Jumat, 21 Juli 2017

Ketika dasternya Gadis ABG kulepas buah dadanya terpampang jelas


Ketika dasternya Gadis ABG  kulepas buah dadanya terpampang jelas Cerita ini berlangsung sebagian bln. berselang waktu kami tengah ada dikota B, kota kelahiran istriku, kebetulan kami memiliki tempat tinggal di sana serta waktu itu berlibur anak sekolah. 


Telah 2 hari kami ada di kota, nyaris semua pojok kota kami telusuri serta anak anak sangat suka nikmati liburannya dengan berkunjung ke beragam tempat wisata di kota berhawa sejuk itu. 


Ketika dasternya Gadis ABG  kulepas buah dadanya terpampang jelas


Waktu itu kami tengah ada disebuah factory outlet saat satu nada terdengar “Hey……, apa kabarnya..? seseorang wanita berumur sedikit di atas istriku tiba tiba 1/2 berteriak menyapa Anita, 


“Eh.., Mira…. apa kabarnya.. ” jawab istriku yang segera hampiri wanita itu serta mereka berpelukan. 


“Pa…ingat kan.. ini Mira…. ” kata istriku 


“Tentu saja saya ingat…apa berita..? “tanyaku menyalaminya 


Mira yaitu teman dekat istriku saat kuliah…, berwajah ciri khas sunda, tidaklah terlalu cantik, tetapi putih serta bersih, paling akhir kami berjumpa empat th. lantas disuatu pesta di Jakarta, saat itu ia datang dengan suaminya.., lupa.. saya namanya…namun suaminya yaitu seseorang arsitek. 


Ke-2 wanita lantas bercakap tak tahu apa yang dibicarakan tetapi terlihat mereka bicara tidak putus – putusnya, bahkan juga istriku kelihatannya lupa bila ia tengah berbelanja, serta akupun melangakah meninggalkan mereka serta menggandeng anak anaku melanjutkan berbelanja kami, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya. 


Tidak lama kemudian ke-2 wanita itu menghampiriku serta Mira pamit ingin pulang. 


“Kasihan…ia telah bercerai” kata istriku dimobil 


“Lho.. kok…? tanyaku 


”suaminya kawin sekali lagi dengan wanita beda, serta ia tidak ingin dimadu, ya pada akhirnya mereka cerai…sudah 3 th. ia menjanda” panjang lebar istriku menerangkan 


“Lalu…? ” tanyaku lagi 


“Ya sudah…Mira saat ini buka butik” terang Anita 


Pembicaraan berhenti hingga disitu karna anak anak mulai cerewet minta makan serta kamipun berhenti di satu restoran yang mulai sejak dahulu jadi berlangganan kami. 


“Pa.. Mira kusuruh ke sini ya…, sebelumnya kita pulang, agar dia nginep disini…” istriku buka pembicaraan sore itu saat kami tengah enjoy di teras tempat tinggal kami yang terdapat agak di bagian atas kota 


“Boleh” jawabku.. serta benar-benar …saat itu tak ada satupun pemikiran yang aneh aneh melintas dipikiranku, saya tengah melepas semuanya fikirang mengenai pekerjaan serta benar benar bersantai, sekali lagi juga anak anak juga tidak ingin tinggal diam…selalu ribut tidak karuan 


Anita ambil HP nya, 1/2 jam ia bercakap dengan sahabatnya itu, serta mendekati jam 8, saat kami barusan merampungkan makan malam kami, nada mobil masuk halaman. 


“Hai….. ” sapa Mira saat kami menyambutnya, malam itu ia terlihat fresh dengan celana panjang yang cetak bentuk pantatnya serta atasan jenis saat ini yang agak gombrong itu, tetapi hingga saat itu kembali saya belum juga ‘memikirkan hal itu’ sekalipun.. 


Istriku selekasnya menarik tangan wanita itu serta mengajaknya dalam sesaat pembantu kami membawakan barang bawaannya masuk tempat tinggal. 


Kebetulan tempat tinggal kami agak besar serta masih tetap mempunyai satu kamar yg tidak terpakai, serta kesitulah barang bawaan Mira diletakkan. 


Malam itu saya masuk kamar duluan, sesudah anak anak tertidur, sesaat istriku masih tetap asik bercakap dengan kawannya, serta selang beberapa saat saya terlelap. 


Rasa hangat serta geli yang nikmat menyadarkanku, serta saya tahu bila mulut istriku telah mengulum batang kemaluanku yang selekasnya berdiri walaupun saya sendiri masih tetap 1/2 sadar, tak tahu kapan celanaku telah turun hingga kelutut saya benar benar tidak tahu. 


Tidak lama kemudian tanpa ada melepas mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku telah lepas semuanya, serta menyusul pakaian yang lain. 


Sesudah sama-sama mencumbu, menjilat serta bergumul, pada akhirnya dengan tempat di atas Anita memasukan batang kemaluanku dalam vaginanya yang hangat itu serta mulai bergoyang, semula perlahan-lahan makin lama makin cepat, sesaat mulutnya berdesis seperti orang kepedasan. 


“Srrrt…” saya tidak tahan sekali lagi serta melepas air maniku duluan dalam vagina istriku yang masih tetap selalu bergoyang menguber puncak kenikmatannya, serta pada akhirnya sebagian puluh detik lalu istriku melenguh serta mendesis desis saat ia meraih klimaxnya, untung …pikirku…telat sedikit saja kemaluanku telah melemas serta dapat pusing dia bila gagal menjangkau klimaxnya. 


Badan istriku ambruk di atas badanku, dan…plop….. kemaluanku lepas dengan sendirinya, kami berciuman serta sama-sama memeluk, yah…walaupun banyak petualangan kami tetapi setiap saat terkait seks …….. kami begitu senang serta nilai keintiman yang ada di antara kami bila tengah berdua begitu berlainan di banding bila tengah ‘bertualang’. 


Kami sedikit bercakap malam itu, lelah sesudah sepanjang hari berputar-putar putar serta berbelanja dan enaknya seks yang barusan kami rasakan membuat kami selekasnya terlelap dalam selimut…. berpelukan telanjang bulat. 


Pagi pagi saya telah terjaga…, lihat istriku masih tetap tidur.. saya lantas kenakan celana pendek serta kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada diadalam kamr, bersihkan muka…lalu keluar keruang makan…mencari kopi. 


Waktu melintas dapur kulihat Mira tengah asik mengaduk kopi digelas…dan saat melihatku nia tersenyum…


Mira hanya mengenakan baju tidur yang agak tipis… dan buah dadanya yang saat itu tidak menggunakan bra…membayang jelas…, masih pagi.., baru bangun……. melihat pemandangan seperti itu…langsung saja ‘adik kecil’ diselangkangan berontak keras….


“Mas…kopinya suka manis ?” tanya Mira“Lho..kok…mana pembantu..masa kamu yang bikin ..?” tanyaku“Kusuruh kepasar….Mira ingin masak kalau boleh…tanya Anita deh….hobby Mira kan masak..” jawabnya.


Ingin kutanya ‘hobby’ nya yang lain..tapi mengingat ia teman istriku dan aku belum diberi tanda oleh istriku aku menjaga lidahku supaya jangan nakal….


“Jangan terlalu manis..ah….nanti bisa diabetes…” jawabku, hampir…saja kulanjutkan…’kalau diabet bisa impoten…rugi …’ tapi kembali kujaga lidah ku..


Siang itu aku bersantai dikamar sementara istriku dan Mira asyik memasak…, anak anaku juga asyik dengan urusan mereka masing – masing dikamarnya


“Hey….makanan sudah siap.”teriak istriku dan hawa dingin kota Bandung serta suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar……


Mataku sempat menelusuri tubuh Mira yang tampak sibuk mengambilkan nasi, menyipakan lauk pauk dan dengan tank top ketat, celana jeans yang dikenakannya mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini bukan wanita yang akan kita pikirkan, berusia menjelang pertengahan, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik, tubuhnya juga sudah tidak sekencang gadis muda.. namun kulitnya sangat putih dan bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau ia bukan ‘petualang’, dan yang agak ‘mengganggu’ pemikiranku adalah sdh 3 tahun bercerai…’jangan jangan sudah rapat kembali’


Pepes ikan mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku sudah terbuai dalam mimpi, entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak kupedulikan lagi.


Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke mall, beli jagung bakar, makan malam dan menjelang Pk. 9.00 malam kami sudah kembali kerumah…anak – anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi…


Aku sedang membaca dikamar ketika istriku masuk dan duduk disampingku, dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata “Pa..menurut papa Mira bagaimana..?” tanyannya tiba tiba.“Bagaimana apa…”tanyaku“Ah…mama kan melihat papa memperhatikan Mira, waktu makan siang tadi, …minat….?” lanjut istriku“Mmmmm bukan gitu” lalu kusampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku mencubitku “buktikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Anita. “Mm……….tapi kan dia teman mama dan belum tentu memahami gaya hidup kita” jawabku, langsung saja ada yang terasa bergerak diantara pahaku…’kalau iya lumayan kan…’pikirku


Sudah terlalu lama istriku mengenal diriku…kali ini dia yang menjadi ‘pengatur laku’ “sudah..pokoknya papa..nurut saja. ya…nggak rugi deh…” lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar…


Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasi ku sudah buyar..


Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta Mira yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas..sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal..sehingga tidak ada bayangan yang timbul…


“Ngobrol disini saja ya Mir…, pa boleh kan Mira ngobrol dulu disini ..?,” pembantu belum tidur lagi nonton TV, dikamar Mira nggak enak, nggak ada Exhaust Van nya”…, memang terkadang istriku merokok, terbayang kan kalau asap rokok tidak dikamar tidak bisa keluar..?


“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax, Anita duduk disisiku dan kami duduk diranjang bersandar santai, sementara Mira duduk diujung ranjang…., kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya..(aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya…tapi diulangi lagi untuk ku),“Mir…kalau boleh tahu….kamu kan sudah pisah 3 tahun sama mantan mu…, nah kalau ‘kepingin…itu..’ bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling aling Anita bertanya yang membuat wajah Mira merah bagi kepiting rebus.“Ya…gitu deh……….., udah ah….kok nanya in yang begituan sih…….” jawab Mira tersipu.


Tiba tiba Anita bangkit, lalu mengambil lap top yang biasa kugunakan, meletakannya dipangkuannya dan…menyalakannya serta memanggil Mira mendekat…


Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku…walau aku tahu apa yang ada dipikrannya, sekejab kemudian terdengar suara Mira berteriak kecil…”Ih…gila ya kamu……..” sambil melirik kearahku.


Berkali kali terdengar jerit tertahan Mira saat melihat apa yang tersaji di laptop ku, ya..kumpulan gambar photo ‘petualangan’ kami…bermacam occasion yang sudah ku compile dalam suatu album, ada yang istriku sedang ‘dikeroyok’, ada yang sedang swinging dengan pasangan lain dan macam macam lainnya.


“Sebentar ya…” kata Anita yang lalu beranjak ke kamar mandi Mira tidak menjawab namun matanya terus menatap layar lap top dengan wajah yang berubah ubah..antara percaya dan tidak..antara ingin tahu dan tertarik….ia masih asyik menscroll gambar gambar itu dan Anita yang sudah kembali duduk didekatku…tangannya langsung menyusup kedalam celana pendek yang kukenakan.


Istriku alau merangkul leherku, mencium bibirku..lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam celana pendek yang kukenakan…beberapa saat kemudian celana yang kukenakan sudah terlepas…


Ketika Anita menengok…ia terpana….karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku…dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikan nya…ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat…. dan entah sadar atau tidak Mira mendekati kami duduk disamping tempat tidur.


Tiba –tiba istriku menarik tangan Mira dan meletakannya di batang kemaluan ku yang sudah mengeras.


Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas…memberikan sensasi padaku..dan benar seperti kata istriku……. Mira sudah terlalu lama tidak menyentuh laki laki…, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai ‘mainan’, saat Mira menghisap kepala kemaluanku istriku menjilati bijiku dan begitu bolak balik…kujulurkan tanganku…kutarik Mira agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku…


Ketika dasternya kulepas..buah dadanya terpampang jelas…puting susunya lebih besar dari istriku merah agak kehitaman, kontras dengan kulit putihnya…, dan walau sdh tidak terlalu padat dan agak turun sedikit namun asyik juga.


Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya…terasa selangkangan yang lembab agak basah…dengan bulu bulu yang cukup lebat.


Istriku yang mengerti apa yang kuinginkan, menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku..lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.


Kubaringkan Mira telentang..dan kucium bibirnya…lalu perlahan jilatanku merambat turun…lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap putingnya sementara ia hanya memejamkan mata mengerang lirih….


Lidahku turun terus kebawah…dan ketika sampai di perutnya ia mulai menggelinjang…kuambil bantal..kuminta ia mengganjal pinggulnya dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.


Dengan kedua tanganku kusibak bulu bulu di area itu….kubuka vaginanya…dan lidahku mulai menari nari di klitorisnya…, sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap dan menjilat..Anita yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerang’ku.


“Ssshh…..aduh….sdh nggak tahan……” sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya..dan aku mengerti..sudah terlalu lama ia ‘haus’..maka ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik ketas tubuhnya dengan serta merat tangannya menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan perlahan mulai kubenamkan…Mira mengerang…. membuka pahanya semakin lebar,…setelah kepala kemaluanku masuk…dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.


Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun ‘legit’ itu, memang sih kelebihan wanita jawa barat umumnya bisa membuat vaginanya enak..tidak kering agak basah sedikit, tapi legit..atau mungkin pengaruh suka makan lalaban?..dan baru kemudian kutarik sedikit…lalu kubenamkan lagi..demikian berulang – ulang… sementara Mira memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku…


Tiba kurasakan sensasi lain…wah…….ternyata istriku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Mira, bahkan sesat kemudia bukan lagi usapan yang kurasakan namun …..jilatan….gila…………….rasa nikmat yang luar biasa menyerangku …………, batang kemlauanku terbenam dijepit kemaluan Mira dan lidah Anita menjilati bijiku..sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar…..


Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang…….. maka, ku rubah posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , kubalik posisi hingga Mira kini diatasku, kini aku punya ‘mainan’ tambahan’, buah dada yang bergoyang dan menggayut diatasku dengan leluasa kuremas…, sesekali putingnya kuhisap…, disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.


Mira mulai bergerak teratur….mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki laki membuatnya tidak tahan terlalu lama…..ia naik turun diatasku dengan teratur…semakin lama semakin cepat..kemaluannya mulai menghangat…dan aku ‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya…..dan akhirnya dengan satu teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya kebelakang..mencengkeram pundaku dan mendesah lirih…”Ah…ssss…………….hhh…………. …..ah……..aduh…..keluar………..” lalu ia ambruk diatas dadaku.


Kucium bibirnya dan dengan perlahan ia kurebahkan kesamping…, sesungguhnya aku yakin akalu kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimax lagi walau tidak sedahsyat yang barusan..namun aku juga tahu kalau istriku sudah menanti..


Kusuruh Anita menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup dangn lendir Mira menerobos memasuki lubang vagina istriku..yang juga sudah basah….


Kami sudah mengenal satu dengan lain sangat baik….maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian mendesak…kuberi tanda pada Anita untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya…srrrrt…..creeet……….air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.


Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta mengusap ngusap kemaluanku yang masih basah itu…, namun juga masih susut.


Belum terlalu rasanya beristirahat Mira sudah mulai memainkan kembali mulutnya di selangkanganku sementara Anita berjongkok diatas wajahku dan lidahku langsung saja menerobos masuk ke lubang vaginanya……, vagina istriku walau sudah banyak yang ‘menikmati’ namun tetap terawat dan terasa nikmat… juga klitorisnya masih tetap mungil kemerahan….sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik… kini kembali aku diatas Mira yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku dan Anita memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang telingaku..kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku….


Aku menggenjot Mira yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas…istriku mengelus dan mengusap usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti tadi…………Mira yang masih haus itu kembali mencapai klimax duluan…..”Mas……….ah…….cepet….cepet.. .aduh…………enaaaak..hhh………” dan setelah seluruh tubuhnya menegang ia tergolek lemas, aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut denyut itu…….dan semenit kemudian mulai lagi kugerakan maju mundur secara teratur….”waw……….geli….ah……..aduhh.. …………” Mira merintih dan mendesah….namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua yang ingin kugapai…dan “Aduh…….keluar…lagi……ah……” dan istriku juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan lagi……kucabut kemaluanku dari vagina Mira dan istriku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.


Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air maniku dalam mulut Anita yang tanpa ragu langsung menelannya.,


Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.


Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali…. dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Anita untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air maniku


Entah jam berapa Mira kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya…aku terlelap.


Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku…sambil berbisik ”Mira bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu katanya..” aku hanya tersenyum karena benar benar merasa ‘habis…..’, terkuras energi dan air maniku….,


Hampir tengah hari baru aku beranjak dari tempat tidur setelah anak anak ribut tidak karuan mengajak pergi……………………


Tamat





Proudly powered by WordPress.

Cerita Sex Dikado Ultah Dengan Gaya 69 Dari Tante


Kupandang pas ke muka bapa tiriku sembari menggeleng. Dicabut pelirnya awal mulanya lantas turun mencemoohpak pada celah kelangkangku. 


“Sue telah basah lenjun ni.. ” usik Uncle Rafie sembari tersenyum. 


Farajku kebasahan dek kerana rasa berahi yang sangat begitu. Tanpa ada banyak lengah, Uncle Rafie meningkatkan batangnya ke arah lubangku. Pendayung di rendam. Lalu mulai diasak masuk awal mulanya kedalam. Namun saya merasa kurang selesa. 


Cerita Sex Dikado Ultah Dengan Gaya 69 Dari Tante  Kejap uncle.. ” rayuku sembari menahan dada tiriku. “Kenapa Sue? ” Uncle Rafie manja sekali melayani anak tirinya ini. Minta apa sajakah juga tentu dibaginya. “Lenguh lah uncle.. ” saya berpindah mendekati tebing katil. 




Pinggulku ditempatkan benar-benar di tebing tilam. Kakiku terjuntai ke bawah hingga tapak kakiku mencecah ke lantai. Saya menguak luas kelangkangku. Uncle Rafie turun ke lantai. Di lututkannya kaki mencium faraj milikku sepuas hati. Dijilat serta dikemamnya biji kelentit ku yang memerah, sebelumnya berdiri merujuk senapangnya awal mulanya. Saya menguak kaki luas-luas sembari menguak kelopak mawarku dengan jari tangan ke-2 iris tunjukkan pintu farajku yang sedikit terbuka. 


Slow-slow bapa tiriku menempatkan kepala cendawannya. Saya juga menolong dengan memakai tangan kiriku. Dipacukannya ke liang. Sehinggalah bapa tiriku menerjah kedalam baru saya melepaskannya. Waktu Uncle Rafie mulai mengepam, saya memautkan tanganku ke leher Uncle Rafie. Merengkok tubuhku sembari ditujah laju oleh bapa tiriku dengan penuh nikmat. 


Tak ada rasa yang semakin bagus dari pertemuan dua alat kelamin itu dalam tempat itu. Geselan kulit batang yang keras berurat itu dengan dinding faraj yang penuh menaruh urat peka semua rasa geli serta berahi, membikinkan saya tidak karuan haluan. Kepala cendawan Uncle Rafie juga menaruh urat geli berahinya namun kematangan Uncle Rafie membikinkan dia gampang mengawal urat geli berahinya agar tidak cepat membawa dia ke penghujung upacara. 


“Uncle.. Ooohh.. ” saya mulai berbicara dalam mimpi riil. “Kenapa Sue.. ” Uncle Rafie merenung rapat matanya ke buah dada ku yang bergetar kencang sesuai dengan kelajuan pelirnya yang mengepam. “Cepatlaa.. ” ringkas jawapanku. “Awal sekali lagi sayang.. ” Uncle Rafie memujuk. “Sue tidak tahan.. Uncle.. Hemm” “Hem? ” “Sue nak saat ini.. ” “Sekarang? Takkan cepat begitu? ” “Dahh.. telah sejaamm.. ” “Tak sukai lama? ” Uncle Rafie cabut pelirnya lantas mengetuk ke biji kelentit ku untuk menyeimbangi rasa enaknya. “Nakk.. Namun kelak buat lagii.. ” 


Uncle Rafie tersenyum. 


“Baiklah.. Kejap sekali lagi.. Ya sayang” Uncle Rafie memasukkan awal mulanya pelirnya kedalam farajku yang demikian gampang memberi laluan itu, namun masih tetap demikian sempit untuk digeledah oleh bapa tiriku. “Kita naik atas Uncle.., ” saya mengajak bapa tiriku mengesot awal mulanya naik ke atas. Pelirnya tercabut awal mulanya. Saya naik menelentang menggalas punggungku dengan bantal. Uncle Rafie naik merangkak mencemoohpak tengah kelangkang. “Cantik.. ” puji Uncle Rafie lihat faraj ku. Namun saya telah tidak sabar. 


Jariku mengutil-ngutil biji kelentitnya dalam kondisi yang paling mengghairahkan 


“Please hurry.. Uncle.. ” cepat-cepat saya menarik tangan bapa tiriku. 


Uncle Rafie itu terdorong mendepang tangan pada rusuk kanan kiri ku. Saya merangkul pinggul Uncle Rafie dengan kakiku seraya berikan bukaan luas dengan jariku agar batang pelir Uncle Rafie bisa menyelusup dengan gampang. 


“Lembut? Kasar? ” Bertanya Uncle Rafie. 


Saya cuma melayukan pandangan matanya. Kelopak mataku mengecil. Sedikit untuk sedikit Uncle Rafie memerankanannya lagi. Dia ambil tempat enak. Dengan kaki celapak katak, peha ku diatas pehanya, Uncle Rafie mula maju. 


“Ahh!! ” saya mengerang manja terima kemasukan batang Uncle Rafie. 


Liang farajku buka perlahan-lahan. Seinci menelusuri masuk. 


“Uncle.. ” saya menyebutnya lemah. “Kenapa? ” Uncle Rafie berhenti mengasak. “Sedaappnyaa.. ” saya melepas kelopak mawarku apabila kelopak cendawan Uncle Rafie telah ditelan oleh farajku yang tercungak tinggi atas galasan pinggul di bantal. “Lagi.. ” seinci sekali lagi masuk, tinggal lima sekali lagi. Saya cuba menahan geli apabila Uncle Rafie menggentel biji kelentitku. Saya cuba menahan tangan Uncle Rafie dari melanjutkan gentelen itu namun Uncle Rafie tetaplah beraksi untuk menerbitkan selekasnya berahiku. “Masuklaah laagi.. ” saya merintih manja. Bibirku mengetap erat menahan rasa yang indah itu dari demikian cepat menghanyutkannya ke inderaloka. 

 Seinci lagi menerjah. Tinggal empat inci lagi untuk memenuhi hajatku. 


 “Padatnyaa..” aku menggelinjat menikmati asakan perlahan dan teratur dari peparangan terancang itu. 


Seinci lagi ditolak perlahan ke dalam. Aku dapat merasakan liang dalam kepunyaanku yang semakin mengecil itu kian menghimpit kebesaran kepala cendawan bapa tiriku. Tinggal tiga lagi. Faraj ku terasa semakin lincir. 


“Uncle.. Sue tak tahan uncle..” aku semakin mengeluh dalam. Keindahan ini tak mungkin dapat aku kecapi dari mana-mana lelaki.. Uncle Rafie menolak lagi seinci ke dalam membuatkan tinggal lagi dua inci.. 


Aku terasa ingin mengemut tapi aku cuba menahannya. Batang pelir bapa tiriku terasa begitu besar lagi mengembang dan mengeras di dalam farajku. Terasa lebih besar dari yang tadi. Atau sebenarnya aku terasa begitu ghairah amat dengan nikmat yang hendak dicapai dengan Uncle Rafie sekejap lagi bersama-sama bila Uncle Rafie menyemburkan benihnya ke dalam farajku yang turut akan bersama memercikkan benih untuk ditemukan dengan benih Uncle Rafie 


 “Santak uncle.. Dalam lagi..” aku merayu-rayu. “NAH!!” 


 DUPP! 


 “Aahh!!” Aku seperti orang yang kena hysteria bilabatang pelir bapa tiriku menyantak kuat lubang farajku ytang mengemut kuat. “Yeaasshh!!” 


 CLOP! CLOP! CHLUP! 


Berdecap decip bunyi hempapan dan ganyahan batang pelir Uncle Rafie keluar masuk liang sempit ku yang kesat-kesat licin itu. Hangat dan merangsang. 


 “Laju lagi.. Uncle.. Laju.. Dont give up!!” aku menjungkit-jungkit pinggulku hendak merasakan santakan yang lebih ganas. “Sempitnyaa..” ucap Uncle Rafie tak pernah merasa reaksi sebegitu rupa dariku. 


Aku sudah kemaruk sangat!! Aku tak sangka begitu indah sekali peperangan antara aku dan bapa tiriku. Lima inci tarik, enam inci membenam. Seakan tumbuh seinci. Tarik enam, simpan satu, masuk tujuh jadi lapan. 


 “Uncle!!” aku mengejang serta merta. “Kenapa sayang..?” Uncle Rafie terus mengasak laju macam kereta lumba yang baru kena minyak pelincir baru. “Cepat uncle.. Sue tak tahan.. Help me please..” Milah makin tak tentu arah bila Uncle Rafie gigit puting buah dadaku dari sebuah ke sebuah. “Don’t do this to me!!” aku menjerit lagi. Agaknya rumah sebelah pun boleh mendengar jeritan kesedapan yang aku nikmati ni.. “Relax..” Uncle Rafie memujuk. “No.. I can’t.. Please uncle.. Sue nak sekarangg!!” Aku memang sudah tak tentu arah lagi sebab aku sudah bertahan begitu lama. 


Aku menahan percikan benihku dari tadi. Aku menahan pancaran berahiku yang menggila dari tadi. Aku sudah semakin hampir ke pantai berahi yang indah. Cuma aku tinggal hendak terjun ke laut untuk berenang ke tepian sahaja. Tinggal Uncle Rafie untuk mengemudikan nafsuku ini. 


“Uncle.. don’t leave me alloonnee..!!” Aku menarik-narik kemasukan batang Uncle Rafie sambil merapatkan pehaku supaya laluan Uncle Rafie jadi lebih sempit. 


Asakan kian laju. Bantal galas dipinggul sudah terbang entah ke mana. Cadar sudah bersepah bertebaran ke lantai. Tidak ada apa lagi yang mahu diingati oleh kami berdua kecuali mengecapi kemuncak berahi mereka bersama-sama. 


 “Suuee..” Uncle Rafie tak tahu hendak laju mana lagi. 


Gear lima sudah masuk. Sudah pun berpindah ke gear tinggi lori kontena. Sorong tariknya sudah hilang tempo. Peluh membasah di merata-rata menitik-nitik ke tubuh dan muka Milah. Peluh di celah kelangkang menambahkan kelinciran. 


 “Unncclee.. Sue sudah nak hampir ni..” aku menggentel kelentitku yang kebasahan. “Sabar Sue.. Uncle jugaa..” Uncle Rafie sudah tak tahan sama terikut-ikutkan berahiku. “Cepat Unclee!!” “Sssuuee..!! Sempitnya lubang sue..” Uncle Rafie menindih badanku. Buah dada ku menjadi pelantar kusyen yang empuk di dada uncle Rafie. 


Dipeluk tubuhku sampai ke belakangnya. Lagi laju dia mengepam, lagi kuat pelukannya itu. Aku sendiri sudah mencakar-cakar Uncle Rafie di belakangnya dengan kuku ku yang panjang. Agaknya Uncle Rafie terasa calar dan melukakan. Tapi aku dapat agak Uncle Rafie sudah naik stim. 


Uncle Rafie juga semakin sampai. Kami berdua sudah dekat ke penambang. Laut bergelora kian kencang. Ombak yang memukul ke pantai berulang-ulang membanyak buih dan busa di tepian. Licin. Enak. Empuk. 


 “Suuee..!” kerandut dakar Uncle Rafie berdenyut mengepam cairan benih yang likat dari kilangnya naik melalui salurnya. “Unccllee!!” aku mengemut kian kuat dan kencang. Badanku menggigil kuat akibat kesepana yang amat sangat. “Sue.. This is it..” Uncle Rafie bisik ke telinga sambil meneran. 


 Faraj ku mengemut kuat. Rasa macam melekat. Rasa bergelen-gelen benih Uncle Rafie memenuhi ruang dan memancut di dalam. 


 “Sue.. Uncle tak pernah rasa pancaran sebegini..” bisiknya ke telingaku. 


Aku tersenyum bila dia meluahkan isi hatinya. Aku pula seakan-akan menyedut-nyedut air mani bapa tiriku masuk ke dalam rahimku sesudah bertemu dengan percikan madiku sendiri. Basah seluruhnya. Tidak ada yang lebih basah dari mandian peluh dan mandian mani kami berdua.. Aku dan bapa tiriku tercungap-cungap kelesuan. Tak pernah dirasakan keladatan yang sebegitu indah. 


 “Uncle.. Sedap nya.. You’re great..,” “Sue pun hebat walaupun this is your first time..” balas Uncle Rafie sambil pelirnya terus kekal keras terendam setelah habis melepaskan saki baki maninya dalam faraj ku. Kalau kena gayanya, aku bakal mengandungkan anak bapa tiriku sendiri yang akan menjadi cucunya. 


Walaupun aku bersikap enggan menyerah pada mulanya, tetapi dengan 1001 penyerahan yang wujud di lubuk hatiku, aku lihat Uncle Rafie sangat puas. Kita saling serah menyerahkan dengan keadaan yang sungguh mengasyikkan. Kali ini amat luar biasa. Kali ini berbeda dari yang pertama tadi. Amat luar biasa perkongsian kita. Amat nikmat bagi Sue yang menerima dan jelas juga-amat nikmat baginya yang memberi. Nikmat kita berdua. Untuk kita. Dalam aku mendakapnya erat-erat itu, tanpa aku sedar. Aku meletakkan muka ku ke bahu tengkuk Uncle Rafie. Seakan-akan tidak mahu melepaskan bapa tiriku. 


Waktu itu, kita seumpama sudah sebati. Kita terdampar!! Lesu.. Lesu. Tidak lagi bermaya lagi. Kini kita longlai. Kita terus berpelukan. Erat-erat. Perlahan-lahan, bagai angin kencang, suasana kembali reda. Uncle masih mendakap ku. Uncle balikkan tubuh ku telentang. Kita berpaut antara satu sama lain. Kita ingin sama-sama kembali ke dunia kita yang penuh sadar. Kita mahu sedar bersama. Kita mau seiringan kembali kedunia sebenar. Seiringan dalam dakapan yang penuh nikmat dan satu rasa. Batang uncle masih lagi dalam cipap ku. 


Uncle Rafie seakan-dalam keadaan terlena. Begitu juga diriku. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan begitu. Umpama satu perjuangan, kita sama-sama seperjuangan. Kita sudah memenangi pertarungan itu. Sama-sama menang. Berjaya. Terhasil. Berhasil menikmati suatu keindahan yang tidak mungkin dapat diceritakan. 


Kita terlena dalam dakapan itu.. Berpelukan. Kita masih telanjang. Terkapai.. Terlena dan tertidur. Sebelum terlena, aku terfikir, bagaimana aku dapat melakukan hubungan asamara tadi? Uncle Rafie nampak cukup puas bersetubuh dengan Sue! Sue mencapai klimaks orgasma bertalu-talu. Kita benar-benar bersatu..!! 


 E N D




Proudly powered by WordPress.

Akhirnya Fiona merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat

Akhirnya Fiona  merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat Semua berawal apabila saya buka emailku serta terima salam perjumpaan dari seorang wanita. Nyaris selang satu hari saya terima e-mail darinya. Perjumpaan serta perhubungan kami makin bergetar minggu untuk minggu. Saya terima enam keping gambar separuh bogel dalam pelbagai posing darinya. Mona memberitahukan tersebut dianya. Tetapi saya sedikit kecewa kerana berwajah dikaburkan. 




Tidak mungkin saya tahu siapa dia sesungguhnya. Lihat gambarnya saya bisa memikirkan bentuk badannya yang seksi itu, sepasang buah dadanya agak besar serta mengkal dengan putingnya berwarna cokelat memberahikan saya. Mona bercerita hal peribadinya kepadaku. Tuturnya dia senantiasa ditinggalkan keseorangan. Suaminya asik out-station dengan pekerjaan. 


Saya menasihatkan umumnya lelaki yang berumahtangga mahukan seseorang isteri. Suami tidak perduli samada isterinya melahirkan seseorang anak atau ramai orang anak, yang perlu baginya dia membutuhkan isteri namun ramai isteri selepas memiliki sebagian orang anak jadi ibu serta kurang jadi isteri. Saya me-minta Mona berpikir. Janganlah selfish serta perlukan sendiri. Jadi suami out stationpun kerana mencari rejeki. Bukanlah mencari bini. Kesian kat suami. 


Di posisi awal mungkin saja suami bisa bertahan, menyenduk nasi sendiri, ambillah lauk/kuah sendiri, ambillah air sendiri sebab isteri repot melayan anak-anak namun makin lama suami jadi jemu. Capek di petinggi serta dirumah juga tidak memperoleh service isteri. Ramai suami tidak tahan jika isterinya jadi ibu hingga suami terasa terpinggir. 


Saya berikan pandangan serta nasehat semampuku selebihnya Mona yang terkena fikir sendiri serta membuat ketentuan karenanya rumahtangganya. Mona menaikkan, suaminya seringkali menuduh dia melawan cakap suami sedang suami juga berlaku panas baran. Penambahan suaminya kaki botol. Mona tidak faham disebutkan tidak hormat pada suami sedang Mona berlembut setiapkali bercakap dengannya. 


Tiap-tiap perkara dikerjakan, ada saja tidak terkena. Suami tidak sempat akan berlembut jika bercakap serta seringkali menengking, mengherdik dan mencaci. Sikapnya itu keterlaluan pada Mona. Mona tidak paham apa mesti dikerjakan dengan sikap suami yg tidak bisa dibawa terlibat perbincangan. 


Bila terlibat perbincangan Mona seringkali dipersalahkan serta suaminya saja benar. Jika cuba menghindar dari bertikam lidah Mona disebutkan melawan. Mona tertekan dengan sikapnya serta ia mengganggu fikiran tiap-tiap waktu. Apabila balik selalu main. Terlepas tu tidur. Tidak romantik segera. 


Bln. ke-5 tanda bertanya serta jigsaw puzzle siapa Mona terjawab. Dia memohon saya berjanji tidak mengungkapkan identitinya pada sesiapa juga. Alangkah terkejutnya saya apabila gambar paling barunya mendedahkan siapa Mona sesungguhnya! Rupa-rupanya Mona yaitu Mrs. Fiona, wanita tionghoa, seseorang accountant rakan sekerjaku, berumur 30 th. telah bertemumi serta memiliki seseorang anak berumur empat th.. Fiona saat ini jadi mahasiswi di Nottingham University, Cawangan Malaysia ambil ijazah MBA-nya pada saat suaminya seseorang pakar perniagaan. Fiona peramah sedang suaminya reserve sedikit. 


“Are you serious? ” tanyaku. “Yes. I bukanlah main-main ni. I senantiasa pikirkan you apabila I stim! I have a crush dengan you, ” dia menjawab selamba. “What?? Crush with a veteran like me Fiona?? ” “Yes. Why not. You are sexy my friend. I had that feeling of wanting you in me. It has been a while since I gave birth to my son. ” “You’re pulling my legs. I had my crush on you too Fiona. Your voluptuos body and your boobs. Petite. I am being frank about it” Balasku. 


Saya lihat gambar Fiona dengan bodynya padat. Kecil molek orangnya. Jenis film star wajahnya panasia serta bila dibanding dia dengan suaminya jauh panggang dari api. Itu pemerhatianku sedang Fiona menikah dengan suaminya, David atas sebab beda mungkin saja. Manalah saya tahu penambahan suaminya seseorang bisnesman. 


“No I’m not. I’m serious. I want you to fuck me. Suami I takde sini dia di China on business trip. I’m free.. Let’s meetup. ” “Where? Dimana? “Tanyaku dengan hati yang berdebar-debar. “At my house.. Bisa? ” usulnya. Saya sepakat sahaja. 

Aku dipickup oleh Fiona dari Bangsar dan dia drive membawa aku ke bangalonya di sebatang jalan sunyi. Sebuah bangalo mewah di kawasan elite di Damansara. Terpegun aku melihat tubuhnya. Jelas kelihatan bahagian-bahagian yang terbonjol itu.. Yang dibaluti negligee nipis berjenama Victoria Secret dan kedua-dua bahagian sulitnya berbalut dengan bra dan underwear warna merah. 


Fiona terus memelukku. Aku membalas pelukannya. Aku menyentuh pipinya dengan hidungku. Licin dan lembut. Perlahan-lahan aku mengucup bibirnya mengulum lidahnya dan menghisapnya perlahan-lahan sambil merangkul lehernya. Aku mendukungnya sambil mulutku mengulum bibirnya sehingga sampai ke dalam bilik. Aku baringkan Fiona di atas tilam yang empuk itu. Kucupan demi kucupan dan tangan aku mula menjalar di dada Fiona. Boleh tahan besar, memang padat dan hebat. Aku meramas-meramas buah dadanya yang masih dibaluti coli sambil mengulum lidahnya. Fiona membalas kulumanku. 


Setelah puas berkuluman dan ramas-meramas, aku terus melucutkan baju tidur Fiona. Aku tak dapat mengambarkan betapa cantik tubuhnya yang berkulit putih melepak itu. Aku terus menghisap telinga dan menjilat seluruh tubuhnya. 


 “Aarrgghhgghh..!!” dia merengek manja. 


Putingnya berwarna pink sudah menegak. Aku uli kedua buah dadanya yang kenyal dan montok itu. Aku hisap dan nyonyot putingnya sambil meramas-ramas buah dadanya. Dah puas aku hisap yang sebelah kiri, aku pindah pula ke sebelah kanan. Fiona masa tu memang dah stim habis. Dia merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat. 


 “Mm.. Mm..!!” Erangnya perlahan. Aku terus memainkan kedua putingnya dengan hujung lidahku. Fiona menggeliat lagi. “Mm sedapp..,” Fiona mendesah tak karuan bila aku meramas-ramas buah dadanya dengan lembut. 


Dia mengerang dan kedua tangannya memegang kain cadar dengan kuat. Fiona menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meramas rambutku.. Kedua tanganku tetap meramas buah dada Fiona sambil menghisap putingnya. 


Di dalam mulut, putingnya kupilin-pilin dengan lidahku Fiona mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit perlahan ketika aku menggigit putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan buah dadanya kugigit dan meletakkan tanda love bites. Lidahku bermain di pusatnya, Fiona mengerang keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan peluh menaikkan nafsuku. Kukucup dan kubasahi seluruh perutnya dengan air liurku. Perlahan-lahan aku menjilat dari lututnya naik ke pangkal peha. 


 “Ooh..” Fiona merintih perlahan bila Aku melebarkan kang-kangannya. Fiona sudah lemas dan dia sudah terangsang. 


Kuhayati keindahan pussy Fiona. Aroma pukinya menyentak syahwatku. Bibir cipapnya rapat sehingga susah untuk aku melihat lubangnya. Tangan Fiona menekan kepalaku ke cipapnya. Hidungku menjunam diantara kedua bibir pussynya, empuk dan hangat. Kuhidu sepuas-puasnya aroma pukinya yang menusuk lubang hidungku, sementara kukucup bibir pussynya bernafsu sekali. 


Fiona menjerit-jerit tak karuan, tubuhnya menggeliat hebat dan kekadang melonjak-lonjak kencang, beberapa kali kedua pehanya mengepit kepalaku. Aku asyik mengulum, menyonyot dan mengigit manja kelentitnya. Mak oii!! Besar biji kacang pea kelentit Fiona. Merah warnanya. Dalam pada itu menjulurkan lidahku ke dalamn lubang cipapnya. Terkadang Fiona seperti menangis. Tidak berdaya menahan kenikmatan. Kepala Fiona berpaling kekiri dan kekanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan. 


 “Oohh.. I dahh.. Tak tahan!!,” rengek Fiona.”You’re good my darling N. Good in licking my pussy.” 


Aku tidak mempedulikan erangannya. Mulut dan lidahku terus bermaharajalela di seluruh cipap Fiona sehingga hampir lumat tempat tu mulut kukerjakan. Beberapa urat bulu puki Fiona termasuk ke dalam mulutku. 


 “Hmm.. Besar.. Panjang..!!” kata Fiona senyum dan matanya kuyu sambil meramas-ramas manja batangku. 


Fiona memasukkan batangku ke dalam mulutnya.. Digenggamnya batangku.. Dan mula menjilat-jilat kepala koteku itu. Di dalam mulutnya aku terasa kepalaku dipermainkan oleh lidahnya. 


 “Mmph.. Mmpphh.. Srrtt.. Srrt..!!,” bunyi yang terlencit dari mulut Fiona. 


Mulutnya yang kecil itu menyukarkan Fiona menelan keseluruhan batangku itu. Beberapa kali dia mencuba tetapi baru separuh masuk sudah mengenai anak tekaknya. Dia melurut-lurutkan lidah ke batangku hingga ke buah pelirku. Dia mengulum lalu menyedut buah pelirku. Sedap ada sengal pun ada. 


 “Aduhh.. Ss.. Fiona perlahan skitt.. Senak I..!!” desahku mengawal Fiona yang geram. 


Dia terhenti dan menukar konsentrasinya kembali kepada kepala koteku. Aku membuka bibir puki Fiona dan menusukkan batangku ke dalam lubang pussynya yang lencun itu. 


“Aahh.. Hhgghh.!!,” Fiona merintih menahan sakit dan nikmat bila batangku menerobos masuk ke dalam lubang cipapnya yang masih sempit. 


Aku menggomoli dan menjilat buah dadanya. Fiona mendesah menahan kegelian dan kenikmatan. Aku mulakan pergerakan sorong tarik dan menghenjut kuat-kuat ke lubang pukinya. 


 “Argh.. Sedappnya..!!” jerit Fiona bila keseluruhan batangku ditelan lubang cipapnya. 


Aku merendam batangku di dalam lubang pukinya. Ketika itu diangkat tubuhnya sambil memeluk tubuhku. Kami berbalas kuluman. Batangku masih terpacak dalam pukinya yang mula mengemut. Batangku mengesel liang cipapnya atas, bawah, kiri dan kanan mencari sasaran yang membuatkan nafsunya lebih terangsang. Tangannya mencengkam erat cadar sambil matanya terbeliak dan mulutnya mengerang kesedapan. 


 “Lagii.. Sedappnya.. Ahh.. Aghh.. Fuck me hard N.. Fuck mee!!” Erangannya semakin kuat. 


Aku terus menikam puki Fiona dengan sekuat hati. Batangku keluar masuk dengan laju dibantu oleh lubang pussy Fiona yang licin dan basah. Permainan kami menjadi lebih hebat kerana Fiona turut membalas setiap tujahan batangku ke cipapnya dengan mengangkat-angkat dan menggerakkan punggungnya. Aku mencabut batangku dan meminta Fiona menonggeng. Fiona berlutut di atas tilam dan aku berdiri di belakangnya lalu merodok masuk butuhku. 


 “Ohh.. Sedapnya, fuck me hard N.. Arrgghh.. Sedapnya macam ni..!!” Fiona meraung dan menjerit-jerit. 


 Ternyata Fiona sudah berahi dan penat. Nafasnya sesak. Lubangnya ketat. Tanganku meraba dan meramas-ramas buah dadanya keras. 


“Ohh.. Sedapp.. Sedapnya.. Fuck me N!!,” rengek Fiona bertalu-talu. Aku berhenti menujah apabila kudapati lubang cipapnya ketat semula. “Ah..! Kenapa henti. I tengah sedap nii. Please..!!” rayu Fiona apabila aku berhenti menojah tadi. “Sabar.. Sayang I terasa penatlah,” jawabku berpura-pura. 


Sebenarnya, air maniku juga dah nak terpancut, sekiranya aku teruskan menujah. Aku mahu biar lebih lama batangku berendam dalam lubangnya. 


 “Cepatlah.. Sedap ni.. Fuck me N!!” rayu Fiona lagi. Aku menujah dan menghentak butuhku ke lubang pukinya laju dan kuat. “Sedapp.. Sedapp.. N.. Oo.. Oo.. Huu aa..!!” Fiona merintih lagi dengan batangku mengesel dinding vaginanya bila motion maju mundur kucepatkan. 


Batangku keluar masuk dengan laju ke dalam lubang puki Fiona. Fiona mengerang kuat, meraung, menanggis, menjerit merasakan dirinya mengapai klimaks. Fiona mengejangkan tubuhnya, mengeliat ke kiri dan ke kanan sambil merapatkan cipapnya ke pangkal butuhku. 


Henjutanku kuat dan laju. Apabila terasa geli di batangku dan pelirku, hangatnya batangku mau memancutkan air maniku, pantas aku mencabut batangku dari cipap Fiona. Oohh.. Dearr.. Serentak dengan itu aku memancutkan air maniku mengenai buah dada dan mukanya. Dia mengelap dengan tangan dan menjilatnya. 


Fiona senyum kepuasan. Batangku tegang mencanak lagi. Dia menji-lat saki baki air maniku dan mengulum batangku. Aku merasa ngilu bila batangku bersentuhan dengan lidah dan gigi Fiona. Aku memancutkan air maniku dalam mulut Fiona. Aku terkapar keletihan dan Fiona mengucup mulutku dan membahagikan spermaku. Aku menelan dan kami berpelukan puas. 


Kini terjawablah masalah Mrs. Fiona, rakan akauntanku yang selama beberapa bulan mengoda aku secara misterinya. Kini aku berjaya memiliki dan menawan cipap tembam Fiona dengan bodynya yang menyiksa batinku. 


Tamat








Proudly powered by WordPress.

Pesta seks dengan 3 Belia Dibawah Pohon Yang Dingin

 Pesta seks dengan 3 Belia Dibawah Pohon Yang Dingin Saya waktu itu tengah ditugaskan oleh perusahaan X dimana saya bekerja ke Tokyo untuk sekian hari, lakukan negoisasi dengan partner perusahaannya di Jepang. Saya didampingi oleh wakil sisi keuangan, sebut saja Dodi. Mengingat perjalanan kesempatan ini agak lama, saya berinisiatif mengajak suamiku Rio, sekalian untuk liburan dengan cost sendiri. Suamiku serta Dodi bisa secara cepat akrab, mengingat mereka memiliki hoby yang sama yakni makan serta selisih usia yang dekat. Ia 27, Dodi 28, sedang saya 30 th.. Semuanya jalan lancar, tetapi ada masa lalu sendiri bagiku diakhir perjalanan ini. Sore itu kami bertiga pulang dari satu diantara restoran di lokasi Ginza, 

Pesta seks dengan 3 Belia Dibawah Pohon Yang Dingin



menghadiri good-bye party dari perusahaan yang saya kunjungi. Rupanya Sake yang disuguhi agak memengaruhi kesadaranku, walau tidak seutuhnya. Saat kami berdua akan masuk kamar, suamiku memberi kunci kamar pada Dodi, supaya ia bisa mendahului masuk. Ia berbisik padaku kalau juga akan ada surprise, serta nikmati sajalah tuturnya. Saya bingung selalu jelas saja. Sesudah sebagian waktu Dodi mempersilakan kami masuk. Ia menyongsong kami didalam dengan memberi satu bungkusan. Mbak ini ada hadiah dari kami berdua. Saya terima bungkusan itu serta melihat ke Rio yang tersenyum. Terimalah.. Sesudah kubuka nyatanya berisi satu kimono sutera tidak tebal berwarna merah. Waduh ini sich seksi sekali fikirku. Terima kasih ya semuaKemudian Dodi mohon diri untuk kembali pada kamarnya. Mas saya cobalah yaaku sambil masuk ke kamar mandi. Kimono itu cocok sekali di badanku. Namun begitu tidak tebal sekali. Baju dalamku dapat tampak begitu terang. Lantas saya mencopot BH serta CD-ku, lagian mengapa digunakan tidur sama suami sendiri. Samar-samar saya mendengar pintu di buka, namun saya tidaklah sampai berfikiran bila ada orang yang masuk. Kemudian saya keluar, segera menghadap ke suamiku yang telah berkimono juga di kursi depan TV. WowHanya itu komentarnya. Rio senantiasa tegang bila lihat titsku, demikian halnya waktu itu. Penisnya terlihat menyembul dari balik kimononya. Rin.. Cobalah kamu saksikan di belakangmu tuturnya sembari tersenyum. Saya telah tidak enak saja waktu itu. Benar saja, waktu saya balik kanan, Dodi telah ada di belakangku naked! Hilang ingatan memanglah, lagian kapan dia masuk? 1001 pertanyaan penuhi kepalaku. Dodi cengar-cengir saja sembari memelototi tits-ku. Mbak.. janganlah geram ya Rio sepakat kok. Kelihatannya saya terpana saat dia ngomong itu serta mengambil langkah mendekat. Nafasku semakin cepat waktu ia mengulurkan tangannya untuk menanggalkan kimonoku. Ahh begitu indah MbakAku pernah lihat ia tegang demikian melihatku naked. mm.. sama besarnya dengan Rio fikirku. Saya diam saja waktu ia tempelkan badannya ke badanku. Penisnya yang besar serta tegang merasa menghimpit di daerah hutanku. Tangannya meraba-raba serta lalu meremas-remas tits-ku, sesaat leherku dikilas balik oleh bibirnya. Perasaanku begitu excited banget. Ini lalu mendorongku untuk bereaksi dengan memeluknya, membuatnya makin mengutamakan badannya padaku. Saya merintih waktu jilatannya makin alami penurunan dari leher, dada, sampai clitoris, nikmat rasa-rasanya. Ia lalu bermain-main dengan clit-ku, dijilatinya ruang vaginaku dengan lidahnya yang lihai itu, sesaat tangannya meremas-remas pantatku. Kesenangan ini makin mencapai puncak waktu kurasakan tangan suamiku mempermaikan tits-ku dari belakang! Saya bisa rasakan penisnya menghimpit di antara pantatku, ohhAda perasaan nikmat yang mengagumkan yang lalu mendorongku untuk merintih-rintih lebih keras, waktu remasan serta jilatan ke-2 lelaki itu makin dipercepat. Saya berteriak lirih waktu perasaan untuk organsme keluar, kutekankan kepala Dodi ke vaginaku, sesaat suamiku menahan badanku yang bergetar supaya tidak jatuh. Lalu suamiku merubah tempatku untuk menjilati penisnya, sesaat Dodi ada di bawahku. Saya menempati penis Dodi. Waktu penisnya menerobos vaginaku, mataku terpejam rasakan kesenangan. Benda panjang serta keras itu bergesekan dengan dinding vagina serta clit-ku. Belum juga perasaan itu lewat saya telah rasakan penis suamiku didalam mulutku. Suamiku begitu sukai ujung penisnya kugigit-gigit enteng. Tangan Dodi memegangi pinggulku serta mengontrol pergerakanku atas penisnya. Sesudah sebagian waktu saya rasakan sperma suamiku yang manis penuhi mulutku, demikian halnya cairan hangat yang kurasakan dalam vaginaku. Malam itu kami pernah tidur bertiga dalam kehangatan. TAMAT  

Tante Rini menikmati secangkir coffemix panas Sambil Oral Sex

Tante Rini  menikmati secangkir coffemix panas Sambil Oral Sex Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, satu hotel berbintang 5 yang terdapat di jalan Asia Afrika. 


Jadi anak kost yang keseharian mesti prihatin, sesungguhnya apa masalahnya saya mesti datang ke hotel semewah ini? 


Terlebih dulu ijinkanlah saya untuk mengenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di satu fakultas tehnik yang seringkali dikatakan sebagai fakultas ekonominya tehnik, karna banyak mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di kota ini. Namun syukurlah sebagian masa lalu saya sudah lulus serta diwisuda jadi seseorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment. 

Tante Rini  menikmati secangkir coffemix panas Sambil Oral Sex



That’s why I come to this hotel. Tempo hari seorang yang mengakui bernama Ibu Ratna menelepon serta mengundangku hari ini untuk ikuti satu psikotest dari satu perusahaan tembakau multinasional yang cukup terkenal di Indonesia (serta sebagian masa lalu terserang somasi orang-orang karena acara promosi satu produknya yang agak “kelewat batas”). Sesudah memarkirkan mobil di underground, saya mengambil langkah menuju lobby hotel. Selintas saya lihat pengunjung hotel yang tengah nikmati breakfast (atau lebih persisnya brunch kali yah?) di coffee shop serta berkeliaran di sekitaran lobby. Yah…dibanding mereka yang berpenampilan enjoy sich, saya lumayan rapi. Ah cuek saja lah, yang perlu percaya diri. 


“Maaf Mbak, jika ruangan rekruitmen di mana yah? ”, bertanya saya pada seseorang resepsionis yang bertugas di front office sembari mengatakan nama perusahaan itu.. 


“Oh.., naik saja lewat tangga itu serta belok ke kanan. ”, tuturnya sembari tunjukkan tangga yang disebut. Sesudah mengatakan terima kasih, saya juga bergegas menuju ruangan recruitment. Hmm… masih tetap sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi sedang saat saya melirik arloji saya baru tunjukkan jam 09. 22 WIB. Sesudah isi daftar ada serta ambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di satu sofa empuk di pelataran ruang itu. 


Saat tunjukkan jam 09. 50 WIB saat seseorang wanita mempersilakan beberapa peserta untuk masuk ke ruangan tes. Sesudah ambil tempat, saya lihat peserta yang lain. Hmm.. terdapat banyak muka yang saya kenal karna memanglah rekan sekuliah, but now they are my competitor. Dimuka ruang sudah berdiri 2 orang wanita yang lalu mengenalkan diri jadi mbak Rini serta mbak Tia. Saya mengatakan mbak karna saya sangka mereka tidaklah terlalu jauh tua di banding saya, meskipun mereka mengenalkan diri dengan sebutan “Ibu”. Keduanya cantik, meskipun dalam perspektif yang berlainan. Mbak Rini wajahnya tegas relatif judes, begitu percaya diri serta berkesan suka mendikte orang yang lain, sedang mbak Tia berkesan lembut, waspada serta komunikatif. Bila saya menilainya jadi wanita yang semestinya dipacari (mbak Rini) serta wanita yang semestinya dinikahi (mbak Tia). Hahaha…mungkin agak aneh penilaian saya ini. Sesudah acara basa-basi resmi, pas jam 10 tes diawali. 


1 jam 45 menit yang diperlukan mbak Tia untuk memandu serta mengawasi jalannya psikotest ini, sedang mbak Rini tak tahu menghilang kemana. Pas jam 11. 45 WIB kita “diusir” ke luar ruang nikmati coffee break untuk 30 menit lalu diumumkan beberapa orang yang lulus psikotest serta hadapi interview. Dari 200-an pelamar, cuma 40 yang di panggil psikotest serta cuma 20 yang di panggil interview, untuk setelah itu terserah berapakah orang yang juga akan di terima. 


Nyatanya nama saya terdaftar dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done in english, so I have to prepare myself. But it’s only my first experience, so what the hell…!! Saya berupaya cuek serta santai saja menghadapinya, sa’bodo teuing lah kata orang sini. 


Sekitaran jam 14. 45 WIB nama saya dijelaskan untuk masuk ruang interview. Hhmm…ternyata yang nginterview (eh ini bhs mana yah?) saya yaitu mbak Tia. Sesudah mengenalkan diri, kita ikut serta dalam percakapan yang serius tetapi akrab. Berulang-kali dia membujuk saya untuk ingin gabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sich sesungguhnya lebih suka bekerja pada shop floor di pabrik dari pada mesti bekerja di kantor manajemen di belakang meja serta dimuka computer. Namun permasalahannya yaitu kalau pabrik yang berkaitan terdapat di satu kota di pesisir utara pulau Jawa, satu kota sebagai pintu gerbang Jawa Barat pada tetangganya di samping timur. Away from home means extra biaya for living, am I right? Tidak merasa kita bercakap makin akrab. Mbak Tia nyatanya betul-betul smart, komunikatif serta dapat membawa situasi bersahabat dalam satu pembicaraan. Tidak heran nyatanya dia yaitu alumni fakultas psikologi th. 1992 pada suatu perguruan tinggi di selatan Jakarta yang populer dengan jaket kuningnya. 


“That’s all Ryo, thank you for joining this recruitment. We will kontak you in two weeks from now by mail or phone”, kata mbak Tia akhiri perbincangan. “The pleasure is mine. ”, jawab saya pendek sembari berbalik menuju pintu. 


“Ryo, why do you look so confident today? The others don’t look like you. ”, mendadak mbak Tia bicara sekali lagi pada saya. 


“I juicet try to be myself, no need to pretend being someone else. ”, jawab saya sembari bingung, sesungguhnya apa yang sudah saya kerjakan sihsampai dia menilainya saya sesuai sama itu? 


“Cool, I like your model”, sambung mbak Tia lagi 


“I like your model too. ”, jawab saya (pura-pura) cuek, “Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number? ”, sambung saya sekali lagi. Asli telah cuek banget, tidak ada malu-malunya sekali lagi. Baru sebagian waktu bercakap bareng dia, namun mengapa rasa-rasanya saya telah kenal lama yah? Mbak Tia hanya tersenyum serta memberi kartu namanya sembari memohon nomor telepon saya juga. Karna saya masih tetap pengangguran serta tidak miliki kartu nama, pada akhirnya dia cuma bisa mencatatnya di kertas note kepunyaannya saja. Serta saya pada akhirnya segera pulang. 


Bandung, same day at 18. 04 WIB 


Saya sekali lagi termenung di kamar kost dimuka computer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4. Sialan…, menyerang habis-habisan kok jadi kalah yah, fikir saya sembari memandang statistik permainan. Tiba-tiba…. krrriiinngg. ., teleponku berbunyi mengagetkanku karna memanglah dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor telepon asing (tujuannya belum juga berada di memori). Segera saya jawab, “Hallo…”.


“Hallo…ini Ryo ?”, terdengar sebuah suara wanita di seberang telepon.


“Iya, ini Ryo”, jawab saya. Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar wilayahsini.


Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya. Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, “Mbak, banyak kerjaan nggak ?”.


“Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?”, jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang ramah.


“Boleh.., siapa takutt..?”, balas saya sambil senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat senyum saya).


“Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.”, katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu The Beatles (atau John Lennon ? ah sa’bodo teuing lah).


Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika sayamemarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama. 


Ah…masak dalam sehari ke hotel ini sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan melihat sekeliling lobby untuk mencariku. Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahukan posisi saya duduk untuk kemudian bangkit berdiri dan berlahan menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan celana panjangnya yang juga berwarna ungu. Wah…aliran “matching”-isme nih, pikirku. “Hi mbak, look so nice”, kata saya sambil sedikit memuji penampilannya yang memang “out of mind” itu.


“Thanks, you too”, jawabnya lagi sambil tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman lama.


Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia meminta untuk tidak “makan berat”, akhirnya saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto dengan city view yang bagus banget di bilangan dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored.


Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung di bawah sana tidak mampu menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa jam saja. 


Kalo dilihat dari face-nya sih nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya yang menguasai banyak hal, membuat penampilannya begitu chic dan smart. Daripada dengan cewek cakep dan seksi serta mampu mengeksploitasi penampilannya semaksimal mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh banget bagusan Tia kemana-mana. Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak terlalu cantik tapi mampu memikat karena gayanya yang smart itu.


Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta saya cukup memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, tanpa embel-embel mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak terlalu kenyang katanya.


Ternyata city view Bandung masih kalah dengan view yang ada di depan saya sekarang. Asik banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit makanannya. Ada suatu momen yang bagus banget saat tiba-tiba dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya dan menatap saya sambil berkata, ” Lho kok malah nggak makan ?”.


Hhhmmm…..asli sumpah bagus banget angle-nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang disebut dengan angle terbaik. Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang lalu. “Heh..kok malah bengong ?”, Tia membuyarkan lamunan saya seketika.


“Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi taruh kunci kost dimana ?”, jawab saya sambil mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa jadi nggak enak suasananya.


“Ooohhh….” , sahutnya pendek, entah tahu saya berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca mereka, hahahaha…. .


Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu. Desember nanti usianya 26, termasuk muda untuk seorang angkatan 1992. Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998 lalu. Dia pernah hampir saja menikah pada awal tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur dihamilinya. Tia menyebutkan itulah resikonya pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota tersebut. Ah…manusia, cerita tentang kehidupan mereka memang sangat beragam.


“That’s why Ryo, ’till now I still can’t trust men”, Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap- kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja nyolong, hahahaha…. lucu juga istilahnya. Saya cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah lebih mirip serigala,hahahahaha.. …


Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan sampai sekarang dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu saat meninggalkannya, padahal we had a perfect life, katanya. Saya kira anak psikologi tahu semua jawaban tentang problem pikiran dan perasaan manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang. Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak banget.


“So Ryo, why are you still alone ’till now ?”, tiba-tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok… malah ngomongin saya sekarang ?


“Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe…”, jawab saya sekenanya sambil becanda.


“Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?”, todong Tia.


“Hahaha ketahuan deh saya”, jawab saya lagi sambil cengar-cengir.


“Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke kamu ?”, katanya tiba-tiba.


“Sok, silakan, mangga….”.


Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun. Dia bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu sangat mungkin berkaitan dengan wanita, mengingat hingga sekarang saya masih sendiri. Ah….saya jadi teringat masa lalu saya yang berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya semudah membaca buku yang terbuka, sialan…..! !!). Dimana sekarang beradanya si “love of my life” itu, beberapa wanita memang sempat menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar dapat “menggantikannya” , hehehe….kok jadi sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha….


Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung di bawah sana.


…..and baby I…, I’ve tried to forget youbut the light on your eyes still….shine…., you shine like an angelspirit that won’t let me go….


Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai akhirnya…, “Bagus yah Ryo, pemandangannya. ..”, tegur Tia membuyarkan pikiran kosongku.


“Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini”, jawab saya sekenanya, biar nggak dikira ngelamun.


Malam semakin larut ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana.


Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby hotel. “Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar nggak ?”, tanya Tia tiba-tiba.


“Boleh aja, emang belum ngantuk?”, tanyaku balik.


“Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur.”, katanya memberi reasoning.


Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang. Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe….


“Lha kamu sendiri di sini ?”, tanya saya begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya.


“Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga”, jelasnya, “Tapi dia langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya” .


Kita memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati secangkir coffemix panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang telah temaram dan senyap. Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan. Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin saya terlalu terbawa suasana….


Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu. Dalam curhatnya,ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekat saya. Dan kini saya harus menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love…, look what you have done to her, bastard…!!


Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. Saya hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan. Saya mencoba menenangkannya sebisa saya dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.


Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia terlihat sudah agak tenang. “Thanks Ryo, kamu mau jadi tempat sampah Tia”, katanya sambil sedikit tersenyum.


“That what friends are for”, jawab saya singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada saya, hehehe..pamali tau…!!


Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki. Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini. Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi lesehan di sampingku. Kayaknya enak banget lihat gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet. “Ryo, kamu itu aneh yah ?”, tiba-tiba suara Tia menyentakku.


“Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?”, tanya saya asal sambil menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu. Hihihihi…. terdengar Tia cekikikan mendengarnya.


“Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget”, katanya lagi, “Sampai Tia mau curhat sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru kenal”.


“Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?”, jawab saya sambil nyengir.


“Ada-ada aja kamu….”, katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak ?


Bersambung  . . . . . . .



Proudly powered by WordPress.