Minggu, 17 September 2017

Karena Iri Hati payudaraku diremas remasnya serta putingku digigitnya

Karena Iri Hati payudaraku diremas remasnya serta putingku digigitnya Namaku Audrey, saya menginginkan bercerita pengalaman pahit yang hingga saat ini masih tetap jadi trauma yang begitu hebat bagiku. Pada saat peristiwa ini menerpa diriku saya masih tetap siswi SMU kelas 3 di satu diantara SMU negeri di Jakarta barat. Kata beberapa rekanku, wajahku serupa aktris Hongkong Cecilia Cung. 




Saya lahir di Sumatera serta baru ke Jakarta saat SMU. Saya tinggal sendirian di Kost di daerah kota saat itu. Keluargu masih tetap tinggal di Sumatera. Ayahku memiliki perkebunan yang cukup besar di sana. Saya tinggal sendirian di Kost di daerah kota. 


Di sekolah saya begitu aktif di aktivitas ektrakurikuler. Pada th. pertama saya diambil jadi menjadi pemain inti tim volley serta basket di sekolahku. Karna prestasiku yang begitu menonjol didalam tim, guru olahragaku begitu mengagumi akan kepadaku. 


Saya ganti Lina sebagai kepala tim Volley serta Basket waktu itu serta tempat ini diberi kepadaku. Lina yaitu rekan sekelasku. Mulai sejak dipegang olehku tim volley serta basket sekolahku jadi juara 2 tim volley serta dan juara 3 tim basket di semua SMU negeri di Jakarta. 


Pada saat dipegang oleh Lina, prestasi tim volley serta basket sekolah sangat jelek. Sesudah tim volley serta basket dipegang olehku, Lina saya mengeluarkan dari tim volley ataupun basket karna kulihat dia sukai jadi provokator yang buat kekompakan tim terganggu. Sesudah Lina saya mengeluarkan dia geram besar padaku serta memprotes pada guru olahragaku, namun karna guru olahragaku takut kehilanganku dari tim jadi memprotes itu tidak digubrisnya. Lina sangat iri serta tidak suka kepadaku. Dari mulai peristiwa itu Lina berupaya untuk membalas dendam atas perbuatanku. 


Masih tetap kuingat awal peristiwanya dengan terang. Ketika itu pelajaran paling akhir kelasku yaitu pelajaran berolahraga. Saya menggunakan kaos berolahraga serta celana berolahraga sekolahku yang bewarna abu-abu. Pada saat saya tengah lakukan latihan volley kulihat Lina memerhatikanku selalu, saya berupaya tidak memandangnya. Sesudah usai pelajaran berolahraga serta pada saat itu saya akan balik menuju ke kelasku, Lina mengikutiku dari belakang serta memangilku, saya cukup kaget dia memangilku. Dia menghampiriku serta mohon maaf atas memprotes yang dia kemukakan pada guru olahragaku. Dia katakan dia ikut bangga dengan prestasi tim volley serta basket saat ini. Lina lantas menjabat tanganku mohon maaf lagi kepadaku, jadi tanda penyesalasannya dia ingin mentraktirku di satu café. 


Pertama saya menampiknya karna saya tidak ingin merepotkannya, namun dia selalu memohon kepadaku. Saya lihat dari raut mukanya dia nampaknya menyesal lantas saya terima tawarannya karna terasa tidak enak dengannya. Yg tidak kusadari waktu itu, semuanya cuma sandiwara serta jebakannya belaka untuk melakukan gagasan balas dendamnya terhadapku. 


Lina mengajakku ditempat parkir sekolah di mana dia memarkir mobilnya. Kami berdua masuk kedalam mobil Honda CRV Hitam kepunyaannya. Kurun waktu 20 menit sampailah kami di satu ruko baru. Kami berdua turun dari mobil serta masuk kedalam ruko. 


Kami segera diterima oleh seseorang Ibu. Ibu ini mempersilahkan kami masuk ke lantai 2 di mana ada meja serta kursi yang sudah disusun dengan rapi. Ibu itu katakan karna cafenya baru juga akan buka besok jadi hari ini masih tetap sepi dengan pengunjung. Ibu itu menyodorkan menu makanan pada kami. Kami pesan makanan serta lemon tea. 


Sesudah 5 menit turun ke lantai basic ibu naik dengan membawa 2 gelas lemon tea. Lina segera meneguk habis gelas yang diisi lemon tea itu lantas akupun menyusul manghabiskan lemon tea karna telah kehausan sekali sesudah barusan habis olahraga di sekolah. 


Sembari menanti makanan, kami mengobrol tentang tim volley serta basket sekolah kami, 20 menit lalu naiklah ibu itu dengan membawa sebagian piring makanan yang sudah kami pesan. Kami berdua mulai memakan makanan itu. Sesudah usai makan saya terasa sedikit aneh denganku, kepalaku merasa agak pusing serta mulai rasakan ngantuk yang mengagumkan, penghilatanku agak kabur serta tubuhku merasa lemas. Kemudian saya tidak paham sadar sekali lagi apa yang berlangsung selanjutnya denganku. 


Saat saya sadar saya ada di satu ruang yang begitu panas sekali kelihatannya di ruang sauna, saya masih tetap menggunakan kaos berolahraga abu-abu sekolahku serta rok abu-abu SMU yang begitu basah oleh keringatku. Tempat dalam tempat duduk kaki serta tangan terikat tali serta mulutku disumpal. 


Saya baru sadar dengan apa yang berlangsung denganku waktu itu serta baru mengerti semuanya cuma jebakan dari Lina. Saya benar-benar begitu menyesal sudah terima ajakannya. Saya mengharapkan bisa keluar dari tempat ini tanpa ada berlangsung suatu hal yang jelek terhadapku. Saya mulai mencari jalan keluar serta berupaya untuk melepas diri dari ikatan di tangan serta kakiku namun usahaku sia sia saja. Saya cuma bisa berdoa supaya Lina mengubah jalan fikirannya serta melepaskanku bahkan juga saya bersedia mohon maaf padanya karna sudah mengeluarkannya dari tim volley serta basket. 


Lima menit lalu masuklah ibu barusan dengan membawa satu handuk yang basah, tanpa ada sepatah katapun ibu itu lantas mendekatiku serta membekap hidungku dengan handuk yang sudah dibasahi dengan cairan didalam botol itu. Saya meronta ronta berupaya menghindar dari bekapan handuk yang dipegang oleh ibu itu namun karna dalam kondisi terikat saya tidak dapat banyak berbuat. Selang beberapa saat saya telah tidak sadarkan diri sekali lagi. 


Sesudah sadar diriku dalam kondisi terikat serta duduk di satu kursi serta di hadapanku ada satu TV besar. Saya rasakan semua tubuhku merasa sakit serta anusku merasa begitu perih. Kuperhatikan juga semua yang kupakai sudah ditukar dari mulai BH berolahraga, cd, baju berolahraga, rok abu-abu SMU. 


Tiba-Tiba di TV besar itu keluar siaran terlihatlah saya dalam kondisi terikat serta tidak sadarkan diri di ruang sauna. Rupanya siaran yaitu yang berlangsung padaku sepanjang saya tidak sadarkan diri. Selang beberapa saat Ibu barusan serta Lina buka ikatan di tangan serta kakiku serta membawaku yang tidak sadarkan diri ke satu kamar tidur yang besar. 


Saya dibaringkan diatas tempat tidur lantas ibu itu buka Kaos serta rok yang dipakainya lantas ia menghampiriku. Ia ambil digital kamera serta mulai memphotoku lantas ia melepas baju berolahraga bersama rok SMU-ku yang basah oleh keringatku. 


Baju olahragaku diciumnya terlebih dibagian yang begitu basah oleh keringatku sembari lakukan masturbasi, demikian juga rok smuku diciumnya serta lalu diberi pada Lina yang ikut nikmati aroma keringat yang berada di baju olahragaku serta rok SMU-ku. 


Saya yang masih tetap menggunakan bh berolahraga serta cd berwarna biru dipotretnya lantas ia melepas bh serta cdku. CDku yang basah oleh keringat diciumnya terlebih dibagian yang ada sisa cairan yang datang dari vaginaku serta ini begitu merangsang sekali buatnya lantas cd serta bhku diberi pada Lina untuk di nikmati juga. Saya baru pertama kalinya melihat tingkah laku seksual yang begitu aneh sesuai sama itu. Mereka begitu bernafsu sekali mencium aroma keringatku. 


Ibu itu memphotoku sekali lagi dalam kondisi bugil, buah dadaku dan bulu-bulu halus di sekitar vagina dipotretnya bibir vagina dibukanya dan dipotretnya close up, lalu tubuhku dibaliknya hingga tempatku saat ini terlungkup serta ke-2 kakiku dilebarkan selebar mungkin saja hingga terlihat dengan terang lubang anusku serta lalu dipotretnya dengan close up. 


Ibu itu membalikkan tubuhku serta mulai menciumku dengan nafsu serta menjilati telingaku serta leherku lantas ke-2 puting payudaraku dihisapnya dengan penuh nafsu, payudaraku diremas remasnya serta putingku digigitnya serta dipelintirnya, lantas ia mencium serta menjilat pahaku. Ke-2 kakiku direntangkan dengan lebar hingga lubang kemaluanku bersama bulu-bulu halus di sekelilingnya terlihat dengan terang lantas ia mulai menjilat bibir vaginaku dengan penuh nafsu sembari memasukkan ke-2 jarinya kedalam lubang vaginaku sepanjang sebagian waktu. 


Ibu itu lalu buka bh serta celana dalamnya sendiri serta mulai mendekatkan vaginanya ke vaginaku sedekat mungkin saja serta mulai mengesekannya sembari menarik ke-2 kakiku agar gesekannya serta kesenangan yang didapat makin nikmat. Ia selalu mengesekan vagina ke vaginaku hingga ia keluarkan lendir putih dari lubang vagina serta menjangkau orgasme. 


Tubuhku lantas dibalikan sekali lagi serta pantatku dilebarkan hingga lubang anusku terlihat dengan terang lantas ia menusukan ke-2 jarinya kedalam anusku dikocoknya dengan ke-2 jarinya. Ibu itu lantas ambil penis buatan serta dilumasinya dengan cairan. Lubang anusku yang juga akan jadi tujuan penis buatan itu. Dengan agak sulit payah ia berupaya untuk memasukan penis buatan itu kedalam anusku. Pada akhirnya dengan paksa ia berhasil juga memasukan penis buatan itu serta selalu memasukan hingga dalam sekali serta ditekannya selalu penis itu sepanjang sebagian waktu. 


Saya yang masih tetap tidak sadarkan diri tidak rasakan penyiksaan yang dikerjakan pada anusku. Anusku diperlakukan dengan kasar tanpa ada ampun dengan penis buatan itu hingga ibu itu terasa senang serta lemas. Lalu siaran di TV berhenti. Saya terasa malu sekali pada apa yang sudah berlangsung pada diriku, serta begitu tertekan serta ketakutan sekali dengan apa yang barusan saya saksikan di monitor tv barusan. 


Mendadak masukkah Lina kedalam ruang di mana saya ada sembari menghina serta merendahkanku. Ia berkata juga akan sembari tersenyum suka karna sudah berhasil membalaskan dendam terhadapku serta ini belum juga cukup tuturnya sembari menyodorkan satu vcd serta sebagian buah album photo. 


Lina berkata vcd ini diisi siaran yang baru saya saksikan serta photo foto di album ini berisikan perkosaan yang barusan menerpa diriku serta dia juga akan perbanyak vcd serta beberapa photo itu serta vcd serta beberapa photo ini juga akan diposkan ke sekolah serta diedarkan ke internet serta ia juga akan mencari alamat tempat tinggal orang tuaku di Sumatera dari arsip di sekolah serta kirim vcd serta photo itu ke alamat orang tuaku bila Saya tidak bersedia menandatangai 2 lembar kertas yang baru disodornya kepadaku. 


Saya begitu ketakutan mendengar ancaman yang barusan dilontarkan Lina kepadaku terasanya ingin pingsan. Saya tidak tahan terima penderitaan ini. Saya terasa begitu tertekan serta ketakukan sekali bila vcd serta beberapa photo ini hingga diliat oleh semua siswa di sekolahku, lebih-lebih sekali lagi begitu malunya bila hingga ketahuan oleh ke-2 orang tuaku. 


Lina memaksaku membaca isi 2 lembar kertas itu sembari tersenyum senang. Saya mulai membaca isi surat pernyataan kesepakatan yang inti berisi, Saya mesti bersedia setiap waktu menuruti semua perintah serta kemauannya dan tidak bisa menyanggah sedikitpun perintahnya kepadaku. Saya mesti terima semua kemungkinan yang jelek atas perintah yang ia beri kepadaku serta berjanji akan tidak menuntut juga akan tidak melaporkannya ke Polisi. Bila tidak mematuhi isi dari kesepakatan ini vcd serta beberapa photo ini juga akan disebarkan olehnya. 


Lina selalu mengancamku untuk selekasnya menanda tangani isi kesepakatan ini pada akhirnya karna tak ada pilihan saya menandatangi ke-2 lembar surat kesepakatan kesepakatan pada kami berdua. 


Lina melonjak girang karna saya telah ditaluknya serta nasibku setelah itu ada ditangannya serta dia bebas menggerakkan semua kemauannya kepadaku. Lina mengajakku keluar serta memberiku HP tersebut nomornya. HP itu mesti selalu kunyalakan karna setiap waktu ia juga akan memberi perintahnya kepadaku lewat HP itu. Bila Ponsel itu saya matikan mengakibatkan vcd serta photo itu juga akan ia sebarluaskan. 


Lina mengantarku kembali pada tempat kostku serta ia meneror mesti merahasiakan peristiwa ini bila saya tidak mematuhi juga akan terima resikonya. Lina berkata kepadaku besok dia juga akan memberi perintah pertamanya kepadaku. Ia katakan juga akan membawaku ke satu club fetish serta bondage besok. 


TAMAT

Karena Film Porno Gue pengen ML Aku minum pil KB

 Karena Film Porno Gue pengen ML Aku minum pil KB Namaku Iwan (nama samaran). Saya itu telah kuliah semester dua di satu diantara perguruan tinggi di Bandung. Saya tinggal masih tetap bareng orang-tua serta adikku yang masih tetap SMP, Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi tempat tinggal seringkali tinggal adikku serta saya saja, sama pembantu. 


Pada saat sore tempat tinggal tengah kosong, orang-tua tengah pergi serta kebetulan pembantu juga tengah tak ada. Adikku tengah pergi. Saya menyewa VCD BF XX serta X2. Saya suka sekali, karna tak ada masalah cocok tengah nonton. Narasi X2 di VCD itu kebetulan menceritakan mengenai sex pada adik serta kakak. Hilang ingatan sekali deh adegannya. Kupikir kok dapat ya. Eh, saya berani tidak ya lakukan itu sama adikku yang masih tetap SMP? namun kan adikku masih tetap polos sekali, bila di film ini mah telah jago serta pro, fikirku dalam hati. Tengah nonton plus mikir bagaimana langkahnya lakukan sama adikku, eh, bel berbunyi. Wah, teryata adikku, si Dina sama rekannya datang. Sial, mana filmnya belum juga usai sekali lagi. Segera kusimpan saja tuch VCD, selalu kubukakan pintu. Dina sama rekannya masuk. Eh, rekannya manis juga loh. “Dari mana lo? ” tanyaku. “Dari jalan dong. Memang seperti kakak, ngedekem mulu dirumah, ” jawabnya sembari manyun. “Aku juga seringkali jalan tau, memang elo doang. Hanya saat ini sekali lagi males, ” kataku. “Oh iya, Kak. Kenalin nih temanku, namanya Anti, teman sekelasku, ” tuturnya. Pada akhirnya saya kenalan sama itu anak. Mendadak si Dina bertanya, “lihat VCD Boyzone saya tidak? ”“Tau, mencari saja di laci, ” kataku. Eh, dia buka tempat saya menyimpan VCD BF. Saya segera gelagapan. “Eh, bukanlah di situ.. ” kataku cemas. “Kali saja ada, ” tuturnya. Telat. Belum juga pernah kutahan dia telah lihat VCD XX yang covernya lumayan hot itu, bila yang X2 sich tidak gunakan gambar. “Idih.. Kak. Kok nonton film seperti begini? ” tuturnya sembari melihat jijik ke VCD itu. Rekannya sich senyam-senyum saja. “Enggak kok, saya barusan dititipin sama rekanku, ” jawabku bohong. “Bohong banget. Ngapain juga jika dititipin nyasar sampai di laci ini, ” tuturnya. “Kak, ini film jorok kan? Nnngg.. seperti apa sich? ” tanyanya sekali lagi. 


Saya tertawa saja dalam hati. Barusan jijik, kok saat ini jadi penasaran. “Elo mao nonton juga? ” tanyaku. “Mmm.. jijik sich.. namun.. penasaran Kak.. ” tuturnya sembari malu-malu. “Anti, elo mao nonton juga tidak? ” tanyanya ke rekannya. “Aku mah asik saja. Lagian saya telah sempat kok nonton film seperti demikian, ” jawab rekannya. “Gimana.. jadi tidak? keburu ibu sama ayah pulang nih, ” desakku. “Ayo deh. Namun jika saya jijik, dimatiin ya? ” tuturnya. “Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar, ” jawabku. 


Lantas VCD itu saya nyalakan. Jreng.. dimulailah film itu. Saya nontonnya sembari kadang-kadang memandangi adikku serta rekannya. Si Anti sich nampaknya tenang nontonnya, telah “expert” kali ya? Bila adikku terlihat demikian baru pertama kalinya nonton film seperti demikian. Dia terlihat takut-takut. Terlebih cocok adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun. “Ih, jijik banget.. ” kata Dina. Cocok adegan ML kelihatannya si Dina telah tidak tahan. Dia segera kabur ke kamar. “Yee, jadi kabur, ” kata Anti. “Elo masih tetap mao nonton tidak? ” tanyaku ke si Anti. “Ya, selalu saja, ” jawabnya. Wah, bisa juga nih anak. Kelihatannya, dapat nih saya main sama dia. Namun bila dia geram bagaimana? fikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidaklah sampai ML ini. Sembari nonton, saya duduknya mendekat sama dia. Dia masih tetap selalu serius nonton. Lantas kucoba pegang tangannya. Pertama dia kaget namun dia tidak berupaya melepas tangannya dari tanganku. Peluang besar, fikirku. Kuelus saja lehernya. Dia jadi pejamkan matanya. Kelihatannya dia nikmati demikian. Wow, tampangnya itu lho, manis! Saya jadi menginginkan nekat. Saat dia masih tetap merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Pada akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karna mungkin saja memanglah telah jago, si Anti jadi mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku serta bermain-main didalam mulut. Sial, jagoan dia dari pada saya. Masa saya dikalahin sama anak SMP sich. Sembari kami ber-French Kiss, saya berupaya masukan tanganku ke balik pakaiannya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak demikian besar, namun kelihatannya sich seksi. Soalnya tubuh si Anti itu tidak besar namun tidak kurus, serta badannya itu putih. 


Demikian ketemu buah dadanya, segera kupegang serta kuraba-raba. Namun masih tetap terbungkus sama bra-nya. “Baju elo gue buka ya? ” tanyaku. Dia ngangguk saja sembari mengangkat tangannya ke atas. Kubuka pakaiannya. Saat ini dia tinggal gunakan bra warna pink serta celana panjang yang masih tetap digunakan. Shit! kataku dalam hati. Mulus sekali! Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing serta putingnya berwarna pink. Segera kujilati payudaranya, dia mendesah, saya jadi semakin terangsang. Saya jadi pingin menyetubuhi dia. Namun saya belum juga sempat ML, jadi saya tidak berani. Namun bila sekitaran dada saja sich saya lumayan tahu. Bagaimana ya? Mendadak cocok saya sekali lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami keduanya sama kaget. Dia kaget lihat apa yang kakak serta rekannya perbuat. Saya serta Anti kaget cocok lihat Dina keluar dari kamar. Si Anti cepat-cepat gunakan bra serta pakaiannya sekali lagi. Si Dina segera masuk ke kamarnya sekali lagi. Kelihatannya dia shock lihat apa yang kami berdua kerjakan. Si Anti segera pamit ingin pulang. “Bilang sama Dina ya.. sorry, ” kata Anti. “Tidak apa-apa kok, ” jawabku. Pada akhirnya dia pulang. 


Saya ketuk kamarnya Dina. Saya menginginkan menerangkan. Eh, dirinya diam saja. Masih tetap kaget kali ya, fikirku. Saya tidur saja, serta nyatanya saya ketiduran hingga malam. Cocok kebangun, saya tidak dapat tidur sekali lagi, saya keluar kamar. Nonton TV ah, fikirku. Cocok hingga dimuka TV nyatanya adikku sekali lagi tidur di kursi depan TV. Tentu ketiduran sekali lagi nih anak, kataku dalam hati. Dikarenakan lihat dia tidur dengan agak “terbuka” mendadak saya jadi keingat sama film X2 yang belum juga usai kutonton, yang ceritanya mengenai hubungan sex pada adik serta kakak, ditambah keinginan saya yg tidak kesampaian cocok sama Anti barusan. Saat adikku menggerakan kakinya buat roknya terungkap, serta terlihatlah CD-nya. Demikian lihat CD-nya saya jadi makin nafsu. Namun saya takut. Ini kan adikku sendiri masa saya setubuhi sich. Namun dorongan nafsu makin menggila. Ah, saya peloroti saja CD-nya. Eh, kelak bila dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Demikian CD-nya turun semuanya, wow, belahan kemaluannya tampak masih tetap sangat rapat serta dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmm.. halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Mendadak dia menggumam, saya jadi kaget. Saya terasa di ruangan TV sangat terbuka. Kurapikan sekali lagi baju adikku, selalu kugendong ke kamarnya.


Sampai di kamar dia, it’s show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmm.. nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun! “Kak.. ngapain lo!” teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali, “Ngg.. ngg.. tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?” jawabku ketakutan. Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.“Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi,” kataku.“Jangan bilang sama mama dan papa ya, please..” kataku.Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.


Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk “ngegituin” Dina. Sampai pada suatu hari, adikku sedang sendiri di kamar. Aku coba masuk,“Din, lagi ngapain elo,” aku mencoba untuk beramah-tamah.“Lagi dengerin kaset,” jawabnya.“Yang waktu itu, elo masih marah ya..” tanyaku.“..” dia diam saja.“Sebenernya gue.. gue.. pengen nyoba lagi..” gila ya aku nekat sekali.Dia kaget dan pas dia mau ngomong sesuatu langsung aku dekati mukanya dan langsung kucium bibirnya.“MmhHPp.. Kakk.. mmHPh..” dia seperti mau ngomong sesuatu.Tapi akhirnya dia diam dan mengikuti permainanku untuk ciuman. Sambil ciuman itu tanganku mencoba meraba-raba dadanya dari luar. Pertama merasakan payudaranya diraba, dia menepis tanganku. Tapi aku terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba payudaranya, aku mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau saja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung kubuka bra-nya. Kujilati putingnya dan sambil mengusap dan mneremas-remas buah dada yang satunya. Walaupun payudara adikku itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan payudara yang besar. Ketika sedang dihisap-hisap, dia mendesah, “Sshh.. sshh.. ahh, enak, Kak..” Setelah kuhisap, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Terus kubuka celanaku dan aku keluarkan “adik”-ku yang sudah lumayan tegang. Pas dia melihat, dia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng pas “punya”-ku masih kecil. Sekarang kan sudah besar dong.


Aku tanya sama dia, “Berani untuk ngisep punya gue tidak? Entar punya elo juga gue isepin deh, kita pake posisi 69.”“69.. apa’an tuh?” tanyanya.“Posisi dimana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan,” jelasku.“Ooo..”Langsung aku membuka celana dia dan CD-nya. Kami langsung mengambil posisi 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya seperti bentuk kacang di dalam kemaluannya itu. Ketika kusentuh pakai lidah, dia mengerang,“Ahh.. Kakak nyentuh apanya sih kok enak banget..” tanyanya.“Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue dong. Masa elo doang yang enak,” kataku.“Iya Kak, habis takut dan geli sih..” jawabnya.“Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin saja keenakan elo,” kataku lagi.Saat itu juga dia langsung menjilat punyaku. Dia menjilati kepala anu-ku dengan perlahan. Uuhh, enak benar. Terus dia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu dia masukkan punyaku ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Oohh.. gila benar. Dia ternyata berbakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.


“Stop.. eh, Din, stop dulu,” kataku.“Lho kenapa?” tanyanya.“Tahan dulu entar aku keluar,” jawabku.“Lho emang kenapa kalau keluar?” tanyanya lagi.“Entar game over,” kataku.Ternyata adikku memang belum mengerti masalah seks. Benar-benar polos. Akhirnya kujelaskan kenapa kalau cowok sudah keluar tidak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kami sudah tidak 69 lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku teruskan menghisapi kemaluannya dan klitorisnya. Dia terus menerus mendesah dan mengerang.“Kak Iwan.. terus Kak.. di situ.. iya di situ.. oohh.. sshh..”


Aku terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambutku. Sambil matanya merem-melek. Akhirnya aku sudah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,“Elo berani ML tidak?”“..” dia diam.“Gue pengen ML, tapi terserah elo.. gue tidak maksa,” kataku.“Sebenerya gue takut. Tapi sudah kepalang tanggung nih.. gue lagi ‘on air’,” kata dia.“OK.. jadi elo mau ya?” tanyaku lagi.“..” dia diam lagi.“Ya udah deh, kayanya elo mau,” kataku.“Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali,” kataku.“..” dia diam saja sambil menatap kosong ke langit-langit.


Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Kelihatan bibir kemaluannya yang masih sempit itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu aku sentuhkan kepala “anu”-ku ke liang kemaluannya, Dina menarik nafas panjang, dan kelihatan sedikit mengeluarkan air mata. “Tahan ya Din..” Langsung kudorong anu-ku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit sekali. Aku terus mencoba mendorong anu-ku, dan.. “Bleess..” masuk juga kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,“Akhh sakit Kak..”“Tahan ya Din..” kataku.Aku terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua kemaluanku ke dalam selangkangan adikku sendiri.“Ahh.. Kak.. sakit Kak.. ahh..”Setelah masuk, langsung kugoyang maju-mundur, keluar masuk liang kemaluannya.“Ssshh.. sakitt Kak.. ahh.. enak.. Kak, teruss.. goyang Kak..”Dia jadi mengerang tidak karuan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kami ganti dengan posisi “dog style”. Dina kusuruh menungging dan aku masukkan ke lubang kemaluannya lewat belakang. Setelah masuk, terus kugenjot. Tapi dengan keadaan “dog style” itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam kemaluannya itu seperti menarik batang kemaluanku untuk lebih masuk.


“Ahh.. ahha.. aku lemess banget.. Kak,” rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi aku belum orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya untuk tidur terlentang. Terus kubuka lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Padahal dia sudah kecapaian.“Kak, udah dong! Gue udah lemes..” pintanya.“Sebentar lagi ya..” jawabku.Tapi setelah beberapa menit kugenjot, eh, dianya segar lagi.“Kak, yang agak cepet lagi dong..” katanya.Kupercepat dorongan dan genjotanku.“Ya.. kayak gitu dong.. sshh.. ahh.. uhuuh,” desahannya makin maut saja.Sambil menggenjot, tanganku meraba-raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba-tiba aku seakan mau meledak, ternyata aku mau orgasme. “Ahh, Din aku mau keluar.. ahh..” Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Karena masih enak, kukeluarkan di dalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum pil KB saja supaya tidak hamil, pikirku dalam hati.


Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, aku dengsr dia lagi merintih sambil menangis.“Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak,” tangisnya.Kulihat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget melihatnya. Gimana nih jadinya?“Kak, aku udah tidak perawan lagi ya?” tanyanya.“..” aku diam saja.Habis mau jawab apa. Gila! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.“Kak, punyaku tidak apa-apakan?” tanyanya lagi.“Berdarah begini wajar untuk pertama kali,” kataku.Tiba-tiba, gara-gara melihat dia tidak pakai CD dan memperlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu-ku “On” lagi

Pelan-pelan Omm Perih ABG menahan gejolak diatas ranjang



Pelan-pelan Omm Perih ABG menahan gejolak diatas ranjang Istri telah miliki. Anak juga telah sepasang. Tempat tinggal, walau hanya tempat tinggal BTN juga telah miliki. Mobil juga walau creditan telah miliki. Ingin terlebih? Awal mulanya saya hanya iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Serta itu semuanya karna makan buah terlarang. 


Kehidupan tempat tinggal tanggaku sebenarnya begitu bahagia. Istriku cantik, seksi serta senantiasa menggairahkan. Dari perkawinan kami saat ini sudah terlahir seseorang anak lelaki berumur delapan th. serta seseorang anak cantik berumur tiga th., saya hanya pegawai negeri yang kebetulan miliki kedudukan serta jabatan yang lumayan. Namun nyaris saja biduk tempat tinggal tanggaku dihantam badai. Serta memanglah semuanya dapat berlangsung karna keisenganku, bermain-main api sampai nyaris saja menghanguskan mahligai tempat tinggal tanggaku yang damai. Saya sendiri tidak menganggap bila dapat jadi keterusan demikian. 


Awalannya saya hanya iseng-iseng main ke satu club karaoke. Tidak diduga disana banyak pula gadis-gadis cantik berumur remaja. Perilaku mereka begitu menggoda. Serta mereka memanglah berniat datang kesana untuk mencari kesenangan. Namun banyak yang berniat mencari lelaki hidung belang. 


Selalu jelas saat itu saya sesungguhnya tertarik dengan salah seseorang gadis disana. Berwajah cantik, Badannya juga padat serta sintal, kulitnya kuning langsat. Serta saya memprediksi umurnya tidak lebih dari delapan belas th.. Saya menginginkan mendekatinya, namun ada kesangsian dalam hati. Saya cuma memandanginya saja sembari nikmati minuman enteng, serta dengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung dengan bertukaran. 


Namun benar-benar tidak disangka sekalipun nyatanya gadis itu tahu bila saya mulai sejak barusan memerhatikannya. Sembari tersenyum dia menghampiriku, serta segera saja duduk disampingku. Bahkan juga tanpa ada malu-malu sekali lagi menempatkan tangannya diatas pahaku. Sudah pasti saya begitu terperanjat dengan keberaniannya yang kuanggap mengagumkan ini. “Sendirian saja nih…, Omm.. ”, sapanya dengan senyuman menggoda. “Eh, iya.. ”, sahutku agak tergagap. “Perlu rekan tidak..? ” dia segera tawarkan diri. 


Saya tidak dapat segera menjawab. Benar-benar mati, saya betul-betul tidak paham bila gadis muda belia ini benar-benar pintar merayu. Hingga saya tidak mampu sekali lagi saat dia minta ditraktir minum. Walau baru sebagian waktu kenal, namun sikapnya telah demikian manja. Bahkan juga seolah dia telah lama mengenalku. Walau sebenarnya baru malam hari ini saya datang ke club karaoke ini serta berjumpa dengannya. 


Awal mulanya saya memanglah canggung, Namun makin lama jadi umum juga. Bahkan juga saya mulai berani meraba-raba serta meremas-remas pahanya. Memanglah dia kenakan rok yang cukup pendek, hingga beberapa pahanya jadi terbuka. 


Nyaris larut malam saya baru pulang. Sesungguhnya saya tidak umum pulang hingga tengah malam begini. Namun istriku tidak rewel serta sedikit ajukan pertanyaan. Selama malam saya tidak dapat tidur. Muka gadis itu masih tetap selalu membayang di pelupuk mata. Senyumnya, serta kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali pada masa remaja. 


Esoknya Saya datang sekali lagi ke club karaoke itu, serta nyatanya gadis itu juga datang kesana. Pertemuan ke-2 ini telah tidak membuatku canggung sekali lagi. Bahkan juga saat ini saya telah berani mencium pipinya. Malam itu akau betul-betul lupa pada anak serta istri dirumah. Saya bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kesempatan ini saya malah pulang mendekati subuh. 


Mungkin saja karna istriku tidak sempat ajukan pertanyaan, dan tidak rewel. Saya jadi keranjingan pergi ke club karaoke itu. Serta setiap saat datang, senantiasa saja gadis itu yang temaniku. Dia mengatakan namanya Reni. Tak tahu benar atau tidak, saya sendiri tidak perduli. Namun malam itu tidak seperti umumnya. Reni mengajakku keluar meninggalkan club karaoke. Saya menurut saja, serta berputar melingkari kota Jakarta dengan kijang creditan yang belum juga lunas. 


Tak tahu mengapa, mendadak saya miliki fikiran untuk membawa gadis ini ke satu penginapan. Benar-benar saya tidak menganggap sekalipun nyatanya Reni tidak menampik saat saya singgah di halaman depan satu losmen. Serta dia juga tidak menampik saat saya membawanya masuk ke satu kamar yang sudah kupesan. 


Jari-jariku segera bergerak aktif menelusuri tiap-tiap lekuk badannya. Bahkan juga berwajah serta lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang menghidupkan gairah. Saya mendengar dia mendesah kecil serta merintih tertahan. Saya tahu bila Reni telah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara. 


Perlahan-lahan saya membaringkan badannya diatas ranjang serta satu persatu saya menanggalkan baju yang dipakai Reni, sampai tanpa ada baju sekalipun yang menempel di badan Reni yang padat diisi. Reni mendesis serta merintih perlahan waktu ujung lidahku yang basah serta hangat mulai bermain serta menggelitik puting payudaranya. Sekujur badannya segera bergetar hebat waktu ujung jariku mulai menyentuh sisi badannya yang paling riskan serta peka. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran daerah riskan itu. Namun itu telah cukup buat Reni menggelinjang serta makin bergairah. 


Terburu-buru saya melepaskan semua baju yang kukenakan, serta membimbing tangan gadis itu ke arah batang penisku. Tak tahu mengapa, mendadak Reni memandang wajahku, waktu jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku ini, Namun cuma sebentar saja dia menggenggam penisku serta lalu melepaskannya. Bahkan juga dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya. “Jangan, Omm…”, desah Reni tertahan, saat saya berusaha untuk buka kembali lipatan pahanya. “Kenapa? ” tanyaku sembari menciumi sisi belakang telinganya. “Aku…, hmm, aku…” Reni tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia jadi menggigit bahuku, tidak mampu untuk menahan gairah yang makin besar kuasai semua sisi badannya. Waktu itu Reni lalu tidak dapat sekali lagi menampik serta melawan gairahnya sendiri, hingga sedikit untuk sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, serta saya lalu merenggangkannya ke-2 belah pahanya yang putih mulus itu hingga saya dapat dengan senang nikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai terlihat merekah. 


Serta matanya segera terpejam waktu rasakan suatu hal benda yang keras, panas serta berdenyut-denyut mulai menyodok masuk liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat hingga buat batang penisku jadi susah untuk menembus lubang vaginanya. Namun saya tidak kehabisan akal. Saya memeluk badannya dengan erat hingga Reni waktu itu tidak dapat leluasa menggerak-gerakan sekali lagi badannya. Waktu itu juga saya menghimpit pinggulku dengan kuat sekali supaya seranganku tidak tidak berhasil sekali lagi. 


Berhasil!, demikian kepala penisku masuk liang vagina Reni yang sempit, saya segera menghentakkan pinggulku ke depan hingga batang penisku melesak kedalam liang vagina Reni dengan sepenuhnya, saat itu juga Reni memekik tertahan sembari sembunyikan berwajah di bahuku, Semua urat-urat syarafnya segera mengejang kaku. Serta keringat segera bercucuran membasahi badannya. Waktu itu saya sangat tersentak kaget, saya rasakan kalau batang penisku seolah merobek suatu hal didalam vagina Reni, serta ini sempat kurasakan juga saat malam pertamaku, waktu saya ambil kegadisan dari istriku. Saya nyaris tidak yakin kalau malam hari ini saya juga ambil keperawanan dari gadis yang demikian saya gemari ini. Serta saya seakan masih tetap tidak yakin kalau Reni nyatanya masih tetap perawan. 


Saya dapat ketahui saat kuraba di bagian pangkal pahanya, ada cairan kental yang hangat serta berwarna merah. Saya betul-betul terperanjat waktu itu, serta tidak menganggap sekalipun, Reni tidak sempat menyebutkannya mulai sejak awal mulanya. Namun itu semuanya telah berlangsung. Serta rasa terkejutku saat itu juga lenyap oleh tekanan gairah membara yang demikian berkobar-kobar. 


Saya mulai menggerak-gerakan badanku, supaya penisku bisa bermain-main didalam lubang vagina Renny yang masih tetap demikian rapat serta kenyal, Sesaat Reni telah mulai terlihat tidak kesakitan serta kadang-kadang terlihat di berwajah dia telah dapat mulai rasakan kesenangan dari beberapa gerakan maju mundur penisku seolah membawanya ke batas ujung dunia tidak bertepi. 


Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tidak ada unsur paksaan. Walau dia lalu menangis sesudah semua berlangsung, Serta saya sendiri terasa menyesal karna saya mustahil kembalikan keperawanannya. Saya memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sembari memeluk badan Reni yang masih tetap polos serta kadang-kadang masih tetap terdengar isak tangisnya. “Maafkan saya, Reni. Saya tidak paham bila anda masih tetap perawan. Semestinya anda katakan mulai sejak semula…”, kataku coba menghibur. 


Reny cuma diam saja. Dia melepas pelukanku serta turun dari pembaringan. Dia mengambil langkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja telah terdengar nada air yang menghantam lantai didalam kamar mandi. Sedang saya masih tetap duduk di ranjang ini, bertumpu pada kepala pembaringan. 


Saya menanti hingga Reni keluar dari kamar mandi dengan badan terlilit handuk serta rambut yang basah. Saya selalu memandanginya dengan beragam perasaan berkecamuk didalam dada. Bagaimanapun saya telah merenggut kegadisannya. Serta itu berlangsung tanpa ada bisa dihindari kembali. Reni duduk disisi pembaringan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk beda. 


Saya memeluk pinggangnya, serta menciumi punggungnya yang putih serta halus. Reni menggeliat sedikit, namun tidak menampik saat saya membawanya kembali berbaring diatas ranjang. Gairahku kembali bangkit waktu handuk yang melilit badannya lepas serta terbentang panorama yang demikian menggairahkan datang dari keindahan ke-2 belah payudaranya yang kencang serta montok, dan keindahan dari bulu-bulu halus tidak tebal yang menghiasi di sekitaran vaginanya. 


Serta secepat kilat saya kembali menghujani badannya dengan kecupan-kecupan yang menghidupkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terganggu kembali. “Pelan-pelan, Omm. Perih…”, rintih Reni tertahan, waktu saya mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang ke-2 kalinya. Renny menyeringai serta merintih tertahan sembari mengigit-gigit bibirnya sendiri, waktu saya telah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetaplah serta teratur. 


Perlahan-lahan namun tentu, Reni mulai menyeimbangi pergerakan badanku. Sesaat beberapa gerakan yang kulakukan makin liar serta tidak teratasi. Sekian kali Reni memekik tertahan dengan badan terguncang serta menggeletar seperti tersengat kesenangan klimaks beberapa ribu volt. Kesempatan ini Reni menjangkau puncak orgasme yang mungkin saja pertama kalinya baru dirasakannya. Badannya segera lunglai di pembaringan, serta saya rasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, rasakan kesenangan denyut-denyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol serta tidak dapat menahan sekali lagi permainan ini.. sampai pada akhirnya saya rasakan kejatan-kejatan hebat dibarengi kesenangan mengagumkan waktu cairan spermaku muncrat berhamburan didalam liang vagina Renny. Akupun pada akhirnya rebah tidak bertenaga serta tidur berpelukan dengan Reni malam itu.

Cerita Sex tante rupanya telah lebih dahulu alami orgasme

Cerita Sex tante rupanya telah lebih dahulu alami orgasme Narasi ini bermula waktu saya tengah menanti tante saya yang dirawat dirumah sakit. Tangannya mesti digips, karena kecelakaan yang menimpanya. Tante saya ikut serta kecelakaan waktu dia mengendarai mobilnya. Tangannya yang kiri luka robek karena terserang pecahan kaca. 




Yang saya rasakan saat menanti tante saya ini ada nikmatnya ada juga tidak nikmatnya. Saya ambillah contoh saja yang nikmatnya dahulu, waktu tante ingin pipis, saya tentu diminta mengantar ke WC. Karna tangan tante sakit, dia menyuruh saya untuk membukakan CD-nya serta saya dapat saksikan dengan terang kemaluannya yang tertutup bulunya yang agak lebat. Serta yg tidak nikmatnya saat dia ingin buang air besar, telah deh janganlah diteruskan, anda semuanya tentu tahu apa yang saya maksudkan.. OK. 


Malam itu, saya sendirian melindungi tante dirumah sakit. Mendadak tante menyebut saya, “Sony.., cepet kemari..! Tolong tante ya..? ” tuturnya. “Ada apa tante..? ” kata saya. “Perut tante sakit nich.., tolong gosokin perut tante pakai minyak gosok, ya..? ” tuturnya sembari buka selimutnya. Serta terlihatlah badan tante yang molek itu, walau dia masih tetap menggunakan BH serta CD. Namun samar-samar puting buah dadanya serta bulu kemaluan tante tampak agak terang. Lihat panorama itu, batang kemaluan saya jadi naik. Supaya tidak tampak oleh tante, saya coba merapatkan badan sisi bawah saya ke pinggir ranjang. 


“Lho Son.., apa yang anda tunggulah..? Mari cepet ambillah obat gosok di meja itu. Lantas gosok perut tante, awas janganlah keras-keras ya..! ” tuturnya. “Ya tante.. ” kata saya sembari ambil obat gosok di meja yang ditunjuknya. Sesudah saya ambil obat gosok yang berada di meja, “Yang digosok sisi mana tante..? ” tanyaku. “Ya perut tante dong, masak memek tante.. khan kelak.. memek tante jadi sakit kepanasan. ” tuturnya tanpa ada terasa risih. “Akh.. tante dapat saja deh.. tidak suka saya.. uhh..! ” kata saya. “Ayo dong cepet, tante telah tidak tahan sakitnya nich..! ” tuturnya sembari meringis. 


Lantas saya gosok sisi perutnya yang putih mulus serta berbulu itu. Saya menggosok-gosok dengan lemah-lembut seperti saat saya tengah menggosok-gosok badan cewek saya. “Ya gitu dong, huu.. enak juga gosokanmu Son. Belajar di mana anda..? ” tuturnya sembari mendesis. “Nggak kok tante, umum saja. ” saya jawab dengan pura-pura. “Udahlah janganlah bohong anda.. Tentu anda seringkali gosokin badan cewek anda ya khan..? ” tanyanya menekan saya. “Kan Sony belum juga sempat gosokin cewek Sony, tante..! ” kata saya pura-pura sekali lagi. “Sekalian ya Son, pijitin kaki tante, dapat khan..? ” tuturnya manja. Saya cuma mengangguk serta mulai memijat kakinya yang buat naik sekali lagi batang kemaluan saya. Kakinya demikian dingin, mulus serta merangsang saya. 


Lantas, “Sudah tante, lelah nich..! ” kata saya. “Lhoo.., yang diatas belum juga khan..? ” tuturnya. “Ah.., tante becanda ah.., Sony jadi malu.., ” kata saya. “Ayo cepet dong, anda tidak bakalan lelah sekali lagi. Cobalah deh pijit di sini, di paha tante ini. Mari dong, anda tidak usah malu-malu, Sony khan keponakan tante sendiri, mari cepet gih..! ” tuturnya manja sembari menarik tangan saya dengan tangan kanannya. 


Saat ini saya bisa lihat gundukan bukit kemaluanya yang menerawang dari balik kain tidak tebal CD-nya itu. Muka saya segera beralih merah menyala dengan panorama yang indah ini. Tante seperti tidak tahu apa yang saya rasakan, dia menyuruh mendekat masuk ke tengahnya selangkangannya serta ambil ke-2 tangan saya, menempatkan di semasing paha atasnya persis di pinggir gundukan bukit kemaluannya. 


“Iya di situ Son.., ” tuturnya sembari coba memperlebar kakinya lebih lebar sekali lagi. Saya diminta memijat lebih kedalam sekali lagi. Fikiran saya mulai terganggu, karna bagaimanapun meremas-remas ‘zone eksklusif’ yang tengah terbuka menganga ini harus buat batang kejantanan saya jadi naik sekali lagi. 


Lantas, “Son, anda telah miliki cewek..? ” tuturnya. “Ya tante.., ” kata saya berterus jelas. “Ngomong-ngomong Sony telah sempat ngeseks sama cewek anda, belum juga..? ”“Apa itu ngeseks tante..? ” kata saya pura-pura tidak tahu. “Maksudnya tidur sama cewek.. ” tuturnya. “Ngmm.. belum juga sempat tante.. ” jawab saya berbohong. “Ah masak sich, cobalah tante saksikan serta pegang punyamu itu..? ” tuturnya sembari menarik badan saya supaya lebih dekat sekali lagi, lantas dengan tangan kanannya dia meraba gundukan di celana saya. “Tante ingin tau jika anumu bangunnya cepet bermakna benar belum juga sempat.. ” tuturnya sembari meraba-raba batang kemaluan saya sekali lagi. 


Tak tahu berarti yang berniat dibolak-balik atau memanglah ini sisi dari kelihaiannya membujuk saya. Mungkin saja karna saya masih tetap berdarah muda, meskipun telah punya kebiasaan hadapi wanita namun bila dirangsang dalam situasi begini sudah pasti cepat batang kemaluan saya naik mengeras. Bila telah tiba disini telah lebih gampang sekali lagi untuk dia. 


“Wihh, besar sekali gundukanmu Son.. bisa saksikan dalamnya punyamu..? Mari bantu tante untuk buka celanamu..! ” tuturnya tanpa ada menanti kesepakatan dari saya, dia telah segera bekerja buka celana saya serta membebaskan burung kaku saya. Memanglah, saat batang kejantanan saya terbuka bebas, matanya 1/2 heran 1/2 mengagumi akan lihat ukurannya. Terlebih kepalanya yang mirip helm tentara “NAZI”. 


“Bukan main kontolmu Sony.. besar serta keras banget punyamu.. ” tuturnya memberikan pujian pada mengagumi akan namun malah lihat yang begini semakin memburu nafsunya. “Tapi masak sich Son, benda seindah begini belum juga sempat di pakai ke memeknya cewek. Jika gitu sini tante bisa tidak merasakan sedikit sekali lagi agar dapat tante tempelin disini. ” lanjutnya, bebrapa sekali lagi tanpa ada menanti komentar saya, dia dengan samping tangan bekerja cepat melepas CD-nya. Terlihatlah rimba kemaluannya yang menggoda itu, lantas dia menyuruh saya untuk naik ke ranjang serta menyuruh saya untuk tempelkan kepala kemalua saya di mulut lubang senggamanya. Di situ Saya diminta menggosokikan ujung kemaluan saya di celah liang senggamanya. 


Lantas dengan menggosokikan sendiri ujung kepala batang kejantanan saya di mulut lubang senggamanya yang telah terbuka lebar itu, menaikkan makin tegang dalam nafsu diri saya. “Ahh.. aduh.., Son.. enaknya.., ” tuturnya menjerit geli. “Udah Son, tante tidak tahan. Saat ini giliran tante buat nikmat anda.., ok Sayang..? ” tuturnya menyuruh saya berdiri. Lantas dia dengan satu tangannya segera memegang batang kemaluan saya serta mulai menjilati sekitar batangnya, sembari kadang-kadang mengulum kepalanya. 


Sebagian waktu lalu, dia menarik saya sekali lagi, badan saya berlutut diatas ranjangnya, serta kembali liang senggamanya memerlihatkan celah kesenangan yang siap buat saya masuki. Dalam kondisi sesuai sama itu, saya benar-benar telah lupa kalau dia yaitu tante saya sendiri. Lantas, ujung batang kejantanan saya mulai saya tusukkan di lubang kenikmatannya yang selekasnya saya ikuti dengan pergerakan maju-mundur, putar kanan-kiri untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri turut menolong saya dengan jari-jari tangan kanannya. Dia melebarkan bibir kemaluannya supaya makin lebih terbuka untuk lebih memudahkan masuknya batang kemaluan saya. 


Selalu saya genjot batang kemaluan saya kedalam liang kenikmatannya yang indah itu. Serta pada akhirnya, “Hghh.., oo.. Sonn.. yeess.., oohh..! ” dengan erangannya, dia buka orgasmenya yang disusul oleh saya cuma berselang sebagian detik lalu. “Gimana Son rasa-rasanya baru saja..? ” tuturnya menguji saya sembari tangannya menyeka, menyeka-nyeka keringat di dada saya. “Aduh tante enak sekali, belum juga sempat Sony merasakan yang begini. Namun tante sendiri, bagaimana rasa-rasanya..? ” kata saya balik ajukan pertanyaan. “Tante baru saat ini lho merasakan digituin cowok dengan kelembutan, namun juga tidak meninggalkan kejantanannya yang perkasa, seperti punyamu ini, ‘Si Buta Dari Gua Memek’, tante jadi melayang-layang ke langit yang ke-7. Ohh.. endangg..? ” tuturnya. 


Demikian usai, saya di ajak tante ke kamar mandi. Serta saat itu saya bantu tante bersihkan kemaluannya. Sembari menyiram kemaluan tante, saya mendekap dia dari belakang, serta tante yang tengah berdiri jadi kegelian karna batang kejantanan saya menyentuh bukit pantatnya. Saat itu juga batang kejantanan saya naik sekali lagi karna yang saya saksikan saat ini lebih tampak montoknya. Serta saat itu, tangan lembut tante memegang batang kemaluan saya. Saya gemetar karna pengalaman begini mengagumkan buat cowok perjaka seperti saya ini. Buah dada tante menjulang, menantang serta tegar, terlihat pori-porinya meremang karna udara begitu dingin di kamar mandi, terlebih ini telah larut malam. Serta bukit kemaluannya agak merekah merah terbuka sisa perbuatan yang barusan. 


Saya tidak paham mesti melakukan perbuatan apa terkecuali meraba buah dadanya sekali lagi yang kesempatan ini dari depan. Tante menarik saya serta mencium bibir saya, saya menurut saja. Badan kami sama-sama merapat. Tangannya selalu mengurut-urut batang kejantanan saya. Serta saya meraba pantatnya yang bulat serta sintal kencang. Buah kejantanan saya juga diremas-remasnya bebrapa perlahan. Lalu, tante mulai menambah kakinya yang samping ke atas bak serta dimasukkannya sekali lagi kemaluan saya ke liang senggamanya. Ngilu serta agak panas merasa di batang kejantanan saya. 


Tante mulai bergoyang maju mundur serta pantat saya juga ditekannya dengan tangan kanannya supaya saya dapat ikuti irama. Saya turut saja menggoyangkan sembari memeluk, menghisap putingnya, mencium bibirnya. Sebagian waktu kami bergoyang keduanya sama, namun paha tante mulai pegal rupanya, serta dicabutnya batang kemaluan saya. Lalu dia berbalik serta menungging sembari berpegangan dengan tangan kanannya ke bibir bak mandi. Saya gosokkan batang kejantanan saya ke bibir kemaluannya. Betul-betul merasa panas bibir kemaluannya itu. 


Lalu saya menekan maju serta, “Bless.. ” kepala ‘NAZI’ punya saya masuk bergesek-gesek dengan dinding lubang senggamanya. Tante juga bereaksi serta pinggulnya berputar-putar seperti penari ular. Aduh mengagumkan sekali, saya terasa keenakan serta tidak dapat berfikir jernih sekali lagi. Pantat saya maju mundur, rudal panjang saya menggaruk-garuk lubang kenikmatannya. Dari tempat ini, saya dapat lihat dengan terang batang kejantanan saya basah kuyup serta bibir kemaluan tante tertarik keluar masuk. Tangan saya mencapai ke depan, meremas buah dadanya yang menggantung besar serta bergoyang menggeletar, nafas tante mendengus desah. “Ohh.. yess..! ”Akhirnya saya meledak-ledak sekali lagi serta tante rupanya telah lebih dahulu alami orgasme. 


Kemudian saya mandikan tante saya tersayang. Mulai detik itu, saya miliki pekerjaan penambahan baru.



Aku mulai menjilat buah zakarnya dan mengocoknya Oh YES

 Aku mulai menjilat buah zakarnya  dan mengocoknya Oh YES Akhirnya Lusi Selingkuh  Anda akan tidak yakin apa yang barusan berlangsung. ” berondong sahabatku seperti meriam saja demikian saya buka pintu depan menjawab ketukan tidak sabarnya. 




“Wah! Isu murahan nih? Tentu bagus, anda belum juga sempat bergairah begini mulai sejak kamu paham.kamu mengerti bila anak lelaki Prambodo seseorang gay. ” 


“Astaga, Lusi, saya cuma tidak dapat yakini apa yang barusan kulihat. ” 


Kita bergerak ke ruangan keluarga. Saya duduk di pinggir sofa. 


“Kamu terlihat seperti ingin pecah, katakan saja. ” kataku menertawakan kelakuannya itu. 


“Gini, saya pergi ke tempatnya keluarga Sihombing malam hari ini untuk menarik uang iuran mereka. Nyatanya, selera mereka pada perabotan tempat tinggal begitu jelek. Lalu, Silvi keluar untuk membukakan pintu lantas saya masuk. Mereka memiliki ruangan makan dengan meja yang atasnya kaca. Lantas kita duduk disana serta saya buka dokumen asosiasi untuk menunjukkannya serta menyebutkan kepadanya, bila mereka dapat membayar semua sekalian atau empat kali satu tahun. ” 


Ini terdengar menyebalkan. Saya menyela, “Jadi anda saksikan bila mereka memiliki furniture yang buruk. Begitu perlu. ” 


Saat ini saya mesti menerangkan. Kita tinggal di satu kompleks perumahan yang memiliki satu asosiasi yang memiliki tempat tinggal. Keluarga Sihombing beberapa waktu terakhir geser keseberang jalan itu. Siska serta saya berfikiran bila mereka tidak cocok di lingkung perumahan ini. Umumnya keluarga disini berusia pertengahan tiga beberapa puluh serta sudah memiliki anak. Keluarga Sihombing yaitu keluarga yang suaminya berusia lebih tua serta isterinya jauh begitu muda serta tidak mempunyai anak. 


“Lusi, sst. Bukanlah furniture yang saya saksikan. Silvi menyebut Martin untuk membawa buku chek serta membayar uang iurannya serta membaca lantas menanda tangani dokumennya. Serta dia masuk kedalam dengan menggunakan jubah mandi putih itu, rambutnya basah, saya fikir mungkin saja barusan keluar dari kamar mandi. Dia duduk di seberangku serta waktu dia ambil dokumen itu, saya tengah lihat menembus kaca meja ke kakinya. Lalu dia maju ke depan untuk menulis check itu serta jubahnya terungkap ke atas. Dia tengah duduk di tepi kursi serta kamu paham.kamu mengerti apa yang tengah bergantung. Maksudku bergantung. Waktu dia bergerak, itu seperti diayunkan maju-mundur. Tuhan itu seperti pisang daging besar berwarna begini. ” tuturnya sembari menunjuk buah pisang yang ada diatas meja di ruangan keluarga ini. 


“Astaga, anda memandangnya? ” 


“Hanya sebagian detik. Maksudku saya jadi begitu malu. ” 


“Yah, benar. Cuma cukup lama untuk bercerita itu terayun maju-mundur serta besar seperti pisang”. 


Saat ini kita berdua tertawa genit seperti gadis sekolahan. 


“Apa dia paham anda memandangnya? Bagaimana bila Silvi saksikan anda memerhatikan suaminya? Namun, itu mungkin saja tidak sebesar yang anda fikir, maksudku cuma memandangnya sebentar anda jadi terasa malu tentu anda akan tidak betul-betul ketahui apa yang tengah anda saksikan. ” 


“Temanku, itu memanglah besar! ” 


******** 


Baiklah, saya fikir, dimulailah narasi ini. 


Saat ini anda mungkin saja peroleh kesan bila Siska serta saya yaitu sepasang ibu rumah-tangga yang genit. Anda mungkin saja berfikir, bila kita seperti seseorang gadis remaja berusia sekitaran lima belas th. yang tengah menggosip. Saya berusia 38 namun mungkin saja memiliki sedikit pengalaman di banding putriku yang berusia enambelas th. serta beberapa rekannya. 


Sedikit latar belakang mengenai saya. Saya dijuluki wanita mungil yang cantik. Dengan postur badanku yang kecil, saya dengan gampang juga akan hilang bila ada dalam satu kerumunan. Saya mesti mengaku jadi “agak kecil” seringkali jadi bahan godaan beberapa rekanku. Di samping ukuran kecilku, kupikir saya memiliki muka yang manis. Braku cuma memiliki ukuran 28A namun pada dadaku tampak cukup besar serta saya seringkali dipuji bila pantat serta kakiku begitu indah. Siska serta saya pergi dengan teratur ke tempat kesehatan wanita. 


Suamiku serta saya lulus dari sekolah menengah dengan nilai memuaskan, menikah tidak lama setelah kita lulus. Anda tentu telah menduga itu. Saya tidak sempat mencium orang yang lain terkecuali suamiku. Maksudku ciuman serius. Saya tidak berasumsi diriku begitu sopan namun saya tidak sempat berkata kotor. Tidak juga waktu Tom serta saya tengah terkait sex, yang tidak terus-terusan. Gereja bangga juga akan kami, sex pada intinya yaitu bagaimana anda buat bayi. 


Sekitaran lima belas th. perkawinan, saya mulai terasa resah serta jemu. Ini bukanlah bermakna saya tidak menyukai dua anak perempuanku serta Tom. Semuanya begitu normal. Saya mulai membaca novel roman, serta lalu juga akan terasa berdosa mengenai pemikiran pemikiran tidak tulus itu. 


Dalam minggu sesudah pertemuan dengan Siska itu, dia serta saya juga akan terkadang tertawa genit atas “penglihatanya” juga akan kemaluan Martin Sihombing (saya masih tetap tidak katakan beberapa hal seperti penis walau dengan Siska). Tom serta saya juga mengetahui keluarga Sihombing, cuma pembicaraan antar tetangga mengenai rumput halaman, cuaca, serta beda lain 


Pada bulan Desember, asosiasi membuat satu acara makan malam serta dansa sebelumnya berlibur. Tempat duduknya ditata sesuai sama posisi tempat tinggal. Hingga keluarga Sihombing ada di meja yang sama juga dengan kita. Siska ada pada meja yang berlainan. Ini yaitu pertama kalinya kita ada dengan mereka dengan sosial. 


Saat ini saya senantiasa fikir Martin Sihombing tampak begitu umum. Mungkin saja dalam usia sekitaran limapuluhnya dengan rambut penuh, beruban di sebagian tempat. Dia begitu jangkung. Ini yaitu pertama kalinya saya saksikan dia menggunakan jas, serta saya mesti mengaku dia tampak juga berlainan. Silvi pada bagian beda, yang senantiasa terlihat tidak perduli dengan bajunya tampak aneh dalam gaun panjangnya, krah pakaiannya tinggi. 


Makan malam dilalui dengan pembicaraan yang mengasyikkan serta makanannya begitu enak. Setelah makan malam, musik mulai dimainkan serta Martin serta Silvi segera ada di lantai dansa itu. Sesudah saya sedikit membujuk Tom untuk berdansa namun dia cuma tahu dua style dansa. Martin serta Silvi gabung sekali lagi dengan kami waktu band tengah istirahat sesaat. Waktu band kembali, Martin mengajakku untuk berdansa. Saya berusaha untuk menampiknya, menyebutkan bila Tom serta saya tidak demikian pintar berdansa. Dia memaksa. Itu yaitu satu dansa yang cepat serta dia selekasnya membuatku ikuti masing-masing pergerakannya. Lagu selesai, saya menuju ke arah kursiku serta kembali mendengar dia mengajakku sekali lagi untuk lagu selanjutnya. 


“Oh, saya tidak dapat. Anda serta Silvi sangat bagus untukku, berdansalah dengan isterimu. ” 


“Lusi, janganlah cobalah menampik. Dia telah buat kakiku kecapaian, saya fikir Marty butuh bertukar pasangan dalam setiap lagu. ” Silvi berteriak dari mejanya. 


Baiklah, rasa engganku cuma melintas dalam kepalaku namun saya kembali pada lantai dansa nikmati Martin yang bergerak di seputarku. Lagunya selesai, serta dia memegang tanganku dengan mudah saat lagu selanjutnya mulai. 


“Ini satu lagu slow Lusi, anda bagaimana dengan waltz? ” tanyanya waktu dia dengan lembut menarikku kedalam tempat dansa. Dia tidak menarikku sangat rapat, dia memegangku dengan mudah serta dia meluncur di sekitaran lantai itu. Dia yaitu seseorang pedansa yang begitu baik. Tanpa ada mengerti itu, saya ditarik makin dekat kepadanya, badanku sedikit menggeseknya. Kepalaku rebah di dadanya, payudaraku merapat dibagian tengah badannya. Lalu saya rasakan itu. Itu keras, itu tengah menghimpit perutku. Wow! Itu yaitu kemaluannya, kemaluannya yang ereksi. Saya percaya itu. 




Aku mundur, sedikit melompat, hanya refleks. Kamu tidak mau merasakan ereksinya pria asing. Dia tetap menari seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia tidak lagi menarik aku mendekat, tidak membuat aku merasa gelisah. Aku mulai meragukan pemikiranku, itu hanya saja imajinasiku yang berlebihan.


Aku bersandar padanya lagi. Seperti sebelumnya, payudaraku bersentuhan dengannya, aku merasakan menggesek tubuhnya. Kemudian perutku juga. Kali ini aku tidak mundur dengan seketika. Aku hanya ingin pastikan bahwa apa yang sedang aku rasakan adalah kemaluannya. Aku menggerakkan badanku, menggosok perutku ke dia, itu terasa keras. Itu memang benar kemaluannya, kemaluannya yang ereksi. “Wow! Apa yang sedang kulakukan?”, pikirku. Dansa berakhir. Dia tetap memegang tanganku tapi kali ini aku menarik dia kembali ke meja kami. Sudah cukup. Tidak ada lagi dansa dengan dia pikirku.


Tidak ada yang nampak berubah setelah makan malam dan dansa itu. Kita tetap mempunyai “percakapan antar tetangga” yang sama dengan keluarga Sihombing itu. Aku tidak menceritakan kepada Siska apa yang telah terjadi. Baiklah, satu hal telah berubah. Aku menemukan diriku memikirkan tentang dansa itu, tentang Siska yang melihat penisnya, tentang perasaan payudaraku yang tergesek tubuhnya.


********


Tahun baru hampir tiba. Sebagian dari pemilik rumah mulai membicarakan rencana Pesta Tahun Baru. Hanya sekitar separuh dari kelompok yang memutuskan untuk melakukannya, maka kita akhirnya membuat pesta dan musik di dalam aula rekreasi masyarakat. Tom menyukai gagasan tersebut sebab dia tidak begitu suka pergi ke luar. Makanannya seadanya saja yang disajikan setelah itu kita putar sebuah rekaman tua dan berdansa.


Aku katakan pada diriku agar tidak mengulangi peristiwa di pesta sebelumnya, tetapi saat Silvi meminta dengan tegas bahwa aku harus memberinya kesempatan istirahat setelah berdansa dengan suaminya dan aku tidak bisa katakan tidak padanya. Sama dengan dulu, musik mulai dengan lagu yang cepat dan kemudian seseorang menggantinya dengan sebuah nomor lambat. Seakan seperti ada setan kecil yang sedang duduk di bahuku dan berkata, ‘Lakukan Lusi’. Akhirnya aku tidak menentangnya ketika Martin meletakkan tangannya pada pinggangku dan mulailah kita bergerak di lantai itu. Seseorang mematikan lampunya. Saat ini kita berpakaian secara informal. Sebagai ganti setelan yang kaku, Martin mengenakan celana santai dan kaos polo. Aku memakai sebuah blus dan rok panjang. Kali ini saat payudaraku mulai menggosok pada tubuhnya aku bisa merasakan panas tubuhnya. Puting susuku mengeras dan aku pikir dia pasti bisa merasakannya. Perutku adakalanya menabraknya, menabrak kemaluan yang lurus keras yang pernah aku rasa sebelumnya. Satu lagu berganti yang lain, sebuah nomor lambat yang lain .


Setiap kali perutku menggosok penisnya, aku bisa merasakan tangannya pada pinggangku, dengan pelan menarikku mendekat. Tidak pernah kasar, tidak pernah lebih dari sekedar sebuah remasan yang lembut. Sepanjang waktu itu dia selalu bicara seolah-olah itu tidak terjadi, seolah-olah aku tidak sedang menggosokkan payudaraku pada tubuhnya, seolah-olah kemaluannya yang keras tidak sedang menekan ke perutku. Yang akhirnya, saat lagu hampir berakhir, aku mundur dengan kasar dan sungguh-sungguh.


“Oops, maafkan aku Lusi. Kamu berdansa dengan sangat baik membuat aku lupa kalau kita belum pernah berdansa bersama selama bertahun-tahun. Aku tidak bermaksud sedekat ini.” dia kembali memegang lenganku saat menatap mataku.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melompat mundur seperti tadi. Maksudku aku benar-benar menikmati berdansa denganmu. Hanya aku, uh… yah, aku tidak ingin kamu mempunyai pikiran yang salah… Maksudku…”


“Itu kesalahanku Lusi. Aku takut saat seorang pria berada dekat dengan seorang perempuan cantik ada seuatu yang terjadi. Aku yakin kamu secara kebetulan pernah mengalami itu sebelumnya.” dia tertawa kecil.


“Nggak apa-apa. Aku tahu pria tidak bisa menghindarinya. Meskipun sudah sering terjadi. Maksudku aku jarang berdansa.” aku merasa cara bicaraku gagap.


“Kita bisa pergi duduk jika kamu ingin berhenti. Tetapi aku harus mengatakan pada kamu itu akan mengakhiri dansaku malam ini. Mata kakinya Silvi sakit dan dia bilang padaku kalau dia sedang tidak ingin berdansa.”


“Yahh, aku tidak ingin jadi ratu pesta. Aku hanya tidak ingin kamu mempunyai pemikiran yang salah.”


“Aku hanya mempunyai kesan yang terbaik tentang kamu Lusi. Betapapun, kita berdua adalah orang dewasa dan memahami peristiwa yang tertentu itu hanya reaksi biologis yang wajar. Aku tidak bisa mencegahnya dan harus kuakui ini merupakan sebuah kehormatan ada seorang perempuan cantik yang mau berdansa denganku malam ini. Tetapi aku berjanji untuk menjaga batas diantara kita.” kata-katanya mengalir keluar diiringi oleh tawa kecil.


Musik berbunyi lagi dan secara otomatis kita mulai dansa lambat yang lain .


“Apakah kamu benar-benar berpikir aku pintar berdansa? Atau kamu berusaha menjadi seorang gentleman?”


“Aku pikir kamu pintar berdansa Lusi. Jelas nyata kamu jarang berdansa tetapi iramamu sempurna.”


Badan kami saling bersentuhan. Dia bergerak jelas agar tak saling bersentuhan.


“Jangan cemas Martin. Kamu tidak harus begitu setiap kali kita bersentuhan.”


Aku bergerak merapat padanya. Aku ingin merasakan tubuhku yang menekan tubuhnya, menekan kemaluannya. Segera saja kita berdansa dengan rapat. Saat aku menggosok perutku terhadap “kekerasannya”, tangannya di pinggangku dengan lembut menarikku. Aku bisa merasakan puting susuku mengeras, dia pasti bisa merasakan itu saat menekan tubuhnya. Aku bisa merasakan gerakan ereksinya saat perutku menggosok dia. Aku merasa kehangatan diantara kakiku saat tubuhku menjadi bergairah. Aku tahu bahwa celana dalamku sudah menjadi basah. Aku serasa berada di surga kesenangan. Aku merasa kalau aku sangat jahat tapi aku sedang menikmati itu. Kemudian musik berakhir.


Kami bergabung kembali dengan Silvi dan Tom di meja itu. Hampir tengah malam. Tepat tengah malam semuanya bersorak dan berteriak. Aku mencium Tom panjang dan dalam, sebagian karena aku merasa bersalah tentang dansa bersama Martin tadi, tentang gesekan pada ereksinya, dan menekankan payudaraku padanya. Martin dan Silvi yang berada di sebelah kami, saling berpelukan mesra. Aku bisa lihat tangan Martin pada pantatnya, dengan jelas menariknya merapat padanya dan aku tahu bahwa dia sedang menggelinjang pada ereksinya yang keras. Mereka merenggang dan Silvi merebut Tomku dan memeluknya, dia telah memutar Tom sedemikian rupa sehingga punggungnya berada di depanku. Martin berbisik “Bolehkah saya” saat dia membuka lengannya. Aku memeluknya dan mengijinkan dia menciumku, kemudian saat aku merasa tangannya pada pantatku. Aku membuka mulutku dan mendapatkan sebuah ‘French-Kiss’, merasakan dia menarikku semakin merapat padanya aku merasakan lagi ereksinya yang keras. Kemudian selesai.


Malam itu aku mendapat mimpi basah yang liar. Aku belum pernah bermimpi seperti itu sejak aku berumur sepuluh tahun. Paginya aku mempunyai mimpi buruk mengerikan dari apa yang telah aku lakukan. Terima kasih surga untuk Siska. Aku cerita padanya dan dia senang mendengarkannya. Kita memutuskan bahwa tidak ada yang buruk yang telah terjadi. Sekali lagi, aku pikir, benar begitu, tidak ada. Sekalipun begitu aku masih mendapatkan diriku memikirkan dansa itu, tentang ciuman itu.


********


Sepertinya aku bertemu Silvi dan Martin lebih sering setelah tahun baru. Aku sekarang tahu bahwa pekerjaan Martin membuatnya sering pergi ke luar kota, untuk urusan mebel mereka. Sebagai sampingannya dia membeli perhiasan dari daerah yang di kunjunginya, yang dia jual ke beberapa toko lokal. Ini aku ketahui saat aku bilang ke Silvi kalau ibuku telah mengirimiku uang untuk membeli sebuah kalung.


“Lusi, datanglah kemari dan lihat apa yang Marty punyai. Dia membawa beberapa barang dari luar kota. Jika dia punya sesuatu yang kamu suka, kamu akan membayar seperempat dari apa yang David jual di tokonya. Ini bukan barang rongsokan, dilapisi perak dan emas. Dan tidak kelihatan seperti barang murahan, ini adalah yang mereka ekspor ke luar negeri.”


“Aku tidak bisa.”


“Tentu kamu bisa. Aku memaksamu. Jika kamu tidak temukan yang kamu sukai, jangan merasa sepertinya kamu harus membeli apapun. Dia tidak punya masalah menjual barang barang ini ke David. Dia akan pulang pada siang hari, mampirlah nanti.”


Aku mengetuk pintu mereka sekitar jam 12:15.


“Masuk, masuk. Waktu yang tepat. Marty baru saja tiba dirumah dan aku bilang padanya kamu mungkin ingin beberapa perhiasan. Marty”. Silvi berteriak saat dia mengantarku ke meja ruang makan.


“Tunggu sebentar, aku hampir keluar dari kamar mandi.” aku mendengar suara Martin dari atas.


“Sayang, bawa kalungnya biar dia dapat melihatnya saat kamu selesai.”


“OK, ok.”


Dengan segera Martin muncul membawa dua buah koper. Rambutnya kusut dan basah dan dia mengenakan sebuah jubah mandi putih yang hanya sampai di lutut.


“Halo Lusi. Aku harap aku punya apa yang kamu sukai. Aku membawa beberapa emas dan perak.” katanya saat dia berdiri di seberang meja di depanku membuka koper itu. Kemudian dia memutar koper ke arahku dan mulai melangkah pergi.


“Oh! Tunggulah sebentar sayang. Tunjukkanlah pada Lusi bagaimana cara membaca sertifikat yang menjelaskan isi perhiasan ini.”


Dia berbalik, duduk di depanku. Dia mengambilt sebuah kalung beserta sebuah dokumen kecil.


Aku tidak bisa berkonsentrasi pada kalung, semua yang bisa kupikir adalah cerita tentang Siska yang melihat menembus kaca meja. Déjà vu!


Martin sedang bicara, aku tidak sedang mendengarkannya. Koper itu menghalangi pandanganku. Tanpa berpikir, aku menggesernya ke samping. Sekarang dia sedang memegang kalung itu dan aku menatapnya… lebih memperhatikan tetapi benar-benar sedang memperhatikan pada kemaluannya. Itu sama persis seperti yang Siska ceritakan. Kakinya terbuka lebar, dia duduk di pinggir kursi. Kemaluannya tergantung terayun-ayun saat dia bergerak. Itu terlihat sangat besar buatku. Aku merasa wajahku mulai terasa hangat dan menyadari bahwa wajahku pasti merah.


Suara Silvi menghentikan tatapan mataku.


“Dengar sayang, aku harus pergi belanja. Jika kamu telah dapat apa yang Lusi inginkan lebih baik kamu berikan padanya. Lusi sayang, maafkan aku, aku lupa kalau aku harus pergi tapi kamu ditangan ahlinya dengan Marty. Sampai jumpa sayang, aku akan kembali sekitar jam setengah tujuh.” dan dia pergi ke pintu keluar.


“Sampai jumpa sayang.”


“Katakan padaku jika kamu lihat apapun yang kamu suka.” kata Marty saat dia menyebar beberapa kalung di atas meja itu. Menyebarnya sedemikian rupa sehingga garis pandangku pada kalung-kalung itu juga searah pada daging pisang berwarna yang panjang berayun di bawah. Siska telah mengatakannya menyerupai sebuah pisang besar. Itu bahkan mempunyai sebuah ujung seperti sebuah pisang.


“A… a… aku ng… tidak tahu…… ini jauh lebih dari yang aku harapkan.”


“Jangan cemas Lusi. Jika kamu tidak lihat apa yang kamu suka, aku paham. Aku tidak pernah memaksa barang-barangku pada seseorang. Santai saja. Kadang-kadang hanya manis untuk dilihat saja.”


Aku lihat dia mengedip saat aku melihat ke arahnya.


“Ini, bagaimana jika kita mencoba yang ini pada lehermu dan kamu dapat lihat bagaimana ini terlihat di kulitmu?” katanya saat dia bangkit dengan sebuah kalung emas besar yang indah di tangannya.


“OK, barangkali itu sebuah ide yang bagus.” aku melihat dia bergerak, jubahnya sekarang sedikit terbuka saat dia berdiri dan bergerak, penisnya mengayun keluar masuk dari sudut pandangan.


Aku duduk hampir membeku, memperhatikan diriku pada cermin di dinding. Memperhatikan Martin sekarang berdiri di depan bahuku, memasangkan kalung di leherku. Aku melihat di cermin jubahnya yang terbuka, penisnya sekarang tersentuh lengan tanganku, langsung bersentuhan karena blus tak berlengan yang aku kenakan.


“Bagaimana, kamu suka Lusi? Ayo, peganglah. Sudah pernahkah kamu melihat yang seperti ini?”


“Tidak. Belum pernah. Ini sangat besar. Aku belum pernah melihat yang sebesar ini.” aku menggerakkan kepalaku ke samping saat aku bicara, menatap pada kemaluannya yang menggesek bahuku, mengamati kantung buah zakarnya untuk pertama kali. Itu juga besar. Besar tetapi lebih lembut dibanding kantong berkerut Tom.


“Terimakasih. Aku pikir kemungilanmu yang cantik membuatnya nampak lebih besar. Sentuhlah kalau kamu ingin.”


“Kal… eh… benda ini?”


“Apapun yang kamu inginkan, Lusi. Kamu ingin merasakannya, ya kan?”


“Uh huh.” aku menggenggamkan jariku melingkarinya. Aku merasakannya mulai mengeras pada sentuhanku. Aku pernah dengar kemaluan yang belum di sunat tapi aku belum pernah melihat sebelumnya. Saat itu mengeras aku lihat kulitnya menyingkap. Aku menyingkap dengan lemah-lembut dan melihat kulitnya menarik kembali memperlihatkan sebuah mahkota yang tinggi.


“Apa itu melukai kamu?”


“Kebalikannya Lusi, sentuhanmu terasa nikmat. Apa kamu belum pernah melihat sebuah penis yang belum disunat?”


Aku menatapnya.


“Tidak disunat.”


“Oh Tuhan. Martin tolong jangan tertawakan aku. Satu-satunya kemaluan yang telah kulihat hanya milik Tom. Dan bahkan saat dia sedang ereksi tidak seperti milikmu. Aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti ini sebelumnya. Apakah itu benar jika aku hanya merasakan kemaluanmu dan melihatnya?”


“Lusi, Lusi sayang. Kamu adalah sebuah harta karun seutuhnya. Aku tidak pernah akan menertawakan kamu. Kamu adalah sebuah bunga yang menunggu untuk mekar. Lakukanlah, remas penisku, rasakan bagaimana kamu membuatnya keras, tapi tolong sebut ini dengan penis bukan kemaluan ”


“Oh brengsek, kamu pasti berpikir aku adalah orang bodoh atau yang semacam itu. Aku merasa seperti seorang idiot. Maafkan aku, aku tidak ingin menggoda, benar-benar tidak. Bukan berarti aku tidak bisa berhubungan seks atau apapun yang seperti itu. Hanya saja aku tidak pernah berada di dalam situasi seperti ini.” aku jelaskan panjang lebar sekarang, menjatuhkan penisnya seperti sebuah kentang panas.


“Lusi, tenang. Percayalah padaku, aku tidak berpikir kamu adalah seorang yang bodoh atau apapun yang seperti itu. Lakukanlah, ini adalah kesempatanmu untuk merasakan sebuah penis. Ambil kesempatanmu.” dia menempatkan tanganku kembali pada penisnya, menggenggam jarinya ke jariku.


“Katakan penis, Lusi. Katakanlah apa yang sedang kamu pikirkan. Hanya kocok sedikit” ketika tangannya memandu tanganku dalam sebuah gerakan mengocok.


Aku menyaksikan dengan tertarik saat tangannya memandu tanganku yang pelan-pelan mengocok ke atas-bawah pada batang yang keras itu. Aku melihat kulitnya menyingkap memperlihatkan bagian atas kepala yang dimahkotai saat kocokanku bergerak ke bawah dan kemudian pada kocokan ke atas, kulitnya membungkus kepalanya dan membentuk sebuah ujung yang berkerut. Tangannya melepaskan lenganku. Aku melanjutkan mengocok penisnya seperti terhipnotis. Aku menekannya. Aku bisa merasakan penisnya yang menjadi lebih keras. Aku meremasnya lebih keras dan dalam pikiranku aku sedang berkata ‘ penis’ berulang kali.


Kemudian aku mengucapkannya. “Penismu jadi sangat keras. Rasanya sangat hangat. Aku ingin meremas penismu.” dan tiba-tiba aku ingin katakan semua kata-kata yang selama ini ku tabukan. Perkataan penis nampak membuatnya lebih erotis lagi .


“Ummm, ya. Remas Lusi.” tangannya kini meluncur ke balik blusku. Tekanan lengan tangannya pada wajahku membawa pipiku bersentuhan dengan penisnya.


Aku memandangi cermin di seberang kami. Aku belum pernah melihat diriku yang sedang berhubungan seks. Sekarang aku menjadi sangat terangsang saat aku melihat diriku menggosok penisnya pada pipiku, melihat kancing blusku terbuka saat tangannya menuju ke payudaraku. Blusku terbuka. Tangannya menyelinap masuk braku. Jarinya menjepit puting susuku.


Aku tidak bisa percaya bagaimana nikmatknya rasanya. Bagaimana sangat erotisnya. Bagaimana sangat sangat bersalah tetapi sangat sangat menggairahkan. Tangannya memaksa braku turun, puting susuku jadi terlihat. Aku melihat ke atas dan melihat Martin yang sedang menatap ke cermin juga.


“Kamu mempunyai puting susu yang menakjubkan Lusi. Mereka sangat keras, sangat besar. Mereka seperti permata merah muda di atas bukit. Apakah kamu suka mereka dijepit?”


“Ya. Itu rasanya enak. Aku suka mereka dijepit dengan keras.”


Aku melihat di dalam cermin, blusku tersingkap hingga perut, sebelah payudaraku terekspose penuh sedang braku tetap menutup yang sebelahnya. Tangan Martin memegang putingku, ibu jari dan jari telunjuknya berputar, menarik, menekan puting susuku. Aku melihat tanganku yang mengocok penis tebalnya, menggosoknya pada pipiku. Aku melihat cairan pre-cumnya keluar sedikit dari lubang kencingnya kemudian dia mengamati saat aku mengoleskan pre-cumnya ke pipiku..


Aku memalingkan wajahku menghadap penisnya, mengamati pre-cum yang pelan-pelan membentuk tetesan yang lain. Aku menggosokkan ibu jariku di ujung penisnya, menikmati genangan dari pre-cum itu ketika aku menekan kepala penisnya. Menjadikan kepala penisnya berkilauan. Aku menggosok penisnya pada pipiku lagi.


Aku merasa tangan Martin yang bebas berada di kepalaku, merasa dia memutar kepalaku dengan lembut. Penisnya meluncur melewati pipi dan menggosok bibirku. Secara naluri aku membuka mulutku, mulai menjilat kepala kerasnya yang hangat. Aku melanjutkan mengocok penisnya ketika mulutku mengulum kepala itu. Itu bahkan nampak lebih besar sejak aku menghisapnya.


“Umm, yaa. Gerakkan lidahmu Lusi. Tuhan, rasanya enak. Bermain-mainlah dengannya sayang. Jilat naik turun batang itu. Umm, nikmat.”


Kujalankan lidahku naik turun sepanjang batang itu. Penisnya kini berkilauan dengan air liurku. Saat mulutku berada pada buah zakarnya, dia mengangkat penisnya sedemikian rupa sehingga buah zakarnya menggosok daguku. Aku belum pernah menjilat buah zakar seseorang, tetapi aku tahu apa yang dia inginkan. Itu apa yang juga aku inginkan. Aku ingin bermain-main dengan kantong besar itu. Aku mulai menjilat buah zakarnya saat penisnya berada tepat di wajahku. Aku bisa merasakan panas dari penisnya di wajahku.


Martin menarik blusku yang tersisa melewati bahu. Ketika melepaskannya dari badanku, dia melepaskan braku juga, yang mengikuti blusku jatuh ke lantai.


Aku mengerling ke cermin itu. Memandang dan merasa tangan besarnya mencakup payudara kecilku. Aku kembalikan tatapanku pada penisnya, ketika jarinya dengan lembut mulai memutari puting susuku. Aku melihat pembuluh darah biru yang panjang di sepanjang batang itu. Aku sapukan lidahku sepanjang pembuluh darahnya, dan kemudian menekan kepala penisnya untuk membuka lubangnya sedemikian rupa sehingga aku bisa memeriksanya dengan lidahku.


“Tuhan kamu mempunyai puting susu yang keras Lusi. Apa kamu suka mereka dihisap? Katakanlah apa yang kamu inginkan, aku ingin membuat kamu merasakan nikmat seperti yang kamu lakukan untukku.”


“Dijepit, ya yang keras. Dan hisap, gigit putingku.” aku berbisik dengan penisnya yang menyentuh bibirku.


“Bagus. Aku suka menghisap puting.” dia tertawa saat menarikku berdiri pada kakiku. Saat aku melepaskan genggamanku pada penisnya dia berlutut di depanku. Mulutnya menelan satu payudara, dia mulai menghisap selagi lidahnya menjilat puting susuku. Tangannya pada punggungku, memelukku erat, membelaiku saat dia menghisap payudara yang kiri kemudian berganti yang sebelah kanan. Saat dia menghisap dalam mulutnya, aku bisa merasakan lidahnya yang menjilat, kemudian ketika mulutnya mundur, giginya dengan lembut menggigit puting susuku. Dia memegang puting susuku diantara giginya dan menjalankan ujung lidahnya. Tuhan, itu terasa nikmat.


Saat dia bekerja pada putingku, tangannya meluncur menuju ke pinggulku. Kulepas kancing celana panjangku. Celana panjang dan celana dalamku dilepasnya sekaligus. Sama sekali tanpa berpikir tentang itu, aku melangkah keluar dari pakaianku yang terakhir. Dia masih menghisap, menggigiti puting susuku saat tangannya sekarang membelai kaki dan pantatku. Secara naluriah aku melebarkan kakiku, mengundang tangannya pada vaginaku. Larangan terkhirku menguap ketika Martin mulai mengelus vaginaku.


Aku memandangnya, melihat bibirnya bekerja di sekitar payudaraku. Aku melihat putingku tertarik keluar saat ia menghisap dan menggigit dan menarik puting susuku dengan mulut dan giginya. Aku melihat tangannya menggosok vaginaku. Aku melihat jarinya menghilang lenyap ke dalam rimbunan rambut lebatku. Merasa jarinya meluncur menyentuh vaginaku.


Saat dia menggerakkan jarinya keluar masuk, aku menggelinjang.


“Terasa enak?” dia tersenyum.


“Ya, ya.”


“Umm, dan rasanya enak juga.” katanya saat menarik jarinya dan menjilatnya, dan kemudian menyodorkan jarinya kepadaku untuk dijilat.


Aku belum pernah merasakan diriku sendiri. Jika itu pernah terjadi kepadaku, aku yakin aku akan menganggap itu adalah sebuah tindakan yang menjijikkan. Tetapi sekarang aku menjilat jarinya dan merasa kagum bahwa aku menyukai itu.


“Aku pikir vagina ini memerlukan sebuah jilatan yang bagus. Kamu suka vaginamu dioral, ya kan? Tidak pernah ada seorang perempuan yang tidak menyukainya”


Aku suka itu. Hanya saja itu tidak sering terjadi. Tetapi sekarang aku menginginkannya lebih dari yang pernah ada.


Dia mengangkatku ke atas meja, mendudukkanku pada tepinya. Aku membuka lebar kakiku mengundang mulutnya kepada bibirku. Menempatkan jariku pada vagina, aku melebarkannya terbuka, menarik rambutnya ke samping. Aku merasa sangat erotis saat aku membayangkan pandangannya pada vaginaku, daging merah muda yang basah yang kini terpampang karena bibirnya yang terbuka.


Aku gemetaran saat merasakan lidahnya mulai menjilat celahku. Lidahnya menekan ke dalam vaginaku dan memukul-mukul ke atas menyebabkan getaran yang sangat indah ketika diseret melewati kelentitku.


“Oh, Tuhan, ya, ya ya.”


Dia membenamkan wajahnya ke dalam vaginaku, lidahnya manari di dalamnya. Dia mulai menggosok kelentitku seiring dengan jilatannya pada vaginaku. Aku mendorong pinggulku menekannya, menggeliat di atas meja.


Kulingkarkan kakiku di lehernya, lebih mendorongnya padaku. Aku melihat dia menguburkan wajahnya ke dalam vaginaku semakin dalam. Aku mendengar bunyi dia menghirup, menghisap cairanku.


“Oohhh.” aku menjerit dan menggelinjang. Aku mendapat sebuah orgasme yang sangat indah. Ini membuatnya bekerja lebih keras pada vaginaku, sekarang mengisap kelentitku ketika jarinya disodokkan ke dalam vaginaku.


Aku merasa seperti terbakar. Sekujur tubuhku terasa geli. Vaginaku sedang diregangkan. Aku tahu bahwa dia sedang menekan jari yang lain ke dalam vaginaku. Ketika vaginaku pelan-pelan menyerah kepada jari yang ditambahkannya, aku tahu apa yang berikutnya. Aku menginginkan itu. Aku ingin merasakan penis besarnya di dalamku. Aku tahu dia perlanan menyiapkan aku untuk itu.


“Martin. Aku menginginkannya. Aku menginginkan kamu. Aku takut itu terlalu besar tapi aku menginginkan itu.”


“Jangan takut Lusi. Aku sangat lembut.” Dia mengangkatku, membawa aku menuju sebuah kamar.


Aku melingkarkan lenganku padanya. Aku menciumnya sepanjang jalan menuju kamar, menghisap lidahnya, mendorong lidahku ke dalam mulutnya.


Dia menempatkanku di atas tempat tidur, mengambil sebuah gel pelumas dari lemari kecil di samping tempat tidur


“Buka kakimu melebar,” dia berkata saat menekan pelumas dari tabungnya kemudian menggosokannya ke dalam vaginaku. Terasa dingin, dan dia menyelipkan dua jari ke dalam vaginaku. Mereka masuk dengan mudah. Aku memegang tangannya dan membantu jarinya bekerja di dalam vaginaku.


“Sekarang giliranmu.” dia berkata saat berbaring pada punggungnya. “Lumasi mainanmu.” dia tersenyum.


Aku melihat pada penisnya. Itu masih terlihat sangat besar buatku. Masih setengah ereksi. Itu terletak lurus ke arah kepalanya, kepala penisnya sampai menyentuh pusarnya.


Aku menyemburkan gel ke penisnya, membuat sebuah garis zig-zag sepanjang batangnya, seperti menghias sebuah kue pikirku. Dia tertawa. Aku mulai menyebarkan gel dengan jari tengahku. Penisnya terasa hangat, jariku menekan ke dalam daging itu. Saat aku menjalankan jariku naik turun pada batangnya, aku merasa penisnya menjadi lebih keras. Aku menyukai itu. Aku menyukai menjadikan penisnya keras. Aku menggenggam penisnya dengan ibu jari dan jari tengahku, menekan gel lebih banyak lagi dan melumuri seluruh penisnya.


“Ke atas.” dia menginstruksikan.


Aku memandangnya.


“Kamu ke atas, dengan begitu kamu dapat mengendalikan penisku. Gosok saja ke vaginamu, bermainlah dengan itu, lakukan pelan-pelan.”


Aku mengayunkan kakiku di atasnya, mengangkanginya, aku menunduk untuk menciumnya.


“Itu terasa nikmat. Gosokkan puting susumu yang keras padaku. Gesekkan vaginamu sepanjang penisku.” lengannya melingkariku, menarikku mendekat, dengan lembut tetapi kuat, memaksa puting susuku ke dadanya.


Puting susuku jadi sangat keras dan sensitif. Aku menggerakkannya pelan-pelan maju-mundur, membelainya dengan puting susuku dan menikmati kehangatan dari badannya. Aku bisa merasakan penisnya beradu dengan pantatku. Aku bergerak mundur untuk membiarkan penisnya meluncur diantara kakiku. Aku bisa merasakan batang itu meluncur sepanjang bibir vaginaku. Tidak menembus, aku hanya menggesek naik turun batang yang keras itu, menikmati sensasi yang baru ini dari penis keras dan besar yang menekan ke dalam bibir vagina telanjangku, menikmati rasa dari puting susuku yang menyentuh sepanjang badannya.


Kemudian dia mendorongku kembali pada posisi duduk. “Masukkan Lusi.”


Aku mengangkat batang tebal itu dan menggosok kepalanya pada vaginaku, kemudian menekannya berusaha untuk memasukkannya. Aku melihat kepala yang tebal membelah bibirku hanya untuk menyeruak masuk dalam lubangku. “Oh Tuhan, Martin, ini terlalu besar. Aku tidak akan pernah dapat menampungnya di dalamku.”


Dia menempatkan satu jari di dalam vaginaku dan pelan-pelan mulai mengocok jarinya saat aku tetap memegangi penisnya. Saat aku mengamati, aku lihat dia dengan lemah-lembut menekan jari keduanya ke dalam vagina basahku. Aku bisa merasakan peregangan dan mulai “mengendarai” jarinya. Kemudian dia memasukkan jari yang ke tiga, memutar jarinya saat dia meregangkan vaginaku. Kemudian dengan sebuah gerakan lembut, dia menarik jarinya, memegang tanganku yang sedang menggenggam penisnya dan menuntunnya ke arah lubangku yang sudah membuka.


“Lakukan sekarang Lusi. Duduk di atasnya. Vaginamu telah siap, biarkan saja masuk.”


Aku melakukannya. Ketakutanku bahwa itu akan menyakitkan lenyap saat aku merasa kepalanya membelah vaginaku. Dibandingkan rasa sakitnya, aku mendapatkan rasa yang sangat nikmat dari tekanan pada vaginaku. Sebuah perasaan menjadi terbentang dan diisi. Dia mulai memompa ke dalamku dengan dorongan dangkal, setiap dorongan menekan masuk semakin ke dalam vaginaku. Penisnya nampak bergerak lebih dalam dan semakin dalam, menyentuhku di mana aku belum pernah disentuh. Kemudian aku sadar bahwa penisnya sedang memukul leher rahimku.


Sekarang penisnya terkubur di dalamku dia menggulingkan aku, menarik kakiku pada bahunya. Aku belum pernah membayangkan bagaimana erotisnya ini, melihat dan mengamati penis yang besar pelan-pelan meluncur keluar masuk tubuhku. Tetapi kemudian, aku menjadi lebih terbakar pada setiap hentakan.


Dia mulai ke menyetubuhiku lebih cepat, lebih keras, dengan sela sebentar-sebentar saat penisnya dikuburkan dalam di dalamku. Dan setiap kali dia berhenti dengan penisnya jauh di dalamku, aku akan menggetarkan diriku ke dia sampai akhirnya aku mendapatkan orgasme keduaku hari ini, Sebuah orgasme yang hebat sekali! Dan aku ingin lebih. Dan aku senang merasakan penisnya masih keras, masih menyetubuhiku.


“Gadis baik Lusi. Lepaskanlah.”


“Oh Tuhan ya.”


“Kamu menyukainya kan sayang, suka sebuah penis yang besar mengisi vagina kecilmu yang ketat.” dia kini menyetubuhiku dengan hentakan yang panjang dan kuat.


“Oh ya, benar, betul. Setubuhi aku. Kerjai vaginaku. Setubuhi aku, setubuhi aku, setubuhi aku.”


“Aku akan keluar di dalam tubuhmu. Katakan kamu ingin spermaku.”


“Ohhhh Tuhan, aku ingin kamu orgasme, aku mau spermamu. Ohhhh itu sangat besar. Rasanya nikmat. Ya, keluarlah! Oh brengsek, aku orgasme lagi Martin. Setubuhi aku dengan keras. Kumohon, lebih keras.”


Ia mengerang, menghentikan kocokan penisnya keluar masuk, dan hanya menguburkan dirinya sangat dalam di vagina basah panasku. Ia mengandaskan dirinya ke dalamku dan aku tahu dia sedang orgasme. Aku berbalik menekannya, berusaha untuk mendapatkan penisnya sedalam-dalamnya padaku. Kemudian aku keluar lagi. Ombak kesenangan yang sangat indah menggulung seluruh tubuhku.


Aku merasa tubuhnya melemah, tapi dia tidak mengeluarkan penisnya dariku. Aku pikir aku bisa merasakan penisnya melembut di dalam vaginaku sekalipun begitu vaginaku masih terasa nikmat dan penuh, sangat hangat dan basah. Aku menunjukkan padanya dengan sebuah ciuman.


Kami hanya rebah di sana. Aku tahu aku sedang “terkunci”. Aku bisa merasakan sedikit rasa bersalah yang merambat ke dalam pikiranku tapi aku tahu bahwa aku menyukai disetubuhi oleh penis yang besar. Aku tahu aku menyukai berkata kotor.


Kemudian gelembung itu nampak meretak.


“Baiklah, apa pendapatmu tentang Lusi? Apa Marty terasa manis seperti kelihatannya?”


Silvi, berdiri di pintu.


“Astaga… Silvi… a… aku…” aku masih belum dapat menggambarkan semua ini. Semua yang bisa kupikir adalah bahwa aku baru saja tidur dengan suami perempuan lain.


“Lusi, tenang sayang.” Silvi memotongku. “Aku tidak marah. Aku senang melihat kamu telah menyadari kalau kamu suka penis yang besar.” dia tersenyum. “Andai aku bisa tinggal untuk menyaksikan keseluruhan peristiwa ini tapi kami pikir kamu akan jadi lebih nyaman dengan cara begini.”


“Sebagian orang tidak menerima seks hanya untuk kesenangan tetapi Silvi dan aku sudah menemukannya berhasil untuk kami. Dia pikir kalaua kamu adalah seorang perempuan yang sedang kekurangan kesenangan maka kami piker kenapa tidak membuka pintu dan melihat jika kamu ingin masuk. Aku berharap kamu tidak marah. Aku berharap kamu akan kembali.” Martin menggulingkan aku dan kini membelai badanku saat dia dan Silvi bicara.


Aku mencoba untuk katakan sesuatu, “Aku bukan perempuan seperti itu. Ini adalah sebuah kekeliruan. Aku kira kita harus melupakan kalau ini pernah terjadi.” tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya meraih dan membelai penis Martin yang besar dan lembut.


Silvi duduk di tempat tidur, menciumku pelan. “Berbagi adalah menyenangkan Lusi. Dan kita semua adalah “pelacur kecil” jauh di dalam bawah sana, ya kan?”


“Pelacur” kata itu berderik di dalam pikiranku. Tuhan, aku adalah seorang pelacur, ya kan? Dan aku tidak peduli, aku hanya tahu bahwa aku ingin berhubungan seks dengan penis yang besar ini lagi.


Maka begitulah bagaimana cerita ini bermula. Tom yang malang tidak tahu kenapa aku berteman baik dengan Martin dan Silvi. Tom masih suka berhubungan badan tiap seminggu sekali atau dua kali tetapi aku masih susah merasakan dia di dalamku.