Jumat, 11 Agustus 2017

Ngintip Tessa dan Tessy Mesum Di Ruang Ganti

Ngintip Tessa dan Tessy Mesum Di Ruang Ganti Malam itu saya dinner dengan clientku di satu cafe. Satu band terlihat menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Saya memerhatikan sang penyanyi. Seseorang gadis berumur kurang lebih 26 th.. Suaranya benar-benar sangat jazzy. Gadis ini berwajah tidaklah terlalu cantik. Tingginya sekitar 160 cm/55 kg. Badannya padat diisi. Ukuran payudaranya lebih kurang 36B. Keunggulannya yaitu lesung pipitnya. Senyumnya manis serta matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Buat telingaku fresh. 


Ngintip Tessa dan Tessy Mesum Di Ruang Ganti


“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Nunung dengan band juga akan temani anda semuanya. Jika ada yang menginginkan bernyanyi dengan saya, mari.. saya persilakan. Atau kalau menginginkan request lagu.. silakan”. 


Penyanyi yang nyatanya bernama Nunung itu mulai menegur pengunjung Cafe. Saya cuma tertarik mendengar suaranya. Pembicaraan dengan client mengambil alih perhatianku. Hingga lalu telingaku menangkap perubahan langkah bermain dari sang keyboardist. Saya lihat ke arah band itu serta lihat Nunung nyatanya bermain keyboard juga. 


Nunung bermain solo keyboard sembari menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang begitu simpel. Saya nikmati semuanya model musik serta berupaya mengetahui semuanya model musik. Termasuk juga jazz yang memanglah ‘brain music’. Musik cerdas yang buat otakku berfikir tiap tiap mendengarnya. Nunung nyatanya bermain begitu aman. Saya terkesima menemukannya seseorang penyanyi cafe yang bisa bermain keyboard dengan baik. Mendadak saya jadi begitu tertarik dengan Nunung. Saya menuliskan request laguku serta memberinya lewat pelayan cafe itu. 


“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy. ”, tulisku di kertas request sekalian menuliskan nomor HP-ku. Saya meneruskan pembicaraan dengan clientku serta selang berapa saat saya mendengar nada Nunung. “The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..? ” 


Bhs badan Nunung memberikan kalau dia menginginkan tahu di mana saya duduk. Saya melambaikan tanganku serta tersenyum ke arahnya. Tempat dudukku pas didepan band itu. Jadi, dengan terang Nunung dapat melihatku. Kulihat Nunung membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya. Sambil bermain serta bernyanyi, matanya menatapku. Saya juga menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Saya kembali bicara dengan clientku. Tidak lama kudengar nada Nunung menghilang serta bertukar dengan nada penyanyi pria. Kulihat sepintas Nunung tidak tampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi. 


“Nunung. ” nampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Nunung meresponsku. Selekasnya kutelepon dia. “Hai.. Saya Boy. Kau di mana, Nunung? ”“Hi Boy. Saya di belakang. Ke kamar mandi. Mengapa menginginkan tahu HP-ku? ”“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku selalu jelas. Kudengar tawa enteng dari Nunung. “Rayuan ala Boy, nih? ”“Lho.. Bukanlah rayuan kok. Namun pujian yang patut buatmu yang memanglah sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapakah? Saya antar pulang ya? ”“Jam 24. 00. Bisa. Namun kulihat kau dengan rekanmu? ”“Oh.. dia clientku. Sebentar sekali lagi dia pulang kok. Saya cuma mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana? ”“Okay.. Saya tunggulah ya. ”“Okay.. See you soon, sexy.. ” 


Saya meneruskan sebentar pembicaraan dengan client serta lalu mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Sesudah clientku pulang saya kembali pada cafe. Saat masih tetap memberikan jam 23. 30. Masih tetap 30 menit sekali lagi. Saya kembali duduk serta pesan hot tea. 30 menit saya butuhkan dengan melihat Nunung yang menyanyi. Mataku selalu memandang matanya sembari adakalanya saya tersenyum. Kulihat Nunung dengan yakin diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik sampai membuatku menginginkan mencumbunya. 


Dalam perjalanan mengantarkan Nunung pulang, saya berniat menyalakan AC mobil cukup besar hingga suhu dalam mobil dingin sekali. Nunung nampak menggigil. 


“Boy, AC-nya dikecilin yah? ” tangan Nunung sembari menggapai tombol AC untuk menambah suhu. Tanganku selekasnya menahan tangannya. Peluang untuk memegang tangannya. “Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Saya tidak tahan panas. Suhu segini saya baru dapat. Kalau anda naikkan, saya tidak tahan.. ” argumenku. 


Saya memanglah menginginkan buat Nunung kedinginan. Kulihat Nunung dapat mengetahui. Tangan kiriku masih tetap memegang tangannya. Kuusap perlahan-lahan. Nunung diam saja. 


“Kugosok ya.. Agar hangat.. ” kataku datar. Saya memberikannya stimuli enteng. Felica tersenyum. Dia tidak menampik. “Ya.. Bisa. Habis dingin banget. Oh ya, anda senangi jazz juga ya? ”“Hampir semuanya musik saya senangi. Oh ya, baru kesempatan ini saya lihat penyanyi jazz wanita yang dapat bermain keyboard. Mainmu asik sekali lagi. ”“Haha.. Ini malam pertama saya main keyboard sembari menyanyi. ”“Oh ya? Namun tidak tampak canggung. Oh ya, kudengar barusan mainmu banyak pakai scale altered dominant ya? ” saya lalu memainkan tangan kiriku di tangannya seakan-akan saya bermain piano. “What a Boy! Kamu paham.kamu mengerti jazz scale juga? Anda dapat main piano yah? ” Nunung nampak terperanjat. Mukanya tampak penasaran. “Yah, dahulu main classic. Lantas tertarik jazz. Belum mahir kok. ” Saya berhenti didepan tempat tinggal Nunung. “Tinggal dengan siapa? ” tanyaku disaat kami masuk ke tempat tinggalnya. Ya, saya terima ajakannya untuk masuk sebentar kendati ini telah nyaris jam 1 pagi. “Aku kontrak tempat tinggal ini dengan lebih dari satu rekanku sesama penyanyi cafe. Yang lain belum juga pulang semuanya. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya. ” 


Nunung masuk kamarnya untuk merubah pakaian. Saya tidak mendengar nada pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Nunung memanglah memancingku? Saya selekasnya berdiri serta nekat buka pintu kamarnya. Benar! Nunung berdiri cuma dengan bra serta celana dalam. Di tangannya ada satu kaos. Kukira Nunung juga akan berteriak terperanjat atau berang. Nyatanya tidak. Dengan enjoy dia tersenyum. 


“Maaf.. Saya ingin bertanya kamar mandi di mana? ” tanyaku mencari argumen. Malah saya yang gugup lihat panorama indah di depanku. “Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk saja. ” 


Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya lihat ada satu keyboard. Saya tidak jadi ke kamar mandi jadi memainkan keyboardnya. Saya memainkan lagu “Body and Soul” sembari menyanyi lembut. Suaraku umum saja juga permainanku. Namun saya percaya Nunung juga akan tertarik. Beberapa kali saya buat kekeliruan yang kusengaja. Saya menginginkan lihat reaksi Nunung. 


“Salah tuch mainnya. ” komentar Nunung. Dia turut bernyanyi. “Ajarin dong.. ” kataku.  

Dengan segera Nunung mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Nunung berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Nunung saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.


“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.“Oh ya..” aku berdiri.


Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!


“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Nunung terkejut. Aku tertawa saja.


Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Nunung malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!


Nunung membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Nunung juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.


“Agh..” kudengar rintihan Nunung. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Nunung menggenggam batang penisku dan meremasnya.


Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Nunung kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Nunung duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Nunung tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!


Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Nunung cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Nunung. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.


Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.


Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Nunung. Sesekali Nunung menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Nunung. Dari bahasa tubuhnya, Nunung sangat menikmati pijatanku.


“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Nunung mengerang.


Lidahku mulai menjilati telinganya. Nunung menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Nunung makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.


“Payudaramu seksi sekali, Nunung.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Nunung memainkan bola matanya dengan genit.“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.“Ergh..” desah Nunung. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.


Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Nunung kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.


“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Nunung memintaku mulai beraksi.


Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Nunung dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.


“Agh.. Agh..” Nunung mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.


Rupanya Nunung adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami. Nunung menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Nunung sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.


“Hey.. Perih tau!” teriak Nunung. Aku tertawa.“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.


Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.


“Aku mau nyampe, Nunung..”“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Nunung meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Nunung berteriak makin keras.“Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”


Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..


“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Nunung makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Nunung menyusulku orgasme.


Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Nunung tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.


“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”


Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.


Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.


“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Nunung. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Nunung tertawa.“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.“Hi Gladys..” sapaku.


Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Nunung dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang.









Dipijat Pembantuku Sexy Berbibir Tebal

Dipijat Pembantuku Sexy Berbibir Tebal Nyatanya ngentot ramai rame ama mahasiswa itu enak – Pengalamanku yang satu ini berlangsung waktu masih tetap kuliah semester empat, kurang lebih empat th. yang saat kemarin. Saat itu saya mesti ambil satu mata kuliah umum yang belum juga kuambil, yakni kewiraan. Kebetulan kala itu saya kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, disana mahasiswanya sebagian besar cowok pribumi, ceweknya hanya enam orang termasuk juga saya.  


Dipijat Pembantuku Sexy Berbibir Tebal


Tak heran saya seringkali jadi fokus perhatian cowok-cowok disana, sebagian bahkan juga seringkali curi-curi pandang mengintip badanku bila saya lagi tengah memanfaatkan busana yang menggoda, saya sich telah punya kebiasaan dengan tatapan-tatapan liar sesuai sama ini, ditambah lagi saya juga relatif eksibisionis, jadi saya sich cuek-cuek saja. 


Hari itu mata kuliah yang berkaitan ada kuliah penambahan karna dosennya sekian kali tidak masuk akibatnya repot dengan kuliah S3-nya. Kuliah diselenggarakan saat pukul lima sore. Seperti umum bila kuliah penambahan pada jam-jam sesuai sama ini saatnya lebih cepat, satu jam saja telah bubar. Namun bagaimanapun waktu itu langit telah gelap sampai di universitas nyaris tak ada sekali lagi mahasiswa yang nongkrong. 


Keluar dari kelas saya lebih dahulu ke toilet yang cuma berjarak empat ruang dari kelas ini untuk buang air kecil sesaat, serem juga nih sendirian di WC universitas malam-malam begini, namun saya selekasnya menepis semua bayangan menakutkan itu. Setelah bersihkan tangan saya cepat-cepat keluar menuju lift (di tingkat lima). Ketika menanti lift saya terperanjat karna ada yang menegur dari belakang. Nyatanya mereka yaitu tiga orang mahasiswa yang sekelas denganku barusan, yang barusan menyapaku saya tahu orangnya karna sempat duduk di sebelahku serta mengobrol pada saat kuliah, namanya Adi, badannya kurus tinggi serta memiliki rambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tidak tipis serta mata besar. Sedang yang dua sekali lagi saya tidak ingat namanya, hanya tahu tampang, terakhir saya tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful serta satunya sekali lagi yang mukanya menyerupai Arab itu namanya Rudi, badannya lebih di isi serta kekar dibanding Adi serta Syaiful yang lebih menyerupai pengguna narkoba. “Kok baru turun saat ini Ci? ” sapa Adi berbasa-basi. 


“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dahulu? ” jawabku. “Biasalah, ngerokok dahulu bentar” jawabnya. Lift terbuka serta kami masuk dengan, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku sampai jantungku jadi deg-degan rasakan mata mereka mencermati badanku yang terbungkus rok putih berbahan katun yang menggantung diatas lutut juga kaos pink dengan aksen putih tanpa ada lengan. Walaupun itu, selalu jelas gairahku terpicu dengan juga kondisi di ruang kecil serta dengan dikelilingi beberapa pria sesuai sama ini sampai rasa panas mulai menjalari badanku. 


“Langsung pulang Ci? ” bertanya Syaiful yang berdiri di samping kiriku. “Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala. “Jadi sudah tidak ada kerjaan apa-apa sekali lagi dong sehabis ini? ” si Adi menimpali. “Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku sekali lagi. “Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada saat sebentar bikin kita dong! ” sahut Syaiful. “Eh.. Buat apa? ” tanyaku sekali lagi. 


Sebelumnya ada jawaban, saya udah dikejutkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang serta seperti telah di beri aba-aba, Rudi yang berdiri dekat tombol lift menghimpit satu tombol hingga lift yang lagi tengah menuju tingkat dua itu berhenti. Tas jinjingku hingga lepas dari tanganku karna terperanjat. 


“Heh.. Ngapain lu orang? ” ujarku kuatir dengan sedikit rontaan. “Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit mengapa? Stress kan, kuliah sepanjang hari gini! ” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu. “Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, tidak sering ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rudi. 


Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk kedalam rok miniku. Saya tersentak waktu tangan itu menjamah pangkal pahaku lantas mulai menggosokinya dari luar. “Eengghh.. Kurang ajar! ” ujarku lemah. Saya sendiri sejujurnya menginginkannya, akan tetapi saya tetaplah berpura-pura jual mahal untuk menambah derajatku dimuka mereka. Mereka menyeringai mesum nikmati ekpresi wajahku yang udah terangsang. Rambutku yang dikuncir meringankan Adi menciumi leher, telinga serta tengkukku dengan ganas hingga birahiku naik secara cepat. Rudi yang semula hanya meremasi dadaku dari luar saat ini mulai membuka kaosku lantas cup bra-ku yang kanan dia turunkan, jadi menyembullah payudara kananku yang terlihat lebih mencuat karna masih tetap disangga bra. Di tempatkannya telapak tangannya disana serta meremasnya perlahan, selanjutnya kepalanya mulai merunduk serta lidahnya kurasakan menyentuh putingku. 


Sembari menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa ada kusadari, celana dalamku saat ini udah turun sampai ke lutut, pantat serta kemaluanku terbuka telah. Jari-jari Syaiful telah masuk mekiku serta menggelitik sisi dalamnya. Badanku menggelinjang serta mendesah waktu jarinya temukan klitorisku serta menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu. Saya rasakan sensasi geli yang mengagumkan hingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang lagi tengah dijilati Adi, hembusan nafasnya buat bulu kudukku merinding. Tangannya menyebar ke dadaku serta keluarkan payudaraku yang satu sekali lagi. Diremasinya payudara itu serta putingnya dipilin-pilin, kadang kala dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya sampai sebabkan benda itu makin membengkak. Badanku terasanya lemas tidak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah badanku. 


Melihatku makin pasrah, mereka makin menjadi-jadi. Saat ini Rudi memagut bibirku, bibir tidak tipis itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku serta menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku hingga lidah kami sama-sama jilat, sama-sama hisap, sesaat tangannya telah meremas bongkahan pantatku, kadang kala jari-jarinya menghimpit anusku. Benjolan keras dibalik celana Adi merasa menghimpit pantatku. Dengan refleks saya menggerakkan tanganku ke belakang serta meraba-raba benjolan yang masih tetap terbungkus celana itu. Payudara kananku yang telah ditinggalkan Rudi jadi basah serta meninggalkan sisa gigitan saat ini berpindah ke tangan Adi, dia terlihat suka sekali memainkan putingku yang peka, setiap saat dia pencet benda itu dengan agak keras badanku menggelinjang dibarengi desahan. Si Syaiful jadi telah buka celananya serta keluarkan kontolnya yang telah tegang. Masih tetap sembari berciuman, kugerakkan mataku mencermati kepunyaannya yang panjang serta berwarna gelap namun diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan tubuhnya yang kerempeng itu. Dicapainya tanganku yang lagi tengah meraba selangkangan Adi ke kontolnya, kugenggam benda itu serta kurasakan getarannya, satu genggamanku kurang menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kurang lebih dua genggaman tanganku. 

“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!” pintanya.“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Rudi melepas cumbuannya.“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Rudi sambil membuka celananya.Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya.Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rudi menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua kontol tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rudi memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”


“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”Demikian mereka saling menawarkan kontolnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.


“Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian. Kalo gini terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan? kata Syaiful.Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih kontol Syaiful dan yang kanan meraih milik Rudi lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.“Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Syaiful pada Rudi yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.


“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Adi protes karena merasa diabaikan olehku.Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun kontol Rudi ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih kontol Adi untuk menenangkannya. Kini tiga kontol kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rudi kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan mekiku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang mekiku. kontol Syaiful telah menyentuh mekiku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir mekiku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.


“Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang.“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai kontol itu amblas dalam mekiku.Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, kontolnya bergesekan dengan dinding mekiku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.


“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan kontolnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.Aku semakin bersemangat mengoral kontol Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, kontol itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rudi juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, kontolnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku..“Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!”Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rudi memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku.


“Gak usah buru-buru..” demikian katanya.“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain tempeknya, kebelet nih!” kata Rudi pada Syaiful.“Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!” jawab Syaiful dengan terengah-engah.Genjotan Syaiful semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa keluar bersama.“Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?” tanyanya.“Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin tempeknya!” tegur Adi.Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut kontolnya dan menumpahkan isinya ke punggungku.“Ok, next please” Syaiful mempersilakan giliran berikut.Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri. Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-french kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia kulum sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjongkok di depan mekiku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti hingga rok itu merosot jatuh. Dia menatap dan mengendusi mekiku yang tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang mekiku hingga mengenai klitoris dan G-spotku.


“Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!” desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir mekiku.Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada mekiku, lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam mekiku, daging kecil sensitifku juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rudi berdiri di sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.“Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?” tanyanya.“Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!” jawabku sambil mendesah.“Udah ada pacar lo Ci?” tanyanya lagi.


Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah lagi dengan Rudi yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi berhenti menjilat mekiku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.“Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi bau jigong lu gini Ful!” omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan seringainya yang mirip kuda nyengir.Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala kontolnya pada bibir mekiku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.


“Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!” desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi.“Aakkhh.. Yahud banget tempek lu Ci.. Seret-seret basah!”Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit dilukiskan. kontol kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat.


Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku terhadapnya juga semakin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak daripada sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku.


“Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!” geramnya di dekat wajahku.Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya kontolnya lepas dari mekiku dan menyemprotlah isinya di perutku. Dia pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Adi melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat jari-jariku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rudi setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.“Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!” kataku dengan memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.“Hehehe.. Malu apa mau nih!” ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.


“Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok tempeknya masih OK?” tanya Rudi sambil menatap liang itu lebih dekat.“Enam belas, waktu SMA dulu” jawabku.Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku. Rudi menarikku sedikit ke depan mendekatkan kontolnya pada mekiku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. mekiku benar-benar terasa sesak dan penuh dijejali oleh kontolnya yang perkasa itu. Cairan mekiku melicinkan jalan masuk baginya.


“Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!” aku mendesah lirih sewaktu Rudi mendorong agak kasar. Sambil menggeram-geram, dia memasukkan kontolnya sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam mekiku.


“Eengghh.. Ketat abis, tempek Cina emang sipp!” ceracaunya.Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik, tanganku menggenggam kontolnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang berlutut di sebelahku.“Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!” pintanya dengan menyodorkan kontolnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke leherku.Serta merta kuraih kontol itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.Tak lama kemudian, Syaiful berkelojotan dan bergumam tak jelas, sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rudi sambil mengulum kontol Adi.Kemudian Adi mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi doggy, Rudi dari belakang kembali menusuk mekiku dan dari depanku Adi menjejalkan kontolnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelojotan sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan terurailah rambutku yang sebahu itu. cerita abg ngeseks lainya bisa anda baca di www.ceritasexngentot.com kontol itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena mekiku juga sudah basah sekali.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Adi memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Rudi bertambah ganas, hisapanku sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku. Setelah Adi melepas kontolnya, aku bisa lebih fokus melayani Rudi, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.


Bunyi ‘plok-plok-plok’ terdengar dari hentakan selangkangan Rudi dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga karena otot-otot itu semakin menghimpit kontolnya, hal ini menyebabkan goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia mendengus-dengus berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut kontolnya.“Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?” rintihku.


Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka mulut. Di depan wajahku dia kocok kontolnya yang langsung menyemburkan lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku.


“Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!” kataku sambil menjilati penisnya melakukan cleaning service.


Setelah menuntaskan hasrat, Rudi melepaskanku dan mundur terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot turun hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku.


Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok sambil menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang mulai layu itu dapat terlihat olehku, Rudi masih ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumannya. Setelah minum beberapa teguk, Rudi menawarkan botol itu padaku yang juga langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk melap wajahku yang belepotan.


Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil memulihkan tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang. Adi menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami pun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke tempat parkir.


Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift kampus. itulah cerita panasku di kampus, moga bisa terulang kemabli di tahun 2011 ini.



Cerita Hot Bispak Cantik orgasme kedua

Cerita Hot Bispak Cantik orgasme kedua   Cerita ini berlangsung selagi aq masih tetap duduk di kelas SMP. Di kelasku ada cewek namanya Yessi, anak ini memanglah populer genit. Padahal sebetulnya orangnya biasa2 saja tidak sangat istimewa namun karna sifatnya yang ramah serta gampangan itu yang buat dia banyak dikerubutin rekan2 cowok termasuk juga aq. Di antara demikian banyak cowok ada satu yang paling getol dekat2 ma Yessi, namanya Rudi. Setiap saat aq memandang Rudi mendekati Yessi jadi tangannya gk jauh2 dari meraba pantat atau toked Yessi. 
Cerita Hot Bispak Cantik orgasme kedua




Sempat satu saat selagi pelajaran Kesenian, Yessi yang duduk sendirian karna rekan satu mejanya tidak datang ganti tempat duduk ke tempat Rudi yang memanglah duduk sendirian dibarisan paling belakang pojok, bersebelahan dengan mejaku. 


Awalnya aq gk sangat pedulian, paling juga si Rudi ngucek2 payudaranya si Yessi. Tapi selagi aq ngelirik, aq kaget 1/2 mati. tongkol si Rudi telah keluar dari celananya serta tengah dikocok2 ma Yessi! Rudi menyeringai bangga memandang ke arahku. Sesaat Yessi cuma tersenyum2 genit saja memandang aq yang terpelongo. 


Sembari nikmati kocokan Yessi tangan kiri Rudi asyik meremas2 payudara kanan Yessi, untuk menutupi pandangan guru dari depan Rudi berniat menyimpan buku bacaan kesenian dimuka Yessi lewat cara di dirikan jadi seolah2 mereka berdua tengah membaca buku itu. Sebagian menit selanjutnya kulihat peju Rudi menyembur keluar, Yessi selanjutnya mengelap tangannya yg belepotan peju Rudi ke celana Rudi. Meilhat itu aq juga jadi kepingin. Aq selekasnya berikan kode sama Rudi untuk gantian, kamipun berpindah tempat. 


“Si, aq juga donk.. ” pintaku sesudah duduk di sebelahnya, “Paan? ” tanyanya pura2 gk tau. “Kocokin tongkol aq” ujarku, Yessi mencibir kearahku, “Gak mau” tolaknya. bangsatnya ni fikirku, gk tau orang dah konak juga. Sesaat di meja sebelahku, si Rudi cekikikan melihatku, rekan semejaku juga ngintip2 sembari tersenyum2 mupeng. Tentu mintak area juga tuch. 


Karna telah gk tahan menahan birahi, sembari memandang kedepan pelan2 aq turunkan resleting celanaku, namun sulit juga ngeluarin si tongkol yang telah jegang dari barusan dalam tempat duduk gini. Ku longgarkan sedikit ikat pinggangku serta ku bebaskan kait kancing celanaku baru kurogoh tongkolku mengeluarkannya, saat tongkolku keluar dari celana segera keraih tangan kanan Yessi, ku tujukan ke batang tongkolku. “kocokla cepat.. ” bisikku, tangan Yessi yang lembut serta halus selanjutnya memegang batang tongkolku serta mulai mengocok2nya buat aq tertunduk keenakan. “enak ya..? ” bisik Yessi, “anjeng, enak kali” balasku berbisik. Berkali2 aq keluarkan nafas keras selagi kulit tangan Yessi yang lembut menggesek2 kepala tongkolku. Sesekali aq melirik ke arah Rudi serta rekanku yg tertawa2 kecil memandang aq sekali lagi dikocokin ma Yessi, rekan semejaku berkali2 berikan kode mintak giliran yang dibalas dengan Yessi leletan lidahnya. Asli mupeng dia, ditambah lagi selagi aq dengan berniat meremas2 payudara Yessi sembari melirik menghina ke rekanku itu. 


Sebagian menit selanjutnya pejuku pada akhirnya muncrat keluar dibarengi rasa nikmat tidak ada tara, sedapat-dapatnya aq menahan tidak untuk mengerang. Kututupi wajahku dengan ke-2 tanganku menahankan rasa nikmat di tongkolku. 


Yessi mengangkat tangannya tunjukkan jari2 tangannya yang belepotan pejuku, berwajah tunjukkan ekspresi jijik. Kemudian seperti barusan dia mengelapkan tangannya ke celanaku. Karna terasa masih tetap ada bau2 pejunya, Yessi permisi ke wc. Gk lama rekan sebangkuku turut permisi keluar. Aq kembali ganti ke mejaku sesaat Rudi duduk di bangku sebelahku. Tapi ko lama kali ya..?? “jangan2 mereka maen di wc” terka Rudi. Aq manggut2 mengiyakan. Ampe perubahan jam pelajaran (kira2 15 menit lebih) baru mereka kembali, ku saksikan rekan aq itu tersenyum bahagia. Sesaat Yessi kembali pada bangkunya, bukanlah ditempat Rudi sekali lagi. Segera kucecar rekan ku dengan pertanyaan2, ngapain saja kalian? Rekanku narasi saat dikamar mandi, dia segera meluk Yessi. Sembari berciuman rekanku meremas2 payudara Yessi lantas dia memohon Yessi untuk mengisap tongkolnya, Yessi ok-ok saja mengisap tongkol rekanku itu, sekali lagi juga umumnya kamar mandi sesuai jam pelajaran masih tetap berjalan memanglah termasuk sepi kuadrat. 


Eh sesuai sekali lagi asyik2an saat tiba2 masuk cowok dari kelas samping, telah dapat ketebak cowok itupun mintak area. Sangat terpaksa Yessi ngelayani dua tongkol sekalian. Sepikan bukanlah bermakna gk ada yang datang, sebagian menit selanjutnya datang dua orang cowok, anak kelas 2. memandang Yessi yang sekali lagi jongkok sembari ngisapin tongkol kami, mereka juga dengan sabar ngantri mintak disepong juga. 


Sesudah seluruh ngecrot baru Yessi serta rekan aq itu kembali pada kelas. Aq jadi geleng2 mendengar narasi rekan aq itu, jontor deh tuch bibir nyepong 4 batang sekaligus… 


Lain kali ada sekali lagi narasi selagi aq, Rudi serta Yessi tergabung dalam satu pekerjaan grup yg didapatkan dari guru bhs inggris kami. Selain kami bertiga ada empat orang sekali lagi, dua wanita dua laki2. Jadi totalnya kami bertujuh. Kami mengambil keputusan lakukan pekerjaan grup itu pada hari minggu dirumah Yessi. 


Jadi demikianlah pada hari minggu yang dijanjikan kami berkumpul dirumah Yessi, kami lakukan pekerjaan itu di ruangan tamunya. Awalnya sich biasa2 saja, tidak cuman karna ada cewek beda juga karna orangtua Yessi masih tetap ada dirumah. 


Situasi mulai beralih selagi orangtua Yessi keluar untuk menghadiri satu pesta pernikahan, tangan Rudi mulai gatal meraba2 badan Yessi buat Yessi repot menepis tangan jahil Rudi. Jadinya jadi gk lakukan pekerjaan grup sekali lagi namun mule cerita2 jorok yang menghidupkan gairah. 


“Sil telah sempat simak tongkol gk? ” bertanya Rudi ma Silvia satu diantara rekan cewek dalam grup kami. Nih anak memang gk ada otaknya. Silvia yang mendengar pertanyaan Rudi jadi merah padam mukanya, mulutnya segera memperlancar cacian sama Rudi buat kami tertawa2. “gitu saja geram, Sil, Yessi saja tenang2 saja klo simak tongkol, ya kan Si” Amir ikut2 nimbrung sembari ngelirik genit sama Yessi, Yessi cuma mencibir menyikapi godaan Amir. “ngomong2 tongkol kelen, jenis yg besar saja tongkol kelen” Wita kesempatan ini yang mulai bicara, nih anak mang rada berani dibandingin Silvia.


“eh, mo liat ko tongkol aq…?” tanyak Rudi semangat sambil berdiri memamerkan celananya yang menggembung di bagian selangkangan. Tingkahnya membuat para cewek2 itu terpekik2 sambil cekikikan, Yessi yang tepat berada di samping Rudi tiba2 meninju selangkangan Rudi membuat dia terpekik kesakitan yang disambut gelak tawa kami semua.


Gk sadar udah hampir tiga jam juga kami di rumah Yessi, akhirnya kami memutuskan melanjutkan lagi pengerjaan tugas kelompok itu Senin besok. Wita dan Silvia pulang dengan diantar Amir dan Joko sementara aq dan Rudi tetap tinggal. Aq sudah menebak apa yang ada dalam pikiran Rudi, begitu mereka berempat meninggalkan rumah Yessi, Rudi langsung melancarkan serangan2nnya.


Entah siapa yang bernafsu duluan keduanya udah bergumul saling peluk dan cium mengabaikan aq yang terbengong2 melihat aktivitas mereka berdua. Dengan ganas tangan Rudi meremas2 payudara Yessi sementara tangan Yessi meraba2 selangkangan Rudi. Gk mau ketinggalan aq langsung duduk disamping kiri Yessi dan ikut2an meremas2 payudara kirinya. Yessi melepaskan ciumannya dari Rudi gantian menciumi bibirku yang kubalas dengan penuh nafsu. Aq menggeliat nikmat saat jari2 Yessi meremas selangkanganku sementara disamping kanan Yessi Rudi memelorotkan celananya sekaligus celana dalamnya hingga tongkolnya yang tegang terlihat menjulang.Rudi segera meraih tangan Yessi dan mengarahkannya ke tongkolnya, Yessi melepaskan ciumannya dariku dan melihat ke arah tongkol Rudi kemudian mulai mengocok2nya membuat tubuh Rudi jadi kejang2. Aq ikut2an melepasi celanaku hingga tongkolku dengan leluasa tegak dengan gagah.Aq berdiri disamping Yessi sambil meraih kepala Yessi dan menariknya ke arah tongkolku, mengerti kemauanku Yessi langsung membuka mulutnya lebar2 membiarkan batang tongkolku masuk ke dalam mulutnya, begitu tongkolku masuk langsung dia menghisapnya membuat aq mendesis keenakan.


“tongkol! Kau pulak yang duluan di sepong!” maki Rudi, “salah sendiri lah” jawabku penuh kemenangan. Kugerakkan pinggulku seolah2 sedang mengeweti mulut Yessi sambil mendesah2 keras memanas2i Rudi sementara Yessi makin aktip menghisap2 tongkolku. Panas melihat aq yang disepong Yessi, tangan Rudi kelayapan menaikkan rok terusan Yessi ke atas hingga pahanya yang mulus terbuka sampai terlihat pangkal paha Yessi yang terbalut celana dalam warna pink.


Rudi menggesek2kan telunjuknya ke selangkangan Yessi membuat Yessi mengeluarkan suara2 mengeram sambil terus menghisap2 tongkolku. Celana dalamnya terlihat basah oleh rembesan cairan vaginanya.


“Si buka sempak kau, si Martin mau liat pepek kau” kata Rudi sambil tangannya berusaha memelorotkan celana dalam Yessi, Yessi agak menaikkan pantatnya agar celana dalamnya dengan mudah dapat dipeloroti Rudi ke bawah.


Mataku tak lepas memandang pepek Yessi yang ditumbuhi bulu2 halus, begitu pepek Yessi terbuka jari2 Rudi langsung bermain di celah pepek Yessi membuat Yessi mendengus2 merasakan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat2 merasakan gesekan2 jari Rudi di celah pepeknya.Tanpa sadar aq makin dalam menyodokkan tongkolku di dalam mulut Yessi, berkali2 Yessi mengeluarkan suara tersedak dan berusaha melepaskan tongkolku dari dalam mulutnya tapi karena aq telah dikuasai nafsu birahi malah makin kasar menggoyang2kan pinggulku mengeweti mulut Yessi sambil tanganku memegang kepala Yessi menghindari dia melepaskan tongkolku. Yessi udah gk lagi menghisap tongkolku hanya membiarkan saja tongkolku memenuhi rongga mulutnya bergerak leluasa.


“ayo tin terus” ujar Rudi sambil memberi semangat sambil tangannya juga dengan cepat menggesek2 pepek Yessi membuat Yessi makin keras mengerang2.“aq mo keluaaarrrr…” jeritku, dengan susah payah Yessi menjauhkan kepalanya dari tongkolku, tepat saat dia berhasil mengeluarkan tongkolku dari dalam mulutnya, maniku muncrat keluar dengan perasaan nikmat tiada tara.Yessi memiawik kecil saat maniku menyembur ke wajahnya, aq dengan sengaja mengarahkan ujung tongkolku ke wajahnya hingga maniku muncrat di wajah Yessi. Maniku yang kental dan berwarna putih itu menempel disekitar wajah Yessi.


“martin jahat, maninya ditembakkan ke muka Yessi” rungut Yessi manja, dengan perasaan lelah aq duduk disamping Yessi melihat dengan takjub maniku meleleh di sekitar wajah Yessi sebagian menetes ke baju kaosnya.


“memang ni, gk usah kasih lagi Si” Rudi ngompor2in, pasti udah mupeng dia. “dah buka aja Si bajunya, udah kenak mani si martin gitu” ujar Rudi, “alah pengen aja bilang” cibir Yessi tapi dia mau juga membuka bajunya.


Kini udah benar2 bugil , tongkolku yang semula layu mulai bangkit kembali melihat tubuh telanjang Yessi, “kelen juga la buka baju masak aq aja” ujar Yessi, tanpa diminta dua kali Rudi segera menanggalkan pakaiannya diikuti oleh aq.Kini kami bertiga udah bugi, aq dan Rudi segera mencaplok masing2 payudara Yessi yang cukup besar itu membuat Yessi tertawa geli menerima rangsangan dari kami. Ini pertama kalinya aq menghisap pentil perempuan.


Rudi kemudian merebahkan tubuh Yessi di sofa dengan kepalanya berbantalkan pahaku hingga wajahnya tepat di depan tongkolku yang mulai tegak lagi. Aq terbengong2 melihat Rudi mengambil posisi di tengah2 pangkal paha Yessi, tongkolnya yang tegang tepat berada di celah pepek Yessi.


“ko mo ngeweti dia??” tanyaku terheran2, “memang kenapa?” tanya Rudi, sementara Yessi memandangku dengan ekspresi heran, “nanti dia gk perawan lagi” ujarku lugu. Mereka berdua tertawa geli mendengar ucapanku.“Martin tenang aja, nantik abis Rudi, Martin boleh ngeweti Yessi” ujar Yessi sambil menggesek2kan pipinya di batang tongkolku. Sementara Rudi kembali melanjutkan maksudnya mengeweti Yessi.


Terdengar pekik Yessi saat batang tongkol Rudi menerobos masuk kedalam pepeknya, entah karena udah dari tadi nahan nafsunya, Rudi dengan cepat menjurus kasar menyodok2kan batang tongkolnya di dalam pepek Yessi membuat Yessi makin memiawik2 menahankan serangan2 Rudi.“enak kali pepek kauuu siii….”ceracau Rudi meningkahi pekikan Yessi, sementara aq hanya bisa diam aja menonton mereka berdua ngewet dengan liarnya. tongkolku sekarang udah benar2 ngaceng lagi.


Tubuh Yessi terguncang2 seiring hunjaman tongkol Rudi di dalam pepeknya, teteknya yang bulat ikut bergoyang2 membuatku jadi gemas meremas2nya.“Ahhh…..uunnnngghhhh…. pelaaaaaannnn… pelaaaaannnn diiiiiiiiii….”pekik Yessi, tapi Rudi nggak merubah tempo genjotannya malah makin cepat menggoyang2kan tubuhnya. Tubuh mereka berdua mulai dibanjiri oleh keringat.“ungh…ungh…”dengus Rudi, yang dibalas dengan pekikkan terputus2 Yessi. Entah berapa lama tiba2 Rudi mencabut tongkolnya dari dalam pepek Yessi dan mengocok2kan batang tongkolnya di depan perut Yessi. Gk berapa lama tongkolnya memuntahkan mani yang cukup banyak. Maninya muncrat diperut bahkan sampai ke payudara Yessi.


“aduh enak kali..” desis Rudi, sementara Yessi memejamkan matanya dengan dadanya yang turun naik seolah2 baru saja berlari jauh. Tubuhnya yang mungil terlihat mengkilat oleh keringatnya.


Begitu Rudi bangkit dari tubuh Yessi, aq segera menggantikan posisinya. Dengan tidak sabar menusukkan batang tongkolku ke celah pepek Yessi tanpa memperdulikan mani Rudi di tubuh Yessi.Tapi berkali2 kutusukkan ko gk masuk2 ya??? Ini memang pertama kalinya aq mengewet dengan perempuan. Sadar ketidak tahuanku, sambil memegang batang tongkolku dia mengarahkan arah tusukanku, “dibawah sini” bisiknya masih dengan nafas yang tersengal2.


Lobang pepknya mengalirkan cairan lendir yang membuat permukaan pepeknya terasa licin. Aq terpejam nikmat merasakan pertama kali tongkolku masuk ke lobang pepek perempuan, aq berusaha mengocokkan batang tongkolku di pepeknya tapi berkali2 tongkolku keluar lagi dari pepek Yessi. Melihat itu Rudi jadi tertawa2, “jangan panjang2 ko nareknya bodoh” ujar Rudi.


“baru pertama ya tin?” Yessi ikut2an bersuara membuat jadi panas. Setelah agak lama akhirnya terbiasa juga aq menyodok2kan tongkolku di dalam pepek Yessi. Beda dengan Rudi dengan ku Yessi hanya mengeluarkan suara mendesah2 kecil aja.Walau tadi baru mengeluarkan tapi karena ini sensasi pertama ku mengeweti cewek, gk lama kurasakan maniku akan muncrat. Aq makin mempercepat goyanganku, berkali2 tongkolku keluar dari pepek Yessi tapi dengan cepat ku masukkan lagi dan ku kocok lagi.


“Tin klo mo nembak jangan di dalam” ujar Rudi mengingatkan, tubuh Yessi sendiri terlihat makin kaku. Akhirnya dengan perasaan nikmat tiada tara tongkolku untuk kedua kalinya mengeluarkan spermanya. Kalo ini di dalam pepek Yessi, tubuh ku mengejang2 kaku mendapatkan orgasme kedua ku. Yessi langsung terpekik kaget menyadari aq menembak di dalam vaginanya.


“wei tongkol, jangan ko tembak didalamnya!” maki Rudi, tapi aq yang lagi dilanda kenikmatan gk peduli sama sekali. Aq makin menekankn dalam2 batang tongkolku di dalam pepek Yessi sementara tubuh Yessi yang terhimpit tubuhku ikut mengejang. Kepalanya menggeleng2 kiri dan kanan, kurasakan daging otot pepek Yessi mencengkram erat batang tongkolku.Ku rasa pepek Yessi makin penuh dan sempit, oleh maniku, lendirnya juga karena kontraksi otot pepeknya.


Lima menit kemudian kami uda berpakaian kembali, sementara Yessi ke kamar mandi. Baru kemudian kami berpamitan pulang. Selama sebulan aq cemas2 Yessi akan hamil, apalagi tiap hari Rudi menakut2iku kalo Yessi hamil dan mintak pertanggung jawabanku. Tapi ternyata apa yg ku khawatirkan tidak benar2 terjadi.






Pelampiasan Nafsu Janda Kesepian Tukar Tambah

 Pelampiasan Nafsu Janda Kesepian Tukar TambahIvan namaku berpostur tinggi dengan berat yang baik dan tampilan serta muka indah bila kata rekan-temanku, sekarang ini saya berumur 24 th., kelahiran Bandung. Selalu jelas saya termasuk juga lelaki yang memiliki libido sex tinggi serta perlu ragam yang bermacam macam dalam lakukan hubungan sex. Sekarang ini saya telah bekerja serta memiliki tempat yang cukup bagus. Dan telah memiliki seseorang istri yang cantik serta berkulit putih mulus dengan postur badan yang menarik dan selamanya merangsang nafsuku. Narasi yang dapat kutampilkan ini yaitu pengalamanku sekian waktu lalu. Waktu itu saya memperoleh undangan dari seseorang rekan lamaku yang bernama Jay. Jay yaitu rekanku semasa kuliah dahulu di kota Surabaya. 


Pelampiasan Nafsu Janda Kesepian Tukar Tambah


Mulai sejak lulus dari kuliah kami tdk sempat berjumpa, namun komunikasi lewat telepon tetaplah jalan lancar. Sekarang ini dia juga telah menikah, serta saya belum juga mengetahui istrinya. Dia juga sekarang ini telah berkerja di satu diantara perusahaan besar di Surabaya, sedang saya berkerja di Jakarta hingga saat ini. Ketika menghubungiku, Jay mengemukakan kalau dia dapat ada di Jakarta sepanjang 1 minggu lamanya serta tinggal sesaat di satu apartemen yang sudah disiapkan oleh perusahaannya. 


Dia juga datang dengan istrinya serta sekarang ini mereka juga belum juga memiliki anak seperti saya serta istriku, maklum kami kan semasing baru menikah serta masih tetap konsentrasi ke karier kami, baik istriku maupun istri Jay cuma ibu rumah-tangga saja, sebab kami fikir keadaan itu lebih aman untuk menjaga satu rumah tangga, dikarenakan dunia kerja pergaulannya menurut kami tidak aman untuk istri-istri kami. Malam itu sampailah kami di kamar apartemen yang ditempati oleh Jay serta istrinya. “Hai… Jay bagaimana berita anda, telah lama yach kita tidak ketemu, kenalkan ini istriku Lusi, ” kataku. 


“Hai Van, tidak ngira gua bila bakalan dapat ketemu sekali lagi sama anda, hai Lusi… apa kabarnya, ini Sari istriku, Sari ini Ivan serta Lusi…” kata Jay balik mengenalkan istrinya serta mengajak kami masuk. Kemudian kami bercakap dengan sembari nikmati makanan yang sudah di siapkan oleh Jay serta Sari. Kulihat Lusi serta Sari cepat akrab meskipun mereka baru ketemu, seperti itu juga dengan saya serta Jay. Saat Sari serta Lusi asik bercakap beraneka macam, Jay menarikku ke arah balkon yang ada serta selekasnya menarik tanganku sembari membawa minuman kami semasing. “Eh.. Van gua punyai inspirasi, moga-moga saja elo setuju… dikarenakan ini tentu sama sesuai kenakalan kita dulu… gimana…” kata Jay. “Mengenai apa…” kataku. “Tapi elo janganlah berang ya… bila tidak setuju…” kata Jay sekali lagi. “Oke gua janji…” kataku. “Begini… gua tau kita kan semasing punyai libido sex yang tinggi, bagaimana bila kita cobalah bermain sex dengan ini malam, dengan beragam ragam pastinya, elo bisa gunakan istri gua serta gua juga bisa pakai istri anda, gimana…” ucap Jay. 


“Ah.. hilang ingatan kamu…” kataku spontan. Tetapi saya terdiam sesaat serta berfikir sembari memandangi Lusi serta Sari yang tengah asik bercakap. Kulihat Sari begitu cantik tdk kalah cantiknya dengan Lusi, serta saya percaya kalau jadi laki laki saya begitu tertarik untuk nikmati badan seseorang wanita seperti Lusi ataupun Sari yg tidak kalah dengan ratu-ratu kecantikan Indonesia. “Gimana Van… kan kita dapat sama-sama menikmatinya, tak ada untung rugilah…” kata Jay memohon keputusanku sekali lagi. “Tapi bagaimana caranya… mereka tentu berang… bila kita beritahu…” saya balik ajukan pertanyaan. “Tenang saja, gua punyai langkahnya bila elo setuju…” kata Jay sekali lagi. “Gua punyai Pil perangsang… lantas kita masukan ke minuman istriku serta istrimu.. pastinya dengan dosis yang tambah banyak, supaya mereka cepat terangsang, serta kita mulai bereaksi. ” “Oke… gua sepakat.. ” kataku. 


Serta kami lantas mulai melakukan gagasan kami itu. Jay ambil gelas sekali lagi serta memasukkan sebagian butir pil perangsang kedalam dua buah gelas yang telah di isi soft drink yang dapat kami tunjukkan pada Lusi serta Sari. “Aduh.. asik amat… apa sih yang diobrolin.. nich.. minumnya kita tambah…” kata Jay sambil memberi gelas yang satu ke Sari, sedang saya memberi yang satu sekali lagi ke Lusi, dikarenakan kebetulan minuman punya mereka yang terlebih dulu tampak telah habis. Kemudian Lusi serta Sari segera menenggak minuman yang kami tunjukkan sekian kali. Saya duduk di samping Lusi serta Jay duduk di dekat Sari, kami lantas ikut-ikutan bercakap dengan mereka. Sebagian saat lalu, baik saya ataupun Jay mulai lihat Lusi serta Sari mulai sedikit berkeringat serta gelisah sembari mengubah tempat duduk serta kaki mereka, mungkin saja obat perangsang itu mulai bereaksi, fikirku. Kemudian Jay berinisiatif mulai memeluk Sari istrinya dari samping, demikian halnya saya, dengan sedikit meniupkan desah nafasku ke tengkuk Lusi istriku. 


“Sar… saya sayang kamu…” kata Jay. Kulihat tangannya mulai meraba paha Sari, istrinya. “Eh Jay… apaan.. sih kamu… kan malu… akh.. ah…” kudengar nada Sari halus. “Nggak pa-pa.. ah… ah… anda sayangku… ah…” desah Jay melanjutkan serangannya ke Sari. Lihat keadaan itu, Lusi agak bingung… namun saya tahu bila dia lantas mulai terangsang serta tidak kuasa menahan gejolak nafsunya. “Lus… saya cinta anda.. ukh… ulp… ah…” Saya lantas mulai memeluk Lusi istriku serta segera mencium bibirnya dengan nikmat, serta kurasa Lusi lantas menikmatinya. Saya lantas mulai memeluk badan istriku dari depan, serta tanganku lantas mulai meraba sisi pahanya sama dengan yang dilaksanakan oleh Jay. “Lus… akh… ak… kamu… begitu cantik sayang…” kataku. “Akh.. Van… ah… ah…” desah istriku panjang, dikarenakan tanganku mulai menyentuh sisi depan kemaluannya, serta mengelus serta mengusapnya dengan jari tangan kananku, sesudah lebih dahulu menyibakkan CD-nya dengan cara pelan. Kulihat Jay telah buka pakaiannya serta mulai pelan buka kancing busana Sari istrinya, yang tampak telah pasrah serta begitu terangsang. 


“Ah.. Jay… ah… ah… ah…” desah Sari kudengar. Serta Jay telah berhasil buka semua busana Sari, serta kulihat begitu mulusnya kulit Sari yang sekarang ini cuma tinggal CD-nya saja, serta itu lantas telah berhasil ditarik oleh Jay. Tinggallah badan bugil Sari diatas sofa yang kami pakai dengan itu dengan tingkah laku Jay pada dianya. Kulihat Jay lantas telah buka semuanya bajunya serta saat ini tanpa ada sehelai benang lantas yang menutupi badan Sari ataupun Jay yang sekarang ini sama-sama rangkul serta cium di sampingku serta istriku. “Ah… ulp… ulp… ulp.. ah.. sst.. sst…” kulihat Sari menjilat serta mengisap kemaluan Jay yang putih kemerahan dengan enaknya. “ukh…ukh.. ohh…. ukh…” erang Jay nikmati permainan Sari. Saya lantas saat ini telah berhasil buka semuanya busana Lusi istriku, kulanjutkan dengan meremas buah dadanya yang kenyal itu serta kulanjutkan dengan menghisap ke-2 puting susunya pelan serta berulang kali. 


“Ah… ah… ah… Van… terus… ah.. ah.. ” desah Lusi keenakan. Tangan Lusi lantas mulai buka celanaku dengan cepat-cepat dikarenakan cuma celanaku yang belum juga kubuka serta nampaknya Lusi telah mulai tdk sabaran. “Akh… akh… ukh… oh…” saat celana serta CD-ku terbuka serta jatuh ke bawah, Lusi selekasnya memegang kemaluanku serta menjilatinya seperti apa yang dilaksanakan oleh Sari. Saya lalu selekasnya mengatur permainan dengan ambil tempat jongkok serta buka lebar ke-2 kaki istriku serta mulai menjilati klitorisnya serta semuanya sisi luar kemaluannya, “Aah… oh.. selalu.. selalu Van… enak… akh… akh…” desah Lusi. “Ulp.. ulp.. sst… sst… ah… uhm.. uhm… uhm…” Saya selalu menjilati klitoris istriku serta kulihat bibir kemaluan serta klitorisnya merekah merah merangsang dan tampak basah oleh jilatanku serta air kesenangan milikya yang pastinya selalu mengalir dari dalam kemaluannya. “Ah… selalu.. ah… ah… selalu Van.. enak… akh… akh… ukh…” rintih Lusi. Yang buka lebar ke-2 kakinya dan meremas buah dadanya sendiri dengan penuh kesenangan. Perlahan kulihat Jay menggendong Sari istrinya serta membaringkannya sejajar di samping istriku di sofa panjang yang kami gunakan dengan ini, lalu Jay mulai memasukkan ke-2 jari tangannya ke lubang kemaluan punya Sari serta mengocoknya perlahan dan menariknya keluar masuk. 


“Akh… Jay… ahk… anda.. hilang ingatan Jay… akh.. terus… selalu Jay… ahh…” rintih Sari terdengar. “Ukh… ah… ulp… akh… akh… akh.. oh… oh… oh…” Nada serta desahan dari istriku serta Sari dengan cara berbarengan serta penuh kesenangan. Perlahan tangan kananku mulai turut meraba kemaluan Sari yang ada di samping istriku. Serta saya lantas ikut-ikutan memasukkan ke-2 buah jariku ke kemaluan Sari itu. Serta Jay lantas membiarkan semuanya itu kulakukan, lalu sembari selalu mengocok lubang kemaluan Sari, tangan kiri Jay lantas mulai turut meraba kemaluan istriku yang sekarang ini tanpa ada rambut, dikarenakan habis kucukur tempo hari, permainan ini selalu berlanjut baik Sari ataupun istriku buka serta tutup matanya nikmati permainan yang saya serta Jay kerjakan. Perlahan saya mulai meraba buah dada sari dengan tangan kananku serta meremasnya perlahan, kurasakan buah dada punya Sari lebih kenyal di banding punya istriku, namun buah dada istriku semakin besar serta menantang untuk dihisap serta dipermainkan. Kemudian saya mulai berdiri serta mengarahkan kemaluanku yang memiliki ukuran panjang 16 cm dan diameter 4 cm itu ke arah mulut istriku, serta tangan kananku selalu meremas buah dada punya Sari. Istriku serta Sari lantas membiarkan semua ini selalu berlanjut. Serta kulihat Jay tetaplah memasukkan serta mengocok ke-2 lubang kemaluan yang di depannya dengan ke-2 buah tangannya dengan sekali-kali meremas buah dada punya istriku ataupun Sari, istrinya. Kemudian Jay mulai berdiri serta mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluan Sari yang sangatlah basah, “Ah… Jay… terus… masukan… selalu Jay semuanya…” kata Sari. Lihat itu saya lantas mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluan istriku. 


“Akh… ukh.. ah… oh… ah… oh…” erang istriku keenakan. Sekarang ini baik tempatku serta jay ataupun Lusi serta Sari ada pada tempat yang sama. Saya serta Jay selalu menarik turunkan kemaluan kami di lubang kemaluan punya Sari serta Lusi. Demikian halnya dengan Sari serta Lusi buka lebar kakinya serta memeluk pinggangku ataupun Jay seakan-akan mereka takut kehilangan kami berdua. Tak lama kemudian lalu Jay hentikan aktivitasnya serta memohonku mundur, lalu memasukkan batang kemaluannya yang memiliki ukuran panjang 17 cm namun diameternya mungkin saja 3 cm serta tampak saat panjang dari punyaku cuma punyaku semakin besar serta keras di banding kemaluan Jay yang selalu menuju ke lubang kemaluan punya istriku. Kulihat istriku cukup kaget namun cuma pasrah serta selalu nikmati kemaluan punya Jay yang mulai mengocok lubang kepunyaannya itu. 

Aku pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik Sari, perlahan kurasakan lubang kemaluan Sari masih cukup sempit serta menjepit batang kemaluanku yang kutekan perlahan. “Akh… akh… Sar… memekmu begitu padat.. dan enak… akh…” kataku. “Terus… Van.. Terus.. punyamu begitu besar… terus Van… enak… akh…” rintih Sari. “Van.. terus… beri aku kenikmatan.. akh… akh… terus Van… enak… lebih dalam Van… akh..” “Lus… punyamu begitu enak… sangat… rapat dan menjepit kontolku.. akh…” desah Jay kepada istriku. “Ehm… ehm… ukh… ukh… lebih dalam Jay… lebih dalam… teruskan Jay… teruskan… kontolmu… sangat panjang… akh.. dan menyentuh… dinding.. rahimku.. akh… akh… enak… Jay..” desah istriku lirih. Kemudian aku terus meremas dan menjilat puting susu milik Sari dan sekali-kali kugigit pelan putingnya dan Sari terus menikmatinya.


sementara kemaluanku terus naik-turun mengocok lubang kemaluan Sari yang terasa padat dan kenyal serta semakin basah tersebut. Terasa batang kemaluanku serasa masuk ke lubang yang sangat sempit dan padat ditumbuhi daging-daging yang berdenyut-denyut menjepit dan mengurut batang kemaluanku yang semakin keras dan menantang lubang kemaluan Sari yang kubuat basah sekali, dan Sari pun terus menikmati dan mengangkat pinggulnya serta menggoyangkannya saat menerima hujaman batang kemaluanku yang saat masuk hanya menyisakan dua buah biji kemaluan yang menggantung dan terhempas di luar kemaluan Sari tersebut. “Akh… Sar… enak.. sekali.. punyamu… akh.. akh..” desahku. “Oh Van… aku sangat… suka… milikmu ini… Van yang besar dan keras ini… akh… ogh… ogh… terus Van… ah…” Kulihat Jay membalikkan tubuh istriku dan memasukan kemaluannya yang panjang putih kemerahan tersebut dari belakang, “Akh… akh… akh… Jay… terus.. lebih dalam Jay… akh.. enak… Jay…” rintih istriku, yang kulihat buah dadanya menggantung bergoyang mengikuti dorongan dari kemaluan Jay yang terus keluar masuk, dan kemudian tangan Jay meremas buah dada tersebut serta menariknya. “Akh… Jay.. akh… ogh… ogh… ahh…” jerit nikmat istriku menikmati permainan Jay dari belakang tersebut.


“Ogh.. Lus… buah dadamu begitu besar… dan… enak… ukh… ehm… ehmmm…” sahut Jay penuh kenikmatan. Sari mencoba merubah gaya dalam permainan kami, saat ini dia sudah berada di atas tubuhku yang duduk dengan kaki yang lurus ke depan, sedangkan Sari memasukkan dan menekan kemaluannya dari atas ke arah kemaluanku. “Blees…” “Aakh… enak… akh… Van punyamu begitu besar… akhg…” desah sari yang terus menaik-turunkan tubuhnya dan sesekali menekan dan memutar pinggulnya menikmati kemaluanku yang terasa nikmat dan ngilu tetapi enak. “Oh… Sar.. terus… ah… ah…” desahku. “Oh Van… oh.. oh… oh… Van… aku hampir keluar Van… aogh… ogh…” jerit Sari. “Okh.. Van… okh… aku ke… luar… okh.. okh…” tubuh Sari mengejang bagaikan kuda dan kurasakan kemaluanku pun bergetar mengimbangi orgasme yang dicapai Sari. “Oh… ukh… okh.. Sar aku juga keluar.. okh… okh…” Kami pun berpelukan dan mengejang bergetar bersama serasa berada di awan, menikmati saat klimaks kami tersebut selama beberapa saat hingga kemudian kami berdua merasa lemas, dan tetap berpelukan dengan posisi Sari di atas, seolah kami sangat takut kehilangan satu sama lain sambil memandangi permainan Jay dan istriku di sebelah kami.


Kulihat Lusi istriku sangat menikmati permainan ini dengan posisi bagaikan ****** atau kuda yang sedang kawin, buah dada istriku yang besar bergoyang-goyang ke depan-belakang dengan cepatnya, sekujur tubuh Jay maupun istriku berkilap dikarenakan keringat yang mengalir pelan karena permainan seks mereka ini, kulit Jay yang putih mulus karena dia berdarah Manado ini kelihatan bersinar begitu juga istriku begitu menikmati panjangnya kemaluan Jay. Tangan istriku meremas sandaran sofa dan berteriak lirih, “Ah… ah… ah… uh… uh… uh.. Jay tekan terus Jay dengan keras… ah.. ah..” kulihat satu tangan istriku memutar dan memelintir puting susunya sendiri serta sekali-kali meremas keras buah dadanya tersebut seolah takut kehilangan kenikmatan permainan mereka tersebut. Aku kemudian mendorong kepalanya dan sebagian tubuhku dan berbaring di bawah buah dada istriku, kemudian berinisiatif untuk ikut meremas buah dadanya dan mengisap puting susunya, “Akh… Van… akh… enak.. ogh… ogh… ogh… terus Van…” rintih istriku, terasa olehku kemudian Sari menjilati dan menghisap batang kemaluanku yang mulai mengeras kembali. “Ogh… ogh… ogh… Van… ogh… ogh… Jay… kontolmu sangat panjang dan membuatku sangat… puas Jay… akh… terus… akh…” kata Lusi.


“Ulp.. ulp… ulp.. ulp… ulp..” jilatan Sari di kemaluanku yang mengeras. “Okh… Jay… aku.. hampir.. ke.. ke.. luar… Jay… terus” desah istriku. Kuremas dan kupelintir dengan keras puting susu dan buah dada istriku, dan kulihat Jay juga mengejang. “Akh… akh.. akh… akh.. Lus.. aku juga keluar… akh… akh…” jerit Jay kuat, kemudian tubuhnya mengejang dan bergetar hebat. “Ogh… ogh… ogh… ogh…” istriku pun mengejang dan meremas sandaran sofa dengan kuat. Beberapa saat. Aku pun kembali merasakan kenikmatan mengalir di batang kemaluanku dan… “Akh… akh… akh… akh…” kemaluanku pun memuncratkan spermaku kembali, sebagian ke wajah Sari dan sebagian lagi meloncat hingga ke tubuh istriku dan aku pun kembali mengejang kenikmatan dan kulihat Sari terus menjilati kemaluanku yang besar tersebut dan membersihkannya dengan lidahnya. Kemudian kami terbaring dan tertidur bersama di sofa tersebut hingga pagi harinya, dalam kondisi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku, istriku, Jay dan Sari istrinya. Permainan ini kembali kami ulangi pagi harinya.


Dan kembali kami ulangi bersama dalam beberapa hari hingga saatnya Jay dan Sari harus pulang ke Surabaya, ini semua adalah awal dari permainan seks bersama kami yang hingga kini seringkali kami lakukan kembali jika aku dan istriku ke Surabaya, ataupun mereka ke Jakarta. Bahkan kadang-kadang-kadang Sari sendiri ke Jakarta bermain seks bertiga denganku dan istriku, ataupun aku atau istriku yang ke Surabaya bermain seks bertiga atau bersama dengan salah satu dari Jay atau Sari.




Bercinta dengan wanita hamil Ohhh.. enaakkk Diik

Bercinta dengan wanita hamil – Saya yaitu seseorang eksekutif muda yang baru diangkat jadi manajer di satu perusahaan swasta di Surabaya. Sebut saja namaku Arman, tinggi 175 cm kata orang saya serupa pemain bulu tangkis Ricky S. Cerita ini berlangsung nyaris 1 tahun yang saat kemarin. Umurku waktu itu 30 th.. Saya telah beristri serta beranak 2, berusia 3 th. serta yang bungsu baru 1 bulan. Isteri serta anakku masih tetap tinggal di Malang lantaran waktu melahirkan anak ke-2 tinggal dirumah orang tuanya serta belum pula pulang ke Surabaya. 




Cerita ini berlangsung waktu pulang dari kerja lembur lebih kurang jam 11 : 00 malam. Dengan mobil Baleno kesayanganku, saya menyusuri Jalan di lokasi perumahan elit yang mulai sepi lantaran kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan saya lihat wanita 1/2 baya berdiri dibawah pohon di tepi jalan. Saya terasa kasihan lantas saya hentikan mobil serta menghampirinya. Saya ajukan pertanyaan, “Ibu lagi tengah menanti apa? ”Dia memandangku agak sangsi namun lantas tersenyum. Dalam hati saya memberikan pujian pada, Manis juga ibu ini walau umurnya nampaknya di atasku lebih kurang 34 -36 th. bila digambarkan seperti artis Misye Arsita serta waktu itu perutnya agak membuncit kecil tampak lagi tengah hamil muda. “Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik? ”“Wah jam segini telah habis Bu angkotnya, Bagaimana jika saya antar? ”Dia tampak senang. “Apa tak merepotkan? ”“Kebetulan tempat tinggal saya juga satu arah dari sini, mari naik! ” 


Sesudah dia turut mobilku, Ibu itu menceritakan kalau dia datang dari Jawa Tengah, dia lagi tengah mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja jadi sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya kesini akan menyampaikan kabar bila anaknya yang pertama yang berusia 15 th. kecelakaan serta dirawat dirumah sakit hingga perlu uang untuk perawatan anaknya. Kebetulan alamat yang di catat oleh suaminya tak ada nomor teleponnya. 


Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Sesudah dimuka tempat tinggal saat juga akan mengetuk pintu nyatanya pintunya masih tetap digembok, lantas kami ajukan pertanyaan pada tetangga samping yang kebetulan satu profesi. “Suami Ibu paling cepat 2 hari sekali lagi pulangnya. Baru saja sore barusan bisnya pergi ke Semarang. Kebetulan kami satu PO. ”Kemudian kami permisi pergi. Kelihatan didalam mobil dia sedih sekali. “Terus saat ini Ibu ingin ke mana? ” tanyaku. “Sebenarnya saya pengin pulang namun.. tentu saya kelak di emosii mertua saya bila pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga telah tidak cukup untuk pulang. ”“Begini saja, Ibu kan tempat tinggalnya jauh, lelah kan baru nyampek trus pulang sekali lagi.. terlebih kelihatanya ibu lagi tengah hamil, berapakah bulan? ”“Empat bulan ini Dik, trus saya mesti bagaimana? ”“Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja dirumah saya, kan tidak jauh dari manukan kelak sesudah dua hari ibu saya antar kesini sekali lagi, bagaimana? ”“Yah terserah adik saja yang mutlak saya dapat istirahat ini malam. ”“Oh ya, bisa kenalan.. nama Ibu siapa serta usianya saat ini berapakah? ”“Panggil saja saya Mbak Menik, serta saat ini saya 35 th.. ” 


Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang umumnya difungsikan untuk kamar tamu yang ingin bermalam. Rumahku terbagi dalam 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri serta isteriku, lagi tengah yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu saya tidur pulas sekali, kebetulan malam sabtu serta di kantorku cuma berlaku 5 hari kerja jadi sabtu serta minggu saya libur. Memang saya menginginkan pergi ke Malang namun lantaran ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan. 


Sekitar jam 8 pagi saya bangun, kulihat telah ada kopi yang telah agak dingin di meja makan dan lebih dari satu kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menghidangkan semuanya ini. Lantas sesudah kuteguk kopi itu saya bergegas ke kamar mandi untuk basuh muka serta kencing. Karena agak ngantuk saya kurang mengawasi apa yang berlangsung, waktu saya usai kencing saya tak sadar bila di bathup Mbak Menik lagi tengah telanjang serta berendam di dalamnya. Matanya melotot lihat kemaluanku yang menjulur bebas, saat saya membalik ke samping saya kaget serta pernah tertegun lihat badan telanjang Mbak Menik, badan yang kuning langsat serta mulus itu tampak mengkilat lantaran basah oleh air serta buah dadanya.. wow besar juga nyatanya, 36B. 


Tentu empunya hilang ingatan sex. Lantas mataku beralih ke lebih kurang pusarnya, diatas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tidak sadar kemaluanku tegak berdiri serta saya lupa bila belum pula mengancingkan celana, Serta Mbak Menik pernah tertegun lihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm namun lantas.. “Aouuww, Dik itunyaa! ” kata Mbak Menik sembari tutup buah dadanya dengan tangan dan mengapitkan kakinya. Saya baru sadar lantas tergesa-gesa keluar. 


Di kamar saya masih tetap memikirkan keindahan badan Mbak Menik. Misal saja saya dapat nikmati badan itu… saya jadi berfikiran ngeres lantaran memanglah telah lama saya tak memperoleh jatah dari isteriku, ditambah sekali lagi kondisi dirumah itu cuma kami berdua. Lantas muncul tekad isengku untuk mengintip sekali lagi ke kamar mandi, nyatanya dia telah keluar lantas kucari ke kamarnya. Saat dimuka pintu samar-samar saya mendengar ada nada rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lantas kusibakkan gordinnya perlahan. Benar-benar panorama yang sangat syur.


Kulihat Mbak Menik sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam.


“Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia menyebut namaku, “Ouhhh Arman Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Menik, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


“Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup.“Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar.“Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba.“Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!”“Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus.Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal.“Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya.Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Menik semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang.


Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Menik. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Menik. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar.


“Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Menik mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya dia menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil.


“Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Menik menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi.


Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Menik dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku.“Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya.“Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?” tanyaku.“Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.”


Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, menikmati tubuh montok Mbak Menik yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Menik bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku.


Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.