Kamis, 29 Juni 2017

Gerakan lidahku semakin kupercepat Tante Mira Merintih



Gerakan lidahku semakin kupercepat Tante Mira Merintih narasi dewasa ‘Pembalasan Seseorang Kekasih’Aku berdiri dimuka mobilku sekitaran 15 menit tanpa ada bergerak serta nyaris tidak bernafas. Kutatap HP-ku. Saya barusan datang dari luar kota serta mendengar kalau pacarku tengah keluar mulai sejak 2 jam waktu lalu! Hilang ingatan, saat ini nyaris 1/2 dua pagi, serta besok saya tahu tentu bila dia ada kuliah pagi. Dadaku sesak karna cemburu. Yup, cemburu. Cuma insting, namun kuat sekali. Saya percaya dia datang. Sial! hening sekali pagi hari ini. 


Pacarku yaitu pacar pertama yang dapat kudapatkan di kota S ini. Dia yaitu anak pertama dari tiga bersaudara, perempuan semuanya. Terpaut satu serta tiga th. dari pacarku yang berusia 20 th.. Mereka tinggal tanpa ada orang-tua karna dinas diluar kota. Saya mencintainya nyaris dengan semua hatiku. Sial! sakit sekali pagi hari ini. 

Gerakan lidahku semakin kupercepat Tante Mira Merintih



Kukelilingi jalanan di kota ini perlahan-lahan. Saya begitu tidak menginginkan berjumpa serta merasakan fakta yang menyakitkan kalau perasaanku benar, saya benar-benar tidak menginginkan. Hmm, kelihatannya terkabul. Telah jam 3 : 15, serta saya tidak memergoki mobil lawan sialanku di jalan. Kutepikan mobilku, kuambil HP-ku, sebatas checking, siapa tahu telah dirumah! Redial.. “Hallo.. ” nada lembut menegur. Hmm Aya fikirku. “Hey, belum juga tidur? ” sahutku. “Hey.. Benni? eh Lia belum juga pulang tuch, ” sergahnya gugup. “Hm? ” lidahku beku, amarah merayapiku. “Kalo gitu saya tunggulah dimuka tempat tinggal kamu.. ingin simak pulang jam berapakah serta dengan siapa, ” lanjutku ketus. “Jangan geram Ben.. ”“Tidak.. ” 


Kupacu mobilku ke arah utara. Sembari menyetir kubuka laci mobil, mencari suatu hal. Ahh inilah, sebotol Smirnoff, tinggal 1/2. Umumnya kusimpan untuk iseng. Hmm, kubuka serta kuteguk berisi. Shit! Tenggorokanku merasa di amplas. Hmm, hati kecilku berteriak, “Hey? ingin ngapain lo? Mabok karna cewek? norak! ” Ahh, perduli setan fikirku. Sekurang-kurangnya saya akan dapat menset diriku supaya terlihat agak cuek. Hmm yup.. norak nih. 


Setibanya dimuka tempat tinggal Lia, saya cuma mematikan mobil, buka jendela pintu, serta coba hirup nafas dalam-dalam. Kumundurkan kursi mobil serta mulai pejamkan mata. Ah ada rasa terkhianati penuhi kerongkonganku. Huh, lebih jemu. Kucoba meneguk lagi. Ahh telah kosong?! Jika dalam kondisi normal harusnya saya dapat tertidur saat ini. Kubuka kembali laciku untuk mencari rokok. Waktu itu saya betul-betul lebih serupa orang akan piknik dari pada seorang yang tengah cemburu. Uuh! 


Mendadak.. “Ben.. ” kuputar kepalaku keluar. “Aya..? Hai.. ” sahutku lirih. “Ben.. Lia belum juga pulang tuch. ”“Tidak ayah. Kutunggu saja disini. ” Kubuka pintu kiri mobil serta kuminta dia untuk masuk. “Aku ingin bercakap. ” Ah saya tidak dapat tau apakah saya tengah mabuk atau cemburu yang sangat begitu waktu itu. Kucoba mencari tahu dengan siapa pacarku pergi. Awalannya Aya begitu tertutup. Namun sesudah saya memohonnya berterus jelas dengan memelas pada akhirnya semua meluncur lancar dari bibirnya. Melas? yup topway for top loser. Nyatanya Lia telah menduakan saya mulai sejak lama. Huh! Tolol sekali serta lebih tolol sekali lagi saya saat ini mabuk? bukanlah untuk perayaan atau rasa sedih namun ketololan. Saya begitu geram. Kupukul sekian kali dashboard mobil. Aya begitu ketakutan memandangnya. Cepat saya tersadar serta mohon maaf kepadanya. “Ben masuk saja yuk.. tidak enak di simak securiti perumahan, ” tuturnya. Kupandangi berwajah. “Aya.. sori ya? ” kataku sembari memegang tangannya. Ada sedikit rasa kaget di berwajah. Mungkin saja juga di wajahku. 


Selekasnya saya keluar dari mobil untuk menutupi rasa malu. Aya menyusulku. Nyatanya ia menggunakan celana pendek. Berniat saya jalan perlahan-lahan. Fikiranku beralih waktu itu. Alkohol memengaruhi nalarku. Kuperhatikan dengan cermat pinggulnya waktu jalan ke pintu tempat tinggal. Hah, saya terangsang! Pada saat ia memutar handel pintu berniat saya pura-pura lihat mobilku serta menabraknya. Ah harum sekali rambutnya. Saya makin ereksi. “Maaf Aya.. ” sahutku perlahan sembari memegang pundaknya. “Eh? kamu baru minum? ”“Eehh, ” sahutku, saya tidak tahu tentu itu jawaban atau erangan. Saya duduk di sofa ruangan tamu. “Aya.. duduk sini juga ya? ” kataku perlahan tetaplah dengan muka memelas. Ia mengangguk perlahan, serta duduk di bawahku. Otakku berputar-putar keras melawan alkohol bagaimana dapat menyentuhnya untuk memuaskan egoku waktu itu. Sembari bercakap kudekatkan jari kakiku ke betisnya. Terkadang kugerakan perlahan-lahan hingga menyentuh lutut serta pahanya. Ah, putih sekali, dengan tinggi 165 cm berat 50 kg Aya terlihat begitu sexy. Hey, ia tidak menggeser tempat duduknya. 

Segala macam obrolan kukeluarkan supaya ia teralihkan dan tidak sadar menjadi objek abuse kecil-kecilanku. Hmm, kemaluanku semakin mengeras. Kuubah posisiku menjadi berbaring sehingga kepalaku lebih dekat dengannya. Tapi yang lebih penting tanganku bisa bebas. Kupermainkan karpet. Kadang “secara tidak tersengaja” jariku menyentuh pahanya. Aya terkesiap. “Ben kubikinkan minum ya?” sambil berdiri ke arah dapur. Aku hanya mengangguk. Huh, aku tidak bisa berpikir sehat lagi. Kususul ia ke dapur. Tampaknya ia tak melihatku. Lalu aku berdiri di belakangnya. Kuhirup bau wangi rambutnya. Aya dengan kaget memutar kepalanya sehingga bibirku menyentuh hidungnya.


“Eh sori..” kataku, lalu kupegang pundaknya.“Aya.. ada yang mau kubicarakan. Beri waktu satu menit bila kamu tidak suka kamu boleh jalan ke depan dan ngelupain, ok?” Ia mengangguk pelan.Lalu perlahan aku seakan mau membisikkan sesuatu, kupegang kepalanya lalu kucium bibirnya pelan. Ia sedikit berontak tapi kueratkan tanganku di kepalanya. Setelah sekitar 5 detik mulai kukulum bibir bawahnya. Tak ada reaksi. What the hell! toh aku sedang memuaskan diriku sendiri. Tak lama bibirnya mulai terbuka. Bagus kini lidahku bisa ‘bicara’. Kumasukan lidahku ke dalam bibirnya. Perlahan sekali kucari langit-langit mulutnya. Kusapukan lidahku di sana. Ia mulai mengerang. Aku merasa ia mulai mengeluarkan lidahnya (thanks.. the access is granted, sorakku dalam hati). Kuhisap pelan lidahnya lalu kulepas lalu kuhisap lagi, begitu selama 3-4 kali sambil kuturunkan tanganku ke pinggulnya ke pantatnya.


Aahh, kunikmati setiap gerakan yang kubuat. Sekali lagi aku hanya ingin memuaskan diriku sendiri. Kuusap pelan pantat Aya. Lalu ke arah paha di bawah pantat. Nafasnya mulai memburu. Aku merasa seperti ada selimut birahi membungkusku. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam kaos longgarnya. Kuusap punggungnya beberapa kali, sambil terus mengulum lidahnya. Kucoba melepas tali branya. Aah berhasil. Tiba-tiba ia seperti tersadar. Gawat! Aku mesti lebih cepat bertindak sebelum akal sehatnya menguasai dirinya. Kutarik pelan tangannya ke arah ruang tamu. Kukecilkan lampu sampai redup lalu kududukan ia di sofa. Ia hanya memandangiku saat aku berlutut di depannya. Kubelai pipinya lalu kumulai lagi ritual seperti tadi. Kali ini tidak hanya punggung tapi perut dan sesekali kusentuh payudaranya. Bra yang menggantung ini sangat merepotkan. Tapi kalau aku memintanya melepas bra, resikonya ia akan sadar. Lalu sambil terus mengulum lidahnya kudorong perlahan Aya ke belakang. Dengan posisi tidur aku lebih mudah. Kualihkan lidahku ke arah belakang telinganya. Aya terpejam. Nafasnya masih memburu, lalu lehernya dengan tiba-tiba kubuka T-shirtnya. Langsung kujilat dadanya. “Oooh Ben.. eggh,” desisnya.


Kuangkat branya. Kupandangi payudaranya yang putih dan padat dengan warna coklat terang di sekitar putingnya. Kukecup perlahan putingnya. Aya menggelinjang pelan. Lalu mulai kusapukan lidahku dari bawah payudaranya membuat lingkarang kecil yang semakin besar. “Aahh.. ohh,” bisiknya perlahan. Kesentuh payudara kanannya dengan tanganku. Kubiarkan jemariku diam sebentar di sana. Kemudian mulai kuusap lembut. “Aaahh.. sshh..” lirihnya. Lalu mulai kujilat bergantian kedua payudara berukuran 34D-nya. Kulit tubuhya sangat lembut dan kontras sekali dengan redupnya lampu. Aku menjadi sangat bernafsu ketika melihat pinggulnya yang ramping. Lalu jilatanku mulai kugeser pelan ke arah perut. Aya menggelinjang sambil berdesis. “Ssshh.. sshh..” hmm aku bisa ejakulasi lebih cepat bila melihat wanita dalam keadaan high seperti ini. Sambil terus menjilati pusarnya aku mulai meraba pahanya. Tanganku mengelus perlahan mulai dari lututnya sampai setengah pahanya. Begitu pahanya secara naluri membuka, aku tak menyia-nyiakan untuk mengelus lebih dalam lagi sampai ke pangkal pahanya. “Aaahh.. shh aaw..” jeritnya ketika aku mulai menyentuh liang kemaluannya. Hmm, ternyata sudah basah. Half done. Lalu mulai bibirku kusapukan ke arah bawah pusarnya. “Aeerrhh aahh sshh,” Aya mulai membuka lebar-lebar pahanya. Lalu aku merubah posisi. Lututnya mulai kujilat sambil tanganku meraba pangkal pahanya.


Gerakan lidahku semakin kupercepat sambil mengarah ke arah liang kemaluannya. Tapi celana dalam itu sangat mengganggu. Kucium liang kewanitaannya dari luar. Kugigit pelan gundukan kecil itu. Ah bagus tidak berbau. Lalu perlahan-lahan kuturunkan celana pendek dan celana dalamnya. T-shirtnya tetap kubiarkan. Sengaja aku tidak membuat Aya telanjang bulat sehingga ia masih merasa nyaman. Begitu aku melihat liang kewanitaannya, nafsuku naik berlipat-lipat. Langsung kuterkam kemaluan Aya sambil kucari-cari letak klitorisnya. Begitu dapat langsung kupermainkan dengan lidahku. “Aawwhh.. oohh.. ohh.. ohhss.. aawww..” eranganya terdengar seperti tangisan kecil bagiku. Aku seperti kesetanan sewaktu menjilati liang kemaluannya. Tanganku tetap menjaga kedua pahanya agar tidak menjepit kepalaku supaya aku tetap bisa mendengar erangannya. “Aaasshh.. aawww.. aawww..” lalu kuarahkan lidahku ke arah lubang liang kemaluannya. Kuayunkan kepalaku berkali-kali. Agh.. pusing. Alkohol sialan. Lalu kuhentikan dan aku berdiri sejenak. Kubiarkan Aya tersengal-sengal selama 2-5 detik sambil kuperhatikan wajahnya. Ia mulai membuka matanya, lalu kubuka bajuku dan kulepas kancing celanaku. Kucium bibirnya sambil kutuntun tangannya ke arah batang kemaluanku. Aya langsung meremas batang kemaluanku. Nafasnya masih tersengal-sengal.


Setelah kukulum bibirnya beberapa saat aku berdiri di atasnya. Kubuka celanaku. Kukeluarkan kejantananku. Aku ingin ia melihat diriku berkuasa atas dirinya, total! Lalu kugeserkan kemaluanku ke wajahnya. Ia memalingkan mukanya ke arah berlawanan. Ok, no problem. Lalu kugeserkan ke lehernya, ke payudaranya, terus turun ke perutnya, lalu ke pahanya, lalu ke liang kemaluannya. Kuputar-putarkan ke arah lubangnya. “Aaawww.. sshh.. shh..” nafasnya kembali memburu tetapi pahanya kembali membuka. Sengaja tak kumasukan agar aku bisa lebih lama menikmati saat-saat ini karena bagiku inilah saat sesungguhnya aku bisa mendapatkan penyerahan total bukan sewaktu bercinta atau orgasme. Tanganya mulai menggapai sandaran sofa di atasnya. “Aaawww.. sshh sshh” desisnya. Lalu aku mulai mengatur posisi diriku. Kedua pahanya kuangkat dengan setengah jongkok aku mulai melakukan penetrasi sedikit demi sedikit. Setiap centimeternya kulakukan dengan sangat perlahan. “Aaawww.. ashh.. shh..” Aya mulai mengernyitkan alisnya. Tangan kananku kupakai untuk menopang badanku dan tangan kiriku meraih pinggulnya. “Aawwss.. sshh.. Benni jaangaann..” bisiknya lirih. Hey.. sudah sangat terlambat sayang. Kubenamkan seluruh kejantanaku ke liang kemaluannya. Hmm.. hangat sekali. Apalagi aroma tubuhnya memancarkan bau yang merangsang. Mungkin ia memakai baby cologne.


Aku seperti mendapati ruang kosong dalam liang kemaluannya. Tetapi di pangkal batang kemaluanku, aku merasakan jepitan yang sangat keras. Lalu mulai kuayunkan pinggulku perlahan-lahan. “Aawww.. aass.. shhs.. shh.. shh..” setiap kumajukan pinggulku ia mendesis-desis. Lalu kutopang badanku dengan tanganku. Aku melihat gerakan payudaranya yang memutar seirama dengan gerakanku. Wajahnya memerah. Bibirnya membuka. Kedua tangannya menekan pantatku. Lalu semakin kupercepat gerakanku. “Aasshh.. sshh.. shh..” jeritnya. “Ayaa.. uuh.. uhh.. uhh..” erangku. Tiba-tiba aku merasa kalau aku hampir orgasme. Sekilas wajah Lia di bayanganku. Lalu bagaimana aku mencintainya, bagaimana aku terkhianati, aku menjadi liar, ku pegang pinggulnya dengan kedua tanganku. Lalu kupercepat gerakanku seperti kesetanan. “Aaass.. sshh.. sshh..” kubekap mulutnya dengan bibirku agar suaranya tidak terdengar. Lalu kurasakan tanganya semakin keras mencengkeram di pantatku. “Aayyaa.. sshh.. uuhh..” aku tak tahan lagi. Kukeluarkan semua spermaku di dalam liang kewanitaannya. “Aaarrhh.. arrhh..” kucengkeram pinggulnya sampai ia meringis kesakitan. Tampaknya ia tak perduli. Disilangkan kakinya ke pinggulku sampai aku tak bisa bergerak lagi. “Aasshh.. aahh.. Benn.. ehh..” tampaknya Aya telah orgasme. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Kakinya masih menjepit tetapi tidak sekeras tadi.


Setelah yakin semua spermaku telah keluar aku mulai melepas pelukannya. Langsung aku berdiri. Kukancingkan celanaku, kuambil bajuku. Aku melakukannya sangat cepat. Lalu aku pergi ke dapur untuk mencuci muka. Kulihat mukaku di cermin. Hmm, wajahku masih merah. Tapi aku sudah puas. Kemarahanku pun sangat reda. Kuambil sebatang rokok. Kunyalakan sambil kembali ke ruang tamu. Tampaknya Aya masih belum berbenah. Lalu kuraih celananya dan kuberikan padanya. Ia tertegun. Lalu cepat-cepat dikenakannya sambil menunduk. “Benn..” tegurnya. “Ssst..” jawabku sambil mencium pipinya. Kembali kuputar dimmer untuk menerangi ruang tamu. Kulihat foto pacarku bersama keluarganya. Tak ada perasaan dendam lagi. Tak ada perasaan bersalah.


“Aya.. aku pulang dulu ya?” kataku sambil berjalan ke arah pintu.


“Ben..” panggilnya lirih.“Aya besok lusa aku telpon kamu oke?”Ia tak menjawab. Aku pun tak bisa mengira-ngira apa yang sedang ia pikirkan, mungkin aku tak mau. Kustater mobilku dan melaju ke luar perumahan menuju jalan raya. Kunyalakan radioku. Entah siapa yang membawakan tapi lirik lagu itu menjadi inspirasiku.



Orgasmeku ABG Cantik mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya

Orgasmeku ABG Cantik mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya Namaku Faridha. Orang umum menyebutku dengan Ridha saja. Saya lahir th. 1975 di satu kota populer dengan julukannya, yakni kota hujan. Saya sudah menikah dengan seseorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seseorang anak lelaki yang kulahirkan diakhir th. 1999. Oh.. iya, saya menikah dengan Mas Hadi pada th. 1998, bln. April. 

Orgasmeku ABG Cantik mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya

Kehidupan kami umum saja, dari sisi ekonomi hingga jalinan suami istri. Saya serta suamiku cukup nikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem serta sedikit pendiam yaitu seseorang pegawai swasta di kotaku ini. Pendapatan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tetapi kami belum juga demikian senang. Walaupun bagaimana kami mesti rasakan lebih bukanlah sekedar hanya cukup. 


Karna jabatan suamiku telah mustahil sekali lagi naik di perusahaannya, untuk menaikkan pendapatan kami, saya memohon ijin pada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku jadi seseorang Accounting sekalipun tidak kumanfatkan sejak saya menikah. Pada intinya suamiku itu senantiasa menuruti hasratku, jadi tanpa ada banyak bicara dia mengijinkan saya bekerja, meskipun saya sendiri belum juga tahu bekerja dimana, serta perusahaan mana yang juga akan menerimaku jadi seseorang Accounting, karna saya telah berkeluarga. 


“Bukankah kamu miliki rekan yang anak seseorang Direktur disini? ” kata suamiku di satu malam sesudah kami lakukan jalinan tubuh. “Iya… si Yanthi, rekan kuliah Ridha..! ” kataku. “Coba deh, kamu hubungi dia besok. Barangkali dia ingin membantu kamu..! ” tuturnya sekali lagi. “Tapi, benar nih.. Mas.. kamu izinkan saya bekerja..? ”Mas Hadi mengangguk mesra sembari menatapku kembali. 


Sembari tersenyum, perlahan-lahan dia dekatkan berwajah ke wajahku serta mendaratkan bibirnya ke bibirku. “Terimakasih.. Mas.., mmhh..! ” kusambut ciuman mesranya. Serta sebagian lama lalu kami juga mulai terangsang sekali lagi, serta meneruskan persetubuhan suami istri untuk sesi yang ke-3. Kesenangan untuk kesenangan kami capai. Sampai kami capek serta tanpa ada sadar kami juga terlelap menuju alam mimpi kami semasing. 


Butuh kuceritakan disini kalau Rendy, anak kami tidak dengan kami. Dia kutitipkan ke nenek serta kakeknya yang ada di beda daerah, meskipun masih tetap satu kota. Ke-2 orangtuaku begitu menyayangi cucunya ini, karna anakku yaitu hanya satu cucu lelaki mereka. 


Siang itu saat saya terbangun dari mimpiku, saya tidak memperoleh suamiku tidur di sisiku. Saya menengok jam dinding. Rupanya suamiku telah pergi kerja karna jam dinding itu telah tunjukkan jam sembilan pagi. Saya teringat juga akan pembicaraan kami semalam. Jadi sembari kenakan pakaian tidurku (tanpa ada BH serta celana dalam), saya beranjak dari tempat tidur jalan menuju ruangan tamu rumahku, mengangkat telpon yang berada di meja serta memutar nomor telpon Yanti, rekanku itu.


“Hallo… ini Yanti..!” kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.“Iya.., siapa nih..?” tanya Yanti.“Ini.. aku Ridha..!”“Oh Ridha.., ada apa..?” tanyanya lagi.“Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!” kataku.“Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!” jawab Yanti.“Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!” kataku sambil sedikit tertawa.“Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!”“Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!” kataku sambil menutup gagang telpon itu.


Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.


Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.


Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.“Apa khabar Rida..?” begitu katanya sambil mencium pipiku.“Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!” jawabku.Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.


“Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang…” lalu Yanti meninggalkanku.Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.


Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.


Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.“Ayo Rid, diminum dulu..!” katanya.Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.


“Oh iya, Mas Sandi ke mana?” tanyaku.“Biasa… Bisnis dia,” kata Yanti sambil menaruh gelasnya. “Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!” ujarnya lagi.


Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.


“Kamu menginap yah.. di sini..!” kata Yanti.“Akh… enggak ah, tidak enak khan..!” kataku.“Loh… nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!” katanya.“Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!” kataku.“Aah… Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?”“Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!” kataku.“Tuh di sana…!” kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.


Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.


“Beres..!” kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.“Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!” katanya sambil membimbingku.Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.


“Kamu masih montok saja, Yan..!” kataku sambil mencubit pantatnya.“Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!” katanya sambil mencubit buah dadaku.Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.“Nah ini kamarmu nanti..!” kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.


Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.


Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkawinanku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.


“Gampang itu..!” kata Yanti. “Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..” lanjutnya sambil tertawa lepas.Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.


Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.


Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.


Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.


Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.


Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.


Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.


“Akh.., Yaantiii.., oh..!” jerit kecilku sedikit menggema.“Kenapa Rid.., enak ya..!” katanya di sela-sela menghisap putingku.“Iya.., oh.., enaaks… teruus..!” kataku sambil menekan kepalanya.Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.


Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.


Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.


Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.


Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.


“Ingin yang lebih ya..?” kata Santi.Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.


Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.


Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.Hingga pada suatu saat, “Eiist… aakh… aawh… Yanthhii… akh… mmhh… ssh..!” begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.


Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.“Oohh… Yantii… ennaakss… sekaalii..!” begitu teriakku.


Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.


“Hissapp… Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!” jeritku.Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.Maka.., “Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!” bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.


Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.


“Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!” kataku sambil tersenyum.Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.“Kamu mau nggak dikeluarin..?” kataku lagi.“Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!” jawabnya sambil menyalakan shower.


Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.


Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.


Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.


Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.


Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.


Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.


Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.


“Rida..! Ini baju tidurmu..!” begitu teriaknya.Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.


“Masuk sini Rid..!” kataya dari dalam kamar.Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.


“Kamu belum pake baju, Yan..?” kataku sambil duduk di tepi ranjang.“Akh.., gampang… tinggal pake itu, tuh..!” kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.Lalu dia berkata lagi, “Kamu sudah pake daleman, ya..?”Aku mengangguk, “Iya..!”Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, “Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!”“Akh.., masa sih..!” kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.


“Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!” kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.“Kalo nggak percaya apa..?” tanyaku.“Kalo nggak percaya..!” sejenak matanya melirik ke arah belakangku.“Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu… hi.. hi..!” katanya lagi.


Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.


“Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!” kata Yanti setengah berbisik.Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.“Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya…” suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.


Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.“Apa-apaan ini..?” tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.


Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.


Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.


“Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!” suara Yanti masih sedikit membisik.Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.“Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!” kata Yanti lagi.Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.“Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!” kata Yanti lagi.“Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!” kata suara berat Mas Sandi.


Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.


“Oh.., Mas.., Maas… jangaan… Mas..!” aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.


Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.


Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.


“Buka ya.. BH-nya, Rida..!” kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.


“Akh.., nikmaats… ooh… nikmaatts.. sekalii..!” begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.


Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.


Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.


Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi…“Awwh… ooh… eeisth.. aakh..!” aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.


Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.


Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.“Mmmhh… akh… mmhh..!” bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.


Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.


Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.“Aakh… aawhh… nikmaatss… terus.. Yantii.. oooh… yang cepaat.. akh..!” teriakku.Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.


“Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!” begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.“Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats… oh… enaaks.. sekali..!” teriakku.Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.


Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.Dia berbisik padaku, “Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!” sambil berkata demikian dia mencium keningku.Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.


Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.


Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.


Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.“Akh… Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!” kata Yanti.Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.


“Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu… ooh… mmh..!” kata Yanti kepadaku.Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.


“Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus… Mas… terus..! Lebih keras lagiih.., oooh… akh..!” kata Yanti.Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.“Maass.., akuuu… keluaar..! Aakh… mhh… nikmaats.., mmh..!” kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.


Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.“Owhh… banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!” kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.


Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.


Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.“Giliranmu… Mas..! Ayoo..!” kata Yanti.Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.“Owwh… Maas… aakh..!”“Aduuh… Yantii.., jepit Sayangh..!” kata Mas Sandi.


Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.


Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.


Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.“Aakhh… Yantii… nikmaats… aakh… aku keluaar..!” teriak Mas Sandi membahana.“Oh… Maas… akuu… juggaa… akh..!”Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.


Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.


Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.


Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.


Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.


Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.


Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.


Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.


Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.


Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.


“Akh… sshh… Masss… Sandii… Okh… Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!” itulah yang keluar dari mulutku.Seer… aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.


Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.


Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila… aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.


Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.


Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.


Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.


Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.


Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.


“Yanti mana..?” tanyaku padanya membuka pembicaraan.“Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!” jawabnya.“Mas Sandi tidak kerja hari ini..?”“Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!” sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.


Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.“Akh… Mas..! Gellii..!” kataku.Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.


Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.“Akh… Mas..! Oh.., mmh..!” aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.


Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.“Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!” rintihku.


Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.


“Oh… Mas..! Aku… aku… akh.., nikmaats… mhh..!” bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.


“Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!” sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.“Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!” kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.


Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.“Suamimu sepanjang inikah..?” tanyanya.Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.


Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.


Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.


Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.


Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.


Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli., 





Lisa pun ikut naik birahinya Arman hingga orgasme

 Lisa pun ikut naik birahinya  Arman hingga orgasme Sepasang manusia tengah bergumul bugil diatas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Yang pria menindih si wanita. Kaki si wanita yang melingkar di sekitar pinggul pasangannya seakan turut menolong beberapa gerakan si pria menyetubuhinya. Keduanya sama-sama memagut serta mengulum mulut pasangannya. Nikmati tiap-tiap detik keintiman mereka. 


Cuaca Jakarta pada musim kemarau yang cerah serta panas seakan jadi saksi persenggamaan mereka yang panas. 

 Lisa pun ikut naik birahinya  Arman hingga orgasme

Si pria bernama Arman. Ia seseorang marketing executive pada suatu perusahaan nasional. Usianya baru 28 th.. Wanita yang tengah digelutinya yaitu istrinya yang baru dinikahinya tujuh bln., Lisa. Ia yaitu karyawati pada suatu perusahaan layanan telekomunikasi di Jakarta. Usianya 25 th.. 


Arman begitu menyukai istrinya yang cantik rupawan itu. Kulitnya halus serta putih bersih. Sangat nikmat rasakan kelembutan badannya waktu ditindih serta disetubuhinya. Aroma badannya demikian wangi alami. Suaranya juga merdu didengar. Terlebih waktu keluarkan erangan nikmat ditempat tidur… Arman begitu menyukainya… 


Mulai sejak pacaran, orang seringkali menyebutkan mereka pasangan yang cocok. Yang satu cantik, yang beda tampan. Keduanya datang dari keluarga yang mapan serta berpendidikan tinggi. Semasing mempunyai karier yang cerah. 


Malam itu mereka selesaikan dengan mencapai puncak kesenangan bersama. Usai bersetubuh, tetap dalam kondisi bugil dibalik selimut, mereka juga mengulas gagasan yang telah mereka susun. 


“Jadi Boss telah mengizinkan Papah untuk cuti? ” bertanya Lisa buka pembicaraan. 


“Iya, Mah…” jawab Arman tersenyum. “Jadi minggu depan kita mudik ke Sumatera. ” 


Lebaran th. itu Arman serta Lisa setuju rayakannya di kampung halaman Arman di Bukittinggi. Arman menginginkan mengajak Lisa yang asli Jawa untuk lihat keindahan alam kampung halamannya itu. 


“Hmmm… bila demikian jadi ya petualangan pertama kita…? ” senyum Lisa.


“Ha ha ha… sudah gak sabar ya..?” timpal suaminya. “Iya. Nanti kita akan melewati hutan juga… Banyak lah petualangan yang bisa kita lakukan…”


“Termasuk petualangan seks….?” goda Lisa sambil tersenyum nakal.


“Ha ha ha… Ya… ya… Tentu. Ide yang menarik…” jawab Arman bergairah. “Seperti… petualangan seks di hutan misalnya..?”


“Ha ha ha… kalau gitu Mamah jadi Jane… Papah jadi Tarzan…” gelak Lisa.


Keduanya pun tertawa terbahak-bahak. Sementara malam pun kian larut…


Di daerah sekitar jalan lintas Sumatera sering terjadi bencana kekeringan. Hal itu akan mengakibatkan para warga di sekitarnya kelaparan karena hasil pertanian dan kebun mereka gagal.


Setiap musim paceklik datang, di daerah itu sering terjadi perampokan terhadap mobil angkutan barang atau penumpang yang melintasinya. Untuk menghindari peristiwa itu, para sopir, baik truk, bus umum, dan mobil pribadi jika melewati daerah itu selalu beriringan secara konvoi. Daerah itu amat angker dan ganas. Belum lagi ditambah dengan kondisi jalan yang rusak parah.


Saat itu adalah penghujung musim kemarau. Cuaca mulai menampakkan perubahan ke arah musim hujan. Jalan yang rusak itu pun menjadi kotor dan becek hingga membuat lobang-lobang besar di badan jalan. Kesempatan itulah yang kadang digunakan oleh para perampok untuk menjarah mobil yang lewat saat berjalan perlahan.


Arman menyetir sendiri Nissan Terrano-nya. Ia tidak memakai jasa sopir. Selain ingin jalan santai juga supaya bisa menikmati keindahan alam hutan sepanjang perjalanan. Arman dan Lisa sama-sama memiliki hobi traveling ke tempat yang alami. Kesempatan mudik itulah yang mereka manfaatkan untuk sekalian menyalurkan hobinya.


Dalam melakukan perjalanan jauh itu mereka bergantian menyetir. Jika Arman capai maka Lisa yang menggantikan. Mereka hanya melakukan perjalanan dari pagi hingga sore. Pada malam hari mereka menginap pada hotel yang mereka temui. Perjalanan mudik itu amat santai dan dinikmati pasangan muda itu.


Pasangan ini memilih membawa mobil sendiri karena tidak ingin merepotkan para famili di kampungnya. Dengan membawa mobil sendiri, mereka pun dapat jalan-jalan sesuka hati mereka. Lagipula jika naik pesawat akan membuat mereka repot mengurus tiket dan terpaksa akan mengganggu waktu santai mereka.


Setelah menyeberang, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Sumatera. Beberapa jam mereka berhenti untuk makan siang pada sebuah restoran di pinggir jalan lintas itu.


Sore harinya mereka memasuki wilayah yang terkenal angker tersebut. Arman berusaha mencari penginapan dan motel di sepanjang jalan yang penuh dengan hutan lebat. Di daerah itu memang jarang ada motel. Yang ada hanya rumah makan sederhana yang biasa dipakai oleh sopir truk untuk istirahat.


Beberapa kilometer kemudian mereka menemukan sebuah motel kecil. Mereka memang tidak ingin melanjutkan perjalanan malam. Tubuh mereka berdua sudah capai dan penuh keringat. Yang mereka inginkan adalah segera istirahat malam itu.


Motel yang mereka temui cukup sederhana. Mereka lalu masuk dan menemui petugas motel. Rupanya masih ada kamar yang tersedia. Sayangnya mereka cukup kecewa setelah mendapati tarif yang diajukan oleh si petugas cukup mahal. Dengan angkuhnya si petugas yang rupanya sekaligus pemilik motel kecil itu menolak tarifnya ditawar. Padahal sebenarnya ia memang telah menaikkannya di atas tarif normal karena melihat penampilan calon tamunya yang mencerminkan orang yang mapan ekonominya.


Bagi suami isteri itu memang tidak ada pilihan lain. Jika terus berjalan, maka hari telah larut. Lebih baik istirahat di motel itu meskipun sewanya mahal. Dengan terpaksa, Arman pun membayar tarif sewa yang diajukan. Mereka berdua lalu diantar menuju kamar yang diberikan si pemilik motel.


Begitu masuk, Lisa langsung merasa amat jijik melihat kondisi kamar itu. Kain spreinya saja amat jorok. Keempat dindingnya dipenuhi oleh coretan dan kata-kata kotor. Apalagi dinding itu banyak lobangnya yang di tutup dengan isolasi. Lisa sempat mengeluh pada Arman.


“Aduuh, Pah… Motel semacam ini koq mahal amat, siiih….?” gerutunya. “Mana budukan lagi….”


Arman cuma bisa menghela napas sambil merangkul istrinya.


“Yaah, Mah… Emang gak bisa kalo membandingkan motel ini dengan yang di Jakarta…” kata Arman menenangkan istrinya yang cukup sewot saat itu.


“Anggap aja ini bagian dari petualangan kita…” lanjutnya.


“Kamu pernah punya khayalan kita berbulan madu ke hutan dan bercinta seperti Tarzan dan Jane, kan…?” goda Arman. “Naah… anggap aja ini bagian dari perwujudan khayalan kita….”


Lisa hanya mencibir dan menonjok suaminya dengan manja. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.


Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, mereka pun tidur di kasur yang tipis itu. Sebelumnya, Lisa melapisi kasur itu dengan bed cover yang kebetulan ia bawa di mobilnya karena sprei yang ada amat kotor dan bau.


Saat malam semakin larut, pasangan suami istri itu berusaha untuk tidur. Namun tak lama kemudian mereka terjaga oleh suara gaduh di sebelah kanan kamar mereka.


Samar-samar terdengar suara-suara erotis dari sepasang pria dan wanita yang sedang memadu birahi…. Sesekali terdengar pula kata-kata kotor yang diucapkan si pria saat melampiaskan nafsunya. Dari kata-kata yang dikeluarkannya, tampak sekali betapa kasar dan tak berpendidikannya laki-laki itu. Bunyi derit dipan dan dengus nafas dua manusia yang sedang bersetubuh itu terdengar begitu jelas di malam yang hening itu. Tak pelak, suara-suara itu membuat Arman dan Lisa terbangun.


Saat itu di kamar sebelah mereka rupanya ada seorang pria yang membawa seorang pelacur dan melakukan hubungan seks. Motel itu memang sebenarnya lebih banyak digunakan oleh para sopir maupun begal setempat untuk beristirahat dan melampiaskan nafsu syahwatnya bersama para pelacur. Terbukti bahwa tak lama kemudian, dari kamar sebelah kirinya pun terdengar suara-suara yang sama.


Lisa mulai menjadi kesal. Ia bahkan mengajak Arman keluar motel saja untuk melanjutkan perjalanan. Ia merasa bunyi-bunyi itu amat mengganggu istirahatnya.


Arman pun berusaha membujuk dan merayu istrinya. Akhirnya, Lisa pun menjadi lebih tenang. Sambil menyarankan Lisa untuk rileks, tangan Arman membelai bagian tubuh istrinya yang sensitif. Walaupun tak diutarakannya, sebenarnya Arman malah merasa terangsang mendengar suara-suara itu.


Karena belaian dan pilinan tangan Arman yang menggoda, Lisa pun ikut naik birahinya. Akhirnya mereka melakukan persebadanan pula seakan tidak mau kalah oleh pasangan-pasangan yang sedang beraktifitas di kamar-kamar sebelahnya.


Malam itu Lisa dihantarkan Arman hingga orgasme. Mereka lalu tertidur karena letih setelah pendakian itu. Lisa dan suaminya tertidur sambil telanjang. Lisa menghadap dinding sedangkan Arman memeluknya dari belakang.


Di luar pengetahuan suami istri itu, melalui sebuah lobang yang ada di dinding kamar mereka, ada sepasang mata yang mengintip aktifitas seksual mereka. Mata itu milik seorang dedengkot begal di daerah itu. Begal itu baru saja melakukan hubungan seks dengan seorang pelacur.


Mulanya ia iseng saja mengintip. Kebetulan selepas menyetubuhi pelacur yang dibawanya, ia mendengar dengus nafas pasangan suami istri itu saat melakukan hubungan seks. Ternyata apa yang dilihatnya benar-benar memikatnya dan menerbitkan air liurnya….


Dengan seksama si begal memperhatikan tubuh suami istri itu mendaki puncak kenikmatan. Ia pun amat terpana dan terpikat akan kecantikan Lisa saat bugil dengan suaminya. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat langsung seorang wanita secantik itu. Ia hanya tahu kecantikan Lisa seperti kecantikan bintang-bintang sinetron yang ia saksikan lewat televisi.


Sosok telanjang Lisa amat menggodanya sehingga menimbulkan birahinya untuk menikmati tubuh perempuan itu. Lisa memang cantik. Wajahnya mirip artis sinetron. Persisnya, ia jadi teringat dengan aktris Berliana Febrianti. Bahkan Lisa lebih cantik dan sexy dibandingkan Berliana…Begal itu melihatnya dengan penuh kekaguman. Sesaat ia membandingkan sosok Lisa dengan pelacur yang baru saja ia gauli… Perbedaannya bak siang dan malam….


“Kok ngintip-ngintip kamar sebelah segala, Bang?” tanya si pelacur yang baru saja ditiduri begal itu tiba-tiba.


“Masih mau nambah..?” sambung perempuan setengah umur itu. “Ayo, Bang… kalau mau nambah lagi…”


“Aaah… jangan banyak cakap kau…” sergah si begal yang merasa terusik keasyikannya oleh ocehan pelacur itu.


“Ini uangmu… cepatlah kau keluar…” usir Begal itu. “Ayo… cepat..”


“Iiih… Abang, kok sewot begitu sih…?” timpal si pelacur kesal sambil cepat-cepat memberesi pakaiannya.


“Kalo yang di kamar sebelah itu pasangan suami isteri, Bang… Bener lho… Abang gak bisa tidur sama itu cewek, biar nunggu sampai kapan pun… Mendingan sama saya aja…” goda si pelacur sambil melangkah keluar kamar.


Si begal membanting pintu kamar. Lalu ia menyusun sebuah rencana untuk dapat menaklukkan Lisa. Birahinya saat itu untuk menggauli Lisa tinggi sekali namun ia kecewa karena ada suaminya yang tidur di samping Lisa saat itu.


“Mungkin tidak malam ini…. tapi aku harus bisa mendapatkan perempuan cantik itu….” gumam si begal sambil kembali mengamati tubuh telanjang Lisa yang saat itu sedang tidur bersama suaminya setelah selesai bersetubuh.


Diamatinya terus tubuh mulus ibu rumah tangga itu dengan penuh napsunya… Tak lama kemudian si begal pun melakukan masturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengan Lisa… Saat mencapai orgasme, ia pun melenguh dengan kerasnya….


“Uuuuuuaaaaagggghhhh….. Hhhhhhhhh….. HHHuaaaah….”


Suaranya yang panjang dan keras memecah keheningan malam… Lisa pun sampai terbangun mendengarnya namun suaminya tetap tertidur pulas di sampingnya. Sejenak matanya menatap ke arah dinding kamar sebelah tempat suara itu berasal… Karena kamar tempat Lisa dan suaminya tidur terang benderang, si begal itu pun bisa menatap kedua mata Lisa yang bening dan indah… Tentu saja perempuan itu tak bisa melihat sebaliknya karena terhalang dinding…..


Ah, sudah semalam ini masih saja ada aktifitas di kamar sebelah, pikir Lisa.


Ia pun lalu membaringkan tubuhnya kembali… tanpa pernah terlintas sedikit pun kalau dalam waktu yang tak lama lagi ia akan sangat akrab dengan suara itu… dan juga pemiliknya…


Pagi harinya setelah mandi dan makan seperlunya mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Pagi itu amat cerah. Arman pun menyetir dengan tenang dan santai. Sesekali ia menggoda Lisa yang saat itu memakai kacamata minus dan busana casual yang amat serasi dengan kulitnya.


Baru berjalan beberapa kilometer, Arman merasakan perutnya mules serasa ingin buang air besar. Keringat dinginnya muncul.


“Ada apa, Pah? Kamu sakit ya?” tanya Lisa.


“Auuh, aku ingin buang hajat nih… perutku sakiit,” jawab Arman meringis sambil menghentikan mobilnya.


Kemudian kemudi diambil alih istrinya. Lisa pun membawa mobil perlahan dengan harapan ia dapat menemukan sebuah rumah makan atau rumah penduduk di tengah perjalanan itu.


Tidak lama kemudian mereka melihat sebuah rumah yang terbuat dari kayu agak jauh dari pinggir jalan. Perasaan memang itulah satu-satunya rumah yang mereka temui sejak meninggalkan hotel tadi… Rumah itu berada agak ke dalam hutan. Lisa membelokkan mobilnya memasuki jalan tanah menuju rumah itu.


Sesampainya di sana, Lisa pun turun dan menemui seorang lelaki yang ada di depan rumah itu.


“Permisi, Pak… Boleh saya numpang ke kamar kecil?” pinta Lisa pada sang peghuni rumah.


“Wah, kami tak punya WC, Bu. Kalau mau buang air biasanya ke sungai di belakang rumah saja,” jawab si laki-laki.


Lisa lalu balik ke mobil dan minta suaminya turun. Ia mengatakan Arman bisa buang hajat di sungai belakang rumah karena rumah itu tidak punya WC. Tanpa pikir panjang, Arman mengikuti petunjuk istrinya dan berlari ke arah sungai itu.


Sementara menunggu suaminya, Lisa dipersilakan si laki-laki untuk duduk di teras rumahnya. Sambil tersenyum berterima kasih, wanita itu pun mendaratkan pantatnya ke sebuah kursi kayu sederhana sambil meluruskan kedua kakinya. Si penghuni rumah sendiri lalu meneruskan aktifitasnya. Sesekali ia tampak masuk ke hutan dan luput dari pandangan Lisa.


Sosok laki-laki itu memang membuat ngeri orang yang melihatnya. Usianya kira-kira 47 tahun. Tubuhnya kekar. Kulitnya hitam legam. Brewoknya yang tak tercukur dengan rapi menutupi raut wajahnya yang keras. Dari sela-sela kaos kumal yang dikenakannya, tampak codet-codet bekas sayatan benda tajam di sekujur tubuhnya. Sekilas tampak pula tato yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Penampilannya membuat Lisa bergidik. Dalam hati ia bersyukur laki-laki itu tak menemaninya duduk di situ.


Sebenarnya si pemilik rumah kayu adalah laki-laki yang mengintip Lisa dan suaminya bersebadan di motel tadi malam. Lisa sama sekali tidak mengetahuinya. Laki-laki itu tinggal seorang diri di rumah itu. Ia adalah seorang perampok yang sering menjarah harta para sopir yang melewati kawasan itu.


Tunggu punya tunggu, Arman belum juga balik dari buang hajat. Lisa mulai gelisah. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, suaminya belum juga muncul. Ia pun bertanya pada si pemilik rumah.


“Jambannya jauh tidak, Pak?” tanya Lisa.


“Ah, dekat sini kok, Bu. Di belakang rumah saya ini,” jawab laki-laki itu.


Lisa merasa semakin gelisah dan menyusul mencari suaminya. Ditemukannya sungai yang dimaksud dan ditelusurinya sepanjang tepiannya. Apa daya suaminya maupun tanda-tandanya tidak juga ditemukan….


Akhirnya ia pun balik ke rumah itu dan minta tolong pada si laki-laki untuk mencarinya. Laki-laki itu lalu pergi mencari Arman agak lama. Lisa pun sebelumnya dipersilakan duduk di dalam rumahnya.


Beberapa jam kemudian laki-laki itu datang kembali sendirian. Ia mengabarkan Lisa bahwa ia tak berhasil menemukan suaminya. Lisa cemas dan panik.


Dengan putus asa, diajaknya pria itu untuk mencari lagi suaminya bersama-sama. Sambil menemani Lisa, pria itu memberikan berbagai kemungkinan.


“Mungkin saja suami Ibu terpeleset dan hanyut di sungai yang deras itu.”


“Tapi suami saya pandai berenang, Pak… Ia termasuk anggota arung jeram…” timpal Lisa.


“Ya, tapi nasib orang kan siapa tahu, Bu… Jangan remehkan kekuatan alam…” jelas lelaki itu. “Sudah banyak kasusnya warga sini yang jelas-jelas akrab dengan sungai ini terbawa hanyut…”


“Apalagi sungai ini memang angker, Bu… Ada penunggunya…”


Lisa diam saja sambil pikirannya menerawang membayangkan suaminya mendapatkan musibah.


“Kemungkinan lain…. bisa jadi suami Ibu ketemu binatang buas… Hutan ini masih banyak harimaunya, Bu…”


Lisa bergidik mendengar kemungkinan itu. Ia semakin sedih. Pikirannya bertambah kacau. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.


Si pria akhirnya menjanjikan pada Lisa untuk melanjutkan pencarian esok pagi karena malam telah menjelang dan hujan mulai turun. Lisa masih shock akan kejadian itu. Ia amat khawatir akan keselamatan suaminya. Dengan terpaksa ia akhirnya menerima saran dari si pria itu untuk mencari lagi esok hari.


Padahal saat Arman buang hajat tadi pagi, si laki-laki penghuni rumah bolak-balik mengawasinya. Begitu Arman selesai, begal itu tanpa kesulitan yang berarti melumpuhkannya. Diikat dan dikurungnya Arman di dalam sebuah kerangkeng untuk menangkap harimau. Kerangkeng itu ia taruh di dalam hutan agak jauh dari rumahnya sambil ditutupi dedaunan. Dipastikan bahwa pria malang itu tidak akan bisa meloloskan diri tanpa pertolongan orang lain.


Laki-laki itu membuat jebakan untuk Arman karena tergiur untuk merampas istrinya. Arman sakit perut karena sarapan miliknya di motel memang telah dibubuhi ramuan pencahar isi perut. Tak sulit melakukan itu karena si pemilik motel adalah teman baik si begal.


Pada malam itu, selesai melakukan masturbasi sambil memandangi tubuh telanjang Lisa, si begal langsung menemui dan membangunkan pemilik motel. Diceritakannya niatnya yang bulat untuk mendapatkan Lisa. Melihat tekadnya yang kuat, si pemilik motel akhirnya setuju untuk membantu temannya. Imbalan yang diminta adalah jika si begal berhasil, ia harus membagi tubuh wanita itu kepadanya. Tak bisa dipungkiri, si pemilik motel pun tergiur pula oleh kecantikan dan keseksian tubuh Lisa. Si begal langsung menyetujuinya.


“Bereslah, kawan… Kita kan saudara… Sesama saudara patutlah kita saling berbagi…”


Si pemilik motel mengangguk-angguk senang.


“Setelah aku menuntaskan napsuku pada wanita itu, kau pun pastilah dapat bagian,” lanjutnya. “Kau kan tahu aku orang yang tahu membalas budi…”


Mereka lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan tercapainya kesepakatan di antara mereka.


Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran semalaman, mereka pun berhasil membuat rencana yang matang. Pembahasan ditutup dengan saling membagi tugas. Selanjutnya, seperti telah diketahui, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana…


Malam itu Lisa sangat gelisah, yang ada di pikirannya hanya Arman suaminya. Matanya sembab karena sedih. Lalu si pria mendekatinya.


“Bu, sabar aja, nanti suami ibu juga pulang. Besok kita cari ya?” bujuk si pria.


Lalu si pria mengenalkan diri.


“O… ya, Bu… nama Ibu siapa?” sambil mengulurkan tangannya yang kasar penuh bulu itu.


“Lisa, Pak…” Lisa mengulurkan tangannya juga.


“Nama yang cantik sekali… Secantik orangnya…” puji pria itu spontan. Lisa pun tersipu…


Si pria lalu menyebutkan namanya.


“Jarot. Nama saya Jarot,” terang si pria sambil menggenggam tangan halus Lisa. Ia merasakan kehalusan jemari dan kehangatan tangan Lisa. Lalu ia lepaskan.


Dengan logat Komering yang kental, Jarot bertanya pada Lisa tentang tujuannya dan asalnya. Lisa pun menjawab seadanya.


Malam pun menjelang dan hujan turun dengan derasnya. Rupanya inilah pertama kalinya hujan turun setelah musim kemarau yang kering selama berbulan-bulan. Hujan pun turun tak tanggung-tanggung. Benar-benar lebat diiringi suara guntur yang bersahut-sahutan… Seakan menandai suatu peristiwa besar yang akan terjadi malam itu….


“Bu… Mobil Ibu dipindah saja ke belakang rumah. Biar nggak basah!” kata si pria.


Lisa lalu memindahkan mobilnya ke arah belakang rumah yang terlindung atap rumbia. Dengan aba-aba dari Jarot, Nissan-nya dapat dipindahkan ke tempat yang aman. Pakaian Jarot basah oleh hujan. Lisa pun sempat tersiram air hujan saat menuju mobilnya.


Jarot menyarankan Lisa untuk membawa pakaian ganti dari dalam mobil. Jika tidak diganti akan membuatnya sakit dan menyulitkan pencarian suaminya esok hari. Lisa menuruti kata-kata si pria karena memang ada benarnya juga.


Sesampainya di dalam rumah, Jarot mempersilakan Lisa untuk berganti pakaian di kamar depan. Lisa pun masuk kamar. Sambil memperhatikan, Jarot mengunci pintu rumah lalu menyembunyikannya kuncinya.


Ia memperhatikan langkah Lisa menuju kamar. Ia akan segera menyusul untuk melaksanakan niatnya.


Saat Lisa melepaskan kaos dan kacamata minusnya, pria brewok itu masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Tubuh Lisa saat itu masih terbalut bra dan celana dalam.


Lisa kaget bercampur marah.


“Ada apa, Pak? Saya kan masih ganti pakaian…?” katanya dengan nada meninggi.


“Tenang sajalah, Bu… Aku hanya ingin melihat keindahan tubuh Ibu dari dekat… Soalnya jarang sekali aku melihat wanita secantik Ibu… Aku hanya ingin lihat…” kata Jarot dengan berani.


“Pergi keluar, Pak… Jika tidak saya akan berteriak…” jawab Lisa sengit sambil menutup dengan kaosnya belahan payudaranya yang menonjol dari sela-sela bra.


“Ayolah… Bu.. Jangan marah begitu… Silakan berteriak sekerasnya… Tidak ada yang akan menolong Ibu di sini…” jawab Jarot sambil mendekat ke arah Lisa. “Marilah kita sama-sama berbagi kehangatan di kedinginan malam ini…”


Lisa mundur dan terus berusaha memberi pengertian pada Jarot. Keringat dinginnya muncul meskipun saat itu cuaca dingin dan hujan. Keringatnya keluar karena menyadari akan bahaya yang segera ia hadapi. Namun Jarot pun terus mendesak istri Arman itu ke arah ranjang kayu yang terletak di pojok kamar itu. Lisa terdesak di pinggir ranjang.


“Jangan… Pak.. Saya mohon!… Jangan sentuh saya….” Lisa memohon pada begal itu.


“Saya akan bertindak lembut…. jika Ibu tidak macam-macam dan menyulitkan saya!” jawab Jarot.


Segala permohonan Lisa tidak digubris pria itu. Jarot terus mendesak Lisa hingga berhasil ia rangkul.


Saat-saat yang menegangkan itu pun lalu berjalan sesuai rencana Jarot. Ia lalu meraih tangan Lisa dan membawa Lisa ke arah tubuhnya untuk dipeluknya. Lisa terpaksa menurut karena tak bisa melawan. Dalam pelukan begal brewok itu, Lisa menangis karena bencana yang ia alami.


Lalu Jarot meraih dagu Lisa dan mengulum bibirnya yang kecil mungil. Lisa berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak bisa dikulum si begal brewok. Namun segala upayanya sia-sia.


Jarot mendekap tubuh Lisa begitu eratnya. Secara spontan, wanita itu pun berusaha melepaskan dirinya. Apa daya, rontaan tubuh Lisa di dalam pelukan begal itu malah menimbulkan kontak dan gesekan-gesekan dengan tubuh Jarot yang pada gilirannya malah semakin memberikan kenikmatan pada begal itu dan menaikkan birahinya.


Si pria brewok itu pun berhasil mengulum dan membelit lidah Lisa. Lisa pasrah dan berusaha melepaskan belitan lidah si brewok. Jarot berhasil menghisap air ludah Lisa dan ia pun juga melepaskan ludahnya yang bau ke dalam rongga mulut Lisa.


Lisa jijik dan terus berusaha melepaskan diri dari betotan tubuh si pria. Ia harus menahan bau tubuh si pria dan kasarnya tangan-tangan si pria yang terus berusaha memilin dan meremas payudaranya yang masih terbungkus bra itu. Namun apalah daya seorang wanita yang lemah di samping ia pun sudah lemah secara psikis karena suaminya menghilang ditambah beban mental menghadapi upaya perkosaan terhadap dirinya.


Lisa hanya bisa menangis sesenggukan. Ia tidak rela diperkosa dan dicemari rahimnya oleh laki-laki laknat itu. Ingin rasanya ia bunuh diri saat itu juga…. namun alam bawah sadarnya masih mengingatkannya untuk tidak melakukan hal tercela itu.


Masih dalam pelukan erat begal itu, akhirnya Lisa berhasil ditundukkan. Bra yang menutupi payudaranya ia buka paksa. Kedua bukit salju yang mulus itu pun tergantung indah di dada Lisa. Tangan-tangan kasar Jarot yang penuh bulu itu berhasil menjamahnya. Dengan mulutnya, ia jilati dan gigiti putingnya. Lisa terlonjak sakit dan geli. Alam bawah sadarnya mulai menapaki rangsangan yang dihantarkan mulut begal itu yang mulai menampakkan wujudnya.


Lalu Lisa dibaringkan Jarot di atas kasurnya yang lusuh itu. Sebelumnya ia telah berhasil melepaskan seluruh penutup dada Lisa dan mengacak-acak dada wanita itu yang dihiasi oleh kalung berlian dengan inisial “L”. Jarot seakan tidak ingin kehilangan momen menentukan itu. Ia pun berusaha melepaskan celana jeans yang dikenakan Lisa.


Celana jeans yang dikenakan Lisa pun berhasil dilepaskan Jarot. Ia amat takjub dan terpana melihat batang paha Lisa yang jenjang dan putih mulus tanpa cacat itu terhidang di depan matanya. Celana dalam berwarna putih yang dikenakan Lisa saat itu membuatnya tambah bernafsu.


Jarot menyeringai…. Ia mendapati celana yang dipakai Lisa telah basah di belahan kemaluannya. Basah itu bukan basah keringat… Ia tahu persis bibir kemaluan yang basah itu karena lendir yang keluar dari liang vagina Lisa karena adanya nafsu yang muncul dari tubuhnya.


Sejak itu, Jarot benar-benar yakin kalau rencananya akan berjalan mulus dan lancar… Begal itu semakin merasa percaya diri… Ia yakin tubuh Lisa tak akan bisa berbohong terhadap rangsangan-rangsangan yang diberikannya… Tinggal sekarang ia harus bisa menguasai mental dan pikiran wanita itu sepenuhnya… sehingga tercapailah niatnya untuk menikmati tubuh Lisa sepuasnya…


Lalu Jarot menciumi celana yang basah di tengah kemaluan Lisa. Ada bau amis yang ia baui. Ia pun lalu melepaskannya. Wow…. itulah yang keluar dari mulut si begal.


Liang kemaluan Lisa masih rapi dan bulu-bulunya pun tertata indah meskipun saat itu amat lembab. Kemaluan Lisa tampak rapat dan belum ada celah yang longgar. Tidak seperti kemaluan pelacur-pelacur yang sering ia gauli selama ini, pikir Jarot. Ditambah lagi aroma kemaluan Lisa terasa beda sekali dengan yang ia temui selama ini.


Lalu ia pun mendekatkan wajahnya dan menyapu liang itu dengan lidahnya yang panjang juga kasar. Lidah Jarot mencari klitoris yang ada di sela liang itu. Ia lalu menciumi kemaluan Lisa sama seperti ia menciumi bibir Lisa tadi. Tidak ada rasa jijik di kepala pria itu.


Lisa masih terus menangis namun kini tubuhnya telah terbuka seluruhnya dan gairah yang dari tadi ia tahan akhirnya meledak juga. Jarot mengetahui bahwa Lisa saat itu telah siap untuk dicampuri kemaluannya. Bagaimanapun upaya Lisa untuk menyembunyikan gairahnya tetap tidak membantunya.


Karena vagina dan klitorisnya secara intensif terus-menerus dijelajahi mulut dan lidah Jarot, Lisa akhirnya mengalami orgasme. Tubuhnya tak bisa menolak rangsangan-rangsangan fisik yang terus-menerus dilancarkan padanya. Kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup kental. Cairan itu lalu ditelan Jarot hingga tandas tak bersisa. Kemaluan Lisa pun akhirnya bersih oleh lidah begal itu.


Tubuh Lisa menjadi lemah tak bertenaga. Ia benar-benar letih akibat kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Peristiwa itu membuatnya kehilangan kontrol dan membuatnya cenderung menurut pasrah. Ia pun terkulai bugil di atas ranjang.


Jarot merasa yakin kalau Lisa kini telah pasrah dan menyerah padanya. Tanpa ragu, ia pun membuka celananya di depan istri Arman yang sedang terbaring lunglai. Segera, Lisa pun dapat melihat batang penis begal itu yang menggelayut seperti belalai gajah yang hitam…. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat alat kelamin yang sedemikian besarnya…. Semakin bertambah lagi keterkejutannya saat menyadari penis Jarot ternyata… tak dikhitan… Kepala penisnya tampak tertutup seperti kado yang belum dibuka….


Jarot lalu menaiki ranjang kayu itu. Dengan kedua tangannya, dibukanya kedua kaki Lisa sehingga terbuka mengangkang. Begal itu menempati posisi di tengah, di antara kedua kaki Lisa. Lalu Jarot melucuti baju kaos kumal yang dikenakannya dan melemparkannya ke lantai. Kini Lisa bisa melihat dengan jelas tubuh Jarot yang kekar, liat dan legam terbakar matahari. Berbagai macam tato menghiasi sekujur tubuhnya…. mulai dari pinggang hingga pangkal lengannya….


Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis telah siap melakukan perkawinan… Yang wanita adalah seorang ibu rumah tangga muda yang terbaring tak berdaya setelah diculik… dengan tubuh yang langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan… Sedangkan si pria di atasnya yang siap mengawininya adalah seorang begal brewok dengan tubuh hitam kekar penuh dengan bekas luka dan tato… Lisa sama sekali tak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya….


Perlahan-lahan, Jarot lalu menaikkan kedua kaki Lisa yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang legam dan kekar. Lisa melihat kedua pahanya kini mengapit tato bergambar setan berwujud tengkorak yang menghiasi bagian perut Jarot.


Kemudian Jarot menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Lisa… Lambat laun batang itu pun tumbuh semakin mengeras dan tegak…. Lisa pun kegelian merasakan kemaluan Jarot yang tumbuh menyentuhi kemaluannya. Setelah penis Jarot mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, begal itu lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam Legam itu ke arah bibir kemaluan Lisa. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya.


Bibir kemaluan Lisa masih rapat dan belum bisa menerima benda asing yang akan memasukinya saat itu. Lalu dengan jari tangannya Jarot membuka bibir itu dan menyelipkannya di tengahnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu si begal pun mendorongnya hingga masuk ke dalam lubang kelamin ibu rumah tangga itu.


Saat penis Jarot masuk menyeruduk ke dalam kemaluan Lisa dengan kerasnya, spontan wanita itu pun terbelalak matanya dan ternganga lebar mulutnya. Seberkas jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…


“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba belas kasihan kepada begal itu.


Jarot masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Lisa. Lisa pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Jarot.


Mengetahui tangisan Lisa saat menerima penisnya masuk, Jarot lalu memeluk Lisa dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Lisa. Ia peluk Lisa dan diciuminya bibir Lisa seakan tidak ingin terpisahkan. Jarot ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti bagian bawah tubuh mereka yang telah dempet menyatu saat itu.


Rasa sakit dan perih di tubuh Lisa diungkapkannya dengan menekan bahu si begal yang kekar dengan kukunya yang runcing. Ia terus sesenggukan dan membenamkan kukunya di bahu bidang itu. Semua tindakan Lisa itu apalah artinya bagi pria yang terbiasa merampok itu. Jangankan kuku, golok pun telah ia rasakan.


Bahkan respons yang didapatnya saat menyetubuhi Lisa benar-benar membuatnya merasa nikmat. Ia tahu Lisa adalah istri orang… tapi menyetubuhinya sama seperti memperawani seorang gadis yang lugu dan belum berpengalaman….


Jarot tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Lisa. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh istri Arman itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari jepitan kewanitaan ibu rumah tangga itu. Apalagi dinding-dinding kemaluan Lisa terasa berdenyut-denyut… memijati penis Jarot yang keras…. Ia pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Lisa dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat.


Rambut Lisa yang sebahu pun telah basah seolah turut menangisi keadaan Lisa saat itu. Dari tengkuk Lisa jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Lisa. Nafsu Jarot terus terpacu karena wangi tubuh Lisa yang juga masih tercium aroma Channel numero 5 yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu.


Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Lisa yang bernomer 34B itu. Di payudara Lisa mulut pria yang penuh oleh cambang dan kumis itu terus bermain-main dengan puting dan belahan susu itu. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu…


Ia telah membuat Lisa seakan lupa daratan. Lisa terus memejamkan matanya tidak ingin melihat kelakuan pria asing yang baru dikenalnya itu di atas tubuhnya.


Cengkeraman Lisa pada bahu Jarot akhirnya melemah. Ia telah orgasme untuk yang kedua kalinya. Hanya saja ia berusaha keras untuk tak menampakkannya karena malu…


Lalu si begal bergerak maju mundur dan terus menghujamkan kemaluannya ke dalam liang Lisa. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Lisa agar tetap di tempatnya. Lisa sebenarnya menikmati genjotan begal itu… Bagaimanapun ia belum berani menunjukkannya sehingga ia pun memejamkan kedua matanya. Sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei kumal yang sudah tak jelas warnanya itu.


Saat itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua makhluk yang sedang kawin itu.


Setelah beberapa lama perkawinan itu berlangsung… akhirnya si begal brewok itu pun melepaskan spermanya dengan gerakan begitu cepat dan hunjaman yang keras ke dalam kemaluan Lisa. Sambil melenguh-lenguh dengan suara berat, ia terus menekannya seolah ingin menuntaskan dendam birahi ke dalam tubuh Lisa dengan kasar. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh liang Lisa. Rembesannya keluar membasahi sprei kasur itu.


Di saat yang bersamaan, rupanya Lisa pun kembali mengalami orgasme… Kali ini tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali… Erangan panjang terlontar dari mulutnya… Dalam hati Lisa sedikit terkejut dan malu… Ia tak mengira akan sedemikian eksplisitnya orgasmenya nampak tanpa bisa disembunyikannya sama sekali… Ditambah lagi kenyataan bahwa mereka mengalami orgasme secara bersamaan…


Sementara Jarot yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya… Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di kemaluan Lisa… Seakan ingin memompakan sisa-sisa sperma yang masih ada ke dalam rahim wanita itu… dan menandai Lisa sebagai milik pribadinya….


Lalu diciuminya seluruh wajah Lisa… dikulumnya dalam-dalam mulut wanita itu… seolah ingin menghargai apa yang telah mereka lalui bersama di ranjang itu… Lisa yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya… Baru kali ini ia mengalami perasaan sepenuhnya dimiliki dan dikuasai oleh seorang lelaki…


Sampai akhirnya gerakan kedua tubuh yang sama-sama telanjang itu pun mengendor…. Jarot masih menindihi tubuh Lisa yang telanjang. Selama beberapa menit mereka terpaku dalam posisi seperti itu… sampai penis Jarot yang telah lemas keluar dengan sendirinya dari kemaluan Lisa…


Setelah itu, karena capai si begal bergeser ke sebelah Lisa dan tertidur. Ada gurat kepuasan di wajahnya yang garang dan kejam. Ia telah berhasil menunaikan hasratnya yang ia dambakan pada Lisa. Ia pun tertidur pulas.


Sementara itu, Lisa yang telah pulih kembali pikiran dan akal sehatnya yang sebelumnya tertutup oleh hawa nafsu hanya bisa menangis… Ia merasa berdosa telah mengkhianati suaminya… Ia merasa dirinya kotor… tak ada bedanya seperti pelacur-pelacur yang ditemuinya di motel malam sebelumnya…


Masih dengan tetesan air mata di pipi, Lisa lalu bangun dari ranjang kayu itu dan mengenakan kembali seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai kamar.


Sebenarnya ia ingin mandi membersihkan seluruh tubuhnya dari sperma dan keringat begal itu… Sayang rumah itu tak memiliki kamar mandi sendiri. Ia merasa telah amat kotor saat itu… Apa daya, kepada siapa ia bisa mengadu. Semuanya telah terjadi. Tak mungkin ia dapat membalik waktu…


Lisa pun berjalan ke arah pakaian Jarot berusaha mencari kunci kamar agar bisa keluar namun tidak ditemukannya.


Karena kecapaian setelah pergumulan laknat tadi ditambah masalah suaminya yang menghilang, Lisa pun akhirnya hanya bisa terduduk jongkok di sudut kamar. Ia pun terlelap. Namun saat ia baru saja terlelap, tiba-tiba si begal itu bangun dan menarik Lisa agar tidur di sampingnya di atas ranjang kayu itu.


Lisa terpaksa menurut karena ia tidak dapat lagi melawan. Lalu ia berbaring di samping si brewok yang masih bugil hingga malam menjelang.


Sesekali di atas ranjang saat mereka tidur berdampingan, tangan Jarot yang kasar meremas payudara Lisa yang telah tertutup bra dan kaos yang dikenakannya. Lisa pun selalu melepaskan tangan si begal yang gatal itu. Bagaimanapun intimnya hubungan yang telah mereka lalui bersama-sama pada malam itu, Lisa tetap merasa dirinya sebagai istri Arman yang sah… Begal itu tak lain sekedar memaksanya dan memperbudaknya untuk melayani nafsu birahinya…


Tak lama kemudian, mereka berdua pun tertidur saking lelahnya.


Tengah malam Lisa terjaga. Ia merasa mendengar suara orang yang memanggil-mangil namanya.


Ia pun duduk dan membangunkan begal brewok di sampingnya yang saat itu masih bertelanjang. Tubuh hitam dan penuh bulu itu lalu bangun.


“Ada apa Lisa”? tanya Jarot.


“Aku mendengar suara-suara orang di luar memanggil-manggil namaku,” jawab Lisa.


Mendengar perkataan Lisa saat itu, Jarot mengenakan celana pendeknya dan masih bertelanjang dada.


“Coba kulihat keluar,” katanya.


Lalu mereka keluar rumah. Hujan masih turun dengan derasnya. Suara yang didengar Lisa itupun tidak ada lagi.


“Nah, tidak ada bukan?” sahut begal itu.


“Rumah ini letaknya jauh dari perkampungan penduduk, Lisa… Di sekeliling sini masih hutan lebat…”


Mereka pun kembali ke dalam rumah Jarot yang memang tidak memiliki penerangan listrik. Lisa diam memperhatikan tingkah laku si pria.


“Waduh…” kata Jarot sambil memegangi perutnya. “Aku lapar sekali… Kau juga lapar, Lisa?”


Spontan Lisa mengangguk.


Memang pastilah perut mereka lapar karena kegiatan mereka yang sangat panas tadi di ranjang telah menghabiskan banyak energi. Lisa pun jelas sangat lapar karena makanan yang terakhir masuk ke dalam perutnya adalah sarapan pada pagi harinya.


“Di mobilku ada makanan, Pak… Perbekalan terakhir yang dibeli oleh suamiku sewaktu di Lampung,” terang Lisa.


“Aaa.. bagus lah itu… Kalau begitu ayo kita ambil,” sahut begal itu.


“O, ya. Satu hal lagi… Jangan panggil aku ‘Pak’… Panggil saja Jarot, ya? Semua wanita yang sudah kutiduri boleh memanggil namaku saja…”


Jarot kemudian mengambil makanan yang ada di mobil berdua dengan Lisa. Dirangkulnya pundak wanita itu seolah mereka sepasang kekasih…


Jarot melepaskan rangkulannya saat ia mengangkuti makanan dari mobil. Saat itu sempat terlintas di kepala Lisa untuk melarikan diri namun ia tidak mampu karena ia masih berpikir akan keselamatan suaminya.


Mereka pun balik ke dalam rumah Jarot dan makanan itu mereka habiskan tanpa sisa.


Karena waktu masih malam dan hujan turun dengan derasnya, mereka pun kembali ke kamar untuk tidur. Lisa merasa badannya masih pegal dan capai. Ia ingin beristirahat dan dapat tidur dengan nyenyak malam itu.


Sesampai di kamar, mereka naik ke ranjang kayu itu. Ternyata, di atas ranjang, kejahilan si begal mulai muncul lagi. Rupanya makanan yang diberikan Lisa tadi telah mampu membantunya memulihkan tenaganya kembali… Ia pun berusaha kembali merangsang Lisa untuk bersebadan lagi.


“Sudahlah, Jarot… Saya capek…” kata Lisa mencoba mencegah.


“Lisa, dingin-dingin begini aku tak bisa tidur,” jawab Jarot.


Tanpa banyak bicara lagi, si begal pun melepaskan celananya. Walaupun masih merasa agak rikuh karena belum terbiasa melihat lelaki telanjang selain suaminya, Lisa mencuri-curi pandang juga ke arah penis Jarot yang menggelantung di selangkangannya. Dalam hati sebenarnya ia kagum juga melihat belalai yang panjang itu. Masih terbayang jelas dalam ingatannya bagaimana monster itu memasuki tubuhnya dan membuatnya orgasme berkali-kali…


Setelah ia bugil, tanpa minta persetujuan Lisa, dilucutinya pula busana wanita itu sehingga mereka pun sama-sama telanjang kembali. Lisa tak mampu menolaknya lagi…


“Dingin…” desah Lisa sambil melipat kedua tangan menutupi dadanya… Hujan memang masih turun dengan lebatnya di luar sana. Bahkan semakin deras diiringi guntur yang meledak-ledak.


“Jangan khawatir, Lisa… Sebentar lagi juga panas…” kata begal itu tersenyum sambil menatap mata Lisa dengan penuh arti. Dibukanya lipatan tangan Lisa karena Jarot ingin menikmati dan merabai keindahan kedua payudara wanita itu. Lisa membiarkan saja begal itu memulai aksinya dan menikmati rangsangan yang diberikan padanya…


Jarot dalam waktu singkat telah berhasil membuat Lisa tidak berdaya menolak apa pun yang dimintanya. Seakan wanita itu telah berada sepenuhnya dalam kekuasaannya… Begitu pula ketika ia meminta pada istri Arman itu untuk mengisap penisnya dengan mulutnya.


“Apaa…?” tanya Lisa terkejut. Mulutnya menganga. Matanya menatap Jarot seakan tak percaya dengan permintaan begal itu terhadap dirinya. Bagaimana bisa ia meminta hal seperti itu kepada seorang wanita yang baru dikenalnya? Ya, begal itu memang baru saja menyetubuhinya… tapi meminta ia mengisap penisnya…? Lisa membayangkan pastilah begal itu menganggap dan memperlakukannya sama seperti ratusan pelacur yang pernah ditidurinya…


“Saya gak bisa… Maaf… Gak mungkin…” kata Lisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa salah tingkah.


“Jangan khawatir, Lisa… Nanti akan kuajari,” kata Jarot menenangkan Lisa yang mukanya tampak kecut.


“Ayo… tak apa-apa… Aku benar-benar ingin kau melakukannya untukku…”


Lisa tampak ragu-ragu tapi ia pun tak berbicara lagi. Jarot mengerti kalau ia harus segera melakukannya. Yang diperlukan Lisa adalah bimbingan. Maka tanpa minta persetujuan Lisa lagi, ia pun mendekatkan pangkal pahanya ke wajah ibu rumah tangga yang sedang menunggu itu.


Lisa lalu diajari si brewok untuk melakukan seks oral. Wanita itu awalnya merasa canggung dan ragu. Bau pesing bekas air seni terasa jelas bercampur dengan aroma sperma dan keringat Jarot. Dirasakannya juga cairan vaginanya ada di sana, ikut bercampur menyelimuti batang yang keras itu… Semuanya itu terasa lengket di dalam mulutnya saat bercampur dengan air ludahnya.


Setelah membiasakan diri, akhirnya Lisa bisa juga melakukannya dengan panduan Jarot. Apalagi begal itu terus-menerus memujinya sambil membelai-belai kepalanya sehingga meningkatkan rasa percaya diri ibu rumah tangga itu…


Penis Jarot yang semula tertutup lapisan kering campuran dari air seni, air mani, keringat, dan cairan vagina Lisa sedikit demi sedikit mulai bersih dijilati istri Arman itu. Tinggal kini batang hitam yang mengeras dan tak dikhitan itu berkilauan disapu air liur Lisa…


Jarot merasa sangat puas dengan layanan Lisa… Sebagai imbalannya, wanita itu pun menerima semprotan sperma begal itu di mulutnya.


Spontan air mani Jarot yang kental itu pun tertelan olehnya. Walaupun menyadari bahwa itu adalah konsekuensi dari seks oral, Lisa tetap sempat terkejut saat menerima siraman sperma begal itu di dalam mulutnya… Bagaimanapun itu adalah pertama kalinya ia melakukan itu….


Untunglah Lisa cepat menguasai dirinya sehingga tidak sampai memuntahkan kembali air mani yang sudah terkumpul di dalam mulutnya… Sedikit demi sedikit ditelannya cairan kental itu supaya tidak tersedak… Jarot memperhatikan usaha Lisa sambil tersenyum puas…


Begal itu lalu membersihkan bibir Lisa yang belepotan sperma dengan kain sprei yang kumal.


Dari seks oral itu, untuk kedua kalinya malam itu Lisa dan si begal melakukan hubungan badan. Sebelumnya, terlebih dahulu Lisa membantu membangkitkan kembali penis Jarot dengan tangan dan mulutnya…


Kali ini permainan menjadi amat bergairah. Lisa sudah mulai terbiasa menerima sodokan penis Jarot di kemaluannya. Kali ini keduanya sudah seperti pasangan yang serasi… sudah seirama dan saling beradaptasi dalam persetubuhan itu… Lisa pun tak melakukan perlawanan sama sekali terhadap Jarot. Dibiarkannya begal itu membimbingnya mendaki puncak kenikmatan bersama…


Malam itu akhirnya kedua makhluk yang berlainan jenis dan status itu menyatu kembali dalam kesatuan ragawi. Bersatu padu dalam perkawinan yang panas dan bergairah… Tak ada lagi batas di antara mereka.


Lisa yang memang wanita baik-baik dan terpelajar serta masih berstatus sebagai istri orang, kadang masih berusaha membuat kesan ia tidak begitu menikmati persetubuhan itu. Namun yang sebenarnya terjadi, Lisa benar-benar menikmatinya. Kemaluannya pun menerima banyak lelehan air mani si perampok brewok tersebut.


Kenikmatan badani yang diterimanya dari Jarot sedikit demi sedikit membantu pikiran Lisa terbuka terhadap kemungkinan bahwa Arman suaminya telah tewas hanyut terbawa arus sungai atau dimakan binatang buas. Terlepas dari kenyataan yang tidak diketahui Lisa bahwa Arman sebenarnya masih hidup dan disekap oleh Jarot. Pikiran itu pula yang membuat Lisa pelan-pelan mulai merasa rileks menjalin hubungan intim bersama begal itu.


Bahkan Lisa mulai terbuka pula terhadap kemungkinan bahwa Jarot adalah takdirnya… Jodohnya yang berikutnya setelah ia terpisahkan dengan Arman… Ia seperti mendapatkan sosok lelaki sejati pada figur Jarot. Profil Jarot yang berperilaku buruk tapi perkasa membawa pesona tersendiri di matanya… Pemikiran-pemikiran itulah yang membantu Lisa secara sadar semakin membiarkan jiwa dan raganya bersatu dengan Jarot…. Apalagi bimbingan Jarot semakin memudahkannya…


Sementara Jarot sendiri tentu saja amat menikmati hubungan seks dengan Lisa… Ia sebelumnya tak pernah merasakan bagaimana berhubungan badan dengan wanita baik-baik dan terhormat. Tak pernah pula ia merasakan bersetubuh dengan wanita secantik dan seseksi Lisa… Bersebadan dengan Lisa ibarat mimpi yang menjadi kenyataan bagi Jarot… Ia merasakan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan semua pelacur yang ia kenal selama ini. Ini membuatnya jadi ketagihan…


Yang diinginkannya saat ini adalah menikmati Lisa sepuas-puasnya. Setelah itu, siapa tahu ia pun bisa mendapatkan keturunan darinya yang bisa meneruskan statusnya sebagai begal penguasa daerah itu.


Selain itu, jika kepepet, dengan modal kecantikan dan keseksian gendaknya yang baru itu, Jarot bisa saja mengkaryakan Lisa sebagai pelacur. Pastilah banyak begal dan warga sekitar situ yang akan berbondong-bondong membayar berapa saja untuk bisa menikmati Lisa. Bagi Jarot, mendapatkan Lisa seperti mendapatkan harta karun atau modal yang demikian besar…


Bagaimanapun, Jarot memang tidak pernah sungkan untuk berbagi milik pribadinya dengan sesama kaumnya. Itulah salah satu yang membuatnya disegani di kalangan begal dan perampok di sana. Paling tidak, untuk waktu dekat ini, Jarot tetap ingat akan janjinya untuk membagi Lisa kepada si pemilik motel atas jasanya…


“Aah… nanti sajalah aku ceritakan semua rencanaku itu pada Lisa sedikit demi sedikit,” pikir Jarot sambil memandangi wajah Lisa yang sedang menahan gejolak orgasme akibat genjotannya mautnya. “Perempuan pasti akan menuruti apa yang dikatakan oleh lakinya… Terbukti semua keinginanku terhadap dirinya sejauh ini diturutinya dengan patuh… Padahal sampai kemarin, siapa yang sangka kalau seorang wanita terhormat seperti dia akan tunduk pada begal sepertiku…”


“Oouuuuuuh…” jerit Lisa menikmati orgasmenya yang bertubi-tubi dan memabukkan… Rintihan dan ekspresi wajahnya yang erotis membuyarkan semua angan yang berkecamuk di kepala Jarot.


“Lisaaaaa…… Hhhggggh….” lenguh Jarot melepaskan semua sperma yang ditahannya dari tadi ke dalam rahim istri Arman sebagai balasannya.


Kemudian hening. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa bergejolak di dada mereka yang saling menempel.


Si begal dan gundik barunya menyatu bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Jarot di atas Lisa. Kaki Lisa yang mengapit pinggul Jarot menekan pantat begal itu supaya tetap di tempatnya. Mereka pun berciuman dengan syahdu. Menikmati setiap detik keintiman mereka.


Hujan pun seolah menjadi saksi berjodohnya Jarot dan Lisa dalam malam pertama perkawinan mereka yang dahsyat