki ruamah ya) serta corner untuk bersihkan jemur pakean, kulihat ada mesin cucinya. “Asik banget kamarnya Mey. Mahal nih sewanya”. “Iya om, jika tidak ada donatur sich Mey-mey tidak mampu tinggal di sini. Jika ortunya Noni sich tajir ya om, Noni jadi kamar tidurnya dua”. “Donatur? Otu anda? ” “Bukan om, ortu mana dapat bayarin kos style apratmen gini, mana lengkap banget kan fasilitasnya. Masi dapat kuliahin ja dah bagus, itu ja tersendat ngirim duitnya. Sebaiknya ada donatur”. “Mangnya kuliahnya semester brapa? ” “Baru mulai om”. “Wah baru 18 ya”. “Kok om tau sich? ” Saya menebak2 siapa yang disebut dengan donatur, jangan2 bisyar neh atau simpenan. Wah jika dapat nemenin saya malem ini asyik banget, mana dingin sekali lagi setelah ujan gede. Walau sebenarnya dinginnya ruang karna ac nyala. “Om mo nitip apa sih”. “Ini tuturnya makanan, takut basi, dapat tidak nitip dilemari esnya”. “O dapat om, om mo minum apa? ” Tidak usah ribet deh, skarang dah saatnya makan kan, dapat tidak Mey-mey nemeni saya makan”. “Boleh, deket2 sini banyak warung, gengsi tidak makan di warung, atau di office building deket sini banyak restonya. Om mo yang mana”. “Ke resto saja yah, ngerepotin tidak? ” “Gak kok om, Mey-mey tidak ada acara”. “Masak malming gini tidak ada acara, donaturnya sekali lagi repot ya”. “Iya om”, dia tersenyum. “Ya telah nemenin saya ja ya malmingnya”, pancingku. “Boleh om, Mey-mey mandi dahulu ya, tidak apa kan om nunggu”. “Gak usah mandi, dah cantik gitu serta wangi lagi”. “Ya telah Mey-mey tuker baju dulu”. 

Dia menghilang kekamarnya, pintunya gak ditutup. Belum sempet aku ngintip, dia dah muncul lagi, hanya nuker celana pendek dengan celana jins ketat. “Yuk om”. Kita menuju ke mobil ku. Di jok blakang ada tasku. “Om mo nginep dimana?” “Kok tau aku mo nginep?” “Tuh bawa tas, kalo pulang Bandung lagi ya gak bawa taskan”. “Pinter kamu, gak tau neh mo nginep dimana, nginep dikamar Mey-mey bole gak”, aku to the point aja. “Nginep ditempat Mey-mey?”. “Iya, nanti uang hotelnya aku kasi Mey-mey deh”. Dia hanya tersenyum sambil menunjukkan arah ke office building. Karena dah sore, weekend lagi, tempat parkirnya kosong, jadi gak susah cari parkirnya. “Kalo siang nyari parkir ja susah om”. “Kamu memangnya sering ya ke sini naek mobil, ma donatur?” Dia menggangguk, dugaanku kayanya bener deh, donaturnya ya om2 yang nyimpen dia. “Om mo makan apa, ada resto sunda, enak om, ato bosen ya orang Bandung kok diajak makan di resto sunda”. “Gak apa kok, kan resto sundanya di jakarta, pasti beda cara masaknya. Donatur suka makanan sunda ya Mey”. Om nih, gangguin trus”, tapi sambil tersenyum. Tangannya kugandeng, dia diem aja, kita berjalan menujuke resto yang dimaksud. Aku suru dia pesen makanan yang dia suka, karena resto ala sunda biasanya ada ikan goreng, lalap, sayur asem, tahu tempe, empal dan sejenisnya. Minumnya aku pesen minuman energi yang dituang ke gelas berisi es batu, “Biar kuat ya om?” senyumnya mengandung maksud tertentu deh. “Biar seger ja, kan nyetirnya jauh, mana macet banget lagi bgitu masuk jakarta”. Makanan dan minuma tersaji dan kita mulai makan.


Selama makan aku berusaha ngorek data dirinya. “Mey, donatur kamu om2 ya”. “Om to the point amir sih”. “Kok amir”. “Iya om amat lagi cuti pulang kampung”. Aku terbahak mendengar jokenya. “Iya kan, om2″. Dia mengangguk. “asik dong dibiayain tinggal di kos apartment kaya gitu, kebutuhan hidup juga dicukupi ya”. Kembali aku mendapat anggukan. “Dah brapa lama Mey?” “Sejak mulai kuliah ja om”. “Kenal dimana?’ “Ketemu di mal, diajak makan, diblanjain, terus cek in deh”, dia sudah gak malu2 lagi crita tentang dirinya. Sepertinya dia nyangka aku dah menduga siapa donaturnya. “Diprawanin?” “Iya om”. “Sakit dong”. “Sakit lah, tapi sbentar, si om pinter banget deh ngerangsang Mey-mey sampe sakitnya cuma sbentar, slebihnya nikmat, ketgaihan deh Mey-mey”. “Kok skarang ditinggalin ndirian?” “Biasalah lelaki, kalo dah mulai bosen nyari yang baru. “Trus donasinya distop dong”. “Iya nih om, om deh jadi penggantinya”. “Boleh juga, aku sering kok mesti ke jakarta, kan gak usah kluar duit hotel, bisa buat kamu duitnya kan”. “Om baek deh”. Kamu melanjutkan makan dan minum dengan santainya. Selesai makan, Mey-mey ngajakin ke pub yang ada dilokasi yang sama. “Santai dulu ya om, sembari denger musik”. Dia pesen minuman, beralkohol lagi. Aku ikutin ja kemauannya. “Sering minum alkohol ya Mey”. “Suka juga om, biar asik aja”. Kebetulan musik yang dinyanyikan soft nadanya sehingga gak mengganggu ngobrolku dengan Mey-mey. “Om kamu kalo maen lama ya Mey”. “Lama juga om, Mey-mey suka 2 kali klimax dia baru kluar”. “Didalem?” “Iya lah om, kalo diluar mana nikmat”. “Kamu gak takut?” “Hamil? ya enggaklah om, Mey-mey punya obat antinya”. “Pil KB?” “Bukan om, diminumnya kalo Mey-mey subur ja, abis maen”. “Skarang lagi subur gak”. “iya om, justru kalo lagisubur Mey-mey suka lebih napsu maennya, jadinya lebi nikmat deh om. gak papa2 kok om, kan udahannya minum obat” Sepertinya dia sudah memastikan bahwa malem ini aku bakal ngen totin dia. “Tangan kamu buluan ya Mey, ada kumisnya lagi biar tipis”. “Mangnya napa om”. “Jembut kamu pasti lebat, dicukur gak?” “Gak om, si om sukanya lebat gitu, pernah Mey-mey babat abis, dia gak bisa ngaceng, dimarahin abis deh”. “Nosok sih, aku baru ngeliat kamu pake pakean seksi gini udah”. “Udah apa om, ngaceng?” dia tertawa. “Gak tau om, lagi cape kali dia, Mey-mey emut2 lama2 keras juga kok. Napa ya om lelaki seneng cewek yang jembutnya lebat”. “Kalo buluan, napsunya biasanya gede, gak puas cuma seronde maennya, bener gak” “Yoi, om tau aja, dah pengalaman juga rupanya nih, sukanya abege ya om” “Iya yang bikin horny kaya kamu gini”. Ngobrol berkepanjangan, ketika aku melihat arloji malam dah larut. “Balik yuk Mey”. “Om dah gak tahan ya, pengaruh alkohol pastinya, ayuk deh, Mey-mey juga dah pengen om”. Aku membayar bil, kali ini Met-mey yang berjalan sambil memeluk lenganku erat, manja sekali dia. Baiknya ponakan gak ada, kalo gak aku gak bisa bebas gini. “Wah kalo ada noni gak bisa bebas gini ya Mey”. “Katanya noni mo nyari kos yang lebi deket skolahnya om, biar bisa jalan kaki. Capek nyetir dan nyari parkir katanya”. “Bagus deh”, jawabku sambil membukakan pintu mobil, Dia masuk dan aku pun duduk dibelakang setir. Mobil mengarah kembali ke kosnya Mey-mey. Aku parkir, Mey-mey keluar duluan. Aku membawa tasku dan menyusul. Kuketuk pintunya, agak lama aku menunggu.


Aku kaget juga, ketika pintu terbuka Mey-mey hanya berbalut bra tipis model ikatan dan g string yang juga tipis. Aku sampe membelalak melihat pemandangan indah itu. “Mey kamu napsuin banget”, kataku sambil merangkul pundaknya menuju ke sofa. Pintu kututup dengan kaki, bibirnya yang langsung kucium dan kulumat. Dia tergagap sesaat sebelum membalas lumatanku. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Sambil melumat, aku juga merambah tubuhnya. Kuremas toketnya yang masih terbungkus bra tipis. Dia menggelinjang. Menggeliat-geliat karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya terus kulumat, dan dia menyambutnya dengan penuh napsu. Kurangkul tubuhnya, bibirku lebih menekan lagi. Kusedot lidahnya, sekaligus juga ludahnya. Aku kembali meremasi kedua toketnya, dan melepaskannya ikatan branya. Kemudian aku mulai menjilati dan mengemut toket dan pentilnya. Dia rupanya nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutnya. Tanganku turun untuk meraih g stringnya. Dia makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar ku merabai bibir no noknya dari luar g string dan kemudian mengilik i tilnya. Jariku meraih no noknya melalui samping g stringnya. Cairan no noknya yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jariku ke no noknya. Aku terus menggumuli tubuhnya dan merangsek ke ketiaknya. Aku jilati dan sedoti ketiaknya. Dia menikmati sambil merintih. Aku ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Dinding no noknya yang penuh saraf-saraf peka aku kutik-kutik, hingga tak terbendung lagi, cairan no noknya mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini kususulkan lagi jari lainnya. Aku tahu persis titik-titik kelemahannya. Jari-jariku mengarah pada G-spotnya. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di no noknya, aku berhasil membuatnya nyampe. Kepalaku diraih dan diremasi rambutku. aku dipeluknya erat-erat dan kukunya menghunjam ke punggungku. Pahanya menjepit tanganku, sementara pantatnya terangkat agar jariku lebih melesek ke no noknya. Dia berteriak histeris. Kakinya mengejang menahan kedutan no noknya yang memuntahkan cairan bening. Keringatnya yang mengucur deras mengalir ke mata, pipi, dan bibirnya. Saat telah reda, aku mengusap-usap rambutnya yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Aku sisir rambutnya dengan jari-jari. “Mey, kamu liar banget deh. Istirahat dulu ya. Aku ambilkan minum ya”, aku mengambilkan minuman dari lemari esnya. kaleng coca cola kubuka dan kuberikan kepadanya. Segera diminumnya coca cola itu sampe habis. Sementara dia masih terlena di sofa dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, aku terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungku ke perutnya. Bahkan lidah dan bibirku menjilati dan menyedoti keringatnya. Aku tak henti-hentinya merabai selangkangannya. Dia terdiam. Dia perlu mengembalikan staminanya. “Masih capek Mey”, bisikku. “Nggak kok. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal om belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Mey-mey sudah kelabakkan”, jawabnya.


Karena jawabannya tadi aku bangun dan melepaskan semua yang menempel dibadanku. Dia sangat tergetar menyaksikan tubuhku. Bahuku bidang. Lenganku kekar dengan otot-otot yang kokoh. Perutku nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, six pack gitu loh. Bukit dadaku kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan. Pandangannya terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatnya terpesona adalah kon tolku yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kon tolku mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut. Sesudah telanjang aku menarik lepas g stringnya sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. “Mey, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar”, kataku sambil mengelus2 jembutnya. “Bukannya liar, itu namanya menikmati om. Kekamar yuk om”.




Kami bangkit dari sofa, dia menarik tanganku masuk kamarnya. Kamarnya lumayan bear, dengan kamar mandi didalem, tempat tiur besar, lemari pakean yang masuk ketembok, meja rias, ada lcd tv 21 inch dengan audio visual systemnya. Dia mendorong tubuhku hingga terbaring di ranjang. kon tolku yang keras diremesnya. Kemudian kepala kon tolku dibasahi dengan ludahnya. Diratakan ludah dengan jarinya. Aku menggeliat kegelian. Dengan lembut diusapnya seluruh permukaan kepala kon tolku yang besar, aku melenguh karena nikmatnya. Digenggamnya pangkal kon tolku dan kepalanya yang basah mulai dijilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kon tolku dikocok turun naik. Dengan lidah dia menjilati kepala dan leher kon tolku, semua daerah sensitif dijelajahinya dengan lidah. Akhirnya kepalanya diemut dan dikeluar masukkan ke dalam mulutnya. Perutku dielus2, aku meremas2 rambutnya. Dia terus saja mengisap kon tolku. kon tol yang gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalanya kuelus-elus. Dengan penuh semangat dia terus mengulum kon tolku. “Mey, nikmat banget emutanmu”, erangku. “Kamu pinter banget siihh”. Dia terus memompa dengan lembut. Berkali2 dia mengeluarkan kepala kon tolku dari mulutnya. Dia menjilati tepi-tepinya. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya dijilati habis-habisan. “Mey, nikmatnya aah”, kembali aku mengerang. Aku tak tahan dengan rangsangannya, aku tarik dia dari kon tolku, kubaringkan dan kembali mulutku mengarah ke no noknya. Dengan lembut aku menjilati daerah sekeliling no noknya, pahanya kukangkangkan supaya aku mudah mengakses no noknya. “aah”, ganti dia yang melenguh keenakan. Lidahku makin liar menjelajahi no noknya. Bibir no noknya kukuakkan dengan jari dan kembali i tilnya yang menjadi sasaran lidahku. Dia makin menggelinjang gak karuan. Napasnya menjadi gak teratur, “Mey-mey dien tot dong om”, erangnya. Dari no noknya kembali membanjir cairan bening. Aku menjilati cairan itu.


Badannya kutarik, aku segera menempatkan kon tol besarku di bibir no noknya. Pelan2 kumasukkan sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat dan keras, kon tolku udah ambles semuanya di no noknya, “Aah”, erangnya lagi. Aku terus saja mengenjotkan kon tolku dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya no noknya makin berdenyut mencengkeram kon tolku dengan keras. “Terus yang cepat om, Mey-mey mau nyampe, aah”, erangnya dengan liar. Aku terus saja mengenjotkan kon tolku sampe akhirnya, “Aah, Mey-mey nyampe…”, kembali dia berteriak. Aku menghentikan enjotanku. Kembali aku membelai2 rambutnya dan bibirnya kucium dengan mesra. “Nikmat banget dien tot ama om, baru sebentar dienjot, Mey-mey dah nyampe,” katanya.


Aku mencabut kon tolku dan minta dia nungging Segera kutancapkan kembali kon tolku di no noknya dari belakang. Pinggulnya kupegangi sambil mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan cepat, rasanya kon tol masuk lebih dalam lagi ke no noknya, nikmat banget rasanya. Aku ingin merasakan macem2 gaya ngen tot, segera aku telentang dan minta dia yang diatas. Dia menancapkan kon tolku dino noknya dan diturunkannya tubuhnya sehingga kon tolku kembali ambles di no noknya. Dia menggerakkan pinggulnya turun naik dan juga dengan gerakan memutar. Aku meremas2 toketnya dan memlintir pentilnya. Dia membungkukkan badannya sehingga aku bisa mengemut pentilnya, sesekali kugigit pelan, Dia menjerit2 karena nikmatnya. “Mey, aku dah mau ngecret, didalem ya”, kataku sambil terus meremes toketnya. “Ngecretin didalem aja om, biar lebih nikmat”, jawabnya sambil terus menaik turunkan pinggulnya mengocok kon tolku yang ambles di no noknya. Dia kembali membungkuk, kali ini bibirnya kucium dengan ganas. Aku memegangi pinggangnya. Gerakan pinggulnya makin cepat, dia juga merasa akan nyampe lagi. no noknya terasa berdenyut2, “Om, Mey-mey mau nyampe juga, bareng ya om”, katanya terengah. Terus digerakannya pinggulnya naik turun dengan cepat sampe akhirnya pejuku muncrat menyembur2 didalam no noknya. Bersamaan dengan ngecretku, dia nyampe kembali. “Nikmatnya..”, erangku. Dia menelungkup lemas dibadanku, aku memeluknya dan mengecup bibirnya, sementara kon tolku masih nancap di no noknya. “Mey-mey lemes banget, tapi nikmatnya luar biasa”, katanya. “Ini baru ronde pertama lo Mey”, jawabku. “Mey-mey mau kok om en totin lagi”, katanya.


Dia berbaring kelelahan diranjang. Aku disebelahnya, aku belum puas, kembali aku meremas toketnya. “Kamu seksi banget ya Mey, toket kamu besar dan kenceng. Jembut kamu lebat banget, aku suka ngen tot ama yang jembutnya lebat. Mana no nok kamu kenceng banget empotannya, aku mau ngerasain lagi ya Mey”, kataku dan kembali aku mencium bibirnya. Aku bangun dan segera mengarah ke no noknya, aku tau titik lemahnya ada dino noknya. Aku kembali menjilati no noknya. Ujung lidahku kembali menelusup masuk ke no noknya. Rambutku segera diremas2 dan ditekannya kepalaku supaya lidahku lebih masuk lagi ke no noknya. Pantatnya menggelinjang naik keatas. Aku terus saja menggarap no noknya, pahanya kupegangi erat2 sehingga dia sulit untuk bergerak2, dia hanya bisa mendesah2 kenikmatan. desahannya merangsang napsuku sehingga segera aku melepaskan no noknya dan menaiki tubuhnya. “Om kuat banget sih. Baru aja ngecret udah pengen masuk lagi”. Aku tidak menjawab. Kugenggam kon tolku, kuarahkan ke no noknya. Dia menggelinjang saat kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir no noknya. Kepala kon tolku menguak gerbang no noknya. no noknya langsung menyedotnya, agar seluruh kon tol gede itu bisa dilahapnya. Uuhh .. dia merasakan nikmatnya desakan kon tol yang hangat panas memasuki no noknya. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. kon tol panas itu terus mendesak masuk. kon tol itu akhirnya mentok di mulut rahimnya. Kemudian aku mulai melakukan pemompaan. Kutarik pelan kemudian kudorong. Kutarik pelan dan kembali kudorong masuk. Begitu aku ulang-ulangi dengan frekuensi yang makin sering dan makin cepat. Dia mengimbangi secara reflek. Saat aku menarik kon tolku, pantatnya juga menaik sambil sedikit goyang ngebor. Dan saat aku menusukkan kon tolku, pantatnya cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya. Demikian secara beruntun, semakin lama makin cepat. toketnya bergoncang-goncang, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuhnya. mataku dan matanya sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. “Mey, nikmat banget deh no nok kamu”. “Kon tol om juga enak banget, panjangg .. Uhh gede banget.” Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. tubuh kekarku tampak berkilatan karena keringat, padahal kamar ber ac. keringatku mengalir dari leher, terus ke dada, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutku. Dengan gemas dia mainkan pentilku yang bekilatan itu. digigiti, dijilat, diremas2. Tambah buas gerakanku. Sodokan kon tolku tambah kencang di no noknya sambil terus meremes2 toketnya. Pada akhirnya, setelah sekian lama aku mengenjot no noknya dan dia nyampe 2 kali secara berturut2, kon tolku terasa berdenyut keras dan kuat sekali. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan dia rasakan no noknya sepertinya disemprot air kawah yang panas. Pejuku kembali berkali-kali ngcret di dalam no noknya. Uhh .. Aku jadi lemes banget. “Mey-mey lemes nih, tapi nikmat banget. Istirahat dulu ya”, kataku. Aku langsung terkapar di ranjang, dia juga dan tak lama kemudian kami tertidur.


Pagi hari. Aku terbangun karena ada ciuman di bibirku. Diluar udah terang. Dia sedang mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya, kayanya sarapan pagi ya ngen tot lagi. Kami saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan dia saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tanganku mulai beralih dari betis, merayap ke pahanya dan membelainya dengan lembut. Matanya terpejam. Kembali aku melepas bibirku dari bibirnya. satu tanganku masih terus membelai pahanya, diapun terbaring pasrah menikmati belaianku, sementara aku sendiri membaringkan tubuhku miring di sisinya. Aku mencium bibirnya kembali, yang serta merta dibalasnya dengan hisapan pada lidahku. gairahnya semakin menggelegak akibat tanganku yang mulai beralih dari paha ke selangkangannya, membelai no noknya. “Mmhh.. ” desahnya disela2 ciuman panas kami. Dari mencium bibirnya, lidahku mulai berpindah ke telinga dan lehernya, dan kembali lagi ke bibir dan lidahnya. Permainanku yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatnya terpancing menjadi semakin bernapsu. akhirnya aku mulai meraba2 toketnya, pentilnya yang saat itu sudah tegak mengacung kugesek2. Kuciumi toketnya, kemudian mulai menjilati pentilnya. “Ooohh.. sshh.. aachh.” desahnya langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahku yang basah dan kasar menggesek pentilnya yang terasa sangat peka. Aku menjilati dan menghisap toket dan pentilnya di sela-sela desah dan rintihnya yang sangat menikmati gelombang rangsanganku. Aku melepas pentilnya lalu bangkit berlutut mengangkangi betisnya, dan mulai menciumi pahanya. Kembali bibirku yang basah dan lidahku yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhnya pada setiap sentuhanku di pahanya. Apalagi ketika lidahku menggoda selangkangannya dengan jilatan yang sesekali melibas bibir no noknya. Yang bisa dia lakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak napsu. Aku mengalihkan jilatan kejembutnya yang telah begitu basah penuh lendir no noknya. “ohh..” lenguhnya. Lidahku melalap no nokny dari bawah sampai ke atas, menyentuh i tilnya. Aku menghentikan jilatan dan berlutut di depannya. no noknya terasa panas, basah dan berdenyut-denyut.


Dia membuka kakinya hingga mengangkang lebar lebar, lalu kuturunkan pantat dan kutuntun kon tolku ke bibir no noknya. Terasa sekali kepala kon tolku menembus no noknya. “Hngk! Besaar..sekalii,” erangnya. Tanpa terburu-buru, aku kembali menjilati dan menghisap pentilnya yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodanya dengan menggesekkan gigi pada pentilnya, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap pentilnya, sementara setengah kon tolku bergerak perlahan dan lembut menembus no noknya. Aku menggerak-gerakkan pantat maju mundur dengan perlahan, membuat lendir no noknya semakin banyak meleleh di no noknya, melicinkan jalan masuk kon tol berototku ini ke dalam no noknya tahap demi tahap. Lidahku yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. “Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. masukin kon tol om yang dalaam..! oouch.. niikmaatnya!” erangnya. Seluruh rongga no noknya terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding no noknya menggesek kon tolku yang keras dan besaar..! Akhirnya seluruh kon tolku yang kekar besar itu tertelan kedalam no noknya. Terasa bibir no noknya dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas pentilnya, aku mulai memaju-mundurkan pantat perlahan, “..oouch. niikmaat!!” dia pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatnya maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatku, dan akhirnya dia semakin tersengal2 diselingi desah desah penuh kenikmatan. “hh..sshh.. hh.. ohh ..suungguuhh.. niikmmaat.” lidahku kembali menari di pentilnya. Dia benar benar menikmati permainanku sambil meremas-remas rambutku. kon tolku yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot no noknya dan menggesek dinding no noknya yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatanku pada pentilnya pun semakin cepat dan bernapsu. Seluruh tubuhnya bergelinjang liar tanpa bisa dikendalikan. Desahannya sudah berganti dengan erangan liar, “Ahh.. Ouchh.. en totin Mey-mey terus, genjot habis no nok Mey-mey..!! genjoott.. kon tol om sampe mentok..!!” Ooohh..bukan main enaknya ngeentoot sama om..!!” mendengar celotehannya, aku menjadi semakin beringas, kon tolku makin cepat kuenjotkan keluar masuk no noknya. Akhirnya dia tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhnya “Ngghh..nghh .. nghh.. Mey-mey mau nyampe..!!” pekikannya meledak menyertai gelinjang liar tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku. Aku mengendalikan gerakan yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan kon tolku dalam2 dengan memutar mutar keras sekali. i tilnya yang sudah begitu mengeras habis kugencet. “..aacchh.. niikmaatnya.. tekeen.. teruuss.. i til Mey-mey..!!” Akhirnya dia nyampe, dia memeluk tubuhku erat sekali. wajahku diciumi sambil mengerang2 dikupingku sementara aku terus menggerakkan sambil menekan kon tolku secara sangat perlahan. Tubuhnya yang terkulai lemas dengan kon tolku masih di dalam no noknya yang masih berdenyut-denyut.


Tanpa tergesa-gesa, aku mengecup bibir, pipi dan lehernya dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarku memeluk tubuh lemasnya dengan erat. Aku sama sekali tidak menggerakkan kon tolku yang masih besar dan keras di dalam no noknya. Aku memberinya kesempatan untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Setelah dia kembali “sadar” , dia pun mulai membalas ciumanku, sehingga aku kembali memainkan lidahku pada lidahnya dan menghisap bibir dan lidahnya semakin liar. Napsunya kembali terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan kon tolku pada dinding no noknya. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar. Genjotan kon tolku pada no noknya mulai cepat, kasar dan liar.


Lalu aku memintanya untuk berbalik, sambil merangkak dan menungging dibukanya kakinya lebar, dia menatap mukaku sayu sambil memelas “Masukin kon tol gede om dari belakang kelobang no nok Mey-mey..” Aku pun menatap bokongnya. Sambil memegang kon tol kusodokan ketempat yang dituju Bleess.. “Ooohh. teruss..yang.. dalaam..!”! terasa besar dan panjang kon tolku menyodok no noknya, terasa sekali gesekannya di no noknya yang menyempit karena tertekuk tubuhnya yang sedang menungging ini. Aku menggarapnya dengan penuh napsu, tubuhnya diayun-ayunkan maju mundur, ketika kebelakang disentakan keras sekali menyambut sodokanku sehingga kon tol yang besar dan panjang itu lenyap tertelan no noknya. “Hngk.. ngghh..Mey-mey mau nyampe lagii..aargghh..!!” dia melenguh panjang, dia nyampe lagi. Dia mendorong pantatnya ke belakang keras sekali menancapkan kon tolku yang besar sedalam-dalam2nya di dalam no noknya, terasa no noknya berdenyut2 mengempot kon tol besarku. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhnya melemas dipelukanku yang menindih tubuhnya dari belakang. segera aku menggulingkan diri, rebah di sisinya. Tubuhnya yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan.


Aku memeluk tubuhnya dan mengecup pipinya, membuatnya merasa semakin nyaman dan puas. “Mey om belum ngecret..! Tolong isepin kon tol om dong..!” tanpa sungkan lagi dia mengemut kon tolku, dijilatinya biji pelernya, bahkan selangkanganku ketika dia melihat aku menggeliat geliat kenikmatan, “Ohh Mey.. nikmat sekalii.. teruss .. lumat kon tol om, iseep yang daleemm.. ohh..” aku mengerang penuh semangat membuatnya semakin gairah saja mengemut kon tolku yang besar. Emutannya makin beringas, kon tol yang besar itu yang menyumpal mulutnya, kepalanya naik turun cepat sekali, aku menggelinjang hebat. Akhirnya dia menaiki aku, kurasakan no noknya ingin melahap kembali kon tolku yang masih perkasa, diraihnya kon tolku lalu diduduki sembari kuarahkankan kon tolku ke no noknya. Bleess.”Ooohh..Mey..masuukin kon tolku semuanya..!!” aku mengerang. Diputar-putarnya pinggulnya dengan cepat, sekali kali diangkatnya pantatnya lalu dijatuhkan dengan keras sehingga kon tolku yang besar itu melesak dalaam sekali.. “aachh.. Mey..putaar..habiisiin kon tolku.. eennakk.. sekaallii..!!” giliran aku yang merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhku. Digenjotnya kon tolku bahkan sambil menekan keras sekali pantatnya. kon tolku diupelintir habis, bahkan dikontraksikannya otot2 no noknya sehingga kon tol yang besar itu terhisap dan terkenyot didalam no noknya. Aku menggelinjang habis, kadang mengejangkan tubuhku sambil meremas pantatnya keras sekali, ditekannya lagi pantatnya lebih keras, kon tolku melesak seluruhnya bahkan jembutnya sudah menyatu dengan jembutku, i tilnya tergencet kon tolku. Badannya sedikit dimiringkan ke belakang, biji pelerku diraihnya dan diremas-remas, “Ooohh.. aachh.. yeess. Mey”, aku membelalakan mataku. Lalu aku bangkit, dengan posisi duduk aku mengemut toketnya. Dia membusungkan kedua toketnya. “Emut pentil Mey-mey..dua..duanya.. ..yeess..!! sshh.. …oohh..!! erangnya. “Ooohh.. Mey..nikmatnya bukan main posisi ini..! Kon tolku melesak dalam sekali menembus no nokmu..!” aku mendengus2. Kurasakan kon tolku mengembung pertanda pejuku setiap saat akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. keluaar..bareeng..ya om”, erangnya lagi. “iya..Mey, aku…udah mau ngecret”. Tubuhku mengejang ketika aku menyemburkan pejuku dengan dahsyat di dalam no noknya, “aachh. jepiit kon tolku.. yeess.. sshh..oohh..nikmaatnya.. no nokmu Mey” aku mengecretkan pejunya di dalam no nokku, terasa kental dan banyak sekali. Diapun menggelinjang hebat, “Nggkkh..sshh.. uugghh.. teekeen kon tol om.. sampe mentookkhh..aarrgghh..!! Ditekannya, dijepitnya, dikepitnya seluruh tubuhku mulai kon tolku, pantat, pinggang bahkan dadaku yang kekar, dipeluknya erat sekali.


seluruh pejuku diperas dari kon tolku yang sedang terjepit didalam no noknya. Nikmatnya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, tubuhku terasa lemas sekali. “sarapan ini lebih nikmat dari semalem, Mey-mey mau lagi dong”, katanya. “Kamu masih abg tapi udah pengalaman banget ngempot kon tol ya. Ngen tot sama kamu yang paling nikmat deh Mey katimbang cewek2 lainnya, empotan kamu kerasa banget”. Dia hanya tersenyum kelelahan.

Ternyata ABG Cantik Binal Masih perawan aku kaget

Mengapa sekali lagi sich anda? “ Ternyata ABG Cantik Binal Masih perawan aku kaget tanyaku dengan suara sinis pada Amanda. “Maaf kak….. saya tidak sering latihan.. ”“Udah berkali2 anda gak dapat ngikutin.. nadanya melenceng semua… janganlah disangka dapat tanpa ada latihan anda dapat main saksofon dengan bagus” lanjutku. 




Amanda cuma terdiam. matanya melihat ke lantai, seakan2 mengkalkulasi jumlah lantai keramik, atau sebatas mengira2 luas karpet yang melapisinya. Saya sebal. Jadi seseorang guru musik, hal yang paling menjengkelkan yaitu saat muridmu tidak berlatih sekalipun. Ditambah sekali lagi, saat saya tengah pusing kerjakan tesis s2ku, di mana mengajar saksofon yaitu satu2nya hiburanku, murid yang satu ini buat hatiku jengkel. 


Amanda, 19 th., seseorang mahasiswi yang kebetulan satu kampus dengan tempatku ambil kuliah s2, menurutku begitu memiliki bakat bermain saksofon. Namun dia tidak sering sekali latihan. Terdengar dari nadanya yang melenceng, serta tiupannya yg tidak statis, tandanya dia tidak sering menyentuh alat musik itu. 


Jadi mahasiswa S2 yang membiayai kuliahnya sendiri, bermain musik serta mengajar musik yaitu tulang punggung paling utama yang membiayai kuliahku. Ayahku tidak dapat membiayai sekali lagi kuliahku karna beliau telah lama wafat. Uang yang ibuku beri tiap-tiap bulannya cuma cukup untuk membayar kos saja. Uang untuk kuliah, juga didukung oleh beasiswa. Namun beasiswanya tidak penuh. Tersebut kenapa saya memakai bakatku dalam bermain alat tiup saksofon untuk mencari uang, mengajar ataupun bermain di acara2 musik. 


Dari yang kulihat lewat website pertemanan facebook, Amanda terlihat suka sekali bermain dengan rekan2nya tak tahu itu nongkrong di kafe, jalan2 ke mall, ataupun bertandang ke Bandung dengan rekan2nya. Itu tidak jadi masalah sesungguhnya, namun bila dia meninggalkan latihan saksofonnya, itu problem buatku. Ada orang yang katakan jika muridnya ngaco, bermakna gurunya yang gak bener. Itu membuatku jadi gemas saat Amanda senantiasa buat kekeliruan saat bermain. 


“udah ya, hari ini hingga di sini saja” saya membereskan saksofonku serta buku musik ku. “tapi kak…” amanda memotong ucapanku“tapi kenapa… pokoknya minggu depan saya tes sekali lagi yang barusan ya, janganlah sampai gak dapat seperti saat ini. ” Saya selekasnya bergegas keluar, menggunakan jaket, isi tidak hadir guru di meja resepsionis, serta keluar untuk menyalakan mesin motorku. Telah ingin maghrib rupanya. 


Amanda menyusulku keluar. “Kak… maafin saya ya…. Saya memang sekali lagi banyak aktivitas akhir2 ini, tidak sering latihan…. ” Ucapnya. “yaudah… minggu depan perbaikin oke” saya menggunakan helmku. “saya pulang dahulu ya” saya mengendarai motorku menjauhi tempat les itu. Dari spion saya dapat lihat Amanda masuk kedalam city car nya. Pertemuanku dengan Amanda berawal saat saya isi acara yang diselenggarakan oleh BEM kampusnya. Dia jadi panitia, LO band yang beranggotakan salah satunya saya sendiri. Bermula dari ngobrol2 Amanda rupanya bermain saksofon juga serta dia menginginkan belajar dariku. Karna saya mengajar di satu diantara sekolah musik yang mentereng di Jakarta, kusuruh saja dia daftar, serta dia selanjutnya mendaftar untuk jadi muridku. 


Sesungguhnya Amanda mengasyikkan, suka melucu serta gampang akrab. Namun kekurangannya ya itu, malas berlatih, tak tahu hari2nya di habiskan oleh apa terkecuali kuliah. Apakah itu main, pacaran, saya tidaklah terlalu tahu, karna percakapan pada saya serta Amanda cuma sekitar musik, lokal ataupun musik global. 


Saya kembali pada kosanku, kunyalakan laptop hasil tabungan sendiri itu. Sesungguhnya saya tidak dari keluarga yang kurang dapat, cuma saja ayahku orangnya disiplin serta tidak memanjakan anaknya. Saat saya kuliah s1 di bandung dahulu, saat dapat mencari uang sendiri, saya telah mulai mengurangi beban orang tuaku dengan tidak memohon uang jajan. Saat sebelumnya saya lulus s1, ayahku wafat serta wasiat terakhirnya yaitu supaya saya selalu melanjutkan sekolah. Kujalani pesan ayahku, serta kenyataannya, meskipun cuma dari mengajar serta bermain musik, saya dapat menabung, membayar uang kuliah, serta menyicil motor, meskipun uang untuk kos masih tetap dibantu oleh ibuku. 


Sedang Amanda, dapat diliat hidupnya sangat gampang. Orangtua yang kaya, serta memanjakan anaknya, tampak dari saksofonnya yang tampak baru serta kinclong, lain dengan saksofon tua ku yang hasil nabung sendiri itu. Naik mobil kemana, jalan2, pacarnya juga saya kenal, walaupun cuma hanya tahu sama tahu saja. Anak orang kaya juga. Kehidupan mereka berlainan jauh denganku. Nampaknya apa2 saja yang mereka kehendaki gampang didapat. 


—————————–minggu depan———————————————— 


Jam 4 sore. Saya menanti hujan reda di kosanku. Jam 5 harusnya saya telah di sekolah musik itu. Namun karna saya menggunakan motor, jadi saya cuma dapat menanti. Saat selalu berlalu. 


Hujan tidak reda. Maghrib telah tiba, serta saya telah menelpon ke sekolah musik itu untuk membatalkan les hari ini. Saya tidur2an di kasurku, malas untuk keluar kemana2 sekali lagi. 


Tiba2 handphoneku berbunyi. Saya lihat monitor handphoneku. Nyatanya nomor Amanda. “Halo kak…. ” Amanda memulai perbincangan“Eh anda, ada apa? telah tau kan lesnya gak jadi? “ jawabku“Aku berada di depan kosan kakak” lanjutnya“Eh…. Ngapain? “ saya heran. Amanda memutus telponnya. Saya bergegas keluar dari kamar kosanku, serta kulihat Amanda dengan basah kuyup terguyur air hujan, berdiri dimuka gerbang kosanku. Tanpa ada fikir panjang saya ambil payung, lari serta buka pintu gerbang. 


“Lho anda mengapa? kok kehujanan? mobil anda mana? “ tanyaku bertubi2. Amanda cuma diam saja. DIa menggigil menahan dingin, sepintas kulihat matanya memerah serta ada sisa tangisan. 


Untung saja tak ada orang yang saksikan, jadi Amanda dapat masuk ke kamarku. Karna kamar mandinya berada di dalam kamar, kusuruh Amanda untuk mandi. Tidak lupa kuberikan t shirt ku yang ukurannya agak kecil serta celana pendek, juga handuk yang umum kupakai. 


Saya agak cemas sesungguhnya. Karna di kosan ini tidak bisa membawa tamu wanita kedalam kamar. Saya tidak paham apa yang akan berlangsung bila orang2 kosan menduga saya serta Amanda lakukan hal2 yg tidak pantas. Saya cuma diam memandang pintu kamar mandi. Nada air mengalir dari shower dapat kudengar dengan terang. 


Tidak berapakah lama Amanda keluar, dengan menggunakan baju yang barusan kusiapkan. Dia tengah berupaya mengeringkan rambutnya dengan menggosok2annya dengan handuk. Dapat kulihat matanya masih tetap merah. 


“Kenapa sich anda? ” saya membulatkan tekad bertanya“Ceritanya panjang kak…. ” Tuturnya sambil duduk disampingku, di tepi ranjang. “kalo gak ingin narasi gak usah dipaksa” saya lantas berdiri serta menggunakan jaket“Saya beli makan ya, anda diem di sini dahulu, janganlah turut keluar, soalnya di kosan ini gak bisa ada tamu cewek masuk kedalam kamar” “ serta janganlah ribut, kelak disangkain saya nyelundupin anda ke dalem” kataku mengingatkan 


Saya tidak mengerti. Apa yang berada di fikiran Amanda hingga dia nekat datang ke kosan guru musiknya. Saya jalan dengan payung di dalam hujan, menuju tukang nasi goreng untuk pesan 2 jumlah, dibawa pulang. 


Saya kembali pada kamar kosan. Hujan sudah reda. Saya buka kunci kamar, serta temukan Amanda tengah terima telpon dengan air mata yang menetes. Saya selekasnya tutup pintu kamar serta mempersiapkan makanan. Amanda cuma diam saja, serta dia dan merta tutup telponnya. 


“Eh… makan dulu…” saya menegurnyaAmanda cuma diam. Sesaat kami berdua terdiam sebagian waktu. “Kak… ada tisu? ” Amanda pada akhirnya buka mulut. Saya selekasnya mengambilkan tisu dari laci meja belajarku. Amanda menyeka air matanya serta menarik nafas panjang. 


“Maaf ya kak saya ngerepotin” Amanda ambil makanannya serta mulai makan. “Gapapa kok, enjoy aja” “Ntar jika pakaiannya dah kering saya anter anda pulang ya” jawabku. “Ga usah kak…. Saya ingin di sini aja” pernyataan Amanda membuatku kaget. “Tapi, saya kan telah katakan, kosan di sini gak bisa terima tamu cewek sebenernya “ Saya berniat menegaskan kata2ku. “Aku tidak juga akan ribut kak. Janji” jawabnya 

Aku hanya menghela nafas sambil ogah2an menyantap nasi gorengku. Apa sih maunya dia, begitu pikirku.“Kalo mau minum ambil tuh gelasnya di rak di deket pintu kamar mandi” ucapku setelah Amanda menyelesaikan makanannya. Amanda menurut dan mengambil gelas, dan menuangkan air dari dalam dispenser. Aku tidak menghabiskan makananku, dan menyalakan laptopku. Jujur saja aku bingung bagaimana harus menghadapi Amanda. Aku jarang pacaran, ketika kuliah aku malah tidak sempat pacaran. Sibuk oleh kuliah dan musik. Apalagi sekarang, kuliah, musik, ngajar. Itulah yang menyebabkanku agak canggung hanya berdua di kamar dengan seorang perempuan.


“Kalau mau baca2 majalah itu ada di rak di atas kasur” Aku berkata seperti itu karena Amanda terlihat hanya duduk di tepi ranjang dan memandang lantai dengan tatapan kosong


Tapi Amanda seakan tidak menggubris ucapanku. Dia masih melamun“Amanda. Kenapa sih ?” Aku makin penasaran.Amanda tampak kaget mendengar pertanyaanku.“Hmmm…. Aku heran kak… apa sih yang dimauin sama laki2” dia membuka dialog“Kenapa gitu ?” aku turun dari kursi dan duduk di karpet. Amanda pun turun dari pinggir ranjang dan duduk di hadapanku.“Tadi aku rencananya bolos les kak….” jawab Amanda“Terus ?”“Aku jalan2 sama pacarku tadi. Pas jam 5, jam harusnya aku les, aku di dalem mobil pacarku, dia lagi nyetir, rencananya mau jalan cari makan terus nonton” Amanda melanjutkan ceritanya.“Entah kenapa handphone dia ditaruh di dashboard. Aku pinjem, mau main game yang ada di hapenya. Dia ngebolehin, tapi entah kenapa aku tiba2 pingin buka inbox smsnya”Halah. Pasti cowoknya selingkuh, begitu pikirku dalam hati.


“Aku ngeliat sms2 mesra kak. Gak cuman satu tapi beberapa cewek”Buset. Pikirku. Jagoan banget tuh cowok.“Aku kurang apa sama dia coba ? bela2in bolos les, bela2in dia, selalu aku temenin, kok dia begitu sama aku ?” dia mulai menangis lagi. “Jijik liat sms2 itu, sayang2an segala macem orang pacaran aja” Aku mengambilkan Amanda tisu lagi karena airmatanya mengalir deras.


“Terus gimana ?” aku memintanya melanjutkan ceritanya.“Aku marah kak. Tapi dia cuman diem aja ga ngomong apa2. Akhirnya di lampu merah aku keluar dari mobil”“Kan ujan” jawabku sedikit tidak antusias. Entah mengapa kasus ini sangat klasik pada orang2 yang pacaran. Tapi tampaknya Amanda sangat terpukul oleh kejadian tersebut.“Biarin aja kak. Aku jalan, ngejauh dari mobil, aku bisa denger sih dia nglakson terus….. tapi setelah jauh dari mobilnya, aku bingung mau kemana. Tapi aku inget kalo tempat tadi deket sama kosan kakak. Makanya aku kesini”


Memang dulu Amanda pernah kesini diantar oleh pacarnya, mengambil partitur lagu.“Terus ? kok kamu malah kesini ? ga pulang aja ?” tanyaku sambil berusaha meyakinkan dia agar pulang.“Males nanti ditanyain sama orang tua…. kemana si pacar, kok pulang sendiri. Ribet “ jawabnya“Lah kalo dicariin gimana ?” aku makin bingung“Aku udah bilang sama orang tua aku… mau tidur di rumah temen” “Tenang aja, mereka percaya kok…..”


Aduh. Entah mengapa menurutku Amanda berlebihan dalam menghadapi masalah ini. Kenapa gak putusin aja cowok itu, cari taksi, pulang, tidur, besok lupa. Tapi dia malah repot2 pergi ke kosanku.“Terus kamu mau ngapain disini ?” tanyaku dengan malas“Aku mau nenangin diri dulu kak…..”Eh. Bukannya lebih enak di rumah ? disitu kan bisa nangis bombay di depan orang tua. Dijamin bakal ditenangin, abis nangis besoknya lega deh. Aku bingung melihat kerapuhannya menghadapi masalah ini.


“yaudah lah terserah” kataku “tapi inget, jangan ribut, jangan keluar kamar, besok pagi saya anterin ke rumah”“Iya kak” jawabnya…


Jam2 berikutnya diisi dengan obrolan2 yang biasa kami lakukan, soal musik, teknik bermain saksofon. Tak lupa aku menyetel musik keras2 dari laptop dan menyalakan tv agar suara kami tidak terdengar.


Tanpa terasa sudah jam 11 malam“Aku ngantuk kak….” Kata amanda“Hmm…. kamu tidur di atas aja, saya biar tidur di karpet” jawabku sekenanya.“Enggak kak… aku kan tamu. Aku aja yang tidur di karpet” malah enak di gw. Aku pikir. Aku mengiyakannya dan menggelar selimut cadangan di karpet, untuk alas tidur agar agak empuk, dan memberinya selimut tipis serta bantal yang berlebih di ranjang. Aku mematikan lampu, dan juga naik ke ranjang, bersiap untuk tidur.


“Jangan dimimpiin kejadian yang tadi ya..” kataku mengingatkan“Iya kak….”


Sepi. Aku hanya menatap langit2 sambil memikirkan caranya besok pagi keluar tanpa ketahuan yang jaga kos. Kebetulan aja tadi hujan besar sehingga penjaga kos tidak memperhatikan pintu gerbang. Aku agak kesal dengan sikap Amanda. Sudah malas latihan, dan tidak berpikir panjang. Sebenernya muncul rasa kasihan yang besar dalam diriku. Dia belum dewasa, belum bisa mengambil keputusan dengan matang, dan akibatnya seperti ini. Ada di kos2an guru musiknya, dan tidur di lantai. Yasudahlah. Mungkin Amanda butuh teman malam ini, begitu pikirku.


Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini, harus kuakui kehadiran Amanda malam ini merusak pikiranku. Bukan jadi buruk, tetapi pikiranku menjadi kotor. Aku pernah melakukan seks, sekali2nya waktu baru kuliah dulu. Pengalaman itulah yang membuatku sedikit membayang2kan bagaimana kalau aku bermain cinta dengan Amanda.


Amanda memang cantik, kulitnya putih dan mukanya manis. Dan fakta2 itulah yang membuat pikiranku menjadi kotor. Coba kalau dia laki2. pasti aku santai2 saja.


Lama aku tidak bisa tidur. Aku sengaja menghadap ke tembok agar tidak melihat Amanda. Tiba2.. Jleg. Aku merasa ranjangku dinaiki orang. Aku kaget, sedikit terkesiap tapi aku berhasil mehanannya. Rupanya Amanda menaiki ranjangku.


“Kak… aku tidur sama kakak ya……” katanya dengan nada merajuk. DamnAku tidak bisa menolak karena dia sudah naik ke atas ranjang. “Ehh… ni kalau mau pake selimut. Aku memberikan bagian selimutku pada Amanda. Dia tampak agak malu, dan segera mengambil bagian selimutnya, dan tidur membelakangiku.


Sial. Apa2an ini. Kenapa dia naik ? apa karena kedinginan ? atau keras ? atau kenapa ?Aku merasakan gerakan di sebelahku.“Kak… maaf… aku sebenernya masih pengen ngobrol” “gapapa kan ?”Aku membalik badanku dan mendapati bahwa jarak mukaku dan muka Amanda tidak lebih dari 2 jengkal. Matanya yang memerah menatapku penuh harap.


“Kamu ya… Dengerin. Kenapa sih mesti gini ? kamu sekarang ada di kamar cowok, tidur bareng satu kasur. Ga pantes tau. Apa saya tidur di bawah aja ya” Aku berusaha bangkit.


“Ini yang aku suka dari kakak…” tiba2 Amanda berkata seperti itu.“Eh……..” Aku heran dan mematung sejenak“Kakak orangnya tegas…” “gak kayak dia…. egois… udha gitu ga pernah bisa tegas dan ga punya pilihan”“Manda… tapi” Kata2ku terhenti ketika tangannya menyentuh pipiku lembut.


“Aku suka sama kakak” pengakuannya membuatku terhenyak. Apakah benar ? apa Amanda Cuma terbawa perasaan akibat baru mengalami kekecewaan dalam berpacaran ?Aku mematung. Terdiam. Dalam hati aku mengakui bahwa sosok Amanda yang manis membuatku tertarik. Tetapi selama ini aku selalu me-ignore perasaan itu karena 1, dia sudah punya pacar, dan 2, aku tidak ada waktu untuk perempuan ditengah kesibukan tesis, musik dan ngajar.


“Kak” tangannya terus mengelus pipiku. Aku pun luluh. Tiba2 kami berdua saling memajukan wajah kami masing2. kami menutup mata dan bibir kami pun bersentuhan. Kami berciuman dengan pelan dan lembut. Amanda terus maju ke dalam pelukanku. Aku meraih pinggangnya, dan menggenggam tangan satunya. Telapak kaki kami saling bersentuhan dan saling bertautan.di dalam selimut itu. kami berciuman dengan hangat.


Kami melupakan batas antara guru dan murid. Walaupun umur kami tidak berbeda jauh, hanya enam tahun, namun rasanya ini seperti affair yang aneh antara guru dan murid. Walaupun guru dan muridnya hanya di sekolah musik saja. Kami berciuman sangat lama. Entah kenapa kami berdua tidak berciuman dengan nafsu dan tergesa2.


Tangan kiriku yang menyentuh pinggang Amanda, tiba2 mulai nakal. Tanganku masuk ke dalam t shirt yang dia pakai. Menyentuh kulit halusnya. Amanda tidak berontak. Dia malah terus menciumiku. Amanda pun tidak protes ketika tanganku masuk kedalam celana pendeknya dan memegang pantatnya. Damn. Rupanya dia tidak memakai celana dalam dan BH.


Aku melepaskan ciumanku, dan mulai menciumi telinga dan lehernya.“Ahh… Kak… ‘ Amanda tampak menikmati perbuatanku. Tanganku terus bermain mencoba membuka celana pendeknya. Amanda tidak berontak, kakinya malah beringsut membantuku melepas celana pendek itu. Pada akhirnya aku melempar celana itu ke lantai. Aku mulai menyentuh pahanya yang sangat mulus. Aku memeluknya erat, menempelkan perutnya di perutku.


“Kak….. “ Amanda memanggilku“Kenapa ?” Aku menghentikan ciumanku di leher“Kalau mau itu’… pelan2 ya…. aku belum pernah…” jawabnya pelan dengan nada pasrah dan tatapan penuh harap.Apa. Masih perawan ? aku kaget. Kupikir setidaknya dia pernah tidur dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak bisa menyikapi kelakuan pacarnya dengan benar, pengalamannya sangatlah minim. Aku terdiam. Mematung. Tidak dapat berpikir dengan jernih.


“Amanda… kalau kamu gak mau, jangan….” aku mundur“Gak apa2 kak. Kalau sama kakak aku mau..” Amanda meraih tanganku.“Kamu belum pernah…. jangan dipaksa kalau gak mau….” aku berusaha berpikir jernih.Amanda terdiam, tetapi dia malah masuk ke pelukanku kembali.“Aku mau….” jawabnya pelan“Aku Cuma minta kakak perlakukan aku dengan lembut”“Tapi” aku masih bertahan“Kak…. aku mau kasih ke kakak malem ini” “itu karena aku suka sama kakak” “dari pertama ketemu, tapi kakak tampaknya cuek sama aku…. tapi aku makin suka karena tau kakak orangnya tegas, dewasa, “


“Amanda, itu cuman perasaan pelarian aja…” jawabkuAmanda hanya diam. Tetapi dia menjawab dengan semakin masuk ke dalam pelukanku.Dia memelukku dengan erat, dan tidak mau melepasku.“Aku mau ngelakuinnya cuman sama kakak” amanda tetap gigih. Kami berpandangan sangat lama. Hingga akhirnya aku menciumnya kembali. Pertahanan akal sehatku runtuh.


Tanganku terus melingkari pinggangnya yang ramping itu. Amanda perlahan2 bergerak menindih tubuhku. Badannya naik ke atas badanku. Tangannya mencoba membuka t shirt ku tapi tampaknya dia agak canggung melakukannya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan membantunya membuka atasanku. Setelah itu aku berusaha bangkit dan duduk. Amanda memegang bahuku dan mencoba maju menciumku.


Aku menahannya dan memegang kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat2. amanda menatapku malu2. Aku sedikit tegang. Malam ini kedua kalinya aku berhubungan seks. Dan ini yang pertama bagi Amanda. Jantungku berdetak hebat. Aku menggenggam ujung t shirt yang dia pakai. Pelan2 kutarik keatas. Amanda menurut dengan mengangkat tangannya.


Amanda sudah telanjang bulat di pangkuanku. Kedua tangannya disilangkan, menutupi buah dadanya yang kecil. Dia sedikit menunduk dan tampak sangat malu. Pasti ini pertama kalinya dia telanjang bulat di depan laki2.


Aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya. Tak berapa lama kucium bibirnya lembut. Aku menggenggam kedua tangannya dan mulai menciumi lehernya, terus sampai ke buah dadanya yang kecil


Aku menciumi putingnya. Kurasakan badannya agak gemetar, entah karena geli atau agak takut. “Uhh….. Kak… geli…..” Amanda mendesah kecil. Aku berbisik kepadanya “Jangan terlalu berisik ya… nanti bisa gawat kalau ketahuan penjaga kos…”


Amanda mengangguk pelan. Aku melanjutkan menciumi buah dadanya. Sempat kulihat Amanda menggigit bibirnya. Menahan agar dia tidak ribut. “Ngggh…. mmmhhh…” Amanda terus mendesah. Aduh, bagaimana nanti ketika kami sampai ke inti permainan ?.


Aku menyuruh amanda untuk turun dari pangkuanku. Aku segera melepaskan celanaku. Amanda nampak agak kaget ketika melihat penisku. Ini pertama kalinya juga dia melihat penis lelaki langsung. Amanda duduk di sampingku. “Amanda, kalau kamu emang ga siap, mendingan gak usah….” Aku menatap wajahnya yang tampak malu bersemu merah,


“ Ga apa2 kak…. udah sampe sini….” dia tersenyum kecil walau aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan deg2an. Aku memegang lembut tangannya dan mencium keningnya. Lalu aku menariknya pelan agar kembali duduk di pangkuanku. Amanda duduk membelakangiku. Punggungnya sungguh mulus dan bersih. Aku mulai menciumi bahunya, terus sampai keleher. Kupeluk erat pinggangnya dan bisa kurasakan tangan Amanda memeluk erat leherku. Lama kuciumi bagian belakang leher dan punggungnya. Tak tahan lagi, pelan2 kubimbing Amanda untuk berbaring di kasur. Aku memegang lututnya dan kulebarkan pahanya.


Aku menindih badannya. Tangan Amanda menahan bahuku. Aku sejenak mematung memandangi Amanda. Patutkah kurenggut keperawanan perempuan manis ini ? Haruskah dia melakukannya denganku ?


Amanda balik menatapku dan berkata “Kak….. pelan2 ya… aku tau pasti sakit pada awalnya”“Kalau kamu gak mau, bisa kita hentiin sekarang kok….. “ aku menjawabnya.Amanda menggeleng pelan. “Aku siap kak………..”


Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya yang telah basah. Pelan2 kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Amanda mengejang2 geli. Aku memperbaiki posisi dengan menggenggam tangannya. Kurasakan pelan, penisku memasuki bibir vaginanya. Sempit sekali. Aku berkonsentrasi penuh memasuki vaginanya.


“Nggggh…….Ahhh….. “ Amanda menahan sakit. Bisa kulihat dia menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca2. “Uhhhh…..” dia menarik napas lega ketika penisku masuk penuh kedalam vaginanya. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan. Amanda tampak menutup matanya, dan meringis seperti menahan sakit. Aku mencabut penisku. Kulihat penisku berlumur darah perawan Amanda.


“Sakit? Kalau kamu ga tahan sakitnya ga usah dilanjutin…” Aku khawatir“Gapapa kak…..” Amanda tersenyum dengan mata agak berkaca2.Aku menarik nafas panjang, kuputuskan untuk tidak merubah2 posisi bercinta kami, terlalu dini untuk kami berdua. Ditambah lagi pengalaman kami berdua sangat minim.


Aku kembali memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Sudah lebih mudah, walau masih sempit. Kurasakan dinding vaginanya yang hangat mengapit penisku erat.“Mmmhhhh….kak.. “ Amanda mendesah pelan, dia sudah tidak meringis atau menggigit bibir lagi seperti sekarang.


Aku terus memaju mundurkan penisku dengan pelan namun temponya stabil. “Uhhh…..” Amanda tiba2 mencengkram erat bahuku. Seakan ingin mencakarnya. “Mmmmhhh” Kaki Amanda mencengkram erat pinggangku. Aku tahu dia akan orgasme. Terlalu cepat mungkin. Tetapi wajar. Karena ini pengalaman pertama bagi Amanda. Dia belum tahu bagaimana mengatur tempo, merubah posisi, ditambah lagi malam ini semuanya aku yang mengendalikan.


Amanda terus bersuara kecil mengikuti tempo goyanganku. “Nggg… mmmmhh….”Tiba2 aku menghentikan gerakanku. Aku tak ingin aku bablas keluar di dalam. Kaki amanda kuat mencengkram pinggangku. Malam ini adalah pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tampak tegang atau gugup. Aku tak mau jika ketegangannya mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan.


“ah…. kenapa kak ?” tanyanya polos dengan nafas tidak teratur“Enggak… tadi kamu ngejepit pingganggku terlalu keras… aku takut kalau nanti aku keluar di dalem…” jawabku.“oh…. “amanda“kamu santai ya sayang….” aku mengelus rambutnya lembut dan dia hanya mengangguk pelan.


Pelan2 aku mengisyaratkan agar Amanda tidur tengkurap. Dari belakang aku memposisikan kepala penisku tepat di lubang vaginanya. Pelan2 aku masukkan kembali. “hmmhhh… aaahhhh…” Amanda kembali mendesah ketika kumasukkan penisku. Aku memeluk pinggangnya dan membimbingnya naik. Kami bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Amanda bertumpu pada kasur. Aku menggerakkan penisku maju mundur sembari memegang erat pinggangnya. “Uuuuuh…. Ahhh….. “ Amanda tidak bisa menahan lagi suaranya. Entah karena kesakitan atau keenakan. Tapi kalaupun kesakitan, dia tidak berontak. Amanda terus mengerang. Entah berapa lama kami melakukannya. “Kak…. aku… ahhh”


Aku tau Amanda akan segera orgasme. Tapi aku tidak mencebut penisku. Aku malah makin bernafsu menggerakkannya. Tumpuan tangannya semakin lemas. Aku secara refleks malah menarik tangannya kebelakang agar posisi tubuhnya tetap stabil. Aku merasakan tubuhnya menegang dan vaginanya menjepit erat penisku. “Aaaaah….. aaaahh….. nggghh….” Amanda mengerang tanpa mempedulikan keadaan kamar kosku yang mungkin saja suara malam itu bisa bocor ke kamar sebelah. “Ngggghh… aaaaaaaaaah”. Tak berapa lama aku langsung mencabut penisku dan spermaku lalu muncrat berantakan di luar vaginanya. Amanda langsung dengan lunglai menjatuhkan diri ke kasur. Aku pun merebahkan diri di sebelahnya. Kami berpandangan dengan cukup lama dan berpelukan sampai kami tertidur.


Kini, kami bukan murid dan guru lagi. Tapi lebih dari sekedar itu. Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar les, karena kami sekarang menjadi sepasang kekasih. Kejadian malam itu, tidak pernah terulang lagi sampai sekarang. Dan kami tidak pernah mengungkitnya lagi. Biarkan malam itu ada untuk dikenang saja dalam hati kami masing2.