Rabu, 20 Desember 2017

Bertemu Wanita Misterius Kurasakan vaginanya basah

Bertemu Wanita Misterius Kurasakan vaginanya basah  Sesungguhnya dengan bercerita kisahku ini, saya flash back ke masa kecilku yang semestinya tidak bisa berlangsung pada umur anak-anak, karna mengakibatkan begitu jelek seperti yang telah kuceritakan di website ini dengan juga judul “Berburu Burung”. Mungkin saja ini yang dimaksud orang dengan dampak kejiwaan dari satu pelecehan seksual pada anak, serta menyebabkan riil saat memijak masa remaja. Oh ya, untuk yang belum juga tahu, namaku Fik, umurku 15 th., serta cerita yang kuceritakan di “Berburu Burung” sesungguhnya adalah sisi terburuk hidupku yang senantiasa membayangiku hingga saya katakan jadi cerita pertamaku, walau semestinya bila diruntut kebelakang ada yang melatari cerita itu, yakni peristiwa yang juga akan kuceritakan di bawah ini. 





Saat itu saya berusia 10 th., lebih sedikit, pokoknya kelas IV SD, cukup kecil mungkin saja, namun waktu tersebut peristiwa yang juga akan merubah hidupku berlangsung. Sesungguhnya, seperti anak-anak SD biasanya, pastinya belum juga tahu apakah itu alat kelamin, serta belum juga miliki perasaan atau prasangka beberapa macam jika seorang memerlihatkan atau menunjukkannya pada kita, saya percaya itu, tetapi satu hari, hal tersebut beralih sesudah peristiwa itu. 





Satu hari sesudah selesai belajar grup dengan rekan-rekan, saya punya maksud mengantar pulang satu diantara rekanku cewek, yang tempat tinggalnya agak jauh, sesaat kami umum belajar mulai habis maghrib sampai usai yang terkadang hingga jam 21 : 00 WIB, hingga tidak berani pulang sendirian. Dia umum kupanggil Na, umurnya sebaya denganku, cewek paling pandai di kelasku, hingga banyak grup belajar yang merebutkannya, serta mujur dia ingin jadi anggota grup kami. 





Cerita ini bermula dari sini, saya boncengkan dia pulang ke tempat tinggalnya dengan sepeda kecilku. Kukayuh bebrapa perlahan, enjoy saja lagian belum juga sangat malam untuk ukuran desaku, karna baru jam 20 : 00 lebih sedikit, serta malam itu rupanya agak ramai. Sampai pada akhirnya masuk jalan yang kanan-kirinya banyak ditumbuhi bambu. Ya, tempat ini yang ditakuti oleh Na, saya sich umum saja bila ada rekan, namun bila sendirian yang paling-paling ngebut waktu melewati jalan itu, ngeri sich. Tetapi, rupanya malam hari ini tidak sekian, karna tampak satu mobil juga akan melintas ke arah kami. Namun mendadak mobil itu berhenti dimuka kami serta selekasnya keluar seseorang wanita dari pintu kemudi, kuhentikan sepedaku, kelihatannya wanita itu ingin bertanya suatu hal pada kami. 





Rupanya sangkaan kami salah, wanita itu keluarkan pistol dari balik pakaiannya serta menodongkannya pada kami. Berdua kami terkejut serta ingin berteriak, namun urung terwujud kami telah diancam dengan suara serius, hingga kami juga menuruti saja apa maunya. Sepedaku juga dibuangkan ke semak-semak, hingga tidak mencurigakan, serta kami diminta masuk ke mobilnya. Didalam mobil Panther tersebut kami berdua kehilangan kesucian. 





Awalannya dia menyuruh kami duduk di kursi yang telah direbahkan, kami tidak paham juga akan diapakan, yang pasti lalu dia melepas pakaiannya satu persatu sembari selalu memandang kami berdua. Kami juga diam saja karna memanglah tidak paham tujuannya. Sesudah terlepas semuanya baju serta telanjang bulat, dia menyodorkan ke-2 puting susunya pada kami. Kami tidak ingin, namun selekasnya memperoleh ancaman sekali lagi, hingga kami juga sangat terpaksa mengerjakannya juga. Saya serta Na juga menghisap puting susunya berbarengan. Dia juga kelihatannya nikmati hisapan kami berdua sembari tangannya mengelus-eluskan selakangannya. Kami juga selalu mengerjakannya seperti yang dia ingin, sesaat payudaranya makin jadi membesar saja, dengan kadang-kadang dia meremas-remasnya sendiri, sampai betul-betul mengeras. 





Kami tersentak saat mendadak ke-2 tangannya mencapai selakangan kami, tapi tak ada yang dapat kami perbuat terkecuali menurut. Saya juga rasakan penisku diremas-remasnya hingga menegang, sesaat mulutku masih tetap menghisap puting payudaranya. Selang beberapa saat dia menyuruh kami berhenti menghisapnya. Tapi apa yang diperbuatnya, tangannya berpindah ke Na yang tengah kemampuanng, dibukanya bajunya satu persatu sampai telanjang bulat, demikian pula terhadapku. Hingga kami bertiga telanjang semuanya. Dia juga beraksi, mulai dengan Na dia menciumi sekujur badan Na, menghisap payudaranya, menjilati semua badannya serta menghisap dalam saat pas di selakangan Na. Na juga cuma bisa mendesis pasrah, sembari kadang-kadang menjerit kecil, bahkan juga menggelinjang bersamaan jilatan-jilatan wanita itu di badannya. Saya sendiri dimintanya mengocok penisku, saya tidak paham mesti dikocok semua, sesaat kurasakan penisku makin keras saja. 





Tidak lama kemudian dia berpindah ke arahku. Sesudah senang dengan Na, segera saja dia menciumiku, sampai saya rasakan kegelian di semua badanku. Pada akhirnya dia berhenti di pangkal pahaku, mempermainkan penisku yang telah mengeras serta lalu melumatnya. Saya rasakan perasaan beda waktu dia mendadak mengisap penisku. Saya juga cuma bisa mengerang serta berkelojotan kegelian, sesaat deru nafasnya juga makin tidak karuan saja. 





Lalu dia berhenti serta berpindah tempat. Saat ini dia yang berbaring, sesaat kami yang berdiri. Dia menyuruh Na duduk di perutnya membelakangi saya, Na juga menurut saja. Lalu dimintanya Na merebahkan badannya, hingga pas di payudaranya supaya kelak mengisapnya sekali lagi bertukaran, sesaat saya, dengan agak kasar serta sembari memegang penisku, dibimbingnya penisku ke arah selakangannya. Lalu saya diminta memasukkan penisku ke lubang di selakangannya serta menggerakkan badanku maju mundur di vaginanya. Serta tanganku ditempatkan pada dada Na agar saya meremas dadanya waktu dia berikan aba-aba untuk mulai dengan berbarengan kelak. 





Sesudah semuanya sudah diaturnya, dia juga menyuruh kami mulai. Sesuai sama apa yang dimintanya barusan, Na juga menghisap bertukaran payudaranya yang mengeras serta saya juga mengocokkan penisku di vaginanya. Kesempatan ini berwajah yang barusan serius beralih keseluruhan waktu kami lakukan seperti apa yang dimintanya. Dia mendesis, menggelinjang nikmati apa yang kami kerjakan dengan berbarengan, sekian kali dia memekik tertahan sembari menggelinjang menggoyangkan badannya. Mulutnya menganga serta kadang-kadang tangannya memegang pinggangku serta merapatkannya di badannya. Sesaat tanganku meremas-remas buah dadanya, hingga dia juga terkadang mengerang kegelian. Saya sendiri rasakan suatu hal yang aneh merambahi sekujur badanku. Saya tidak tahu apa yang berlangsung padaku, terlebih waktu kubenamkan penisku di vaginanya, rasa-rasanya seperti geli tapi di semua badanku, hingga dalam mobil itu yang terdengar cuma nafas yang terengah-engah yang terkadang diselingi erangan penuh kesenangan. 





Tapi itu tak bertahan lama, karena sesaat kemudian kurasakan tubuh wanita itu mengejang, menggelinjang tak karuan dan mengerang dengan nafas berkejaran. Kemudian tiba-tiba dia menjepitkan kakinya di tubuhku, sedangkan kedua tangannya memeluk erat kami berdua sambil mengerang panjang dan tubuhnya melemas. Sesaat kami dalam pelukannya, dan keringat kami pun membasahi tubuh kami bertiga, kurasakan vaginanya mengeluarkan cairan dan mengenai penisku yang masih di dalam vaginanya. Dia kemudian melepaskan pelukannya sambil tersenyum simpul penuh makna.


Kemudian dia menyuruh kami berganti posisi lagi, kali ini Na yang ada di kursi, sementara aku berdiri dan wanita itu ada di belakangku. Dia kemudian menyuruhku memasukkan penisku ke vaginanya Na. Aku pun tidak dapat menolaknya. Aku pun memasukkan penisnya ke tubuh Na, Na pun menjerit kesakitan. Dengan sigap dia menyodorkan puting susunya ke mulut Na, sehingga Na tidak menjerit kesakitan lagi, dan aku pun menggoyangkan tubuhku sesuai perintah wanita itu, sementara terlihat darah mengalir dari vaginanya Na.


Sementara kami melakukan adegan itu, wanita itu duduk di belakang kami memperhatikan gerak penisku maju-mundur di vaginanya Na, dan kemudian membersihkan darahnya Na. Sedangkan kami pun tetap melakukan adegan tadi hingga kurasakan semakin enak saja, sepertinya Na juga merasakan hal yang sama sepertiku, karena dia tidak lagi menjerit, tapi mengerang dengan nafas naik turun. Tiba-tiba dari belakang Wanita itu menghentikan apa yang kami lakukan, sesaat dia menjilati penisku yang benar-benar lain rasanya dan menjilati juga vaginanya, kemudian kembali memasukkan penisku ke vaginanya Na dan menepuk bokongku untuk meneruskan lagi mengocok. Hingga tak lama kemudian kulihat Na semakin terengah-engah dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke kanan ke kiri sepertinya tak tahan lagi menahan sesuatu yang mau keluar, sedangkan mulutnya menganga mengeluarkan suara erangan-erangan kecil.


Wanita itu melihat apa yang terjadi pada Na, langsung dia ikutan menjilati payudara Na, sehingga Na semakin tak karuan menggelinjang, dan akhirnya dia pun mengerang panjang sambil tubuhnya mengejang tak karuan. Aku pun semakin mempercepat kocokan penisku di vaginanya, dan dia pun kemudian kurasakan tubuhnya mengendur lemas dan terbaring di kursi. Kurasakan vaginanya basah oleh cairan yang mengalir dari dalam. Aku pun kemudian disuruh wanita itu mengeluarkan penisku dari vaginanya. Aku pun sudah dari tadi sebenarnya merasakan kenikmatan dari apa yang kulakukan, tapi ternyata rasa itu lama bertahan dalam tubuhku.


Kemudian wanita itu menyuruh Na untuk mengocok penisku dengan mulutnya dan mengisapnya. Ternyata rasa nikmat itu kembali merasuki tubuhku dan semakin memuncak, sementara hisapan-hisapannya semakin panjang saja, rupanya dia juga menikmatinya. Hingga saat dia mengisapnya sangat panjang, aku pun tak tahan lagi. Dan aku pun mengingatkan Na agar menghentikan apa yang dilakukannya, karena kukira aku mau kencing. Ternyata setelah Na menghentikan sedotannya, malah penisku kemudian diraih oleh wanita itu, dan dimasukkannya ke mulutnya. Dimasukkannya penisku hingga tak tersisa, kemudian dihisapnya dalam-dalam, hingga aku tak tahan lagi.


Seiring erangan panjangku, aku merasakan hal yang luar biasa, tubuhku menggigil merasakan kenikmatan yang tiada tara. Penisku yang sudah dikeluarkan dari mulut wanita itu menyemburkan cairan putih kental yang langsung dicegat oleh mulutnya lagi dan ditelannya. Bahkan cairan yang tak lain adalah sperma pertamaku itu yang masih tersisa di penisku pun dijilatinya hingga tak tersisa. Setelah itu kurasakan lemasnya tubuhku, demikian pula yang kulihat pada Na maupun wanita itu.


Kemudian dengan kasar dia menyuruhku segera berpakaian kembali. Setelah itu kami diberi minuman seperti jus jeruk, tetapi setelah beberapa saat kami minum, kami merasa ngantuk berat, kemudian tertidur dan tak sadarkan diri. Kami baru terjaga saat banyak orang mengerubungi kami sambil membawa lampu yang sangat terang. Kami bingung melihat kejadian itu, karena kami berdua tidak lagi di dalam mobil, tetapi sudah berada di semak-semak dekat rumpun bambu bersama sepedaku.


Aku pun bertanya kepada mereka, katanya kami baru saja dibawa gondoruwo. Tapi sebenarnya tidak, karena besoknya kami berdua merasakan kesakitan pada alat kelamin kami, dan ketika kembali ke tempat itu, di sana memang aku menemukan bekas ban mobil. Untung saja kejadian itu tidak diketahui oleh masyarakat yang lainnya. Hanya saja kejadian tersebut membuatku menjadi seperti mendapatkan tekanan perasaan bersalah terhadap Na. Bahkan setelah itu, kadang-kadang timbul keinginan untuk mengulanginya, sehingga sering aku melampiaskannya dengan onani, atau melamun sendiri di kamar karena dihantui perasaan itu.

Bercinta Dengan Mayat Sangat Cantik

Bercinta Dengan Mayat Sangat Cantik  Cerita ini berlangsung sekitaran 5 th. waktu lalu, waktu saya masih tetap bekerja di satu rumah sakit swasta di kota Bandung. Pekerjaan saya memanglah sangat mengerikan, jadi penjaga kamar mayat. Terkecuali mesti melindungi keamanan serta ketertiban disana, saya harus juga bersihkan mayat-mayat kiriman dari beragam tempat di kota itu. Umumnya mayat-mayat itu yaitu korban kecelakaan jalan raya serta korban perkosaan tanpa ada dibarengi jati diri. Sebelumnya dimasukkan ke almari penyimpanan sesaat (karna menanti keluarga si mayat ambil jasad itu), saya mesti memandikan mayat-mayat itu di satu kamar mandi spesial. Serta anehnya, sekitaran 75 % dari mayat-mayat itu yaitu mayat wanita. Ada yang gendut, cantik, putih, hitam, serta ada pula yang bule. 





Satu hari, rekanku Parto membawa masuk sesosok mayat wanita cantik dengan memakai ranjang dorong. “Van, ini mayat baru barusan dua jam waktu lalu wafatnya. Petugas Patroli Jalan Tol yang menemukannya. Mobilnya tabrakan. KTP-nya tak ada. Jadi kau mandikan serta taruh dahulu di almari.. Itu kata Pak Andi, direktur kita.. mampu tidak anda, Van.. ” godanya dengan mengedipkan matanya. Saya terkesima mendengarnya. Sepintas kulihat muka mayat itu. Pucat. Tapi tetaplah saja cantik sekali. Kutaksir ia berusia sekitaran 28 th.. Wah, masih tetap muda. Parto mendadak menepuk bahuku. “Sanggup tidak, Van.. kok melamun..? ”“Ya terang dong.. itu kan tugasku.. Masa anda yang mengerjakannya.. telah sana.. tinggalkan saja dia di dekat kamar mandi.. ”“Beres bos.. ” jawab Parto sembari cengengesan. 





Sesudah Parto pergi, kulirik arlojiku. Jam 10 lewat 15 menit. “Besok, mungkin saja mayat ini juga akan di ambil oleh keluarganya. Jadi saat ini mesti kumandikan dahulu.. hmm.. ” fikirku cepat. Selekasnya saja kudekati mayat itu. Lantas saya mulai buka kaos yang dipakainya. Wah.., waktu kaos itu telah terbuka, kulihat sepasang bukit kembarnya yang begitu besar terbungkus BH berwarna krem. Tentu 36B nih. Karna saya percaya akan tidak ada sekali lagi, orang yang juga akan masuk ke ruang itu, terlebih semuanya pintu serta jendela telah terkunci rapat-rapat, jadi dengan bergegas kubuka pengait BH-nya. Dengan perlahan kuremas-remas buah dadanya yang membusung itu. Putingnya tampak kecoklatan. Menginginkan kuhisap kelak, tapi kelak sesudah kumandikan dengan bersih. Saya masih tetap terasa jijik dengan darah yang keluar dari keningnya. Tanpa ada terlalu lama sekali lagi, saya selekasnya buka semua baju wanita itu. Serta selekasnya kutaruh badan itu di kursi yang umum kugunakan untuk memandikan mayat. Serta, “Byur-byur-byur.. ” kusirami badan indah itu dengan air yang lumayan dingin. 





Sebagian menit lalu, saya membawa mayat itu ke satu ranjang. Ya, di sanalah saya umum tidur. Ranjang simpel, tapi kasurnya sangat empuk. Letaknya di sudut ruang itu. Sesudah mayat itu terbaring dengan tempat yang menurutku bagus di ranjang itu, selekasnya kulucuti semuanya baju yang kukenakan. “Enaknya bagaimana ya..? Nah saya miliki inspirasi. Saya juga akan buka mulut mayat itu. Saya juga akan lakukan oral sex dengannya. ” fikirku. Dengan agak sulit, kubuka mulut wanita itu, kepalanya direbahkan ke samping kiri tempat tidur itu agar saya dapat dengan leluasa mengerjakannya. Dengan perlahan kuarahkan penisku yang mulai agak tegang ke mulutnya serta, “Bless.. clup.. clup.. ” terdengar nada kulit penisku bergesekan dengan bibirnya. Kudorong maju mundur dengan perlahan, merasa sangat nikmat. Sesaat ke-2 tanganku selalu saja meremas-remas payudara seksinya. Kiri serta kanan, kiri kanan berkali-kali. 





Sesudah sekitaran 10 menit, saya lalu bergerak menuju pahanya. Kusingkapkan paha putih mulusnya lebar-lebar. Kuelus serta kuraba pahanya. Memanglah mulus. Kujilati ke-2 pahanya itu dengan lidah. Tak tahu bagaimana reaksinya apabila wanita ini masih tetap hidup. Mungkin saja ia juga akan membalas dengan menggelora karena rangsanganku ini. Entahlah, kulihat bulu-bulu kelaminnya demikian lebat serta tidak tercukur rapi. Dengan tangan kiriku, kusibakkan celah di pangkal pahanya. Serta kumasukkan jari manis ke dalamnya. Nampaknya masih tetap rapat. Jangan-jangan masih tetap perawan. Bermakna saya untung malam hari ini, bercinta dengan mayat perawan tulen. 





Dengan nafsu yang telah menggelegak, kuraih penisku serta kuarahkan bebrapa perlahan ke liang vaginanya. Kuusap-usap penisku pada dinding luar vaginanya. Serta dengan 1x sentakan kutembakkan rudalku ke liang ajaib itu. Serta, “Bles.. clop.. clop.. clop.. ” separuh dari penisku masuk dengan sulit payah. Saya selalu menggenjot pantat serta selalu berupaya menusukkan penisku lebih dalam sekali lagi. Saya lalu berupaya merangsang diri supaya cepat orgasme dengan mengisap serta mengulum puting payudaranya. Penisku dengan gagahnya (pasti telah lebih keras serta lebih tegang saat ini) masuk keluar secara teratur. Muka mayat itu tampak seperti tersenyum. Ah, bebrapa janganlah ia menginginkan menyebutkan kalau ia nikmati permainanku. 





1/2 jam berlalu, tapi belumlah ada sinyal tanda dalam diriku kalau saya juga akan orgasme. Mendadak saya memperoleh inspirasi. Saya mesti ganti tempat. Saya mengangkat badan mayat itu. Serta mendudukkannya di tepi ranjang. Gantian saya yang rebahan di kasur. Mayat itu berniat saya angkat supaya ia duduk diatas pahaku. Penisku tampak berdiri tegak seperti patung Monas. Serta pada akhirnya saya berhasil juga mendudukkannya diatas penisku. Hebatnya sekali lagi, penisku segera cocok masuk ke liang vaginanya. Saya mendorongnya dari bawah. Atas-bawah-atas-bawah.. jeb.. jeb.. bless.. bles.. jeb.. Kugerakkan badan kaku itu dengan berputar perlahan atau pergerakan ke atas serta ke bawah. Nyatanya lumayan, suatu hal dalam diriku seperti juga akan meledak. Serta benar, “Crot.. crot.. crot.. crot..! ” penisku rupanya telah tidak sabar sekali lagi untuk menyemprotkan maniku kedalam liang vagina mayat wanita itu. 





Aduh, senang rasa-rasanya bercinta dengan mayat wanita itu. Sesudah semua usai, saya pindahkan mayat itu ke almari penyimpanan sembari mengharapkan semoga besok malam saya dapat ‘memakai’-nya sekali lagi untuk memuaskan birahiku. Tapi sangkaanku nyatanya salah. Esoknya, sekitaran jam 12 siang, si mayat itu di ambil oleh keluarganya. Rupanya namanya Yanthi Fifyanti. Seseorang developer tempat tinggal susun, di Bekasi. Ya telah, pokoknya saya telah nikmati badannya. Yang perlu saya mesti dapat bekerja dengan sebaik-baiknya dalam melindungi mayat-mayat di kamar mayat itu. 





Rupanya, nasib baik masih tetap berpihak padaku. Parto, kawanku kembali membawa sesosok mayat wanita yang baru wafat sebagian jam. Kesempatan ini si mayat lebih cantik serta lebih seksi. Kutatap sepintas ukuran payudaranya mungkin saja 38B. Tapi berwajah itu kelihatannya saya kenal. Tapi dimana ya..? Ah masa bodoh sekali lagi. Yang perlu, kelak malam, sesudah semuanya sepi, saya juga akan ‘mengerjai’-nya dengan senjata andalanku yang siap setiap waktu.  





Seperti umum, kumandikan mayat baru itu dengan penuh semangat. Payudaranya betul-betul prima serta menantang. Saya meremasnya sembari menyabuninya. Putingnya lalu tampak berdiri tegak. Kok aneh.. apa dia merasakannya..? Jangan-jangan.. ah mustahil! Fikirku sekali lagi. Masa wanita ini berpura-pura mati. Oh ya, barusan memanglah saya lupa bertanya ke Parto, dari tempat mana petugas emergency peroleh mayat ini. 





Sesudah sekitaran 1/2 jam, saya baringkan mayat itu seperti umum di kasur. Namun kesempatan ini saya oral sex dengan duduk diatas kepalanya. Mulutnya kubuka lantas kumasukkan senjata penisku. “Clop.. clop.. bless.. ” namun anehnya, mulut itu tanpa ada kuatur mendadak tutup sendiri sesudah penisku masuk semua ke dalamnya. Jadi mulutnya hanya cocok buat penisku. Saya jadi agak sulit bergerak maju mundur. Mendadak saja mata si mayat terbuka serta melotot ke arahku. Wah.. begitu terkejutnya saya. 





“Anda.. Anda.. masih tetap hidup..? ” teriakku mendadak. “Benar.. ” sekonyong-konyong nada wanita itu berbunyi. Bulu kudukku segera merinding jadinya. Serta detik itu juga, saya lari tunggang langgang. Serta berteriak, “Hantu.. hantu.. tolong.., ada hantu.. ” 





Parto yang tak tahu dari tempat mana timbulnya, menahan lariku di lorong rumah sakit yang gelap itu. “Ivan.. Van.. tenang dahulu..! ” sergahnya sembari menangkap badanku tidak untuk selalu lari. “Parto..! Anda berniat ya..? Masa orang belum juga jadi mayat, Anda bawa padaku..! Emangnya Saya ini apa.. huh..? ” tanyaku sembari melotot ke arahnya. “Van.. itu barusan Ibu Nancy, Kepala Lab Forency rumah sakit kita.. Kok Anda tidak ingat sich..? Masa dia dapat mendadak mati..? ”“Ya.. lalu apa maksud Kalian menipu Saya..? ” tanyaku geram sekali. “Tadi siang, sebentar sebelumnya mayat Yanti di ambil keluarganya, Ibu Nancy memeriksanya lagi.. serta ia menemukannya ada beberapa sisa pemerkosaan di vagina Yanti.. Ia berprasangka buruk kalau Anda yang mengerjakannya.. tapi Ia berjanji pada atasan kita kalau Ia akan tidak melaporkannya ke polisi.. jadi Ia menginginkan membuktikannya sendiri.., maka dari itu Ia menyuruhku untuk membawa ‘tubuh mayat’-nya ke Anda.. ” 





Tanpa ada banyak berbicara sekali lagi dengan Parto, saya selekasnya pergi dari sana serta kembali pada kamar mayat, tempatku bekerja. Tidak kutemukan Ibu Nancy disana. Tak tahu apa yang juga akan disebutkan atasanku besok. Paling-paling sanksinya saya dipecat! Serta benar, esok paginya, saya dipecat tanpa ada memperoleh uang pesangon sepeser juga.





Kini setelah 5 tahun, aku tidak bekerja lagi di sana dan pindah ke kota kelahiranku, di Jawa Tengah. Aku bekerja wiraswasta. Aku menyediakan tubuhku untuk memuaskan wanita-wanita kesepian.

Bercinta dengan guru bahasa inggris Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi

Bercinta dengan guru bahasa inggris Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi Searah dengan saat, saat ini saya dapat kuliah di kampus hasratku. Namaku Jack, saat ini saya tinggal di Yogyakarta dengan sarana yang begitu sangat baik. Kupikir saya cukup mujur dapat bekerja sembari kuliah hingga saya memiliki pendapatan tinggi. 





Bermula dari reuni SMA-ku di Jakarta. Kemudian saya berjumpa dengan guru bhs inggrisku, kami bercakap dengan akrabnya. Nyatanya Ibu Shinta masih tetap fresh bugar serta sangat menggairahkan. Penampilannya sangat menarik, menggunakan rok mini yang ketat, kaos top tank hingga lekuk badannya terlihat demikian terang. Terang saja dia masih tetap muda sebab pada saat saya SMA dahulu dia yaitu guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu hanya terbagi dalam dua kelas, umumnya siswanya yaitu wanita. Cukup lama saya bercakap dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar saat jalan secara cepat hingga beberapa undangan mesti pulang. Lantas kami juga jalan munuju ke pintu gerbang sembari menyusuri ruangan kelas tempatku belajar saat SMA dahulu. 





Mendadak Ibu Shinta teringat kalau tasnya ketinggalan didalam kelas sehinga kami sangat terpaksa kembali pada kelas. Saat itu kurang lebih nyaris jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di dalam lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta juga ambil tasnya lalu saya teringat juga akan waktu dulu bagaimana rasa-rasanya di kelas dengan rekan-rekan. Lamunanku buyar saat Ibu Shinta menyebutku. 





“Kenapa Jack”“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebenarnya situasi hening serta sangat merinding itu buat keinginanku naik-turun terlebih ada Ibu Shinta di sampingku, buat jantungku senantiasa berdebar-debar). “Ayo Jack kita pulang, kelak Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta. “Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan bebrapa sangsi. “Terima kasih Jack”. 





Tanpa ada berniat saya mengungkapkan isi hatiku pada Ibu Shinta kalau saya sukai padanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Nyatanya kondisi berkata beda, Ibu Shinta terdiam saja serta segera keluar dari ruangan kelas. Saya cemas serta berupaya mohon maaf. Ibu Shinta nyatanya telah cerai dengan suaminya yang bule itu, tuturnya suaminya pulang ke negaranya. Saya tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sesaat dimuka kantornya lantas Ibu Shinta keluarkan kunci serta masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk kedalam kantornya malam-malam begini. Saya makin penasaran lantas masuk serta punya maksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menampik. Saya terasa tidak enak lantas menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, secara cepat Ibu Shinta akan menampik namun ada peristiwa yang tidak terduga, Ibu Shinta menciumku serta saya juga membalasnya. 





Ohh.., alangkah sukanya saya ini, lantas secara cepat saya menciumnya dengan semua kegairahanku yang terpendam. Nyatanya Ibu Shinta tidak ingin kalah, ia menciumku dengan keinginan yang begitu besar menginginkan kehangatan dari seseorang pria. Dengan berniat saya menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah hingga ciuman kami jadi bertambah panas lalu berlangsung pergumulan yang begitu seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku hingga saya begitu terangsang. Lantas saya memohon Ibu Shinta buka pakaiannya, satu persatu kancing pakaiannya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh keinginan. Nyatanya sangkaanku salah, dadanya yang kusangka kecil nyatanya sangat besar serta indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang jenisnya sangat seksi. 





Karna tidak sabar jadi kucium lehernya serta saat ini Ibu Shinta 1/2 telanjang, saya tidak ingin segera menelanjanginya, hingga perlahan kunikmati keindahan badannya. Saya juga buka baju hingga tubuhku yang tegap serta atletis menghidupkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu ingin bercinta denganmu saat ini.., Jack, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan nada agak bergetar, mungkin saja menahan birahinya yang mulai naik. 





Tanpa ada diminta 2 x, secepat kilat saya selekasnya tutup pintu depan. Pasti supaya kondisi aman serta teratasi. Kemudian saya kembali pada Ibu Shinta. Saat ini saya jongkok di depannya. Mengungkap rok mininya serta merenggangkan ke-2 kakinya. Wuih, begitu mulus ke-2 pahanya. Pangkalnya terlihat menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang sangat minim. Sembari mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya serta klitorisnya yang besar. Lidahku semakin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sembari mendesah halus. Pada akhirnya jilatanku hingga di pangkal pahanya. 





“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sembari memegangi kapalaku erat-erat. “Ooo… oh.. oh.. ”, desis Ibu Shinta keenakan saat lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Terlihat dia keenakan walau masih tetap dibatasi celana dalam. 





Serangan juga kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Saat ini piranti rahasia kepunyaannya ada dimuka mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai sama sangkaanku. Di sekitarnya ditumbuhi rambut yg tidak demikian lebat. Lidahku lalu bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk kedalam dengan beberapa gerakan melingkar yang buat Ibu Shinta semakin keenakan, hingga mesti mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pandai sekali. Belajar dari tempat mana hh…” 





Tanpa ada sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lantas tangannya menyentuh celanaku yang menonjol karena batang kemaluanku yang ereksi maksimum, meremas-remasnya sebagian waktu. Begitu lembut ciumannya, walau masih tetap polos. Saya selekasnya menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti akan tersendak. Awal mulanya Ibu Shinta seperti juga akan memberontak serta melepas diri, tapi tidak kubiarkan. Mulutku seperti menempel di mulutnya. “Uh anda pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu? ”, tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara serta mulai liar. Saya tidak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke-2 payudaranya yang terlihat menggairahkan itu. Agar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Saat ini dia telanjang dada. Tidak senang, selekasnya kupelorotkan rok mininya. Nah saat ini dia telanjang bulat. Begitu bagus badannya. Padat, kencang serta putih mulus. 





“Nggak adil. Anda harus juga telanjang.. ” Ibu Shinta juga menanggalkan kaos, celanaku, serta paling akhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh selekasnya diremas-remasnya. Tanpa ada dikomando kami rebah diatas ranjang, berguling-guling, sama-sama menindih. Saya menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kesenangan kepunyaannya. Tanpa ada ampun sekali lagi mulut serta lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai keluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Nyaris lima menit kami nikmati permainan itu. Setelah itu saya merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya. 





“Gantian dong.. ” Tanpa ada menanti jawabannya selekasnya kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Awal mulanya agak kesusahan, namun lama-lama dia dapat beradaptasi hingga tidak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru di situ enaknya.., Sampai kini sama suami main seksnya bagaimana? ”, tanyaku sembari menciumi payudaranya. Ibu Shinta tidak menjawab. Dia jadi mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku juga dengan bertukaran memainkan ke-2 payudaranya yang kenyal serta selangkangannya yang mulai basah. Saya tahu, wanita itu telah kepengin disetubuhi. Tetapi saya berniat membiarkan dia jadi penasaran sendiri. 





Namun lama-lama saya tidak tahan juga, batang kemaluanku juga telah menginginkan selekasnya menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan saya mengarahkan barangku yang kaku serta keras itu ke arah selangkangannya. Saat mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan badan Ibu Shinta agak gemetar. “Ohh…”, desahnya saat sedikit untuk sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Sesudah semua barangku masuk, saya selekasnya bergoyang naik turun diatas badannya. Saya semakin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan dan ke-2 payudaranya yang turut bergoyang-goyang. 





Tiga menit sesudah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan ke-2 kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Nampaknya dia juga akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan badan menggelinjang menahan kesenangan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian waktu. Kuciumi pipi, dahi, serta semua berwajah yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging diatas meja.., saat ini kita main dong diatas meja ok! ” Saya mengatur tubuhnya serta Ibu Shinta menurut. Dia saat ini bertumpu pada siku serta kakinya. “Gaya apa sekali lagi ini? ”, tanyanya. 





Sesudah siap saya juga mulai menggenjot serta menggoyang badannya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit serta mendesah rasakan kesenangan yang tidak ada taranya, yang mungkin saja sampai kini belum juga sempat dia peroleh dari suaminya. Sesudah dia orgasme hingga 2 x, kami istirahat. “Capek? ”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Hingga ingin remuk tulang-tulangku”. “Tapi kan nikmat Bu.. ”, jawabku sembari kembali meremas payudaranya yang menggemaskan. “Ya deh bila lelah. Tapi tolong lagi, saya pengin masuk supaya spermaku keluar. Nih telah tidak tahan sekali lagi batang kemaluanku. Saat ini Ibu Shinta yang di atas”, kataku sembari mengatur tempatnya. 




Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.


Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.


Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.


Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.


“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.


Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..”


“Oughh.., Jack.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.


“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin”


Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack”


Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.


Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

tanganku mengocok penisnya Bercinta Dengan adikku


Nama Gw Serlina tanganku mengocok penisnya Bercinta Dengan adikku   tetapi rekan rekan mangil gw erlin, gw mahasiswi ekonomi Kampus Pajajaran. Sejak dua th. waktu lalu, waktu di terima kuliah di Kampus Pajajaran, Gw tinggal di Bandung. Gw datang dari Sukabumi, bapak gw datang dari Bandung, sedang ibu gw asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Narasi Seks Sedarah ini bercerita kisahku yang berlangsung waktu Gw kelas 1 SMU di saat Gw masih tetap tingal di Sukabumi serta narasi saat ini masih tetap selalu berlanjut hingga detik ini! gw selalu kecanduan ngentot ama adik kandung gw sendiriGw anak yang paling tua dari tiga bersaudara. Gw memiliki satu adik lelaki serta satu adik wanita. Umurku berlainan 1 th. dengan adik lelakiku 





namu adik perempuanku lain sekali lagi 10 th.. Kami begitu dimanja oleh orangtua kami, hingga tingkahku yang tomboy serta sukai maksa juga tidak dilarang oleh mereka. Begitu juga dengan adikku yang tidak ingin disunat meskipun dia telah kelas 2 SMP. Saat kecil, Gw seringkali mandi dengan bersama adik gw, namun mulai sejak dia masuk Sekolah Basic, kami tidak sempat mandi dengan sekali lagi. Walau bagaimanapun, Gw masih tetap ingat begitu kecil serta keriputnya penis adik gw. Mulai sejak waktu itu, Gw tidak sempat lihat sekali lagi penis adik gw. Hingga satu hari, Gw tengah asik telpon dengan rekan cewekku. Gw telpon berjam-jam, terkadang tawa keluar dari mulutku, terkadang kami serius bicara mengenai suatu hal, hingga pada akhirnya Gw rasakan kandung kemihku penuh sekali serta Gw kebelet ingin pipis. Betul-betul kebelet pipis telah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa ada permisi dahulu sama rekanku. Gw lari menuju ke toilet paling dekat. Saat kudorong nyatanya tengah dikunci. 





hallow..! Siapa didalam buka dong..! Telah tidak tahan..! Gw berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar mandiIyaaaaaaa..! Wait..! nyatanya adikku yang didalam. Terdengar suaranya dari dalam. Tidak dapat nunggu..! Cepetan..! kata Gw memaksa. aduhhhhhhhhâ€Â¦.. Gw betul-betul telah tidak kuat menahan menginginkan pipis. 





kreottttttt..! terbuka sedikit pintu toilet, kepala adikku keluar dari celahnya. Ada apa sich kak? tuturnya. Tanpa ada menjawab pertanyaannya, Gw segera nyerobot kedalam karna telah tidak tahan. Segera Gw jongkok, menambah rokku serta buka celana dalamku. criitttttt keluar air seni dari vagina Gw. Kulihat adikku yang berdiri di depanku, tubuhnya masih tetap telanjang bulat. 





Yeahhhhh..! Sopan dikit napa kak? teriaknya sembari melotot tetaplah berdiri di depanku. Waitttt..! Telah tidak kuat nih, kata Gw. Sesungguhnya Gw tidak ingin turunkan pandangan mata Gw ke bawah. Namun sialnya, turun juga serta pada akhirnya terlihat deh burungnya si adik gw. hahahahah.. Masih tetap keriput seperti dahulu, hanya saat ini agak gede dikit kataku dalam hati. Gw takut tertangkap basah lihat kontolnya, cepat-cepat kunaikkan sekali lagi mata Gw lihat ke matanya. Eh, nyatanya dia telah tidak lihat ke mata Gw sekali lagi. Sialan..! Dia saksikan vagina Gw yang sekali lagi mekar tengah pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vagina Gw agar cepat usai pipisnya. Tidak berniat, terlihat sekali lagi burungnya yang masih tetap belum juga disunat itu. Saat ini penisnya kok bebrapa perlahan makin gemuk. Semakin naik sedikit untuk sedikit, tapi masih tetap terlihat lemas dengan kulupnya masih tetap menutupi helm penisnya. 





Sialan nih adikku. Jadi ngeliatin sekali lagi, mana belum juga habis nih air kencing..! Gw bersungut dalam hati. o0oooo.. Seperti gitu ya Kak..? tuturnya sembari tetaplah lihat ke vagina Gw. Eh kurang ajar Lu ya dik! segera saja Gw berdiri ambil gayung serta kulemparkan ke kepalanya. Kletokkkk..! kepala adikku memanglah terkena jam, namun akhirnya air kencingku kemana saja, tentang rok serta celana dalamku. 





Ya… basah deh rok kakak… katGw lihat ke rok serta celana dalamku. Syukurin..! Maka dari itu janganlah masuk seenaknya..! tuturnya sembari ambil gayung dari tanganku. Mandi sekali lagi ahh..! lanjutnya sembari menyiduk air serta menyiram tubuhnya. Selalu dia ambil sabun serta menyeka sabun itu ke tubuhnya. Waduh.., sialan nih adik gw! sungutku dalam hati. Saat itu Gw bingung ingin bagaimana nih. Ingin keluar, tapi Gw jijik pakai rok serta celana dalam yang basah itu. Pada akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam serta rokku, lantas pinjam handuk adikku dahulu. Sesudah salin, baru kukembalikan handuknya. 





Telah.., pakai saja handuk Gw kak! kata adikku. Kelihatannya dia ketahui kebingunganku. Terlihat kontolnya mengkerut sekali lagi. Jadi lucu sekali lagi gitu..! Hihihi..! dalam hatiku. Gw lantas buka celana dalam gw yang warnanya merah muda, lantas dilanjutkan dengan buka rok. Terlihat sekali lagi deh memek Gw. Gw takut adikku melihatku dalam keadan sesuai sama itu. Jadi kulihat adik gw. Eh sialan, dia memanglah memerhatikan Gw yang tanpa ada celana. 





kakak Memek tu memang gemuk seperti gitu ya..? kakakaka..! tuturnya sembari nyengir. Sialan, dia mengejek vagina Gw, Dari pada culun seperti miliki lhoo..! kata Gw sembari memukul bahu adik gw. Eh mendadak dia berkelit, wakzzzzzz..! tuturnya. Karna Gw memukul dengan sekuat tenaga, pada akhirnya Gw terpeleset. Punggungku jatuh ke badannya. Terkena deh pantatku ke penisnya. Iiihhh.., rasa-rasanya geli banget..! cepat-cepat kutarik badanku sembari bersungut, Huh..! kakak sich..! 





kak.. kata Kakak barusan culun, bila seperti gini culun tidak..? tuturnya mengacuhkan omonganku sembari menunjuk ke penisnya. Kulihat penisnya mulai sekali lagi seperti barusan, bebrapa perlahan makin gemuk, semakin tegak ke arah depan. Ya.. gitu doang..! Masih tetap seperti anak SD ya..? kata Gw menghina dia. Walau sebenarnya Gw kaget juga, ukurannya dapat jadi bertambah demikian jauh. Menginginkan juga sich tahu hingga di mana menambahnya. Iseng Gw bertanya, Gedein sekali lagi dapat tidak..? kata Gw sembari mencibir. Dapat..! Tapi kakak mesti bantu dikit dong..! tuturnya sekali lagi. Megangin ya..? Wisssss.., ya tidak mau lah..! kataku. Bukanlah..! kakak simpan ludah saja diatas kontolku..! jawabnya. 





Karna penasaran menginginkan lihat penis cowok bila sekali lagi penuh, kucoba ikuti pengucapan dia. Gitu doang kan..? Ingin kakak ngeludahin Anda mah. Dari dahulu Kakak ingin ngeludahin Kamuâ€Â ujarkuSialan nih adikku, Gw dikerjain. Kudekatkan kepal Gw ke arah penisnya, lantas Gw menyatukan air ludahku. Tapi belum Gw buang ludahku, kulihat penisnya telah bergerak, terlihat penisnya naik sedikit untuk sedikit. Diameternya semakin lama makin gede, jadi terlihat makin gemuk. Serta panjangnya juga jadi bertambah. bagus banget memandangnya. Geli di sekujur badan lihat itu semuanya. Tidak lama kepala penisnya mulai terlihat diantara kulupnya. Perlahan menekan menginginkan keluar. Wahh..! Bukanlah main perasaan sukaku saat itu. Gw betul-betul asik lihat helm itu perlahan-lahan keluar. Pada akhirnya bebas juga kepala penis itu dari rintangan kulupnya. Penis adikku telah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya saat ini lebih merah. Gw jadi terangsang memandangnya. Kualihkan pandangan ke adikku. Hehe… dia ke arahku. Masih tetap culun tidak..? tuturnya sekali lagi. Hehe..! Macho kan kak! tuturnya tetaplah tersenyum. Tangannya mendadak turun menuju ke selangkanganku. Meskipun Gw terangsang, sudah pasti Gw tepis tangan itu. 





Apaan sich dik..! kubuang tangannya ke kanan. Kak..! Please kakkk.. Pegang saja kak… Tidak juga akan diapa-apain… Gw ingin tahu rasa-rasanya megang itu-nya cewek. Hanya itu saja kak.. kata adik gw, kembali tangannya mendekati selangkangan serta ingin memegang memek gw. ehmmmm.. sesungguhnya Gw ingin jagalah image, masa ingin sich sama adik sendiri, tapi Gw juga menginginkan tahu bagaimana rasa-rasanya dipegang oleh cowok di memek! hihihiiâ€Â¦Inget..! Janganlah digesek-gesekin, simpan saja tanganmu di situ..! pada akhirnya Gw mengiyakan. Deg-degan juga hati ini. 





Tangan adik gw lantas mendekat, bulu kemaluanku telah tersentuh oleh tangannya. Ihh geli sekali… Gw saksikan penisnya telah keras sekali, saat ini warnanya lebih kehitaman di banding dengan terlebih dulu. opppssttttt… Hangatnya tangan telah merasa melingkupi vagina Gw. Geli sekali rasa-rasanya waktu bibir vagina Gw tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat di syaraf vagina Gw. Gw jadi makin terangsang hingga tanpa ada bisa ditahan, vagina Gw keluarkan cairan. Hihihi.. kakak terangsang ya..? Enak aja… sama adik mah mana dapat terangsang..! jawabku sembari merapatkan selangkangan gw supaya cairannya tidak makin keluar. Ini basah banget apaan Kak..? Itu sisa air kencing Kakak tahuuu..! kata Gw berbohong kepadanya. Kak… memek tu anget, empuk serta basah ya..? Tau ah… Telah belum juga..? Gw bertandingk kelihatannya Gw inginkan kondisi itu berhenti, walau sebenarnya Gw menginginkan tangan itu tetaplah ada di situ, bahkan juga bila dapat mulai bergerak menggesek bibir memek Gw. 





Kak… gesek-gesek dikit ya..? pintanya. Tuch kan..? Tuturnya hanya pegang saja..! Gw pura-pura tidak ingin. Dikit saja Kak… Please..! Terserah adik saja deh..! Gw mengiyakan dengan suara malas-malasan, walau sebenarnya ingin banget tuch. Hihihi.. Habis enak sih…Tangan adik gw lantas semakin masuk kedalam, merasa bibir vagina Gw terikut juga kedalam. uhhhhhh..! Nyaris saja kalimat itu keluar dari mulut gw. Rasa-rasanya sangat nikmat. Otot didalam vagina Gw mulai merasa berdenyut. Lantas tangannya ditarik sekali lagi, bibir vagina Gw turut tertarik sekali lagi. Ouughhhhhhhhh..! pada akhirnya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat di vagina Gw. Tubuhku merasa limbung, bahuku cenderung ke depan. Karna takut jatuh, Gw bertumpu pada bahu adik gw.


Enak ya kak..?Heeheee.., jawabku sambil memejamkan mata.Tangan adik gw lalu mulai maju dan mundur, kadang klitoris gw tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, badan ini akan tersentak ke depan.kak..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!Kamu mau diapain..? jawab gw lalu membuka mata dan melihat ke arahnya.Ya pegang-pegangin juga..! katanya sambil tangan satunya lalu menuntun tanganku ke arah  kontolnya.Kupikir egois juga jika Gw tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan tangannya menuntun tangan gw. Terasa hangat penisnya di genggaman tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun di penisnya, dengan mudah Gw bisa memaju-mundurkan tanganku mengocok penisnya.


Kulihat tubuh adikku kadang-kadang tersentak ke depan saat tanganku sampai ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.Tiba-tiba dia berkata, Kak..! Titit Adek sama memek Kakak digesekin aja yah..!hooh Gw langsung mengiyakan karena Gw sudah tidak tahan menahan rangsangan di dalam tubuh.Lalu dia melepas tangannya dari vagina Gw, memajukan badannya dan memasukkan penisnya di antara selangkangan gw. Terasa hangatnya batang penisnya di bibir vagina Gw. Lalu dia memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesekkan penisnya dengan vagina Gw.


ohhhhh..! Gw kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.Dek… masukin aja..! Kakak udah nggak tahan..! Gw benar-benar sudah tidak tahan, setelah sekian lama menerima rangsangan. Gw akhirnya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam memek Gw.Iya Kak..!Lalu dia menaikkan satu paha Gw, dilingkarkan ke pinggangnya, dan tangan satunya mengarahkan penisnya agar tepat masuk ke itil Gw.


Gw terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku. Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang kurasa. Akhirnya Gw hanya bisa menggigit bibir gw untuk menahan rasa nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian Gw mengalami orgasme. Vagina Gw rasanya seperti tersedot-sedot dan seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.ohhhhhh..! Gw tidak kuat untuk tidak berteriak.Kulihat adik gw masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba dia mendorong sekuat tenaga hingga badanku terdorong sampai ke tembok.Ouughhh..! katanya.Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vagina Gw. Lalu badannya tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di dalam vagina Gw.


Lama kami terdiam dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh mengisi vagina Gw. Lalu dia mencium bibirku dan melumatnya. Kami berpagutan lama sekali, basah keringat menyiram tubuh ini. Kami saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas payudara dan memilin putingnya.Kak..! Kakak nungging, terus pegang bibir bathtub itu..! tiba-tiba dia berkata.Wahh..! Gila adik ya..!Udah.., ikutin aja..! katanya lagi.Gw pun mengikuti petunjuknya. Gw berpegangan pada bathtub dan menurunkan tubuh bagian atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar dengan pantatku. Gw tahu adikku bisa melihat dengan jelas vagina Gw dari belakang. Lalu dia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam vagina Gw dari belakang.


uhhhhhh..! %@!#$&tt..! Gw menjerit saat penis itu masuk ke dalam rongga vagina Gw.Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih kurasakan karena tangan adikku yang bebas kini meremas-remas payudara Gw. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya sampai sekitar 10 menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Gw rasakan lagi tembakan sperma hangat membasahi rongga vagina Gw. Kami lalu berciuman lagi untuk waktu yang cukup lama.


Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di kamar gw ketika malam hari saat orang tua sudah pergi tidur. Minggu-minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami bisa melakukan sampai 4 kali. Biasanya Gw membiarkan pintu kamar gw tidak terkunci, lalu sekitar jam 2 malam, adik gw akan datang dan menguncinya. Lalu kami bersetubuh sampai kelelahan. Kini setelah Gw di Bandung, kami masih selalu melakukannya jika ada kesempatan. Kalau bukan Gw yang ke Sukabumi, maka dia yang akan datang ke Bandung untuk menyetor jatah spermanya ke memek Gw. Saat ini Gw mulai berani menelan sperma yang dikeluarkan oleh adik kandung gw sendiri! Beginilah cerita sex sedarah yang kami lakukan sampai sekarang! Terus terang gw kecanduan ngentot ama adik gw!

Cerita Sex Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok

Cerita Sex Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang
Kenalkan, namaku Tama. Saya yaitu seseorang mahasiwa tingkat 3 di satu perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur badanku umum saja, tinggi 173 cm dengan berat 62 kg, tetapi karna saya ramah, lumayan pandai, dan lumayan kaya jadi saya cukup populer di kelompok adik ataupun kakak kelas jurusanku. Pagi itu saya tergesa – gesa memarkir Honda Accordku di parkiran universitas. 1/2 lari saya menuju ke gedung kuliah yang ada sekitaran 400 m





 dari parkiran itu, sembari mataku melirik ke arloji Albaku yang sudah tunjukkan jam 8. 06. Shit..! Bila saja barusan malam saya tidak nekat melihat kompetisi bola tim favoritku (Chelsea) hingga jam 2 tengah malam tentu saya akan tidak terlambat begini. “Kalau saja pagi hari ini bukanlah Pak Noel yang mengajar, sudah pasti saya masih tetap jalan enjoy menuju ruangan kuliah. Ya, Pak Noel yang berumur sekitaran 40 tahunan benar-benar sangat keras dalam soal disiplin, terlambat sepuluh menit saja pastinya pintu ruang kuliah juga akan dikuncinya. Peluang “titip absen” juga hampir tak ada karna ia nyaris senantiasa mengecek daftar peserta ada. Parahnya sekali lagi, hadirnya minimum 90% yaitu satu diantara prasyarat agar bisa lulus dari mata kuliah ajarannya. ”Tersentak dari lamunanku, nyatanya tanpa ada sadar saya telah ada di gedung kuliah, tetapi tidak bermakna kesulitanku berhenti hingga di sini. Ruangku ada di lantai 6, sedang pintu lift yang sejak dari barusan kutunggu tidak kunjung terbuka. Mendadak, dari belakang terdengar nada merdu menyapaku. “Hai Tama..! ” Akupun melihat, nyatanya yang menyapaku yaitu adik angkatanku yang bernama Dwi. “Hai juga” jawabku sembari lantas karna tetap dalam kondisi cemas. “Kerah baju anda terlipat tuh” kata Dwi. Sadar, saya lantas membetulkan tempat kerah baju putihku dan tidak lupa mengecek kerapihan celana jeansku. “Udah, telah rapi kok. Hmm, tentu anda buru – buru ya? ” kata Dwi sekali lagi. “Iya nih, umum Pak Noel” jawabku. “Mmh” Dwi cuma menggumam. Sesudah pintu lift terbuka akupun masuk kedalam lift. Nyatanya Dwi juga lakukan hal yang sama. Di dalam lift suasananya sunyi cuma ada kami berdua, mataku iseng memandangi badan Dwi. Nyatanya hari itu ia tampak begitu cantik. Badan putih mulusnya setinggi 167 cm itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memerlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik pakaiannya. Kelihatannya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin saja 34D. Ia juga kenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak adalah merk Kenzo Intense penuhi udara dalam lift, sekalian seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hmm fikirku, layak saja Dwi begitu diincar oleh semua cowo di jurusanku, karna terkecuali ia masih tetap single badannya sangat seimbang. Lebih dari pada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang. Tetapi jujur diriku cuma berasumsi Dwi jadi rekan belaka. Mungkin saja hal tersebut karena saya barusan putus dengan pacarku lewat cara yang kurang baik, hingga saya masih tetap trauma untuk mencari pacar baru. Tiba – tiba pintu lift buka di lantai 4. Dwi turun sembari menyunggingkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang tengah tutup saya pernah lihat Dwi masuk ke satu ruangan studio di lantai 4 itu. Ruangan itu memanglah ada untuk siapapun mahasiwa yang menginginkan memakainya, AC didalamnya dingin serta pada pukul pagi begini umumnya kondisinya kosong. Saya juga seringkali tidur di dalam ruang itu setelah makan siang, abisnya sofa di sana empuk serta enak sich. Hehehe…Setelah itu lift juga tertutup serta membawaku ke lantai 6, tempat ruangan kuliahku ada. Selekasnya setelah tiba di pintu depan ruangan kuliahku semestinya ada, saya tercengang karna di sana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi “kuliah Pak Noel dipending hingga jam 12. Atas perhatiannya kami katakan terima kasih. Ttd : Tata Usaha Departemen”Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja bila pulang sekali lagi ke kostan saya malas, karna takut tergoda juga akan meneruskan tidur kembali. Bingung menginginkan lakukan apa pada saat menanti, saya tiba – tiba saja teringat juga akan Dwi. Punya maksud menginginkan membunuh saat dengan bercakap dengannya, akupun bergegas turun kelantai 4 sembari mengharapkan bila Dwi masih tetap ada di sana. Sesampainya di lantai 4 ruangan studio, saya tidak paham apa Dwi masih tetap ada di dalam atau tidak, karna ruang itu jendelanya gelap serta tertutupi gorden. Akupun buka pintu, lantas masuk kedalamnya. Nyatanya di sana ada Dwi yang tengah duduk disalah satu sofa dimuka meja tulis melihat ke arahku, tersenyum serta ajukan pertanyaan “Hai Tama, ngga jadi kuliah? ” “Kuliahnya diundur” jawabku singkat. Iapun kembali asik kerjakan suatu hal dengan laptopnya. Saya melihat berkeliling-keliling, nyatanya ruang studio selebar 4X5 mtr. itu kosong, cuma ada suaraku, nada Dwi, serta nada AC yang bekerja. Dengan tidak sadar saya mengunci pintu, mungkin saja karna menginginkan berduaan saja dengan Dwi. Maklum, namanya juga cowo, huehehe…Penasaran, saya selekasnya mendekati Dwi. “Hi Dwi, sekali lagi ngapain sendirian di sini? ” “Oh, ini sekali lagi ngerjain pekerjaan. Setelah dihimpunan ramai banget sich, jadi saya gak dapat konsentrasi. ” “Eh, kebetulan ada Tama, telah sempat ngambil kuliah ini kan? ” Bertanya Dwi sembari memerlihatkan pekerjaan di monitor laptopnya. Saya mengangguk singkat. “Bisa ajarin Dwi ngga langkahnya, Dwi dari barusan tidak ketemu langkah ngerjainnya nih? ” pinta Dwi. Akupun selekasnya ambil tempat duduk disampingnya, sembari mengajarinya langkah pelaksanaan pekerjaan itu. Dari pada saya bengong, fikirku. Awalnya waktu kuajari ia belum juga sangat tahu, tetapi sesudah sebagian lama ia selekasnya memahami serta tidak lama berselang tugasnya juga sudah usai. “Wah, usai juga. Nyatanya tidak demikian sulit ya. Terima kasih banget ya Tama, telah ngerepotin anda. ” Kata Dwi ramah. Iapun tutup laptop Toshibanya serta mengemasnya. “Apa sich yang ngga buat cewe paling cantik di jurusan ini” kataku sebatas iseng menggoda. Dwi juga malu bercampur gemas mendengar perkataanku, serta dengan tiba – tiba ia berdiri sembari berupaya menggelitiki pinggangku. Saya yang refleksnya memanglah telah terlatih dari berolahraga karate yang kutekuni sampai kini juga bisa menghindar, serta dengan tidak berniat badannya jadi kehilangan keseimbangan dan pahanya mendarat menempati pahaku yang masih tetap duduk. Dengan tidak berniat tangan kanannya yang semula menginginkan menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku juga bangun. “Iih, Tama kok itunya tegang sich? ” kata Dwi sembari membetulkan tempat tangannya. “Sori ya” kataku lirih. Kami juga jadi salah tingkah, sepanjang sebagian waktu kami cuma sama-sama bertatapan mata sembari ia tetaplah duduk di pangkuanku. Lihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, dan matanya yang bulat indah membuatku benar – benar mengerti kecantikannya. Ia juga cuma selalu memandang serta tersenyum kearahku. Tak tahu siapa yang mulai, tiba – tiba kami telah sama-sama berciuman mulut. Nyatanya ia seseorang pencium yang hebat, saya yang telah berpengalamanpun dibuatnya kerepotan. Harum badannya semakin membuatku horny serta membuatku menginginkan menyetubuhinya. Seakan ketahui hasratku, Dwi juga mengubah tempat duduknya hingga ia duduk diatas pahaku dengan tempat bertemu, daerah vaginanya yang masih tetap tertutupi oleh celana jenas menghimpit penisku yang masih tetap ada di dalam celanaku dengan enaknya. Sisi dadanya juga seolah menantang untuk di cium, cuma berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sembari tanganku melingkar kepunggungnya serta memeluknya erat sekali hingga benjolan di balik kaos ketatnya menghimpit dadaku yang bagian. “mmhh.. mmmhh.. ” cuma nada itu yang bisa keluar dari bibir kami yang sama-sama beradu. Senang berciuman, akupun mengangkat badan Dwi hingga ia berdiri serta mengutamakan badannya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir serta lehernya, sembari meremas – remas gundukan payudaranya yang merasa padat, hangat, dan penuhi tanganku. “Aaah, Tama…” Erangannya yang manja semakin membuatku bergairah. Kubuka kaos dan branya hingga Dwi juga saat ini telanjang dada. Akupun terbelalak lihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, dan putingnya yang berwarna pink itu tampak sedikit menegang. “Tama…” katanya sambil menekan kepalaku kearah payudaranya. Akupun tidak menyia – nyiakan kesempatan baik itu. Tangankupun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum putting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Dwi menggelinjang. “Aaahh… SShhh…” aku mendongak keatas dan melihat Dwi sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan “pekerjaanku” di dadanya.Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu. Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan vaginanya yang begitu gemuk dari pandanganku. Akupun mendekatkan hidungku ke arah vaginanya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Dwi sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya Dwi.Akupun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Dwi memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg – degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman pertamaku. Dengan ragu – ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut. “Mmhhh… Ooggghh…” Dwi mengerang menikmati jilatanku. Ternyata rasa cairan kewanitaan Dwi gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.“Buka aja celana dalamku” kata Dwi. Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Dwi benar – benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar – benar pemandangan yang indah. Vaginanya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap vaginanya, menjilati bibir vaginanya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Dwi terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini. “Emmh, please don’t stop” kata Dwi dengan mata terpejam. “OOuucchh…” Rintih Dwi di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.”Ssshhh…Ahhh”, balasku merasakan nikmatnya vagina Dwi yang makin basah. Sambil terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati vaginanya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian, “Uuuhhh.. Dwi mau ke… lu… ar…” seiring erangannya vaginanya pun tiba – tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia – nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis. “Slruuppp…” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Dwi terdengar terengah – engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.“Mmhh, Tama… makasih ya kamu udah bikin Dwi keluar.” “kamu malah belum buka baju sama sekali, curang” kata Dwi. “Gantian sini.” Setelah berkata lalu Dwi mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Iapun kaget melihat batang penisku yang berukuran cukup “wah.” Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Dwi yang lentik. “Tama, punya kamu gede banget…” setelah berkata maka Dwi langsung mengulum kepala penisku. Rasanya sungguh nikmat sekali. “mmh Dwi kamu nikmat banget…” kataku. Iapun menjelajahi seluruh penjuru penisku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah penisku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku. “aah… uuhh… ” hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung penisku dan berusaha memasukkan penisku sepanjang – panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang penisku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan penisku sebanyak 5 – 6 kali.Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing penisku memasuki liang kemaluannya. “Tama sayang, aku masukin ya..” kata Dwi bergairah. Lalu iapun menduduki penisku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama – lama seluruh batang penisku terbenam ke dalam liang vaginanya. Aah, jadi ini yang mereka katakana kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Iapun terus menaik – turunkan vaginanya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang. “Pak.. pak… pak.. sruut.. srutt..” bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.“Dwi, ganti posisi dong” kataku. Lalu Dwi berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang vaginanya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan penisku dari belakang. “aahh, pelan – pelan sayang” kata Dwi. Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang – guncang dengan indahnya. “Aaahhkk…Tama…Ooucchhhkgg..Ermmmhhh” suara Dwi yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan penisku. “Ooohh…yeahh ! fu*k me like that…uuhh…i’m your bitch now !” erang Dwi liar.“Aduhh.. aahh.. gila Dwi.. enak banget!” ceracauku sambil merem-melek. “Oohh.. terus Tama.. kocok terus” Dwi terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. “Yak.. dikit lagi.. aahh.. Tama.. udah mau” Dwi mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks. “Dwi.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh” geramku dengan mempercepat gerakan.“Enak nggak Tama?” tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku. “Gila.. enak banget Dwi.. terusin sayang, yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas – remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.“uuhh.. sshh.. Dwi, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?” tanyaku. “uuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barengan” kata Dwi. Makin lama goyangan penisku makin dalam dan makin cepat.. “Masukin yang dalem dooo…ngg…”, pintanya. Akupun menambah kedalaman tusukan penisku, sampai pada beberapa saat kemudian. “aahh… Tama.. kita keluarin sekarang…” Dwi berkata sambil tiba – tiba cekikan vaginanya pada penisku terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung sperma pada penisku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang vaginanya. Rasa hangat memenuhi penisku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Dwi dengan eratnya dari belakang.Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Aku menyodorkan penisku ke wajah Dwi dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang penisku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.“Dwi.. mau keluar nih..” kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Dwi. “Bentar, tahan dulu Tama..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya. “Loh kok ngga dilanjutin?” tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, Dwi mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Penisku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Dwi pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri. “Gila Dwi, kamu ternyata liar banget..” Dwi hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal.Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. “Enak nggak Tama?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku. “Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu. “Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.Tak lama kemudian, “aah… Dwi aku mau keluar lagi…” setelah berkata begitu akupun menyemprotkan beberapa tetes spermaku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Dwi. Iapun lalu menciumku sehingga aku merasakan spermaku sendiri.Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Dwi ke kostannya menggunakan mobilku. Dialam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan – kapan. Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kostanku yang berada di daerah Dago. Soal kuliahnya Pak Noel, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Dwi.FYI: cerita ini hanyalah fiktif belaka, segala kesamaan yang terjadi, baik tokoh maupun alur ceritanya murni merupakan kebetulan belaka.Eh, gimana menurut kalian? Kasih comment dong? Moderator juga kasih comment yah, please? Kayaknya prolognya kepanjangan sih. Kalau menurut kalian bagus aku akan bikin lagi sekuelnya. Janji. Sori juga kalau ternyata menurut kalian jelek, maklum postingan perdana nich. Hehehe

saya seringkali beronani dengan mengusap-usap vaginaku yang mungil


saya seringkali beronani dengan mengusap-usap vaginaku yang mungil Narasi Seks : Banana Split – Saya seseorang cewek berusia 17 th. serta masih tetap kelas 2 SLTA. Di antara rekan-rekan, saya mungkin saja paling pemalu. Saya seringkali naksir cowok tapi saya takut untuk mulai hubungan. Didalam kamar, saya seringkali membayang-bayangkan muka cowok yang kutaksir, memikirkan bagaimana bila bercinta dengannya, terkait sex dengannya, hingga hal semacam ini seringkali membuatku begitu terangsang. Pada akhirnya saya seringkali beronani dengan mengusap-usap vaginaku yang mungil. 





Awal mulanya sich saya cuma suka mengusap-usap clitorisku sembari memandangnya lewat cermin yang kuletakkan demikian rupa hingga saya dapat memandangi vaginaku lewat kaca itu. Mungkin saja karna keseringanku beronani lewat cara mengusap-usap sisi luar vagina serta clitoris makin lama saya kurang senang bila cuma meraba clitoris, tanganku mulai merambah daerah dibawah clitoris, meraba-raba bibir vaginaku yang mungil kemerahan serta nyatanya rasa-rasanya lebih nikmat walau geli sekali. Terkadang bibir itu saya buka dengan tangan kiri serta jari tangan kananku masukan bebrapa perlahan kedalam lubangnya, awal mulanya sich merasa sakit tapi makin lama sangat nikmat, saya putar-putar jariku dalam lubang sembari kadang-kadang saya memasukkan dalam-dalam berupaya mencapai benjolan yang ada di ujung lubang vagina serta rasa-rasanya selangit deh perasaan saya menginginkan memasukkan jari ini serta menggerakkan keluar masuk dengan cepat, terpikir olehku bagaimana rasa-rasanya bila yang berada di dalamnya yaitu satu penis yang bergerak keluar masuk. Tidak terbayang bagaimana rasa-rasanya. Tapi saya tidak berani lakukan hubungan sex dengan lelaki saya takut bila hamil serta saya juga belum juga miliki pacar. 





Karna keenakan nyaris sehari-hari saya beronani kadang-kadang saya berfikir, saya hyperseks tapi biarin deh yang perlu nikmat. Karna biasanya beronani jadi ketika di kamar kadang-kadang saya berniat tidak kenakan celana dalam serta cuma kenakan kaos serta rok atau cuma kenakan daster hingga saya bebas meraba vaginaku. Pada saat mengganggur sendirian di kamar saya seringkali memandangi vaginaku lewat kaca cermin sembari membersihkannya dari cairan-cairan atau membereskan rambut-rambut kemaluanku yang mulai panjang, bahkan juga saya sediakan saat spesial untuk menjaga vaginaku. 





Satu waktu saya bangun pagi-pagi sekali dengan keadaan begitu bernafsu, memanglah nafsuku begitu tinggi pada hari-hari mendekati haidku datang atau pada sekian hari sesudah haid, walau sebenarnya sebelumnya tidur saya sudah beronani, pagi itu saya bingung ingin bagaimana pada menginginkan memuaskan diriku sendirian atau terkait sex karna malam itu saya mimpi terkait sex dengan seorang. Lalu saya keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi menginginkan pipis dahulu, waktu lewat di ruangan makan saya lihat pisang yang ada diatas meja makan sisa barusan malam. Tanpa ada fikir panjang saya ambil pisang itu satu serta saya bawa masuk ke kamar. saya segera rebahan diatas tempat tidur serta mulai beraksi. Saya meraba-raba vaginaku, sebentar saja vaginaku sangatlah basah, serta saya melepas daster yang kukenakan hingga saya segera telanjang bulat karna saya cuma kenakan daster. Ketika itu saya tidak dapat bercerita bagaimana rasa-rasanya nafsuku betul-betul tinggi. Jari-jariku dengan liar merambah semua sisi vaginaku, bahkan juga hingga clitorisnya saya pencet-pencet sampai enaknya mengagumkan. Bila umumnya cuma satu jari yang kumasukkan ke liang vagina jadi saat ini dua jari saya masukan berbarengan serta rasa-rasanya memanglah sangat nikmat hingga sampai semua tubuhku tergetar keenakan. 





Lalu kuambil pisang yang barusan saya ambillah dari meja makan. Saya kupas serta lalu kumasukkan kedalam vagina sembari memikirkan kalau itu satu penis, waktu mulai masuk sangat nikmat setelah separuh lebih masuk serta dilewatkan disana dalu sembari nikmati bagaimana rasa-rasanya. Lalu pisang itu kugerakkan keluar masuk dengan pelahan, rasa-rasanya sangat nikmat serta pisang itu saya gerakkan selalu keluar masuk dengan tangan kanan sesaat tangan kiriku mengusap-usap clitorisku yang menonjol kemerah-merahan. Sembari selalu menggerakkan pisang itu saya berfikir mengapa tidak dari dahulu kugunakan benda ini bila rasa-rasanya begitu nikmat begini, sebagian waktu lalu merasa olehku seperti menginginkan pipis yang tertahan serta nikmat yang mengagumkan itu pertanda saya selekasnya juga akan orgasme serta benda itu saya gerakkan dalam-dalam, ya ampun enaknya serta akupun orgasme dengan pisang yang sepertiga masuk kedalam vagina, saya begitu nikmati orgasme ini serta saya biarlah pisang itu berada di sana serta tanganku bebrapa perlahan meraba-raba ke-2 payudaraku yg tidak sempat terjamah waktu saya masturbasi karna saya lebih tertarik pada vaginaku, kuusap-usap putingku pelahan sembari nikmati kesenangan yang tidak ada taranya ini. 





Sesudah senang kutarik pisang itu bebrapa perlahan tapi pisang itu patah separuh serta yang separuhnya masih tetap berada di dalam vaginaku, 1/2 cemas saya berupaya keluarkan separuh sisi pisang itu dengan tangan tapi tidak berhasil jadi pisang itu semakin masuk kedalam. Saya begitu bingung mesti bagaimana, walau sebenarnya hari ini saya harus juga ujian sekolah, saya segera masuk ke kamar mandi serta dengan selang air saya berupaya menyemprot vaginaku dengan air agar pisang itu keluar, tapi tidak berhasil juga jadi bibir-bibir vaginaku menciut karna kedinginan, ingin katakan pada Ibu saya malu 1/2 mati. Pada akhirnya kuputuskan untuk ke rumah sakit sesudah ujian kelak serta akupun bergegas pergi ke sekolah. Sesudah usai kenakan pakaian serta dandan, saya coba jalan tapi ya ampun merasa ada suatu hal yang menganjal didalam vaginaku, jadi langkah berjalankupun lucu saya tidak dapat jalan dengan langkah umum karna ada pisang dalam vaginaku. 





Sesampai di sekolah saya takut bila beberapa rekanku tahu ada suatu hal yg tidak beres dalam vaginaku, bebrapa perlahan saya jalan dengan langkah yang aneh. Sesampainya dimuka kelas banyak rekan yang memerhatikan langkahku bahkan juga ada yang ajukan pertanyaan mengapa Rien kok langkahnya seperti robot? saya diam saja sembari tersenyum kecut. “lecet ya kakinya? ”. Untung dia menebak dahulu serta tinggal saya iyakan. Waktu dudukpun saya bingung soalnya waktu digunakan duduk pisang sialan ini begitu merasa bila mengganjal serta saya juga cemas bagaimana bila kelak pisang ini keluar serta terjatuh waktu saya tengah jalan malu kan? 





Pada akhirnya saya kerjakan ujian dengan tidak konsen serta selekasnya menginginkan pulang. Waktu pulang karna begitu tidak enak waktu digunakan jalan saya naik becak, hatiku bebrapa sangsi untuk ke rumah sakit, Bagaimana kelak saya katakan pada dokter atau perawat? duh malunya! Pada akhirnya kuputuskan untuk pulang saja. Sesampai dirumah saya terlepas semuanya bajuku, saya cobalah sekali lagi keluarkan pisang itu tapi nyatanya susah sekali pada akhirnya karna kelelahan saya tertidur dengan keadaan telanjang serta kaki yang mengangkang karna tempat tersebut yang paling nikmat. 





Sore hari, saya terbangun serta berupaya sekali lagi mengeluarkannya sesudah makan siang yang terlambat. Saya berdiri dengan 1/2 berjongkok hingga vaginaku terbuka lebar serta jari tangan kananku coba mengeluarkannya sesaat tangan kiriku berpegangan pada tempat tidur agar tidak jatuh. Tapi percuma saja usaha ini karna jari-jariku susah mencapainya, pada akhirnya karna 1/2 putus harapan saya pakai satu sumpit mie ayam untuk coba mengeluarkannya. Dengan tempat yang sama bebrapa perlahan kumasukkan sumpit itu pelahan serta sesudah merasa hingga di pisang saya songkel bebrapa perlahan pisang itu karna merasa agak sakit. Pelan-pelan merasa olehku bila pisang itu juga akan keluar lalu tangan kiri saya pakai untuk buka bibir vaginaku agar pisang itu gampang keluar. Serta akhirnya…, telepok…, pisang itu keluar serta terjatuh diantara ke-2 kakiku, lega sekali rasa-rasanya. Saat saya lihat pisang yang telah jatuh itu saya agak geli juga benda itu memiliki bentuk telah tidak karuan serta baunya juga telah tercampur dengan bau vaginaku, 1/2 hari dia ada didalam vaginaku serta membuatku kebingungan 1/2 mati. Lalu saya buang pisang itu serta saya ke kamar mandi untuk bersihkan vaginaku dari sisa-sisa pisang.




Akhirnya aku kapok menggunakan pisang untuk beronani dan kemudian aku berencana untuk membeli sebuah dildo (penis buatan) untuk beronani. Dan aku sarankan buat teman-teman cewek kalau kalian ingin beronani dan akan memasukkan sesuatu benda yang menyerupai penis ke dalam vagina kalian jangan menggunakan pisang. Kalaupun akan menggunakan pisang gunakan yang masih mentah (hijau) karena masih keras dan tidak mudah patah kemudian gunakanlah secara pelan-pelan dan hati-hati agar tidak patah. Dan kalau cairan vaginamu sangat banyak jangan menggunakan pisang meskipun pisang mentah karena cairan yang banyak akan melembekkan pisang itu dan membuatnya cepat patah